Farhana tak berhenti mengulas senyum, sejenak dia melupakan masalahnya dengan Nesya. Sahabatnya itu mungkin butuh waktu untuk memaafkan, saat ini Farhana hanya ingin bertemu dengan Farras. Setelah menemui ibu dan ayah mertuanya tadi pagi, kini dia dalam perjalanan pulang dan butuh waktu beberapa menit lagi untuk sampai di depan kantor suaminya itu. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Matahari memang sedang tinggi-tingginya. Akan sangat menyenangkan jika dia makan siang bersama Farras. “Pengecut!” ucap Farras di telepon. [Aku sudah cukup berani dengan datang lagi ke hidup kamu. Meski kenyataannya kamu tidak menerimaku.] Farras tercenung, sungguh dia tidak ingin meladeni wanita gila itu lagi. Namun, pesan dan teleponnya terus saja mengganggu. Farras sudah blokir nomor it

