Part 8 -Cemburu-

679 Kata
Part 8 -Cemburu- Fita dibuat kebingungan dengan sifat Su Ho yang sangat dingin dari biasanya. Awalnya sih memang bingung tapi lama kelamaan dia masa bodo. "Untung saja kamu tidak kenapa-napa, Fita." kata Se Ta khawatir. Dia adalah anak Mia Mey kalau kalian lupa. Dia sudah jatuh cinta ke Fita sejak pandang pertama. Di dalam hati ia bertekad akan membuat Fita jatuh cinta kepadanya. Dia tak masalah Fita istri kakaknya, yang penting ia bisa memiliki Fita. Dengan wajah polos dan menggemaskannya, Fita mengangguk lemah. "Untung saja ada suamiku. Yah, meski pun dia harus babak belur seperti ini." Ujarnya seraya melirik wajah Su Ho yang sudah diobati. "Aku juga sudah berusaha mencarimu tapi hasilnya nihil." kata Se Ta. "Benarkah?" "Iya. Aku sangat menghawatirkanmu." Se Ta mengelus kepala Fita lembut. "Tidak sopan menyentuh istri orang." Fita menatap tak percaya ke arah Su Ho yang baru saja berbicara dengan tajam dan dinginnya. Apakah suami cemburu? Pikirnya seraya tersenyum miring. "Tidak sopan bagaimana? Kak Se Ta kan hanya mengelus puncak kepalaku." bela Fita dengan bibir yang mengerucut lucu. (drama) Dia hanya ingin membuat Su Ho kehilangan jati diri. Keluar dari zona dinginnya. "Benar sekali, kak. Kakak jangan cemburu." imbuh Se Ta seraya tersenyum manis. "Aku tidak cemburu!" desis Su Ho tak terima. "Oh." Perhatian Fita kembali teralihkan ke Se Ta. "Kakak bisa memanah dengan baik gak?" Se Ta mengangguk seraya tersenyum. Senyumnya tak dapat di tahan lagi ketika melihat wajah menggemaskan Fita. "Kenapa?" "Aku ingin diajari bermain panah, kak." "Baiklah, kakak akan mengajarimu." Fita memeluk tubuh Se Ta dengan girang. Ia hanya memanas-manasi Su Ho. Pria mana yang tidak akan cemburu melihat istrinya memeluk pria lain, bukan? "Cukup!" bentak Su Ho tiba-tiba hingga membuat Fita dan Se Ta refleks menjauh. "Kakak kenapa?" Dengan wajah yang memerah, Su Ho menyeret Fita ke kamar. Meninggalkan Se Ta yang mengepalkan tangannya kuat. Dia baru saja bisa merasakan pelukan gadis yang dicintainya tapi kakak dinginnya sudah membawa gadisnya. Kebenciannya kepada Su Ho semakin menjadi. Pertama karena tahta dan kedua karena Fita. Lihat saja! Dia akan merebut keduanya nanti. "Suami, lepasin! Sakitt!" rengek Fita yang sedari tadi diseret Su Ho. "Nanti aku aduin ke papa loh." "Ke Sean juga." "Ah, ke mama aja deh." "Suamii!!" Berbagai rengekan keluar dari bibir mungil Fita. Namun, Su Ho tidak mengubrisnya sama sekali. Hatinya masih panas melihat kedekatan istri kecilnya dengan adiknya. Apalagi ketika mengingat Fita memeluk adiknya. Su Ho mendorong tubuh Fita ke atas tempat tidur, menindihnya, dan menatap mata Fita intens. Tidak ada sorot ketakutan atau pun gugup di mata Fita hingga membuat Su Ho kesal sendiri. "Kenapa kau menindihku? Menyingkirlah dari tubuhku, suami!" Fita mendorong d**a Su Ho kuat hingga suaminya terhuyung ke belakang. "Oh my god! Kau tidak apa-apa, suami?" Ia segera membantu suaminya kembali tidur di atas tempat tidur. Dia tersenyum miring melihat Su Ho meringis kesakitan. Bukannya kasihan ia malah tersenyum. Dasar istri durhaka ckck. "Jangan ganggu! Tidur!" Fita mendengus ketika mendengar ucapan singkat dan dingin Su Ho. "Kau cemburu?" tanya Fita tiba-tiba sambil menusuk pipi Su Ho dengan jari telunjuknya. "Diamlah!" gumam Su Ho yang masih setia memejamkan matanya damai. Fita terkekeh dan akhirnya mengalah. Suaminya harus punya tenaga lebih banyak agar bisa menghadapi tingkah nakalnya. "Good night." bisiknya dan mengecup pipi Su Ho sekilas. Setelah itu, ia memeluk tubuh besar Su Ho. Su Ho membuka mata ketika merasakan hembusan nafas teratur istri kecilnya yang sangat nakal. Ia menghela nafas dan berusaha menyingkirkan tangan Fita dari tubuhnya yang berakhir sia-sia. Fita sudah seperti ular saja. Membelit mangsanya dan tidak akan melepaskannya. Su Ho menghela kesal ketika mengingat perilaku istrinya seharian ini. Dia tidak tahu persis apa yang dirasakannya. Yang ia tahu, hatinya panas dan tak terima ketika istri kecilnya memeluk Se Ta, adiknya. Pertanyaan Fita terngiang di telinganya. "Apakah aku cemburu?" tanyanya pada diri sendiri kemudian. "Tidak mungkin!" dengus tak suka. Dia melepaskan pelukan Fita darinya dengan sekuat tenaganya kemudian mendorong istrinya ke lantai hingga menimbulkan suara gedebuk. Jika istrinya tahu besok pagi, mungkin dia akan ngamuk-ngamuk bak induk ayam yang anak-anaknya di ganggu tangan jahil manusia. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN