Inggit masuk dengan sopan ke dalam ruangan bos-nya itu setelah mengetuk pintu. Ternyata, di dalam sudah ada Nana, sekretaris sang bos yang sedang hamil tua. Begitu melihat kedatangan Inggit, Nana memintanya duduk tepat di sampingnya dengan cara menepuk tempat kosong di sofa yang dia duduki.
“Ada apa, ya, Pak? Kenapa Bapak tiba-tiba minta saya untuk datang ke sini? Bapak nggak mau pecat saya, kan?” tanya Inggit dengan keringat dingin.
Ini adalah pertama kalinya pak Arifin memintanya untuk datang ke ruangannya. Selama ini, Inggit hanya pernah bertegur sapa dengannya jika kebetulan berpapasan di luar ruangan dan juga bicara dengannya di telepon kalau ada sesuatu yang penting. Biasanya seputar berkas yang dititipkan Nana padanya.
Pria paruh baya berkumis lebat itu tertawa kecil. “Kepo, ya? Kasih tahu nggak, yaaa?”
Tuh, kan. Ditanya serius, dianya malah ngelawak. Dikenal punya jiwa humoris yang tinggi, bosnya itu memang suka bercanda. Pembawaannya juga benar-benar santai dan penuh persahabatan. Senyumnya hangat dan tutur katanya selalu mampu mencairkan suasana. Para pegawai mengaguminya, termasuk Inggit sendiri. Siapa yang tidak senang punya bos yang kadang terasa seperti ayah, kakak laki-laki, dan bestie? Pak Arif juga sangat loyal pada para pegawainya. Dia sering mentraktir mereka makan dengan cara delivery order. Namun, mereka sadar, meskipun sikapnya sebaik itu, mereka tetap tahu batasannya.
“Jadi, begini, Nggit….” Pak Arif mulai memasang ekspresi seriusnya. “Kamu mungkin sudah dengar kabar tentang saya yang tidak akan lagi memimpin perusahaan ini. Iya, kan?”
“Jadi, itu beneran, Pak?” tanya Inggit kaget.
“Iya, benar. Anak saya yang nanti akan menggantikan posisi saya di sini.”
“Anak Bapak? Yang mana, ya, Pak?”
“Namanya Suga. Anak saya yang kelima. Suganda Alterio. Selama ini dia tinggal di Amerika. Saya minta dia pulang ke sini untuk mengurus perusahaan ini.”
Inggit melirik Nana yang langsung menatap ke arahnya dengan khawatir.
“Oh, begitu. Terus, hubungannya dengan Bapak panggil saya ke sini, apa, ya?”
“Jadi, karena Nana juga akan melahirkan dalam waktu dekat ini dan dia memutuskan untuk mengundurkan diri, saya mau kamu yang menggantikan posisinya jadi sekretaris Suga nantinya.”
“A-apa, Pak?”
Nana menyentuh punggung tangan Inggit dan tersenyum tak enak hati. “Ambil aja, ya, Nggit. Lumayan loh gajinya. Ada plus-plusnya juga.”
Inggit menatap Nana dengan ngeri sebelum kembali menoleh pada pak Arif. “Tapi, kenapa saya ya, Pak? Kan masih ada yang lain, hehehe."
"Karena menurut saya kamu yang cocok buat jadi sekretarisnya Suga."
Inggit tersenyum. Tak perlu berpikir panjang, dia langsung memberikan jawaban, "Maaf, Pak, tanpa mengurangi rasa hormat, saya menolak permintaan Bapak.”
“Serius kamu nggak mau?” tanya bosnya itu dengan senyum menyeringai.
“Iya, Pak, saya lebih suka sama kerjaan saya sekarang. Nggak ribet soalnya. Saya orangnya pemalas, Pak. Saya hobinya rebahan, makan, tidur, sama malas-malasan sambil nonton drakor, Pak. Jadi, orang kayak saya nggak cocok jadi sekretaris yang kerjanya harus ikut ke sana kemari untuk meeting atau apalah itu.”
“Hahaha, kamu jujur sekali orangnya. Saya suka gaya kamu. Saya jadi semakin yakin kalau kamu bisa jadi penggantinya Nana.”
“Hah?” Inggit makin panik dong. Dia lalu menengok pada Nana, minta pertolongan. “Na, kok malah aku, sih? Kan masih ada yang lain! Dijah atau Dara gitu?”
“Aku udah rekomendasikan banyak teman, Nggit, termasuk kamu. Tapi, pak Arif maunya kamu. Karena katanya, kamu yang paling kuat di antara yang lainnya.”
“Apa? Kuat gimana maksudnya?”
“Cuma orang-orang seperti kamu yang nantinya bisa menghadapi anak saya Suga.”
“Kenapa, Pak? Maksudnya gimana, ya?"
“Yaaa, nanti kamu juga akan tahu sendiri. Jadi, gimana? Mau, ya, gantiin Nana?”
“Kamu kenapa resign sih, Na? Kan kamu bisa ambil cuti,” rengek Inggit. “Kamu kan tahu aku tuh mageran orangnya .”
Bekerja jadi operator telepon bagi Inggit sudah merupakan anugerah terindah. Dia bisa menjawab setiap telepon yang masuk sambil merem alias tidur. Sementara bekerja seperti Nana bisa membuatnya gila. Nana harus mengikuti ke mana pun bos mereka pergi untuk meeting dan sebagainya. Bukan hanya menjadi sekretaris, tapi juga merangkap jadi asisten pribadi yang siap kapan pun jika ada panggilan darurat. Pekerjaan seperti itu benar-benar tidak cocok untuk orang pemalas sepertinya.
“Ya gimana lagi, Nggit. Aku kan juga mau melahirkan sebentar lagi, mana mungkin bisa kerja. Suamiku juga udah minta aku untuk resign dari bulan lalu.”
Inggit mendengus. “Memangnya nggak ada calon yang lain lagi ya, Pak?”
“Kalaupun ada, saya tetap maunya kamu. Karena kamu satu-satunya yang paling berani, entah itu dengan cara bersikap atau bicara blak-blakan. Bos seperti Suga, cocoknya punya sekretaris yang seperti kamu.”
Mendengar itu, mau tidak mau Inggit jadi bertanya-tanya mengenai sosok Suganda Alterio yang entah kenapa akan membawa hidupnya ke dalam masalah besar. Kenal saja tidak, tapi kenapa Inggit sudah merasa akan punya masalah dengannya, ya? Aneh banget.
“Ganteng nggak, Pak?” tanya Inggit tiba-tiba, sehingga membuat pak Arif dan Nana tertawa.
“Menurut kamu, saya ganteng, nggak? Kan saya papanya.”
Inggit tertawa hambar sebelum menunjukkan ekspresi seriusnya. “Enggak.”
Pak Arif langsung tertawa. “Kamu lihat aja sendiri. Hari ini dia datang ke sini kok. Saya akan mengenalkannya sama kalian semua nanti.”
“Saya boleh bicara berdua dengan Nana dulu nggak, Pak?”
“Ya silakan, silakan. Ngobrol aja dulu. Saling sharing kerjaan. Saya akan tunggu keputusan kamu satu jam lagi. Lebih dari itu, saya anggap kamu menolak. Menolak sama dengan mengundurkan diri.”
“Loh, kok gitu, Pak?”
“Takut, ya? Hehehe.”
“Ih, Bapak mah nakut-nakutin. Nggak boleh gitu tahu, Pak!”
Pak Arif terkekeh melihat Inggit yang mencak-mencak. “Saya tunggu ya jawabannya.”
Inggit segera beranjak dan membawa Nana bersamanya. Di luar ruangan, Inggit langsung menyerang Nana dengan banyak pertanyaan yang membuat bumil tersebut kelabakan.
“Kamu gimana sih, Na! Kok kamu setuju aja kalau aku yang gantiin kamu? Aku nggak mau jadi sekretaris, Na! Hidup aku tuh udah ribet, masa mau jadi makin ribet karena urusan kerjaan! Kan kamu bisa bujuk pak Arif untuk milih Dijah atau Selin! Naura juga ada tuh! Mereka itu jauh lebih cocok daripada aku!”
“Aduh!” Nana memegangi perutnya dengan tiba-tiba.
“Kenapa? Kontraksi?” tanya Inggit panik.
“Iya, anakku nggak bisa tahu dengar suara gede-gede gitu. Kaget dianya.”
Inggit mengernyit. “Emang bisa gitu?”
“Iyalah. Makanya ngomongnya jangan ngegas mulu deh.”
Inggit tidak tahu itu benar atau tidak, tapi melihat ekspresi Nana yang seperti menahan sakit, akhirnya Inggit mengurungkan niatnya untuk melampiaskan kemarahannya pada cewek gemoy itu.
“Ya udah deh biar aku aja yang ngomong lagi sama pak Arif. By the way, kamu tahu anaknya pak Arif itu yang mana?”
“Jujur, ya, Nggit. Sebenarnya, selain karena mau melahirkan, hal yang bikin aku pengen resign dari perusahaan itu… karena anaknya pak Arif yang namanya Suga.”
“Emang dia kenapa?”
“Gimana, ya? Susah jelasinnya. Intinya tuh, dia beda banget sama pak Arif. Orangnya itu dingin, cuek, sombong, sok ganteng, kalau ngomong juga suka asal. Terus… nggak bisa diajak bercanda. Serius bangetlah pokoknya.”
“Masa? Pernah ketemu di mana?”
“Sekali waktu itu diajak sama pak Arif makan malam bareng keluarganya.”
“Kamu diajak makan malam sama keluarganya?” tanya Inggit, terkejut karena mengingat status pak Arif yang merupakan bos besar mereka.
“Iya, sama suamiku juga kok. Pak Arif itu udah kayak papaku sendiri deh beneran, orangnya baik banget. Dia nggak pernah marah sama aku, Nggit. Bos terbaik deh yang pernah aku kenal, hehehe. Tapi, kalau anaknya… biar kamu aja yang rasain, hehehehe.”
“Giliran yang enggak enak aja baru dikasih ke gue,” cetus Inggit sebal.
“Maaf deh. Tapi, kan kamu mau naik jabatan, harusnya seneng dong! Bukannya malah protes gini! Bego apa gimana, sih?”
“Kan aku udah bilang, aku nggak mau kerja yang ribet-ribet!”
“Kalau semua anak bangsa punya pikiran kayak kamu, nggak tau deh jadi apa negara kita. Nggak mau maju apa jadi orang?"
“Sebenarnya… aku ini mermaid, Na. Aku akan jadi manusia seutuhnya kalau aku udah nemuin cinta sejati. Jadi, aku gak perlu kerja keras untuk bertahan hidup. Kalau aku nangis, itu bisa jadi mutiara yang bisa kujual. Aku nggak perlu capek-capek kerja, Na. Please, kasih tahu pak Arif aku nggak bisa terima tawarannya. Please, Bestie….” Inggit menyatukan kedua telapak tangannya dan memasang ekspresi paling menyedihkan yang dia bisa.
Nana langsung menoyor kepala Inggit dan berkata, “Ngehalu apa udah gila, sih? Udah deh nggak usah drama. Jadi sekretaris nggak seburuk yang kamu pikirkan kok, Na.”
Inggit memberengut. “Tergantung bosnya jugalah. Kalau bosnya nyebelin, gimana mau asik kerjanya?"
“Ya sih. Terus, keputusannya gimana?”
***
Inggit dan Nana kembali menghadap bos mereka itu setengah jam kemudian. Inggit sudah memutuskan untuk tidak menerima tawaran naik jabatan itu karena baginya menjadi operator telepon sudah membuat hidupnya sejahtera. Lagian, Inggit tidak mau berurusan dengan anaknya yang berdasarkan cerita Nana adalah orang yang menyebalkan, jadi tekadnya semakin bulat untuk menolak menggantikan posisi Nana.
“Jadi, apa keputusan kamu, Nggit? Ya atau tidak?”
Inggit melirik Nana yang juga meliriknya.
Serta merta Inggit bertekuk lutut di hadapan pak Arif dan memeluk kakinya sambil berkata, “Pak, saya mohon, Pak, jangan jadikan saya sekretaris. Saya nggak mau, Pak! Saya lebih suka sama kerjaan saya yang sekarang. Lagian, saya nggak punya pengalaman apa-apa, Pak, jadi sekretaris. Jadi, saya mohoooon sekali sama Bapak untuk jangan pecat saya kalau saya nolak tawarannya, Bapak.”
Pak Arif kelabakan karena merasa sesuatu yang dia pakai mulai terasa longgar. “Eh, Nggit! Lepasin saya dulu!”
“Saya mohon, Pak, jangan jadikan saya sekretaris! Saya nggak mau pokoknya! Nggak mauuuu!" Inggit terus memeluk kedua kaki bosnya itu sambil terus memohon sampai akhirnya….
“Astagfirullah!” Pak Arif berseru kaget begitu celananya melorot dan jatuh ke lantai.
Inggit menutup mulutnya dan otomatis menjauh. “Astaga!”
“Hahahaha!” Nana tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu sambil memegangi perutnya. “Ya ampun, ngakak banget."
Pak Arif segera menaikkan celananya dengan wajah merah padam karena menahan malu.
“Ma-maaf, Pak, saya nggak sengaja!”
“Hahahaha, aduuuh! Aduuuuh!”
Tiba-tiba, Nana berteriak kesakitan.
“Kenapa, Na?” Inggit mendekatinya dengan cemas.
“Aku… kayaknya mau melahirkan deh.”
“Aiiir! Aiiir! Air apaan tuh!” Inggit terkejut saat melihat ada air di lantai yang setelah dia perhatikan berasal dari tempat Nana berdiri. “Kamu pipis di celana, ya, Na?”
“Ketubanku pecah, Nggit!”
“Hah? Pecah? Kok bisa? Bahaya nggak? Pak Arif gimana nih, Pak?” Inggit dengan panik memegangi Nana yang sedang kesakitan.
Pak Arif yang belum selesai membetulkan gespernya terlihat sama paniknya.
“Ayo, ayo, bawa ke rumah sakit sekarang!”
“Aduuuh! Aku nggak kuat lagi!” seru Nana sehingga membuat para pegawai yang ada di sana berdatangan.
“Sabar, Na! Jangan keluarin di sini! Entar kalau lahiran di sini nama anak kamu jadinya sofa,” kata Pak Arif, sempat-sempatnya berseloroh.
“Sofa?” tanya Nana di antara rasa sakitnya.
“Iya, kalau lahirannya di sofa, nama anak kamu jadi sofa. Kalau di atas meja, jadinya meja.”
“Aduuuh, Pak! Terserah deh, mau nanti namanya sofa kek, meja kek, pintu, lemari, mesin printer juga nggak masalah yang penting dia keluar sekarang! Sakit banget ya Allah!”
“Hahaha, sempat-sempatnya ngelawak, ” kata Inggit tanpa beban.
Nana tiba-tiba berteriak membuat bumi gonjang-ganjing. “Telpon ambulaaaaan!”
Dan pada hari itu, Nana akhirnya melahirkan di mobil ambulan dibantu oleh dua orang bidan. Mobil tersebut belum sempat berjalan karena saat masuk ke dalamnya, Nana sudah pembukaan ke sepuluh. Sungguh tak disangka tak diduga, tragedi celana melorot pak Arif membuat Nana langsung ketawa sampai lahiran.
Karena merasa bersalah, Inggit pun setuju untuk menjadi sekretaris seperti yang pak Arif inginkan.
“Maaf, ya, Na, gara-gara aku, kamu jadinya lahiran di ambulan,” kata Inggit setelah Nana dibawa ke rumah sakit.
“Kamu nggak salah kok. Emang udah waktunya aja dia mau keluar. Tapi, kamu setuju, kan, untuk gantiin aku?”
“Ya iyalah, mau gimana lagi?”
“Hehehe, bagus deh. Selamat, ya?”
“Selamat buat apaan?”
“Kan naik jabatan.”
“Nggak tau deh. Eh, by the way, kamu kan lahiran di ambulan, jadi mau kasih nama apa nih buat baby-nya?”
“Ya kali aku kasih nama anakku botol infus,” ketus Nana, mengingat kalau tadi di dalam ambulan itu ada banyak botol infus.”
“Aku kasih saran mau nggak?”
“Apa?”
“Bulan aja.”
“Nama panjangnya? Perasaanku kok nggak enak, ya?”
“Ambulan, hehehehe.”
“Ah, semprul!” Nana sempat-sempatnya menoyor kepala Inggit. “Soal nama aku udah siapin. Entar kalau ada acara syukuran aku calling deh.”
“Oh, gitu. Ya udah. Hmmm….” Inggit melirik jam tangannya. “Kalau gitu, aku balik ke kantor, ya? Jangan lupa kabarin, ya, kalau mau makan-makan, hehehehe.”
“Kalau gratisan aja langsung gercep.”
“Ya iyalaaaah!” seloroh Inggit sebelum beranjak dari sana.
Selama perjalanan kembali ke kantor, Inggit tak bisa berhenti memikirkan tentang masa depannya nanti. Apakah dia bisa bekerja jadi sekretaris anak bosnya yang belum bertemu dengannya saja sudah membuatnya kesal?
“Kok belakangan gue sial melulu, ya? Habis diputusin, sekarang dapat masalah baru. Gini amat hidup gue….”
**