Sudah beberapa jam aku di dalam sel duduk hanya beralaskan lantai dingin tanpa dilapisi keramik. Tidak hanya aku yang berada dalam sel, ada satu orang laki-laki yang menurutku seumuran denganku. Dia terlihat seperti tidak merasakan beban takut atau gelisah. Wajahnya yang dingin mengatakannya begitu. Tak ku hiraukan lelaki itu, namun sepertinya dia terus saja memperhatikan diriku. Ya, penampilan ku yang belum memakai baju tahanan dan masih memakai pakaian kaos berwarna biru muda dan jelana jeans hitam. Dia menatapku seolah kesalahanku adalah hal sepele. "Woi," suara laki-laki itu menggelegar, begitu berat kiranya. Aku yang menoleh hanya diam menatapnya. "Minum?" tanya nya mencari kesalahanku. Aku menggeleng. Dia menatapku dengan tatapan sinis seraya sudut bibir tertarik ke atas.

