4. Bos baru

1025 Kata
Inggit kembali ke kantor dengan menaiki ojek online. Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, dia malas banget harus kembali ke sana sekarang. Rasanya pengen ambil libur dan tidur seharian. Masalah yang dihadapinya ini benar-benar menguras kekuatannya dan membuatnya lemah tak berdaya. Ceila, ya kali. Buktinya, sekarang Inggit seperti orang yang mau mati. Duduk di atas boncengan dengan pandangan lesu, lemas, seolah tak punya semangat hidup lagi. Masa depannya pun terlihat suram. Inggit menghela napas panjang dan mendongak. Pada saat itulah dia melihat sang mantan berada di barisan depan, berboncengan dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Siapa? Pacar baru? pikirnya, menaruh curiga. Inggit tahu dia sama sekali tidak punya rasa, tapi kenapa ya kok kayaknya keterlaluan banget? Baru putus semalam, sekarang udah boncengan sama cewek lain! Kesal nggak sih lihatnya? Ya kesal dong, masa enggak! Mana cekikikan lagi. Najis! Diapain ya enaknya? Akhirnya, mereka tiba di lampu merah. Posisinya, Inggit berada tepat di belakang mereka. Dan untungnya saat itu mantannya yang bernama Dera itu tidak sadar dengan keberadaannya di sana padahal dia sempat menengok ke sana kemari. Inggit kemudian memanggil penjual minuman keliling dengan isyarat gerakan tangan. Setelah membeli satu botol minuman, Inggit lalu membuka tutup botol itu dengan penuh rasa marah. Bukan cuma panas, tapi sekarang Inggit sudah mulai gosong melihat mantannya itu bersama cewek lain. Mohon maaf nih, bukannya cemburu, tapi kesal aja gitu lihatnya. Kemarin bilang putus sekarang sudah dengan yang lain. Rasanya pengen Inggit sunat aja tuh cowok! Inggit memasang kuda-kuda saat melihat lampu hijau menyala. Jadi, saat motornya melewati kedua orang itu, Inggit menuangkan satu botol minuman yang dibelinya tadi ke arah mereka, bahkan sempat memukulkan botol minum itu ke helm si cewek. “Rasain tuh!” ucap Inggit dan tertawa puas di balik helm yang dipakainya. Tapi, alangkah terkejutnya dia begitu melihat orang yang duduk di boncengan motor Dera itu membuka helmnya. “Woi! Apa-apaan, nih!” “Mampus gue! Kok cowok, sih?! Bang, ngebut, Bang!” Inggit menepuk-nepuk pundak kang ojol. “Anjrit! Siapa tuh orang?!” Dera memelankan laju motornya. “Kayaknya gue kenal deh.” “Siapa? Kejar, kejar! Enaknya aja main siram-siram orang! Kenal kagak!” Dera menelan ludah kering. “Enggak usah deh, Bang, biarin aja. Mungkin dia iseng doang.” “Ah, payah lo! Cewek tuh kayaknya!” Dera mengangguk. “Iya, Bang, biarin aja deh. Lagian kita buru-buru juga, kan? Entar telat lagi.” Cowok berambut panjang dan berkumis tebal itu mendecakkan lidah. “Ya udahlah, gimana lagi. Gila tuh cewek kali!” Dera mendesah dalam hati. “Itu kayaknya Inggit deh. Ngapain sih dia kayak tadi? Dasar cewek aneh,” batinnya sambil geleng-geleng kepala. *** Inggit tiba di kantor dengan selamat. Tadinya dia sempat berpikir kalau Dera dan teman cowoknya itu akan mengejarnya, tapi ternyata tidak. Tapi, Inggit penasaran sih, apa Dera tahu kalau tadi itu dia? Haduh, kalau tahu kan bisa malu. “Gue ngapain sih tadi? Untung nggak dikejar! Lagian tuh cowok salah sendiri, siapa suruh punya rambut panjang?” Inggit mengomel sambil berjalan memasuki lift. “Sial banget