Sedari tadi pagi ponsel Farhana berdering dan dia hanya melirik lalu membiarkannya. Farhana tidak ingin menambah beban pikirannya dengan menerima panggilan dari nomor yang tak dikenal itu. Farhana ke luar dari kamar, dia berjalan pelan ke halaman belakang. “Hati-hati, Bu,” pekik Minah dari jauh. Waktu berjalan begitu cepat, hingga dia tidak mendengar perkataan Minah. Kaki Farhana tetap melangkah dan licinnya lantai membuatnya hampir terpeleset, beruntung sepasang tangan menahan punggungnya. Jantung Farhana mencelus. Napasnya terengah, beruntung semua baik-baik saja, Farhana segera menegakkan tubuhnya. “Terima kasih,” ucapnya pada Lintang. “Sama-sama,” jawab Lintang singkat, dia menatap perut Farhana yang masih rata, padahal dia dengar kalau Farhana tengah hamil. “Ibu hamil?” tanyanya

