Farhana mengedarkan pandangan pada rumah tua bergaya Eropa. Tampak pintu utama yang megah dengan ukiran di sekelilingnya, juga terdapat kaca di bagian atasnya. Tiga undakan tangga sudah mereka lewati, Oma Yuli kemudian membuka pintu dan menunjukkan ruang utama rumah tersebut. Farhana tercengang. Cukup besar dan mewah, bahkan ini seperti setengah bagian rumahnya. Tampak interior di rumah ini bernilai seni tinggi, terbukti dari beberapa guci antik, vas bunga dan uhh, Farhana tidak suka jam berukuran besar dengan bandul itu. Dia kemudian melirik, gorden kuning keemasan yang menjuntai, hingga hampir mengenai lantai. Tidak terbayang Farhana harus membereskan rumah sebesar ini setiap harinya. “Kita nggak mungkin tinggal di rumah sebesar ini, ‘kan, Oma?” Oma Yuli tengah sibuk membuka kain-ka

