5. Ketemu lagi

1315 Kata
“Akhirnya datang juga. Dari tadi Papa nungguin kamu. Ke mana aja kamu, kok baru nongol sekarang?” seru Arif begitu melihat anaknya muncul dari balik pintu. Pria bertubuh jangkung itu mendengus malas. “Saya kan sudah bilang sama Papa, kalau saya nggak mau ngurus perusahaan Papa.” “Ditanya apa, jawabnya apa.” “Saya dari apartemen, baru bangun tidur.” “Untung orangtua kamu kaya, jadi kamu nggak perlu kerja keras. Di luar sana, orang-orang, bangun sebelum subuh, kerja, nanti tidurnya tengah malam. Begitu seterusnya,” sindir sang ayah. Suga mendengus lagi. “Jadi, Papa kira selama ini saya nggak nggak pernah kerja keras? Papa lupa ya, dari sebanyak itu anak laki-laki Papa, cuma saya yang bisa bikin perusahaan keluarga kita yang ada di Singapura jadi sukses? Itu sebabnya Papa minta saya ke sini untuk mengurus perusahaan ini karena Papa tahu saya pasti akan bisa membuatnya lebih sukses lagi. Iya, kan?” Arif tertawa. “Benar juga kamu, hahaha.” Suga mendelik. “Sebenarnya saya sudah nyaman tinggal di Singapura.” “Singapura ke Jakarta kan nggak jauh. Kamu bisa kok pulang setiap minggunya ke sana. Lagian, nyaman kenapa? Apa kamu udah punya pacar di sana? Hm?” Suga menggeleng. “Saya lagi nggak mau pacaran.” “Mau sampai kapan? Kakak-kakakmu semuanya pada nikah muda. Masa kamu enggak? Mumpung Papa masih hidup, ya kasihlah Papa sama mama cucu yang banyak, hahaha.” Suga mendelik malas. “Nanti-nanti aja, belum ketemu yang pas.” “Dicariin mau nggak?” “Nggak perlu, saya bisa cari sendiri,” jawab Suga kemudian membetulkan posisi vas bunga yang ada di atas meja, juga posisi pena yang terbalik. Dia juga memperhatikan seisi ruangan dengan mata elangnya, seperti sedang mencari-cari sesuatu. Setelah menemukannya, Suga berjalan mendekati tirai jendela yang bergelombang dan memandanginya selama beberapa saat sebelum membetulkan posisinya yang menurutnya agak sedikit miring. Melihat itu, Arif tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Semoga aja sekretaris yang baru nanti betah kerja jadi bawahan kamu.” Suga menoleh. “Hm? Sekretaris baru? Memangnya sebelum ini, Papa nggak punya sekretaris?” “Punya, tapi udah resign karena melahirkan.” “Oh.” Suga merespon singkat. “Apa kamu sudah siap untuk diperkenalkan hari ini?” Suga mengembuskan napas. “Ya sudah. Lebih cepat lebih baik.” “Tapi, ada satu syarat.” “Apa?” “Banyakin senyum, hehehe.” Suga mendengus. “Oke.” “Ya udah, kita ke luar sekarang.” Arif berjalan menuju pintu, sementara Suga sibuk membenarkan posisi kursi yang baru saja dia duduki seperti semula. Sebelum benar-benar beranjak dari sana, Suga kembali memperhatikan seisi ruangan itu dengan kening berkerut. “Ayo!” panggil Arif sebelum Suga mendekati lemari dan membuatnya jadi mengulur waktu. Melihat gerak-gerik Suga, dia sudah bisa menebak apa yang akan anaknya itu lakukan. Suga mengangguk, tapi matanya masih tertuju pada lemari yang berisi map-map bermacam warna. “Iya.” Dengan enggan, Suga akhirnya mengikuti langkah sang ayah. Sambil berjalan menuju ruangan meeting, Arif berbisik pada salah satu asisten pribadi Suga yang senantiasa mendampinginya ke mana pun dia pergi, “Gawat, dia masih belum berubah.” Asisten bernama Jo itu mengangguk. “Iya, Pak. Sepertinya agak sulit.” “Dia masih sering pergi terapi, kan?” Jo mengangguk lagi. “Belakangan ini pak Suga terlalu sibuk jadi tidak sempat untuk terapi.” “Oh, begitu, ya sudah mau bagaimana lagi.” “Kalian nggak lagi ngomongin saya, kan? Kenapa bisik-bisik?” tanya Suga yang sudah melangkah sejajar dengan keduanya. Jo dan Arif sama-sama menggeleng. Suga melirik jam tangannya kemudian berkata, “Lebih cepat, saya belum makan siang.” Melihat Suga berjalan lebih dulu dibanding dirinya, Arif geleng-geleng kepala. “Anak itu bisa membuat semua orang repot. Inggit harus kuat mental.” “Inggit siapa ya, Pak?” tanya Jo. “Sekretarisnya Suga.” Jo ber-oh kecil. “Saya khawatir dia jadi gila.” “Inggit itu udah kayak orang gila, ketemu Suga, mau gila kayak gimana lagi dia? Hahaha.” Arif tertawa terbahak-bahak. Jo tersenyum menanggapi reaksi Arif, sambil bertanya dalam hati seperti apa sosok sekretaris yang akan masuk dalam lingkaran setan bos-nya itu. Tidak perlu cantik, yang penting berani dan seperti yang tadi Arif bilang, dia harus kuat mental. *** Ketika mereka tiba di ruangan itu, ternyata sudah banyak pegawai yang berkumpul di sana. Begitu melihat kedatangan Suga, para gadis dan janda yang ada di sana seketika panas dingin. Apalagi pada saat Suga menunjukkan seulas senyumnya yang menawan, rasanya jadi ingin dihalalkan. “Selamat siang, semuanya…,” sapa Arif dengan senyum hangatnya. Sementara itu, pada waktu yang bersamaan…. “Ya ampun, Dijah, ngapain sih harus benerin make up di jalan kayak gini?!” seru Inggit kesal karena Dijah masih sempat-sempatnya memoles wajahnya dengan make up sambil berjalan menuju ruang meeting, tempat di mana mereka semua diminta untuk berkumpul. “Iya nih, Mbak, emang biar apa sih dandan menor kayak gitu?” tanya Dara, ikutan kesal karena Dijah malah asik-asiknya berdandan di tengah jalan. “Helloooo, gue nggak mau ya kelihatan burik di depan bos barunya kita! Mungkin kalian udah biasa nongol dengan muka penuh minyak kayak begitu, tapi gue nggak. Say no to minyak!” kata Dijah dengan bibir monyongnya yang baru saja dioles dengan lipstick berwarna merah. Dara menyentuh wajahnya dengan panik. “Masa sih berminyak?” “Udah nggak usah dengerin dia,” cetus Inggit. “Masuk, Dar!” katanya lagi setelah mereka tiba di depan pintu ruang meeting tersebut. “Kayaknya udah rame deh.” “Mbak aja yang masuk duluan,” kata Dara sambil nyengir. “Harus banget ya kita datang? Malas banget gue, sumpah deh.” Inggit memegang knop pintu, masih enggan untuk membukanya. “Ya haruslah, Mbak. Kan sekalian pak Arif mau kasih tahu sama semuanya kalau sekarang Mbak Inggit yang gantiin posisinya Mbak Nana. Masuk gih!” Inggit cemberut. “Gimana kalau kalian aja yang masuk, gue pulang. Entar kalau pak Arif nanyain, bilang aja gue sakit gigi, sakit perut, sakit kepala.” “Banyak bacot nih orang. Buka tuh pintunya!” Dijah mendorong Inggit sampai pintu di depannya membuka. Ketika pintu itu terbuka lebar, Dijah masih mendorong Inggit sampai Inggit tidak sengaja menabrak sosok di depannya dan memeluknya dari belakang. Sejenak, keheningan pun memberangus mereka. “Omaigat!” Dijah menutup mulutnya dengan kaget, begitu pula dengan Dara. “Mbak Inggit meluk anaknya pak bos, ya?!” seru Dara pada Dijah yang masih melotot kaget. Suga melirik kedua tangan yang sedang melingkar di perutnya itu dengan kening berkerut samar. Tadinya dia sempat kaget karena hal itu terjadi dengan tiba-tiba, tapi setelah tahu kalau itu adalah tangan manusia, barulah dia menghela napas lega tapi juga bercampur dengan rasa kesal. Inggit langsung menarik kedua tangannya setelah menyadari apa yang terjadi. Dia menundukkkan kepalanya sambil mengatakan. “Maaf, maaf, nggak sengaja. Maaf, ya, maaf bangeeet!” Arif tertawa terbahak-bahak. “Kamu kenapa, Inggit? Nggak sabar ya pengen kenalan sama bos yang baru? Hahaha.” Inggit mendongak ketika mendengar Arif bilang begitu. Setelah melihat wajah orang yang tadi dia peluk dengan tidak sengaja, Inggit langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. “Ma-maaf, Pak, saya nggak sengaja, tadi itu… tadi itu saya kepeleset,” kata Inggit setelah menurunkan tangannya. Suga menatapnya selama beberapa detik kemudian mengedikkan bahu acuh tak acuh. “Oke.” Dia lalu menepuk-nepuk kemejanya yang tadi disentuh Inggit kemudian mengambil sebotol parfum dan menyemprotnya dengan itu sehingga wanginya memenuhi seisi ruangan. Melihat itu, tentu saja Inggit tersinggung. Apaan tuh maksudnya? Memangnya dia jorok dan bau apa? “Hahaha, panik, ya, panik, yaaa?” kata Arif pada Inggit yang sebenarnya sudah mau menelan anaknya hidup-hidup. “Santai aja, Inggit. Suga memang orangnya seperti itu. Nanti lama-lama kamu juga akan paham.” Suga melirik Inggit sekali lagi lalu bertanya, “Memangnya dia siapa?” “Dia sekretaris kamu. Namanya Inggit.” Suga dan Inggit saling menatap selama beberapa saat. “Kenapa dia? Nggak ada yang lain?” Ma-maksudnya apa, ya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN