#06 - Mau Lari Ke Mana?

1061 Kata
Gorilla itu kemudian melangkahkan kakinya mendekati Beno. Dengan sigap pula Beno memutar tubuhnya, dan langsung melarikan diri, menjauh dari gubuk itu. Namun baru beberapa langkah berlari melewati pintu, Beno terpaksa menghentikan gerakannya. Seberkas sinar berwarna putih menyilaukan masuk ke dalam matanya. Sinar itu jelas berasal dari luar gubuk. Beno mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha untuk menyesuaikan sinar yang masuk ke sana. Detik berikutnya cowok itu terpaksa untuk menahan napas. Ia melihat sesosok manusia di balik cahaya itu, beserta beberapa orang yang berdiri di belakang sosok itu tak jauh dari tempatnya sekarang. “Mau lari ke mana lagi, Tuan Mata-Mata?” sebuah suara menyadarkan Beno bahwa hidupnya—bahkan mungkin nyawanya—saat ini sedang berada di ujung tanduk. Beno sangat mengenali suara yang berasal dari balik sinar putih menyilaukan itu. Suara yang beberapa jam lalu sempat diharapkannya sebagai sosok penyelamat hidupnya. Yang kemudian berubah menjadi suara orang yang sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawanya hanya dengan satu perintah. Siapa lagi pemilik suara itu jika bukan si gadis berambut merah yang mengejarnya dari tadi. Gadis berambut merah itu menatap Beno sambil tersenyum miring—seolah mengejek Beno karena telah masuk ke dalam perangkapnya—kemudian memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengepung Beno. “Kau sudah tertangkap. Silakan jelaskan alasanmu di hari pengadilan,” putus gadis berambut merah itu. Ia lalu berbalik meninggalkan Beno yang kini tak bisa berkutik karena sudah berada dalam kepungan anak buah si gadis berambut merah. Hari pengadilan? Hari pengadilan apa? Apa mereka benar-benar akan menangkapku sebagai seorang pengacau dan mata-mata? Beno berkeras tak mau beranjak dari tempat itu. Anak buah si gadis berambut merah kemudian menyeretnya dengan paksa. Beno tetap bergeming, ia bahkan tak bergerak barang satu sentipun dari tempatnya berdiri. “Apa yang kau lakukan?!” tanya Si Cungkring—sepertinya ia adalah pemimpin dari pasukan si gadis berambut merah—dengan nada sedikit tinggi. “Aku tidak salah! Aku bukan seorang pengacau dan juga bukan seorang mata-mata!” ucap Beno tak kalah nyaring. Beno menyentak tangan kedua pasukan yang mencengkeram lengannya dengan kasar. Pasukan gadis berambut merah tersentak. Mereka terlempar beberapa langkah ke belakang. Beno terhenyak. Cowok itu tak menyangka tenaganya akan sekuat itu, hingga mampu membuat kedua pasukan yang mencengkeramnya bergeser beberapa langkah ke belakang. Begitupun dengan seluruh pasukan si gadis berambut merah yang ada di sana. Mereka lalu meningkatkan kewaspadaan melihat Beno memiliki kekuatan yang tak biasa. Gadis berambut merah yang mendengar ucapan Beno lalu membalikkan badannya. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan, sepertinya gadis berambut merah itu juga tak menyangka Beno bisa membuat pasukannya mundur beberapa langkah. Gadis itu lalu mendekati Beno dengan hati-hati—dalam hati ia semakin yakin bahwa Beno bukanlah orang biasa dan sedang menyembunyikan sesuatu—sambil menatap Beno dengan wajah jengkel. “Lantas, bisakah kau membuktikannya?” tantangnya. Beno hanya mampu diam. Cowok itu sadar, tak ada apapun dan bahkan siapapun yang dapat membuktikan bahwa ia bukan seorang pengacau atau mata-mata. “Cih! Pada akhirnya kau hanya bisa diam.” Gadis berambut merah itu melipat tangannya di d**a. “Tahan dia untuk malam ini. Besok aku akan membuatnya bicara yang sebenarnya,” perintah gadis itu pada Si Gorilla bersayap biru yang berdiri tak jauh darinya. “Baik, Nona.” Gorilla berambut biru lalu mencengkeram tangan Beno dengan erat. Beno memberontak. Cowok itu mengerahkan seluruh tenaganya. Tapi Gorilla itu tak bergeming sedikitpun, ia seolah tak terpengaruh dengan kekuatan yang dikerahkan oleh Beno. “Kenapa? Tadi aku bahkan bisa membuat kedua pengawal itu mundur beberapa langkah. Tapi kenapa tidak bisa dengan Gorilla ini?” pikir Beno. “Karena kekuatan sihirku lebih tinggi darimu.” Gorilla itu lalu menarik tangan Beno dengan paksa, membuat cowok itu bergerak maju beberapa langkah dari tempat awal ia berdiri. Beno terkejut. “Sihir? Sejak kapan aku punya sihir?” batin Beno. Tunggu! Bagaimana dia bisa tahu pikiranku? Apakah dia bisa membaca pikiran? Beno menghentikan langkahnya sambil menatap Si Gorilla dengan tatapan seolah ketakutan yang dibuat-buatnya. “Ck! aku tidak bisa membaca pikiran orang. Ekspresimu yang memperlihatkan semuanya. Kau terlalu bodoh jika berpikir aku membaca pikiranmu,” tukas gorilla itu sedikit kesal sambil menarik paksa tubuh Beno lagi. Beno hanya bisa mengikuti langkah gorilla itu dengan pasrah. Dalam hati ia menghitung waktu hingga tenaganya cukup untuk lari dari cengkeraman gorilla itu. Saat ia merasa waktnunya cukup, Beno langsung berlari secepat kilat ke arah yang berlawanan. Namun sayang, langkah secepat kilatnya harus kalah dengan kecepatan seberkas cahaya putih menyilaukan yang masuk ke matanya dan membuat kesadarannya hampir menghilang. Kepala Beno berkedut-kedut seperti terkena pukulan keras akibat benda tumpul. “Bawa dia!” Sayup-sayup Beno mendengar suara si gadis berambut merah memerintah Si Gorilla bersayap biru, tepat sebelum kesadarannya menghilang. *** Dengan mata yang tertutup kain, Beno merasakan kakinya menginjak tanah lembab dan sedikit basah. Beno tak tahu ke mana sepatunya menghilang, mungkin tertinggal di hutan, atau mungkin si gadis berambut merah yang sengaja membuang sepatunya hingga ia tak beralas kaki seperti saat ini. Bau apek mulai tercium di sana-sini, suhu dan tekanan udara yang dirasakannya, membuat Beno yakin bahwa tempat yang mereka masuki saat ini adalah sebuah tempat semi tertutup—seperti goa atau ruang bawah tanah—yang hanya memiliki satu pintu masuk dan tanpa jendela. Tempat ini sangat sepi, sebab dari tadi tidak terdengar suara apapun selain gema langkah kakinya dan empat orang pasukan si gadis berambut merah—termasuk Gorilla bersayap biru—yang mencengkeram lengannya saat ini. Samar-samar, Beno dapat melihat sebuah cahaya kuning redup dari balik penutup matanya. Perlahan Beno juga mendengar gemercik tetesan air yang jatuh ke atas tanah tak jauh darinya. “Cepat masukkan dia!” Gorilla itu memerintah kepada keempat anak buahnya. Beno merasakan sebuah dorongan di punggungnya yang cukup keras, hingga mampu membuat cowok itu terpental beberapa langkah ke depan. Rasa sakit menjalar di kepala Beno dan bagian depan tubuhnya. Sepertinya Beno menumbuk sesuatu yang kokoh. Beno meraba benda keras di depannya. Itu adalah sebuah dinding yang dingin dan sedikit basah, juga disertai dengan bau tanah yang khas di sana. Beno berani bertaruh, tempat ini adalah sebuah penjara dan akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa hari ke depan. “Buka penutup matanya!” perintah Si Gorilla terdengar lagi, bersamaan dengan terbukanya kain yang menutupi mata Beno. Beno merasakan sedikit pusing di keningnya, akibat penutup mata yang terikat terlalu kuat. Cowok itu kemudian menyesuaikan matanya dengan cahaya kuning temaram dari lampu obor yang bergelantungan tanpa tali di dinding depannya. Bahkan lampu obor saja tergantung tanpa tali. Benar-benar tempat yang aneh! “Aku harap kau tak berulah hingga hari persidangan besok. Saat matahari terbit esok, kau akan dibawa ke alun-alun dan diadili sebagai pengacau.” Gorilla itu menatap Beno sinis dengan alis yang terangkat. Dari sorot matanya, jelas terlihat ia memendam kejengkelan yang besar pada Beno. Sang Gorilla membalikkan tubuhnya meninggalkan Beno, yang langsung diikuti oleh ketiga anak buahnya setelah mengunci pintu ruangan Beno.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN