Part 7 -Sindiran-
Langkah Fita terhenti kala mendengar sebuah suara terdengar.
"Darimana saja kamu, sayang?" tanya Mia Mey.
"Aku diculik seseorang. Untung saja suamiku menemukanku. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku." lirih Fita. Tentang jawabannya, mana mungkin dia menjawab dengan jujur. Bisa hancur reputasinya di mata semua orang. Sementara Su Ho yang mendengar alasan Fita hanya bisa menggerutu di dalam hati. "Lihat saja, bu. Keadaan Su Ho begitu mengenaskan karena diserang para penjahat." lirih Fita dengan mata berkaca-kaca. Pandai sekali dia akting. Padahal keadaan Su Ho seperti itu karena ulahnya.
"Benarkah begitu, Su Ho?"
"Tentu saja iya, bu. Ibu tau sendiri lah, suamiku kan seorang raja. Artinya, dia akan memiliki musuh yang banyak. Tak hanya musuh yang berasal dari luar kerajaan tapi juga di dalam kerajaan. Bisa saja mereka memasang topeng untuk menutupi wajah asli mereka, bu. Dan untuk itu kita harus hati-hati dengan orang seperti mereka agar tidak kecolongan."
Jawaban Fita sontak membuat semua orang terdiam. Keluarga inti kerajaan yang merasa tersindir, kecuali Su Ho tentunya.
"Ekhem! Kenapa kalian semua terdiam? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Fita dengan tatapan polos dan menggemaskannya. Membuat semua orang gemas saja. "Ah iya! Aku pernah mendengar rumor." katanya tiba-tiba.
"Apa?" tanya Lu Yi.
"Aku dengar raja sebelumnya meninggal karena di racuni."
"Itu memang benar, sayang."
"Lalu apa pelakunya sudah ditemukan?" tanya Fita penasaran.
"Sayangnya belum." Xia Le menghela nafas lesu.
"Aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Kenapa belum juga di temukan pelakunya? Kalau di kerajaan papaku sih sudah dipastikan semua penjahat tertangkap dalam kurun waktu paling lama satu hari."
"Apa perlu aku meminta papa untuk menyelidiki kasus ini?"
"Tidak usah, sayang." tolak Xia Le.
"Loh, kenapa?" herannya.
"Kasus itu sudah 2 tahun yang lalu. Sudah sangat terlambat sekali untuk mencari tahu kebenarannya." jelas Mia Mey.
"Iya juga sih." Fita manggut-manggut sambil menatap semua orang. "Suami, aku lelah." adunya manja ke Su Ho.
"Kamar."
Fita mendengus sebal mendengar ucapan singkat suami dinginnya. Tatapannya kemudian beralih ke yang lainnya. "Aku pamit ke kamar dulu." ia segera menyeret suaminya.
Setelah jauh dari mereka baru lah Fita tertawa hingga Su Ho yang melihatnya menjadi heran. "Apa dia tidak waras?" batin Su Ho bertanya-tanya melihat tingkah aneh istrinya.
Fita tertawa bukan tanpa alasan. Ia tertawa karena merasa lucu sekali mempermainkan mereka dengan halus. Menyindir mereka semua dan membicarakan kasus kematian raja sebelumnya dengan wajah sok polosnya. Melihat wajah pucat dan tegang dari mereka merupakan hiburan tersendiri bagi Fita.
"Kenapa kau tiba-tiba membicarakan tentang kematian ayah?"
Fita menoleh dan tersenyum lebar ke arah Su Ho. Tumben sekali pria itu berkata panjang lebar. Ini langka! "Aku semakin tidak sabar membuatmu meleleh." cengirnya dan melompat ke punggung lebar Su Ho. "Gendong aku sampai ke kamar!" Ia menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Tangannya melingkar erat di leher suaminya dan kakinya berada di pinggang suami karena takut di lepaskan Su Ho.
"Turun!" Benar saja! Laki-laki itu menyuruhnya turun dengan suara dinginnya.
"Tidak mau!"
Su Ho menggoyangkan tubuhnya dengan tujuan membuat Fita terjatuh tapi karena gadis itu memeluk lehernya erat ia tidak terlepas. Merasa usahanya sia-sia, dia membiarkan istri kecilnya.
"Aku mempunyai kakak kembaran. Namanya Sean. Dia selalu membuatku bahagia, menuruti semua keinginanku, dan selalu menjagaku. Selama 18 tahun hidup, aku selalu tidur bersamanya, di dalam pelukannya. Jika tidak maka tidurku tidak akan nyenyak. Aku selalu berharap kami selalu bersama tapi aku tahu kalau itu hanya lah angan belaka." Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba saja Fita menceritakan kisah tentang kakak kembarannya.
"Bodohnya lagi aku berharap mendapatkan laki-laki seperti kembaranku. Meski dingin dan cuek tapi kepadaku dia hangat dan perhatian. Dia juga setia karena dia bilang, dia hanya akan menikah satu kali dalam hidupnya. Sama halnya dengan papa. Aku sangat mengharapkan laki-laki seperti Sean dan papa." lanjut Fita bercerita.
"Oh."
Fita menggeram kesal mendengar sahutan cuek dan tak bermutu Su Ho. Niatnya ingin mengkode tapi kenapa yang dikode tak peka dan membalas dengan kata oh? Rasanya dia ingin membenamkan Su Ho ke dalam air panas biar kulitnya melepuh. Trus Su Ho jadi jelek deh. Gak ada lagi cewek yang mau dengannya.
"Kalau aku menemukan laki-laki yang tampan, terlihat cuek tapi perhatian, dingin tapi memiliki sifat hangat tersembunyi, wajah datar tapi memiliki senyuman yang manis. Fix! Aku akan menceraikanmu saat itu juga." bisik Fita di telinga Su Ho sembari terkekeh.
Bersambung.