hidup gue berapa hari ini.” Tapi, sebelum masuk ke sana, tim gibah yang sudah menunggunya sejak tadi langsung mencegat jalannya. “Ciyeee, yang mau naik jabatan!” goda Dijah. “Makan gratis nih entar malam, hahahasek!” tambah Bambang. “Mau, mau, mauuuu!” tambah Dara kegirangan. “Makan di tempat biasa, ya? Oke?” Inggit menatap satu per satu wajah di depannya dengan malas. “Pak Arif mana? Udah pulang belum?” “Masih ada tuh di ruangannya. Kenapa?” tanya Dijah. Inggit mengembuskan napas panjang. “Oh, nggak ada, nanya doang.” Beberapa saat kemudian, terdengar suara heboh dari para karyawati yang ada di sekitar sana. “Kenapa tuh?” tanya Dara, menoleh ke sana kemari. “Anak bos, anak bos!” Begitu yang mereka dengar dari mereka yang berlarian ke muka pintu utama gedung. “Maksudnya, anak pak bos Arif?” Dijah memastikan. “Kayaknya iya. Soalnya pak Arif bilang dia mau kenalin anaknya sama para pegawai hari ini,” jelas Inggit tak bersemangat. “Haaa, gue pengen pulaaaang! Gue nggak mau jadi sekretaris!” rengeknya kemudian. “Kok gitu sih, Mbak? Masa naik jabatan nggak mau..., ” kata Dara. “Tapi, kok pada lebay gitu, sih? Kayak kedatangan seleb aja.” “Bisa jadi mukanya anaknya pak bos ganteng tuh, Mbak.” “Bener. Coba kalau mukanya kayak aku, pasti semuanya pada kabur,” ujar Bambang dengan mimik sedihnya. “Biarin aja semua pada kabur, tapi aku kan tetap padamu, Bebiii.” Dara mencolek dagu Bambang dengan genitnya sehingga membuat Dijah dan Inggit mendengus malas melihatnya. Tepat pada saat Inggit akan beranjak, tampak di kejauhan seorang pria bertubuh tinggi dan berwajah tampan sedang berjalan menuju lift diikuti oleh beberapa pria berjas hitam. Kedatangannya membuat semua orang terpukau. Tidak ada satu pun orang yang mampu mengalihkan pandangan darinya, bahkan Inggit sekalipun. “MasyaAllah, Tabarakallah,” ucap Dijah dengan mata berbinar-binar. “Itu beneran anaknya pak Arif? Kok ganteng?” Dijah berusaha mencari keburikannya tapi tidak menemukannya. “Iya, ya, ganteng bangeeeet! Pak Arif kan jelek ya kayak alien. Tapi kok anaknya ganteng?” ucap Dara terkagum-kagum. Bambang hanya cemberut mendengarnya. Meskipun sudah biasa mendengar Dara memuji cowok lain secara langsung di depannya, tetap saja dia merasa sedih. Dijah merangkul pundak Inggit. “Beneran itu anaknya pak Arif? Kalau iya, nggak ada alasan dong buat lo nolak jadi sekretarisnya?” Inggit menoleh pada Dijah dan mendengus. “Kenapa?” “Ya iyalah, siapa coba yang nggak mau punya bos ganteng banget kayak gitu? Bisa ngelihat dia tiap hari, ngobrol sama dia. Ya ampuuuun, jadi pengen ngajak kawin.” Inggit tertawa mendengus lalu menarik dirinya dari rangkulan Dijah. “Ya udah, lo aja jadi sekretarisnya. Gue sih ogah.” Mereka terdiam begitu melihat pria yang digadang-gadang akan menjadi bos baru itu melintas di depan mereka dengan cueknya. Dia bahkan tidak melirik ke arah mereka sedetik pun. Pesonanya membabi buta, membuat para janda dan gadis ketar-ketir, bahkan Bambang sekalipun. “Ganteng banget ya Allah,” ujar Bambang sambil menggigit-gigit bibirnya. Inggit tak melepaskan tatapannya dari pria bertubuh jangkung itu sampai pintu lift menutup. Sepertinya dia pernah melihat orang itu. Tapi, di mana, ya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN