Bab 1 Wanita Berbahaya
Apa harga dari sebuah pengkhianatan? Tidak ada yang khusus atau patokan tertentu. Namun yang jelas, ada harga yang harus dibayar untuk setiap kepercayaan yang hancur.
Prinsipnya selalu sama. Menjadi perempuan tenang yang tidak terlihat. Oleh karena itu, selama ini tak ada yang tahu wajahnya. Baik di kantor atau pun di balik layar.
Layar ponsel yang bergetar di tangan ratusan ribu orang hanya menampilkan dua sosok yang berantakan.
Seorang pria dengan kemeja mahal kusut dan seorang perempuan yang terlalu panik untuk menutup tubuhnya dengan benar. Kamera bergetar, suara napas tersengal bercampur makian, dan satu fakta yang langsung menyebar seperti api di ladang kering.
Tunangan Dwi Ratna Atmajaya tertangkap basah berselingkuh.
Siaran itu live. Menampilkan dua manusia dengan wajah tanpa sensor. Jelas, tidak ada yang namanya belas kasihan atau ampunan.
“Matikan! Matikan sekarang!” teriak pria itu, berusaha meraih ponsel yang entah bagaimana jatuh ke tangan yang salah—atau mungkin, sengaja dibiarkan jatuh.
Jawabannya datang bukan berupa kata, melainkan suara benda keras membentur meja, lalu tubuh. Tidak ada darah. Tidak ada adegan menjijikkan. Hanya kekacauan, jeritan tertahan, dan kehancuran harga diri yang tak bisa ditarik kembali.
Dwi tidak pernah muncul di layar. Namun semua orang tahu kalau ini perbuatannya. Sebab, hanya dia yang bisa melakukannya.
Beberapa detik sebelum siaran terputus, terdengar suaranya, tenang, datar dan tidak bergetar seolah dia sama sekali tidak menyesal atau bersedih.
“Aku sudah cukup baik selama ini,” katanya. “Sekarang giliran kalian belajar apa itu rasa malu.”
Lalu gelap. Siaran terputus. Tidak ada lagi kelanjutan, hanya asumsi dari berbagai pihak yang kemudian menyebar seperti wabah.
Dalam hitungan menit, potongan video itu menyebar. Grup investor. Grup internal perusahaan. Media gosip. Forum bisnis.
Nama tunangan Dwi yang sebelumnya tidak diingat, langsung naik trending, bukan sebagai pewaris konglomerasi yang terhormat, melainkan sebagai mokondo bermoral compang-camping yang mencoba menumpang nama Atmajaya.
Yang tidak disadari banyak orang adalah ketika mereka sibuk menonton skandal, Dwi sudah bergerak menjauh dari kekacauan menuju kekacauan berikutnya.
Ia duduk sendirian di kursi belakang mobil hitam yang melaju tanpa suara. Tangannya tidak gemetar saat membuka tablet. Tidak ada air mata. Tidak ada riasan yang luntur. Hanya satu daftar nama perusahaan, milik keluarga tunangannya, sekarang mantan, yang satu per satu berubah warna.
Merah.
Merah.
Merah.
Kontrak ditarik. Jalur pendanaan ditutup. Akses perbankan dibekukan.
Sebuah pesan singkat masuk dari salah satu direktur keuangan Atmajaya:
Selesai. Seperti yang Ibu minta.
Dalam kurang dari tiga jam, bisnis ayah mantan tunangannya runtuh. Bukan karena emosi atau amarah melainkan karena pengkhianatan selalu membutuhkan pengorbanan.
Dwi menutup tablet, menyandarkan kepala sebentar, lalu berkata pelan, “Ke kantor.”
Ia turun di basement gedung Atmajaya tanpa satu pun wartawan tahu. Tidak ada kejaran kamera. Tidak ada bisik-bisik. Ia masuk ke lift khusus, naik ke lantai eksekutif, lalu ke kamar mandi pribadinya.
Air mengalir. Tangannya mencuci bekas kekacauan yang tidak terlihat.
Wajahnya di cermin tetap sama, berusaha tenang, bersih dan seolah tidak tersentuh.
Lima belas menit kemudian, Dwi Ratna Atmajaya memasuki ruang rapat.
Ruang itu sudah hampir penuh.
Putra sulung keluarga Atmajaya, CEO resmi perusahaan, Putu Darmawan Atmajaya, sudah duduk di ujung meja panjang.
Setelan jasnya sempurna. Senyumnya profesional. Suaranya terdengar yakin saat mempresentasikan rencana ekspansi kuartal berikutnya.
Para direktur mengangguk. Para komisaris mencatat. Tak satu pun menyela.
Dwi duduk di kursinya. Tidak di ujung. Tidak di tengah. Posisi yang sengaja tidak mencolok. Ia membuka map tipis, mendengarkan. Matanya tidak terpaku pada layar. Ia memperhatikan reaksi.
Ketika CEO selesai bicara, ruangan dipenuhi keheningan yang puas.
“Apakah ada masukan?” tanya Putu dengan nada suara percaya diri.
Beberapa detik berlalu lalu Dwi berbicara.
“Rencana ini akan gagal dalam enam bulan.”
Tidak keras atau tinggi. Namun cukup untuk membuat semua kepala menoleh.
Putu tersenyum tipis. “Berdasarkan apa?”
Dwi mengangkat pandangan. Tatapannya datar, seolah ia sedang membahas cuaca.
“Berdasarkan arus kas tersembunyi yang tidak kamu masukkan,” katanya. “Dan ketergantungan berlebihan pada satu mitra regional yang sedang diselidiki regulator.”
Beberapa direktur langsung membuka dokumen mereka. Komisaris saling pandang.
Putu menegang. “Itu hanya asumsi.”
“Tidak,” Dwi membalas. “Itu data. Aku sudah mengirimkan revisinya semalam.”
Sunyi.
Tidak ada yang berani membantah. Karena semua orang di ruangan itu tahu satu hal bahwa jika Dwi berbicara, berarti keputusan sudah dibuat.
“Solusinya?” tanya salah satu komisaris, hati-hati.
Dwi menutup mapnya. “Tarik diri sekarang. Alihkan investasi ke sektor yang tidak terlihat menguntungkan dalam dua tahun, tapi aman dalam sepuluh tahun.”
Putu membuka mulut, ingin mengajukan keluhan tapi menutupnya lagi. Ia tahu kalau wajah hampir seluruh orang di ruangan sudah setuju dengan Dwi.
“Kalau kita tidak setuju?” Ia mencoba melakukan perlawanan terakhir.
Dwi tersenyum, bukan senyum ramah, lebih seperti pemberitahuan. Bahkan peringatan.
“Silakan,” katanya. “Tapi jangan pakai namaku saat laporan kegagalan ditulis.”
Rapat berakhir tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal.
Saat orang-orang beranjak keluar, seorang pria muda yang sejak tadi berdiri di dekat pintu memperhatikan Dwi dengan minat yang tak disembunyikan. Namanya Nicolas Lucas. Dua puluh tujuh tahun. Lulusan Harvard. Melamar sebagai sekretaris CEO. Namun dipindahkan menjadi sekretaris CSO.
Awalnya dia pikir baru saja dilemparkan ke kandang ayam, tapi ternyata dia berada di ruangan yang sama dengan predator di atas piramid.
Lucas mengikuti langkah Dwi ke luar ruangan. “Bu Dwi Atmajaya?”
Dwi berhenti lalu menoleh. “Ya?”
“Saya sekretaris baru. Ditugaskan di ruangan Anda oleh Pak Atmajaya langsung.”
Alis Dwi terangkat tipis. “Aku tidak minta.”
Lucas tersenyum kecil. “Saya juga tidak minta ditempatkan di sini, tapi saya tidak bisa menolak perintah, Bu.”
Ada sesuatu di cara pria itu bicara. Terlalu tenang dan berani. Selama ini semua orang sibuk menundukkan kepala padanya tapi Lucas tentu berbeda.
Dwi menatapnya beberapa detik lebih lama. “Kamu tahu apa yang terjadi pagi ini?”
“Tahu,” jawab Lucas jujur. “Saya suka video Anda yang viral.”
“Lalu?”
“Anda seperti wanita yang berbahaya dan kuat.”
Dwi tersenyum samar dengan pujian itu.
Dwi berbalik dan melangkah pergi. “Ikuti aku.”
Lucas menurut, dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
Ia belum tahu apakah perempuan ini akan menjadi jalannya menuju tujuan yang ingin dicapainya atau alasan mengapa ia gagal total.
Namun satu hal sudah pasti sebelum perang dimulai. Hari ini dia memiliki sebuah misi yaitu menaklukkan hati Dwi Ratna Atmajaya.