9. Negotiate

1038 Kata
Chapter 9 Negotiation "Sialan! Jangan main-main dengan penipu itu, Beck! Kau bisa membeli sepuluh jalang di sini dan kupastikan kau tidak perlu membayar sepuluh juta Peso!" umpat Charlie hingga membuat Beck mengernyit. Siapa yang menginginkan wanita? Bahkan jika sekarang Jessie bertelanjang di depannya sekali pun, mungkin dirinya tidak akan tertarik. Pertama Jessie adalah seorang infanta, adik penerus kerajaan Spanyol sekaligus adik sahabatnya. Jessie tidak sepadan dengannya dan yang kedua, wanita itu dinilainya terlalu manja hingga menimbulkan banyak masalah. Sama sekali bukan tipenya. Beck berdehem. "Bisakah aku bicara langsung dengan mereka?" tanya Beck kemudian ia mendengar Charlie berbicara dengan seseorang dan suara berat pria beraksen Meksiko menyapanya. "Aku ingin wanita itu," ucap seorang pria yang Beck tebak adalah si pria jelek yang mendobrak pintu toilet. "Bukankah kau ingin uangnya?" tanya Beck dengan nada sangat tenang. "Aku ingin wanita itu," jawab pria jelek. Beck bersumpah pria jelek itu pasti menyesal mengucapkan kalimat itu jika tahu siapa Jessie. "Jika kau ingin uang, aku akan mengirimkan cek sejumlah utang wanitaku, tapi jika kau menginginkan wanitaku...." Beck menatap Jessie dan menaikkan sebelah alisnya. "Aku berencana menukarnya dengan sahabatku. Tenang saja, dia lebih berharga dari pada wanitaku. Keluarga Danish akan menebusnya, mungkin...." "Sialan kau, Beck!" Beck mendengar umpatan Charlie, mungkin ponsel Charlie dalam mode pengeras suara. Ia menyeringai. "Kau bisa mencari tahu siapa keluarga Danish dari Spanyol, mereka adalah...." "Kakek kami adalah panglima militer tertinggi," sahut Charlie terdengar penuh kesombongan. Pria jelek itu mengumpat. "Ini Meksiko, Bung!" "Terserah saja," ucap Beck dengan acuh. "Kau pilih uangku atau sahabatku." Beck yakin, pria jelek itu akan memilih uangnya. "Aku ingin uang tunai sekarang juga." Beck tersenyum miring, tebakannya tidak salah. "Aku adalah orang Spanyol yang kebetulan datang ke Meksiko untuk berbisnis, aku tidak memiliki uang tunai sebanyak itu di tengah malam seperti ini." "Aku hanya menerima uang tunai," tandas pria jelek itu. "Baiklah. Artinya urusan kita selesai, kau bisa meminta tebusan kepada keluarga Danish," ucap Beck dengan nada yang masih acuh. "Beck! Akan kupastikan kau menyesal!" seru Charlie. "Tidak. Aku tidak akan menyesal." Beck menggosok janggutnya beberapa kali. "Tenang saja, aku akan membantumu menjelaskan kepada keluargamu kenapa kau berada di tempat perjudian." "Ibuku akan memotong lehermu, Sobat. Dan ayahku akan memutuskan bisnis kita." Beck tertawa. "Mereka tidak akan melakukan itu, aku yakin jika mereka tidak akan percaya apa pun alasanmu." "Bisakah kalian berdua diam?" bentak pria jelek. "Jam berapa kau akan mengirimkan ceknya?" Beck diam-diam menghela napas lega karena triknya berhasil. "Aku perlu menelepon asistenku untuk menyiapkan cek," jawabnya setelah memberikan jeda beberapa detik. "Berapa menit?" desak pria jelek itu. "Apa kau pikir aku memiliki kemampuan super dan bisa berada di beberapa tempat dalam waktu singkat?" tanya Beck dengan nada sinis. "Jangan coba-coba kalian bermain trik!" "Melarikan diri bukan keahlianku dan kau tidak perlu bersikap seolah-olah anak kecil yang tidak sabar dengan mainan barumu. Asistenku akan mengirimkan cek secepatnya setelah kau lepaskan sahabatku," lanjut Beck kemudian ia memutuskan sambungan telepon. Jessie yang sejak tadi tetap di tempatnya sembari mendengarkan Beck berbicara mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian mendekatkan kaleng soda soda ke mulutnya. "Apa kata pria jelek itu?" Beck mengedikkan bahunya tanpa menjawab pertanyaan Jesssie kemudian menggeser layar ponsel untuk menemukan kontak asistennya. "Bagaimana temanmu? Apa mereka melepaskannya?" Beck mengira Jesssie tidak akan peduli dengan orang lain. Ia menatap Jesssie kemudian mengangkat kedua alisnya. "Mereka tidak akan menyentuh Charlie Danish." "Aku cukup terkesan karena lingkungan pergaulanmu ternyata tidak biasa. Kau berteman dengan kakakku, kau juga sepertinya spesial di mata Vanilla, dan... kau berteman dengan keluarga Danish padahal kau bukan dari keluarga bangsawan ataupun militer," ucap Jessie. Terdengar sangat menyepelekannya. Tetapi, Beck tidak ingin ambil pusing karena di luar sikap anggun Jessie saat tampil dalam acara-acara resmi kerajaan, sepertinya sifat dan sikapnya memang menjengkelkan. Ia menghela napas menata kesabarannya kemudian melanjutkan niatnya memanggil asistennya yang berada di hotel dan tiga puluh menit kemudian pria bernama Arnold datang membawakan barang-barang yang diperlukan Beck. Seperti halnya Beck yang terkejut saat pertama kali mendapati putri raja Spanyol di depannya, Arnold juga tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya meskipun tidak mengatakan apa pun. Pria itu hanya menatap bosnya seolah meminta penjelasan seraya mengeluarkan buku cek dari tasnya dan menyodorkan pena kepada Beck lalu pergi setelah Beck menuliskan angka dan membubuhkan tanda tangannya. "Apa tidak apa-apa asistenmu pergi sendiri ke tempat itu?" tanya Jesssie dengan suara pelan. Seharusnya tidak masalah karena Beck telah meminta bantuan salah satu kenalannya yang merupakan seorang polisi dengan pangkat yang lumayan tinggi untuk mengawal Arnold. "Arnold seorang pria yang cerdas, dia bisa mengatasi apa pun," jawab Beck dengan acuh kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "Aku akan tetap di sini karena meskipun mereka sudah menerima cek, aku tidak yakin jika mereka benar-benar melepaskanmu." "T-terima kasih," ucap Jessie dengan lirih. Setidaknya tuan putri tahu caranya mengucapkan terima kasih. Pikir Beck geli. "Besok pagi kita harus pergi dari sini. Aku akan membelikan tiket untukmu kembali ke Madrid." Mata Jessie membelalak. "Apa kau bilang?" "Di sini tidak aman, pria jelek itu tidak akan melepaskanmu begitu saja," jawab Beck sembari menguap lebar. Meskipun cek telah di tangan pria jelek pemeras, Beck memiliki firasat jika pria itu tidak serta-merta melepaskan Jessie begitu saja karena cek baru bisa dicairkan saat bank beroperasi di hari Senin. "Tidak! Aku tidak mau kembali ke Madrid!" Beck dapat melihat dengan gamblang ketegangan di wajah Jessie dan ia cukup heran dengan ekspresi Jessie. "Tuan Putri, tempatmu bukan di sini." Jessie menggeleng. "Aku akan tetap di sini." Beck memejamkan matanya beberapa detik sembari menekan pelipisnya yang berdenyut-denyut. "Aku tidak bisa terus-terusan mengawasimu di sini, aku harus bekerja." Dan pekerjaannya mengharuskan dirinya berada di kebun agave yang terletak di pinggiran kota. "Kau tidak perlu mengawasiku, aku...." "Mereka tidak akan melepaskanmu sebelum uang itu dapat dicairkan, mengerti?" Rasanya sangat menyiksa berbicara dengan wanita keras kepala. Tuan Putri ceroboh itu tidak memiliki bahan makanan yang layak di kulkasnya dan Beck yakin Jessie akan memesan makanan siap saji untuk dikonsumsi setiap waktu makan. Wanita itu tidak bisa hanya berdiam diri di dalam unitnya. Lalu bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Jessie? Memang bukan urusannya lagi karena dirinya telah menolong Jessie semampunya, tetapi sebagai manusia, ia tidak dapat menutup mata begitu saja dengan kemungkinan buruk yang akan menimpa Jessie di Tijuana. Beck menghela napas karena geram dan berkata, "Kalau begitu, besok kau ikut bersamaku pergi ke perkebunan." Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN