Farhana terbangun saat seseorang menekan bell apartemennya. Dia kemudian beranjak dan berjalan gontai ke depan pintu, sebelumnya dia sempat melirik jam di dinding, waktu menunjukkan pukul 12, mungkin Shafira datang lebih awal. Farhana memutar kunci dan pintu perlahan terbuka. Dia sudah memasang senyum merekah untuk menyambut kedatangan Shafira. Namun, perlahan senyum itu memudar saat melihat yang datang ternyata bukan Shafira, melainkan Lintang. “Hai,” sapa wanita itu. Farhana menarik napas dan segera menutup pintu, namun tangan wanita itu menganjur dan menahannya. “Aku bertamu loh, aku datang baik-baik, Hana.” “Aku nggak peduli, aku nggak nerima tamu,” ucap Farhana sembari terus mendorong pintu itu. “Hana, Hana, aku mau bicara sebentar.” Lintang terus menahan pintu. “Soal aku

