8. Fake Boyfriend

1234 Kata
Chapter 8 Fake Boyfriend Hal gila macam apa yang Jessie cetuskan? Tetapi, melihat ketegangan di mata Jessie, Beck mendekatkan wajahnya dan melumat bibir indah Jessie. Memberikan kecupan demi kecupan kemudian selangkah demi selangkah mereka berjalan tanpa melepaskan ciuman di bibir mereka. Awalnya ciuman itu terasa ringan, tetapi saat lidah Beck berkelindan dengan lidahnya, Jessie mulai kehabisan napas dan udara di sekelilingnya sepertinya menjadi sedikit panas. Jessie membenamkan jari-jarinya di antara rambut Beck, ia memekik lembut saat Beck mendorongnya ke dinding di samping pintu lift dan Jessie meraba-raba tombol lift untuk menekankan ibu jarinya pada tombol lift yang memerlukan sidik jarinya sebagai akses untuk membuka pintu lift. Sementara ciuman mereka terus berlanjut karena sepertinya lift k*****t itu berada di lantai teratas dan memerlukan banyak waktu untuk mencapai lantai dasar. Terlalu lama hingga Jessie nyaris kehabisan napas karena Beck benar-benar menciuminya dan tubuh mereka semakin rapat hingga hanya terpisahkan kain yang menempel di tubuh mereka. Ketika denting lift berbunyi, Jessie mendorong d**a Beck dan mereka seperti pasangan yang tidak sabar untuk segera mencapai tempat tidur. Keduanya memasuki lift dengan terburu-buru kemudian Beck menekan tombol penutup pintu, sedangkan Jessie menekan tombol lantai. Begitu lift bergerak naik, keduanya sepakat mengakhiri ciuman. Tetapi, Beck masih memerangkap Jessie dalam rangkulannya, meskipun untuk membuka pintu lift memerlukan akses khusus--hanya orang-orang yang terdaftar sebagai penghuni yang dapat mengakses lift, tetapi Beck masih mengkhawatirkan jesssie. Tijuana bukan kota yang damai, preman di sana mungkin terhubung dengan dunia gelap yang berhubungan kartel-kartel narkoba dan Beck yakin, mereka memiliki seribu cara untuk meringkus Jessie dan dirinya. Ia ngeri membayangkan jika preman yang mengikuti mereka muncul di lantai yang tidak mereka duga. Beck menepuk-nepuk lengan Jessie dengan lembut dan berucap, "Apa kau selalu menciumi kekasih palsumu seperti itu?" Jessie merasakan kulit pipinya memanas. Tetapi, ia tersenyum dengan pongah dan berucap, "Ya. Dan asal kau tahu, kau adalah satu-satunya pacar palsuku." Beck tertawa seraya ekor matanya mengarah ke barisan angka di samping pintu lift kemudian melirik pakaiannya. Norak, pikirnya. Ia mengenakan kaus Jessie yang terlalu sempit hingga bagian ketiak kaus itu robek saat dipaksa masuk ke tubuhnya. Tetapi, lebih norak lagi sepertinya jika ia mengenakan setelan jas tanpa kaus atau kemeja di dalamnya atau orang akan mengira dirinya seorang penyanyi rock. Keduanya menghela napas lega saat lift berhenti di lantai unit yang dituju kemudian Jessie menyeret pergelangan tangan Beck dan tergesa-gesa keluar dari lift. "Kau tinggal di apartemen sederhana seperti ini?" tanya Beck saat Jessie menekan ibu jarinya di mesin keamanan yang terpasang di pintu unitnya. "Aku bertekad untuk merasakan hidup sebagai rakyat biasa. Jadi, aku berkomitmen dengan itu. Aku hidup dalam kesederhanaan," ucap Jessie sembari mendorong pintu. Apa pun yang Jessie katakan semuanya berbanding terbalik dengan logika yang Beck miliki. Dari sudut mana pun, semua alasan yang Jessie kemukakan terdengar janggal. Kemudian melihat suasana tempat tinggal Jessie yang berantakan, Beck yakin jika Jessie belum pernah menyentuh alat pengisap debu atau mesin cuci. Terlihat dari setumpuk pakaian, Beck menebak itu adalah tumpukan pakaian kotor. Percuma saja menanyakan di mana pelayannya, pikir Beck. Ia yakin akan kembali mendapatkan jawaban yang tidak lain adalah bualan. "Sekarang lepaskan kemejaku dan kuharap kau memiliki cadangan makanan ataupun minuman dingin di kulkasmu," ucap Beck. Ia merasakan lapar dan haus setelah ketegangan yang baru saja ia lalui. "Ya. Tentu saja. Kau cari sendiri apa yang kau butuhkan...." Jessie menatap Beck dan memiringkan kepalanya. "Kau belum memberitahu siapa namamu." Bagus sekali. Setelah sejauh ini terseret masalah, wanita itu belum tahu nama pria yang menolongmu padahal sudah saling kenal. Benar-benar angkuh! Pikir Beck. "Kau bisa memanggilku, Beck," sahut Beck dengan malas kemudian berjalan mendekati kulkas. Tuan Putri yang payah! Beck menggelengkan kepalanya saat menyaksikan isi kulkas Jessie. Hanya ada beberapa botol air putih kemasan dingin, beberapa kaleng soda, dan s**u kemasan. Yang paling mengenaskan adalah beberapa bungkus makanan instan yang disimpan di tempat pembeku. Beck mengambil sebotol air mineral dan membasahi kerongkongannya seraya berpikir bagaimana caranya membebaskan Jessie dari jerat pria Meksiko dan bagaimana caranya membawa Jessie keluar dari tempat ini tanpa ketahuan? "Berapa lama kau di sini?" tanya Beck saat Jessie keluar dari kamarnya dan telah berganti mengenakan celana kain di bawah lutut dan kaus longgar. "Mungkin dua Minggu." Sekitar dua Minggu dan sudah membuat onar. Beck hampir menggelengkan kepala. "Apa keluargamu tahu keberadaanmu?" Jessie tertawa dan mengulurkan kemeja kepada Beck. "Aku tidak sedang melarikan diri, tentu saja keluargaku tahu," ucap Jessie. "Sebaiknya kau kenakan kemejamu dulu." Memang benar seharusnya mengenakan kemejanya secepatnya agar segera terbebas dari siksaan dari kaus ketat yang membalut tubuhnya. Beck meletakkan botol air mineral ke atas meja makan dan menyambut kemeja yang Jessie berikan kemudian bersyukur karena satu siksaan akan berakhir. Beck melepaskan jasnya dan kaus sempit di tubuhnya, terdengar bunyi kain sobek saat ia melepaskan kaus. "Kausmu sepertinya berakhir di tempat sampah," lanjutnya seraya menarik laci di bawah meja pantri. "Berapa lama kau tidak membuang sampah?" Jessie mengernyit. "Aku belum sempat membuangnya." Jelas-jelas sudah penuh dan mengeluarkan aroma tidak sedap, mungkin selama dua Minggu juga belum pernah dibuang. Beck menghela napas berat. "Jadi, apa kau memiliki rencana? Maksudku untuk terbebas dari preman-preman utusan pria jelek itu," ucapnya seraya mengenakan kemejanya. "Sepertinya aku harus pindah apartemen," desah Jessie meskipun ia tidak memiliki dana untuk pindah tempat tinggal. "Bagus. Untuk menjaga...." Ponsel Beck berdering menginterupsinya. Mengganggu saja. "Charlie...." "Di mana kau?" Dari nada bicaranya sih sepertinya Charlie cukup kesal. "Aku di...." "Di tempat perempuan itu?" Beck mengernyit dan menjauhkan ponselnya dari telinga untuk memastikan orang yang menghubunginya. Dari mana Charlie tahu jika dirinya pergi dari tempat perjudian bersama wanita? "Ya... aku...." "Aku senang karena akhirnya kau mengakhiri masa patah hatimu dan bersama wanita," ujar Charlie disertai tawa. "Tapi, kau membuatku tidak senang karena kau telah membuat masalah untukku, Sobat." Perasaan Beck semakin tidak nyaman. Jadi dua kali lipat tidak nyaman. Pertama karena preman yang mengejar Jessie, yang ke dua.... "Kau di mana?" "Bawa wanita yang bersamamu itu ke tempat di mana kau menemukannya," ucap Charlie. Bahkan jika Charlie mengancam akan memenggal kepalanya sekali pun, Beck memilih memenggal kepalanya sendiri dibandingkan membawa Jessie kembali ke tempat perjudian karena pada akhirnya ia akan kehilangan kepalanya juga jika membiarkan Jessie dalam bahaya. Menyerahkan Jessie kepada preman? Yang benar saja! Beck yakin Charlie akan menyesal jika tahu siapa wanita yang sedang mereka bicarakan. Beck berdehem seraya melirik Jessie yang berjalan menuju kulkas. "Tidak bisakah kau berbicara dengan jelas?" "Wanita itu penipu, dia sepertinya akan mengangkangimu dan membuatmu kelelahan lalu menguras hartamu. Oh, tidak juga. Bisa jadi dia...." "Cukup." Ia merasa sakit kepala mendengarkan celotehan Charlie. "Berapa banyak jumlah uang yang mereka minta?" Beck mendengarkan Charlie yang sedang berbicara dengan-mungkin dengan pria jelek yang menargetkan Jessie seraya menatap Jessie yang mengambil sekaleng soda lalu menarik tutupnya dan mengalami kesulitan membukanya karena kukunya yang panjang. Betapa anehnya wanita karena mereka senang sekali mempersulit hidupnya sendiri demi terlihat indah, pikirnya. Ia mendengus, menjepit ponsel menggunakan pundak lalu mendekati Jessie dan mengambil kaleng soda dari tangan wanita itu kemudian membantu membukanya lalu mengembalikannya. "10 juta Peso," ucap Charlie. Beck nyaris tersedak mendengar angka yang diucapkan Charlie. Nyaris setara dengan 450 ribu Euro. Itu bisa untuk membeli satu buah super car. "Tuan Putri, berapa utangmu?" tanyanya kepada Jessie dan Beck mendengar umpatan Charlie. Jessie mengerjap lalu menggigit bibir bawahnya. "Apa pria jelek itu meneleponmu?" Ia berbisik di depan Beck. "Temanku ditahan di sana dan tidak akan dilepaskan sebelum kau membayar utangmu." Kira-kira begitu, meskipun itu hanya tebakannya tetapi Beck sangat yakin yang diinginkan pria jelek itu memang begitu. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN