Sembilan

974 Kata
“Hiks hiks hiks..." Lima belas menit berlalu dan tangis Kara tak kunjung berhenti. Tepatnya, sejak dia bercermin dan menemukan benjolan di dahi sebelah kanannya. Sangat merusak pemandangan. Menurunkan kadar kecantikannya sekian nol-koma-persen. Dan Kara bener-bener nggak like. Benar-benar nggak like. Sedangakan Fatih, hanya duduk bingung di sebelah istrinya. Dia bingung harus bagaimana lagi membujuk Kara. Dari menjanjikannya skin care, perawatan ke dokter kecantikan hingga jalan-jalan saat liburan tak membuat tangis Kara berhenti.  Diajak ke dokter juga nggak mau. Alasannya, nggak pede ketemu orang-orang dengan keadaan begitu. Mendengar itu, tentu membuat Fatih menepuk keningnya.  Kebanyakan jajan micin ya gini. Padahal kening Kara sudah dikompres dengan es batu. Udah dipakein salep  juga sama suaminya. Bahkan dari tadi Fatih niup-niupin kening Kara yang ngeluh perih.  Sampe capek bibir Fatih rasanya. Mau pake kipas angin kecil Karanya nggak mau. Dasar modus! Insiden yang terjadi beberapa jam lalu syukurnya tak memakan korban. Hanya saja pemilik gerobak  sempat marah-marah dan meminta ganti rugi atas beberapa  kerusakan dan barang-barang yang jadi berantakan hingga cacat tak layak jual. Tentu saja Fatih tanggung jawab atas semua itu. Dan syukurnya mereka bisa berdamai setelah Fatih membayar semua kerugian. Padahal Fatih juga tak kalah rugi. Bagian depan mobilnya ada yang penyok dan lecet-lecet. Ditambah istrinya juga luka. Fatih sendiri malah nggak luka sama sekali.  Jantungnya cuma lebih deg-degan aja melebihi saat sama Kara. Bukan karna ada cinta lain, tapi karna terlalu takut  kalo ternyata ada korban jiwa. Tapi untung saja semua itu tidak sesuai dengan yang dipikirkannya. Kara masih sesenggukan dalam pelukan Fatih. Terdengar bunyi-bunyi notifikasi dari handphone Kara. Terlihat salah satu notifikasi yang muncul ada video mukbang salah satu artis yang dia subscribe. Dikliknya video tersebut dan terlihat si artis sedang makan besar dengan menu mie pedas, tambah sayur, tambah telur, tambah tahu, tambah seafood. Dan itu berhasil bikin tangis Kara berhenti seketika. Bahkan kini fokusnya terarah ke hape miliknya. Kara ngilerrrr.. pengen akan Kayak gini.. “A’, pengen makan kayak gini.” Kara menunjukkan video kearah Fatih. Padahal Fatih juga sudah melihatnya dari tadi. “Pedes ya kayaknya.” Fatih sangsi. Melihat kuah yang begitu merah dan beberapa cabai yang masih utuh membuat dia meneguk ludah, ngeri. “Nggak ah. Ini mah paling  kebanyakan saus aja jadi kuahya merah gini. Bikin yuk.” Ekspresi Kara berubah semangat. Seolah beberapa menit yang lalu tak ada adegan tangis menagis pada dirinya. “Emang di kulkas ada bahannya??” Mereka memang langsung pulang  ke rumah. Kara tak ingin dibawa ke umah sakit. Dan tak mungkin juga mereka melanjutkan perjalanan ke toko buku. “Nggak tau. Duh tau gini tadinya barang-barang yang digerobak kita ambil aja ya A’. Kan lumayan tuh.” Barang belanjaan di gerobak sayur yang mereka tabrak tadi memang ada beberapa yang masih utuh. Kara bahkan sempat melihat, ada ibu-ibu yang ambil kesempatan mengambil belanjaan gratis. Jika saja tadi tidak panik, udah ikut nyikat dia. Enggak deng. Canda Bang Sayurr‼! “Tadi udah kotor. Ada yang kelindes juga.” Enak aja istrinya mau mungut barang-barang yang menurutnya tak layak makan itu. Malu Fatih kalo nggak bisa ngasih hidup layak ke istrinya. “Ya nggak yang kelindes juga kali A’. Yang jatuh tapi plastiknya masih utuh kan juga banyak. Kalo nggak ya yang digerobaknya aja diambil. Hehehe...” cengir Kara jika bayangannya terelalisasikan. Kan lumayan gratis. Apalagi suaminya ini bayar lebih untuk ganti ruginya. Seharusnya Kara bisa dapet dong! “Nggak. Nggak boleh ambil.” Perintah Fatih tegas.  Melepas pelukan Kara dan beranjak berdiri. “Ayo. Katanya mau buat apa.” Mengingat  Kara masih dalam proses belajar memasak, jadi mau tidak mau Fatih harus ikut mendampingi. Toh buat kesejahteraan perutnya juga kan?   *******   Sruput .. sruput... Satu jam mereka berkutat dengan masakan. Dan hanya butuh lima belas menit mereka menghabiskannya. Kara dan Fatih memang tak membuat dalam partai besar seperti dalam Yutub. Mengingat minimnya bahan yang mereka temui di kulkas. Ingatkan mereka untuk segera belanja. Kara hanya memakan sayur dan tahunya. Eh, makan mie nya juga ding. Dikit tapi. Sedangkan yang lain dimakan Fatih. Beralasan diet. Padahal siapa tadi yang ingin memasukkan mie lima bungkus, dan bahan-bahan lain yang seharusnya tidak dibutuhkan. Untung saja Fatih sempat mencegahnya. "Alhamdulillah kenyang." Kara menepuk-nepuk perutnya yang penuh. Punggungnya menyender ke kaki sofa.  Dirinya dan Fatih lebih memilih duduk di karpet sambil menonton tv dibanding  di ruang makan. Fatih meneguk habis air putih yang sempat dia sodorkan ke Kara dan hanya diminumnya sedikit. Lalu bergeser, mengambil posisis disamping Kara. "Ya Allah kenyang banget A’." Kara mengelus-ngelus perutnya.  "Kamu udah kenyangkan nak?”  Kara tersenyum, masih tetap mengelus-ngelus perutnya. Fatih yang mnedengar itu sontak menatap Kara kaget. "Kamu hamil??" tanya Fatih antusias. "Hah?? Hamil? Siapa A’??" Kara tak kalah antusias. "Ya kamu." "Kok aku??" Dahi Kara mengernyit bingung. Sejak kapan dia hamil? Dia kan baru selesai haid beberapa hari yang lalu. "Terus maksud kamu bilang gitu apa?” "Ohhh itu, ya biar kayak ibu hamil aja A’. Kan sering tuh ngusap-nguap sambil bilang gitu." jelas Kara polos. "Yahh... jadi belom ya??" Fatih kembali bersandar, lesu. Menatap TV di depannya dengan tak minat. Kara terdiam melihat perubahan eksresi suaminya. Bibirnya bergerak-gerak lucu. Ingin bicara tapi dia bingung. Baru peka ternyata suaminya udah pengen punya anak. Udah tua sih. "Maaf ya A’...” Kara menatap Fatih tak enak. Dia bahkan memainkan jari tangannya untuk mengurangi gugup. Fatih yang mode wajah lempeng membuat Kara tak berkutik. Meskipun biasanya juga gitu-gitu aja sih wajahnya. Tapi ini kayak ada yang beda gitu. Lempengnya ada tambahan dark-darknya. Takuttt... Ting‼ Seakan ada alarm, Kara baru mengingatnya. Segera dia mengambil posisi di pangkuan Fatih dan merangkul lehernya. Lupa kalo suaminya sedang dimode gahar. "Aku masih dalam masa subur loh A’. Kita coba yuk. Sekalian bakar lemak abis makan." ajak Kara semangat. Mulai deh mesumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN