Tiga Belas

1157 Kata
"Tumben diem. Kenapa??" tanya Fatih heran. Sejak kejadian di kantin tadi siang. Istrinya belum mengeluarkan sepatah katapun. "Mikirin Leta?" "Kok bisa sih Raka dateng sama Aa'??" Kara mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk tegap. "Yang bisa masuk kantin kampus kan bukan cuma orang kampus aja Kara." "Ihh... Bukan gitu. Maksudnya kok ya Aa' sama Raka bisa tau kalo aku ama Leta di kantin kampus gitu loh." "Kan kamu sendiri yang bilang." "Kapan coba?" "Di chat." Kara diam. Mencoba mengingat-ngingat. "Ih Aaaaa', tak kira Aa' itu mau nyamperin aku sendirian gitu. Ah, tau gitu nggak tak jawab pesan Aa'." "Dosa loh ngacuhin suami." Fatih menangkup wajah Kara. Gemas melihat kondisi rambut Kara yang berantakan. Dikecupnya kening dan pipi Kara berkali-kali. "Kamu kok gemesin sih." "Aduhhh udah ah. Jangan ciumin jidat ama pipi Kara mulu. Bibirnya kapan coba???" Kara meggeleng-gelengkan kepalanya agar terlepas dari kungkungan Fatih. "Bibir nanti aja. Nanti malah kebablasan." "Herrrrrr... Oh gitu. Jadi sekarang nggak mau cium bibir aku lagi. Oke fix. Kita putus." Fatih menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Padahal kemarin Kara bilang akan mulai merubah sikapnya yang seperti anak kecil. Tapi baru beberapa jam, ucapannya sendiri sudah dia lupakan. "Sini." Fatih menarik tangan Kara agar memeluknya. Memposisikan tubuh Kara agar berbaring bersandar didadanya yang duduk menyender di kepala ranjang. Membuat Kara ikut memperhatikan tablet yang Fatih pegang. "Eh, ini penelitiannya Aa' ya?" "Hm." "Keren ih. Coba lihat judulnya." Tangan Kara menscroll layar tablet agar kembali ke atas. Fatih yang melihat itu hanya membiarkan. "Kok halamannya banyak banget A'. Yang bentuk jurnal mana?" "Ada. Tapi lagi pengen baca yang ini." "Owh..." Kara menganggukan kepalanya sok paham. "Lusa Aa' harus ke Medan. Penelitian tim Aa' masuk semifinal." Jelas Fatih hati-hati. "Beneran. Alhamdulillah... Selamat ya A'. Duh makin cinta deh sama pak dosen ku ini. Sini sun dulu." Tangan Kara berpindah memegang rahang Fatih. Memberikan beberapa ciuman di bibir, pipi dan keningnya beberapa kali. "Eh, tapi kalo Aa' pergi, nanti aku sama siapa dong???" Ciuman Kara terhenti saat mengingat itu. Karna Kara tau, tak mungkin suaminya ini akan mengajaknya jika untuk hal-hal seperti ini. "Ikut ya A'..." Mata Kara mengedip-ngedip genit. Berusaha membuat suaminya luluh, termakan bujuk rayunya. "Di sana Aa' bakal sibuk. Nanti kamu bakal sering Aa' tinggal. Dan Aa' nggak akan ngijinin kamu keluyuran sedirian apalagi di kota orang." Nah kan Bibir Kara makin manyun. "Nanti kalo Aa' pergi. Terus di sini aku digodain dedek emesh atau ahjushi cakep gimana?" Fatih menatap Kara datar. Tak akan percaya dengan alasan tak masuk akal istrinya ini. "Yang ada mereka takut duluan lihat kamu." Fatih masih ingat, saat dia dan Kara jalan-jalan keluar. Ada yang pernah godain istrinya itu, bahkan sampe ditawarin uang jika Kara mau diajak pergi. Namun bukannya berteriak takut dan minta tolong. Hal yang dilakukan Kara malah berpotensi merusak aset masa depan laki-laki yang menggodanya. Mensumpah serapahinnya dan akan kembali menendang jika Fatih yang saat itu baru kembali dari toilet tidak menariknya menjauh. "Ck. Aa' itu suka gitu." Tangan Kara melintir-lintirkan baju Fatih. Masih memasang ekspresi cemberut manja. "Nanti kamu nginep dirumah ibu’ dulu ya. Kalo nggak ajak Leta atau sepupu-sepupu kamu menginap disini juga nggak papa. Mau ya??" Nego Fatih. Kara masih memberengut kesal. "Iya deh. Ke rumah mamak aja." Alhamdulillah... Permasalahan beres. "Aa' berapa hari di sana?" "Cuma tiga hari." "Pokoknya kalo Aa' nggak sibuk, harus nelfon aku. Kalo perlu video call. Oke?" "Iya." ***** "Duh ni anak satu. Mbok ya anteng. Ojo gemprusak-gemprusuk ora genah kokui." Ratih