Bab 2 Sekretaris CSO

1030 Kata
Lift berhenti tanpa suara di lantai paling sunyi gedung Atmajaya. Tidak ada papan nama besar. Tidak ada resepsionis dengan senyum dipaksakan. Bahkan tidak ada lalu-lalang karyawan. Nicolas Lucas memperhatikan satu detail kecil yang langsung membuatnya waspada: akses lantai ini menggunakan kartu berbeda. Bukan level eksekutif biasa. “Kenapa lantai ini kosong?” tanyanya, lebih pada diri sendiri. Dwi Ratna Atmajaya berjalan di depannya, langkahnya tenang. “Karena yang bekerja di sini tidak butuh penonton.” Pintu kaca terbuka otomatis setelah ia menempelkan kartu hitam tanpa logo. Lucas menahan napasnya tanpa sadar. Ruang itu… tidak seperti ruang kerja eksekutif lain yang pernah ia lihat. Tidak ada meja besar berlapis marmer. Tidak ada kursi berjejer. Tidak ada piala, foto keluarga, atau simbol prestise murahan. Yang ada hanyalah ketenangan yang terorganisir. Satu meja kerja lebar dari kayu gelap. Bersih. Hampir kosong. Dua layar besar di dinding, tidak menyala, tapi jelas siap menampilkan apa pun yang diperlukan. Satu papan kaca transparan penuh coretan tipis: grafik, panah, kata kunci yang langsung membuat Lucas paham—ini bukan ruang keputusan instan. Ini ruang perencanaan jangka panjang. Juga sebuah sofa kecil di sudut ruangan. Tidak empuk dan seolah memberi kesan ini bukan tempat untuk bersantai. Lebih seperti tempat diskusi singkat… atau interogasi halus. “Ini… ruang CSO?” Lucas memastikan. “Mm.” Dwi meletakkan tasnya di meja. “Sekarang, ini juga ruang kerjamu, mengingat kamu adalah sekretarisku.” Lucas melangkah masuk sepenuhnya. Pintu menutup di belakangnya dengan bunyi klik pelan yang terasa final. Ia tersenyum tipis. “Menarik, Bu.” “Kenapa begitu?” “Karena ruang CEO tiga lantai di bawah sana jauh lebih besar,” katanya jujur. “Tapi rasanya… lebih kosong.” Dwi menatapnya sekilas. “Karena ruang CEO dibuat untuk dilihat. Ruang ini dibuat untuk dipakai.” Lucas mengangguk pelan. Ia mulai mengerti. Dwi duduk, membuka tablet, lalu berkata tanpa menatapnya, “Sebelum kamu terlalu nyaman, aku mau pastikan satu hal.” Lucas berdiri tegak. “Silakan.” “Aku tidak suka diatur,” kata Dwi. “Dan aku juga tidak suka mengatur orang.” Lucas sedikit terkejut. “Lalu… posisi saya?” “Kamu akan mengatur dirimu sendiri,” jawab Dwi datar. “Tugasku hanya memastikan kamu tidak membuat keputusan bodoh.” Lucas tertawa kecil. “Itu definisi atasan yang berbahaya.” “Bagus,” Dwi menimpali. “Berarti kamu cepat belajar.” Ia akhirnya menatap Lucas penuh. Tatapan itu tidak tajam, tapi menembus. Seolah sedang mengukur, bukan menilai. “Kamu melamar sebagai sekretaris CEO,” katanya. “Kenapa?” “Karena CEO adalah pintu paling terlihat,” jawab Lucas. “Saya terbiasa masuk lewat pintu depan.” “Sayangnya,” Dwi menyahut, “semua orang bisa melihat pintu itu.” Lucas mengangkat bahu. “Dan CSO?” “Lorong belakang,” jawab Dwi. “Gelap, tapi langsung ke pusat bangunan.” Hening beberapa detik. Lucas menyadari sesuatu yang membuat sudut bibirnya terangkat. “Jadi, saya diterima, Bu?” “Bagaimana menurutmu?” “Saya menunggu keputusan ibu.” Dwi tersenyum penuh arti, "Kalau aku menolakmu, papa akan mengirim orang lain untuk mengawasiku." "Jadi saya ini pengawas?" "Tidak, aku akan menggunakanmu sesuai situasi dan kondisinya." "Saya sekretaris seba guna, Bu?" "Aku benci terlalu formal, bisa kita bicara santai saja?" "Aku dan kamu?" Lucas menangkap maksud Dwi dengan cepat. "Betul, lagipula di ruangan ini hanya ada kita berdua." “Ibu takut?" Dwi tergelak, "Pada siapa? Kamu?" "Saya lelaki, Bu." "HEI!" Lucas buru-buru mengoreksi ucapannya. "Aku lelaki, Bu," ralatnya. "Lalu kenapa? Saya sudah sering bertemu lelaki. Kamu berbeda emang?" Dwi menatap Lucas dari kaki sampai kepala. "Semuanya normal saja." Lucas menghela napas panjang. Mulutnya gatal ingin membalas, tetapi batal dilakukan. Ia memilih berjalan mendekatke papan kaca. Ia membaca cepat coretan strategi yang belum sempat dihapus. Ada kode proyek, singkatan perusahaan asing, dan satu nama yang membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia menahan ekspresinya dengan susah payah. Dwi memperhatikannya. “Kamu membaca terlalu cepat untuk sekadar sekretaris.” “Dan Ibu terlalu santai untuk seseorang yang baru saja membuat satu keluarga bangkrut,” Lucas membalas. Dwi tidak tersinggung. “Itu bukan urusanku.” “Ah,” Lucas mengangguk. “Ibu ternyata sakit hati.” “Bukan sakit hati hanya membayar pengkhianat,” kata Dwi. “Aku tidak menyangka kamu mengikuti gosip dan video viral di sosmed.” Lucas tersenyum. “Bukannya sekretaris memang harus update biar tidak disebut ketinggalan informasi?” Dwi terkekeh pelan lalu berdiri. “Sekarang, mengenai aturan.” Lucas refleks meluruskan bahu. “Satu,” Dwi mengangkat satu jari. “Kamu tidak ikut campur dalam urusan pribadi kecuali perlu.” “Baik.” “Dua. Jangan berisik, aku mudah migran.” Lucas mengangguk. “Dan tiga?” Dwi menatapnya. “Jangan pernah mengira kamu lebih pintar dariku hanya karena aku membiarkanmu bicara.” Lucas tertawa—kali ini tulus. “Aku suka bekerja dengan perempuan strong, Bu” “Bagus,” jawab Dwi dingin. “Aku benci pria yang berpura-pura bodoh.” Ia berjalan ke pintu kecil di samping ruang utama. “Meja kerjamu di situ. Kamu akan mendengar banyak hal. Melihat banyak data. Tidak semuanya untuk disimpan. Kalau bocor, aku tambal mulutmu dengan batu bata.” Lucas mengikuti arah pandangnya. “Sadis, Bu.” “Wajarn,” kata Dwi. “Rahasia di perusahaan ini harus tetap di bawah tanah” “Kalau tidak sengaja bocor?” “Kamu tahu akibatnya.” "Aku mati?" Dwi terdiam sebentar lalu tertawa keras. “Itu terlalu dramatis. Kamu kebanyakan nonton drama televisi.” Lucas terdiam.. Saat Dwi kembali duduk, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Ia membaca cepat, lalu menatap Lucas lagi. “Mulai hari ini,” katanya, “kamu resmi jadi sekretaris CSO.” Lucas tersenyum miring. “Ibu sudah setuju berarti?” Dwi berdiri, menatap keluar jendela kaca yang menghadap kota. “Tentu. CSO memutuskan keputusan mana yang boleh dibuat. Jika papa suka kamu di sampingku, maka biarkan dia melihat apakah usahanya akan membuahkan hasil atau berbalik menyerangnya.” Lucas menatap punggungnya. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke gedung ini, ia merasa… terlalu dekat dengan pusat bahaya. Namun anehnya, ia tidak ingin mundur. Mungkin, misi menggoda CSO yang ditetapkannya, tidak semudah yang dipikirkannya, tapi terlalu menarik untuk dilewatkan begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN