“Cepat masukkan dia!” Gorilla itu memerintah kepada keempat anak buahnya.
Beno merasakan sebuah dorongan di punggungnya yang cukup keras, hingga mampu membuat cowok itu terpental beberapa langkah ke depan. Rasa sakit menjalar di kepala Beno dan bagian depan tubuhnya. Sepertinya Beno menumbuk sesuatu yang kokoh. Beno meraba benda keras di depannya. Itu adalah sebuah dinding yang dingin dan sedikit basah, juga disertai dengan bau tanah yang khas di sana. Beno berani bertaruh, tempat ini adalah sebuah penjara dan akan menjadi tempat tinggalnya selama beberapa hari ke depan.
“Buka penutup matanya!” perintah Si Gorilla terdengar lagi, bersamaan dengan terbukanya kain yang menutupi mata Beno.
Beno merasakan sedikit pusing di keningnya, akibat penutup mata yang terikat terlalu kuat. Cowok itu kemudian menyesuaikan matanya dengan cahaya kuning temaram dari lampu obor yang bergelantungan tanpa tali di dinding depannya. Bahkan lampu obor saja tergantung tanpa tali. Benar-benar tempat yang aneh!
“Aku harap kau tak berulah hingga hari persidangan besok. Saat matahari terbit esok, kau akan dibawa ke alun-alun dan diadili sebagai pengacau.” Gorilla itu menatap Beno sinis dengan alis yang terangkat. Dari sorot matanya, jelas terlihat ia memendam kejengkelan yang besar pada Beno. Sang Gorilla membalikkan tubuhnya meninggalkan Beno, yang langsung diikuti oleh ketiga anak buahnya setelah mengunci pintu ruangan Beno.
Beno menyandarkan tubuhnya pada dinding lembab yang terbuat dari tanah liat berwarna kuning kemerahan itu. Rasa dingin langsung menusuk ke tulang punggungnya—menciptakan rasa ngilu yang langsung menjalar ke seluruh tulang—saat ia bersandar di sana, disusul oleh penat setelah berlari dari kejaran pasukan gadis berambut merah yang berujung sia-sia dan tertangkap. Begitu juga dengan telapak dan tungkai kaki Beno, yang kini mulai terasa perih akibat terkena luka gores semak berduri. Beno kemudian mengedarkan pandangannya, memerhatikan sejenak tempat ia berada. Sebuah ruangan dengan dinding, lantai dan atap yang terbuat dari tanah liat. Mirip seperti sebuah lorong panjang dengan beberapa bilik kosong yang terpisah oleh sekat—yang terbuat kayu-kayu berukuran seperti lengan orang dewasa yang berjejer terpisah namun cukup rapat, hingga hanya menyisakan sedikit celah untuk menjulurkan tangan sebatas siku—pada setiap bagian bilik. Lampu obor yang bergelantungan di setiap pojok sebelah luar bilik, menambah kesan penjara bawah tanah cukup untuk menggambarkan kondisi ruangan ini. Tempat ini tampaknya benar-benar sebuah penjara untuk Beno.
Bilik Beno tepat berada di ujung ruangan bagian terdalam. Bilik yang ada di depannya kosong. Begitu juga dengan beberapa bilik di sebelah bilik kosong itu. Hanya bilik di sebelah kiri Beno saja yang berisi sesosok makhluk aneh dengan rambut hitam yang sangat panjang terurai. Makhluk itu hanya berdiam di pojok biliknya sambil meringkuk. Makhluk itu tak bergeming sedikitpun, bahkan sejak Beno datang tadi. “Apa mungkin ia sudah mati? Horror sekali jika benar begitu,” batin Beno sambil bergidik ngeri. Beno lalu berusaha menepiskan pikiran yang sempat membuat bulu kuduknya meremang. Cowok itu lalu mencoba menyapa ringan makhluk aneh di bilik sebelahnya, “hai, apa yang kamu lakukan di sini?” sapanya berusaha berbasa-basi.
Tak ada jawaban. Makhluk aneh itu tetap terdiam bagai mati. Dengan menahan sedikit rasa takut yang mulai berkelebat di hatinya, Beno kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah bilik makhluk itu. Sekali lagi ia mencoba menyapa makhluk aneh dan menyeramkan itu, “apa kau sudah mati?” tanya Beno polos.
Makhluk itu menolehkan kepalanya ke arah Beno dengan cepat. Sinar obor yang sedikit remang mampu membantu Beno untuk dapat melihat dengan jelas rupa makhluk aneh di bilik sebelahnya, hingga menampilkan sesosok makhluk berwujud kelelawar dengan ukuran tubuh yang tak jauh berbeda dari ukuran tubuh Beno. Wajahnya sangat aneh dan menyeramkan, disertai dengan gigi taringnya yang cukup panjang. Matanya berwarna hijau menyala. Jari tangannya hampir mirip dengan jari tangan manusia, namun terdapat selaput berbulu di sela-selanya, sangat berbeda dengan kelelawar yang pada umumnya berukuran jauh lebih kecil. Apa dia seorang mutan? Atau dia manusia jadi-jadian seperti siluman? Otak Beno terus-terusan memaksanya untuk berpikir hal yang aneh dan menyeramkan. Sangat bertentangan dengan nyalinya yang semakin menciut. Tubuh Beno gemetar saat melihat makhluk kelelawar itu mendekat ke arahnya sambil tersenyum miring.
Sosok gadis kelelawar raksasa itu menatap ke arah Beno sinis. “Apa yang kulakukan katamu? Dasar bodoh!” Gadis kelelawar itu tersenyum miring sambil menatap Beno. Ia seolah meremehkan Beno.
“Bo … bodoh?” Beno terkejut. Ia tak menyangka usahanya melawan rasa takut untuk menyapa ramah makhluk kelelawar mendapat respon yang menyakitkan seperti itu.
“Ya. Kamu bodoh! Jelas-jelas aku sedang dipenjara dan kamu masih menanyakan apa yang kulakukan? Pikirkan saja hari pengadilanmu besok. Dari yang kulihat, sepertinya pelanggaranmu cukup berat, bisa jadi besok adalah hari terakhirmu berada di dunia ini. Oh, dan mungkin juga besok mereka akan menghukum mati dan memenggal kepalamu. Hihihihi,” ucapnya sambil terkikik nyaring. Suara tawanya yang nyaring menggema di dinding penjara hingga memekakkan telinga Beno. Beno menutup telinganya dengan kedua tangan, berusaha menahan rasa sakit. Makhluk mirip kelelawar itu tampak tak menyukai kehadiran Beno di dekatnya. Setelah mengucapkan hal tadi, gadis kelelawar raksasa itu kembali meringkuk di tempatnya semula—berlindung dibalik sudut bilik yang gelap—dan meninggalkan Beno yang hanya bisa terdiam di biliknya sendiri.
Beno hanyut dalam diam. Ia hanya bisa merenung. Berbagai pikiran buruk tentang hari esok berkelebat di kepalanya, memaksa untuk dipikirkan satu persatu, bukan hanya dilewatkan dan dianggap angina lalu. Pikiran-pikiran itu berkecamuk saling berlomba untuk mengambil posisi agar menjadi hal utama yang harus dipikirkan oleh cowok berusia tujuh belas tahun itu. Setelah cukup lama terdiam—memikirkan hal apa yang harus menjadi prioritasnya untuk dipikirkan—Beno kemudian memutuskan untuk berpikir keras mencari jalan keluar di antara rasa putus asanya. “Bagaimana caraku agar bisa keluar dari sini tempat aneh ini? Apa mungkin jika aku mati di sini, maka aku akan kembali ke dunia nyata?” renungnya.
***
“Heh, bangun!” Sebuah suara nyaring dan berat mampu memekakkan telinga Beno. Memaksa untuk terbangun dari tidur lelapnya. Beno membuka mata perlahan, sambil menahan rasa sakit di kepalanya yang berkedut-kedut akibat terkejut bangun. Perlahan cowok itu menggerakkan tubuhnya untuk duduk bersandar pada dinding yang lembab di biliknya. Sambil memicingkan mata, Beno menatap ke arah pintu bilik yang kini tertutup oleh tubuh seseorang. Sosok itu berdiri tegap di depan pintu, menghalangi cahaya yang masuk.
“Bangun, pengacau!” Suara menggelegar itu terdengar lagi, kali ini disertai dengan sebuah suara debuman kayu yang ditendang dengan kuat. Sepertinya kayu itu sangat kokoh, dilihat dari kerasnya suara tendangan, yang tak mampu membuat kayu itu bergeser barang satu sentipun dari tempatnya.