menabok p****t Kara yang sedari tadi guling-guling tidak jelas. *(jangan gerak-gerak  nggak jelas kayak gitu). "Adaw! Sakit mak ih. Anaknya jarang kesini, diomelin. Giliran ke sini, malah ditabokin. Jadi serba salah, ngalahin judul lagu aja." Protes Kara. "Nggak usah bawel. Diem kamu. Nggak kedengeran ini si Boy bilang apa." Ratih memperbesarkan volume televisinya. "Mamak itu nggak asik. Anak e gek galau malah rak direngges. Kesel aku." Gerutu Kara bersungut-sungut. Bu Ratih melirik sinis saat mendengar gerutuan anaknya itu. *(Anaknya lagi galau malah dicuekin. Kesal aku) "Aleman. Nembe pirang jam tok ditinggal wes kokui, opo maning ditinggal tahunan. Lagian awakmu juga mau milu ngeterke reng bandara. Sikepan rak gelem ocol koyo bojo ne pan lungo perang kae. Padahal dulu siapa coba, yang nggak mau dijodohin. Siapa? siapa?" tanya Ratih sewot. Heran dengan sikap anaknya yang bukannya membaik malah semakin menjadi-jadi. *(Lebay. Baru ditinggal berapa jam aja udah kayak gitu, apalagi ditinggal tahunan. Lagian tadi kamu juga ikut nganterin ke bandara. Pelukan nggak mau lepas kayak suaminya mau pergi perang saja) "Ya kan dulu belom kenal. Tak kenal maka tak sayang. Kalo udah kenal jadi sayang-sayangan. Pye sih mak. Kokui bek rak reti." Kara mencebikkan bibirnya. Meskipun tau yang dia lakukan itu masuk kategori tak sopan, namun melihat tingkah emaknya yang ke-anak mudaan membuatnya tak segan-segan berlaku seperti itu. Untung bapak dan suaminya nggak di sini. Amannnn. *(Gimana sih mak. Gitu aja nggak tau) "Rada nyesel mamak jodohin Fatih buat kamu. Pasti mantu mamak dibikin repot mulu ya??" Tuduh Ratih. Mengingat sikap Kara yang kadang seperti anak kecil dan seenaknya sendiri. "Terose sinten?? Nggak ya mak. Kita saling berbagi cinta dalam keadaan suka dan duka." Kara menerawang ke atas dengan mata berbinar-binar. *(Kata siapa??) "Heleh. Lebay lo ah." "Hayo mamak ngomongnya pake lo gue. Aduin ke bapak nih. BAPAKKKK!! MAMAK NGOMONGNYA PAKE L-Mmmphhh..." Ratih langsung membekap kulut Kara. Tak ingin suaminya yang berada di dapur mendengar aduan anaknya ini. "Ihh ni anak satu..." Gemas Ratih. Tanganya gatal ingin nabok mulut anaknya yang tetep bandel walaupun udah jadi istri. "Udah ah. Kamu diem aja. Kalo nggak tidur sana." Usir Ratih lelah. Dia tak ingin acara nonton sinetronnya terganggu hanya karna ada kehadiran Kara. Padahal sejak Kara menikah, dia sangat senang bisa menguasai tivi sendirian tanpa perlu ada acara rebutan remot. Kalo suaminya sih ngikut-ngikut aja. Karna paham, meskipun dia rebutan remot dengan istrinya, acara tivi yang dia tunggu tetap belum mulai sebelum tengah malam. "Kok ngusir sih mak. Aku tu lagi kesepian gara-gara ditinggal Aa' merantau. AAAAAAA KANGENNNNN‼‼" jerit Kara frustasi. Bukannya lega, dia malah mendapat bonus geplakan bantal di wajanya. "Sakit mamak!!!" **** "Aa' kapan pulang??” Kara merengut. Merasa sedih ditinggal suami untuk pertama kalinya setelah menikah. "Kan baru beberapa jam yang lalu nyampe. Masih ada tiga hari lagi." "Acaranya nggak bisa dicepetin gitu A'. Biar besok bisa pulang." "Ya nggak bisa. Kenapa sih??" tanya Fatih khawatir, melihat wajah Kara disebrang layar tertekuk lesu. "Disini nggak ada Aa' yang belai-belai aku. Nanti kalo aku kurang belaian gimana?" "Ada-ada aja kamu." Fatih terkekeh geli. "Ih dibilangin nggak percaya." "Udah malem. Tidur sana." Suruh Fatih saat melihat Kara yang berulang kali menguap menahan kantuk. "Jangan dimatiin loh Aa'. Nunggu aku pules dulu." "Iya." Kara berbaring miring. Menghadap ke ponselnya yang disandarkan ke bantal. Tidur memeluk guling yang dipasang baju Fatih. Baju yang sempat dia bawa saat ke rumah orang tuanya. Menanggap guling yang dia peluk saat ini adalah suaminya. "Malam A”." "Malam sayang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN