“Aku mau pulang ke Jakarta,” ucap Farhana tiba-tiba. Farras tercenung usai meletakkan piring di atas nampan di meja dekat ujung ranjang Farhana. Dia menarik napas kemudian duduk di tepi ranjang. “Kenapa?” tanya Farras. Farhana segera membuang muka ke samping, sementara air mata kembali turun dengan sangat menyebalkan, kenapa sedari tadi dia sulit sekali bersikap kuat. Dia harus yakin kalau dia bukan perempuan lemah. “Han, tetap di sini buat aku,” ucap Farras seraya duduk dia kemudian menarik tangan Farhana. “Aku mohon.” Farhana menggelengkan kepala. “Aku nggak mau ikut campur urusan kamu sama Lintang.” Farras tergemap. Harus bagaimana dia jelaskan kalau dia dan Lintang tidak ada hubungan apapun bahkan dia tidak mengenalnya sama sekali. “Kalau apa yang dikatakan Lintang itu bener.

