Dan yah setelah drama yang sedikit panjang akhirnya Guzel mau menerima permintaan mamanya untuk tinggal di kediaman Shawn orang yang menurut Guzel masih sangat asing baginya. Guzel masuk kedalam rumah berlantai dua yang tidak terlalu besar itu langkah kakinya nampak gontai, dipandangi nya semua sisi dan setiap sudut tempat yang memiliki banyak kenangan indah bersama sang papa. Beberapa kali Guzel menghela nafas berat ada rasa sesak yang menimpa hatinya saat ini, masih banyak pertanyaan yang bertebaran di kepalanya tapi masih cukup dia tahan.
Gadis itu beralih masuk kedalam kamar bernuansa biru dimana ada papan nama bertulisan namanya bergantung di depan pintu, dia menyeret dua koper besar yang terletak di sudut sisi lemari. Guzel mulai berangsur memasukan barang-barang yang sangat penting dan juga sangat berarti untuknya. Setelah menutup rapat dua koper itu Guzel kembali duduk di tepi ranjang tangan nya terulur mengambil bingkai kecil diatas nakas, itu adalah foto dia dan juga mama papanya. Setetes airmata mengalir begitu saja di pipi mulus Guzel, jangan ditanya seberapa sedih dia sekarang karena harus meninggalkan rumah yang memiliki banyak memori indahnya bersama mama dan juga papanya.
" Guzel kangen, Pa " lirih nya sambil memeluk foto itu
" Kalau aja papa masih ada, mungkin Guzel sama mama nggak akan kayak gini.. hiks " gadis itu mulai terguguh
" Papa tau? Sejak papa nggak ada kehidupan Guzel sama mama nggak baik-baik aja Pa... " Adunya sambil mengusap foto sang papa
" Semua aset yang papa miliki dan semua uang yang papa tinggalkan itu di ambil alih sama Opa dan keluarga papa... "
" Tapi bukan itu yang buat Guzel dan mama sedih, Pa... Hanya rumah ini yang masih tersisa, ini bukan hanya sekedar rumah tapi disini kita punya banyak kenangan indah dan Guzel yakin mereka juga pasti akan mengambilnya... Kenapa mereka sejahat itu sama kami sampai kenangan sama papa pun mau mereka ambil " rintih gadis malang itu
" Mama juga nggak permasalahin soal harta yang mereka rampas secara paksa karena Mama dan Guzel masih bisa cari kerja untuk kehidupan sehari-hari.. Tapi tolong jangan mereka ambil kenangan kita... "
" Sekarang mama lagi sakit keras, dan dokter juga bilang kalau hidup mama nggak akan lama lagi... " Tangis Guzel pecah saat mengingat mamanya terbaring lemah di atas ranjang pasien.
Guzel tau kalau hidup mamanya tidak akan lama lagi, dan jika di tanya tau dari mana gadis itu? Guzel tidak sengaja mendengar obrolan Joshua dan juga Shawn tadi sebelum dirinya pulang, awalnya Guzel hendak ke toilet tapi begitu mendengar Joshua menyebut nama mamanya Guzel mengurungkan niatnya.
" Hidup Amanda sudah tidak akan lama lagi Shawn, karena sampai sekarang kita belum menemukan pencangkokan tulang sumsum belakang yang cocok untuk nya "
" Kita tidak tau dimana keluar kandung Amanda berada sedangkan untuk mencari pendonor pun itu sangat sulit "
" Guzel takut pa..... Guzel takut mama juga akan ninggalin Guzel.... Kalau mama pergi bagaimana Guzel melanjutkan hidup nantinya... Guzel nggak mau hidup sendirian.. kenapa papa harus pergi, dan sekarang- "
Tangis Guzel semakin menjadi dia begitu sangat takut akan kehilangan satu-satunya orang yang dia sayangi tempat dia mengadu, tempat dia berlindung, tempat dia bersandar dan tempat dia berpegangan, jangankan tiba harinya membayangkan nya saja Guzel sudah tidak kuat. Gadis itu mengusap airmatanya lalu mencium foto yang ada di pelukannya dengan sekuat tenaga dia menghalau sesak yang berkecamuk didalam d**a. Guzel beranjak keluarga dari kamar yang sudah dia huni belasan tahun itu. Begitu turun dari tangga Guzel melihat dua orang lelaki sedang berdiri menunggunya.
" Biar saya saja yang bawa kopernya, Nona " salah satu anak buah Shawn menghampiri Guzel lalu mengambil alih dua koper besar yang di bawa olehnya.
" Terimakasih- " Guzel menatap lelaki sejenak
" Saya, Jay " lelaki itu menyebutkan namanya lalu menoleh kerekan nya " dan ini, Bams " lelaki bernama Bams itu mengangguk dan dibalas senyum kecil oleh Guzel
Jujur sebenarnya Guzel merasa risih karena harus di dampingi dua bodyguard sekaligus dia tidak biasa di perlakukan seperti ini, tapi dibanding dia harus mendengar Shawn ngereog lagi jadi lebih baik dia manut saja.
Dua koper biru milik Guzel sudah tersusun rapi di dalam bagasi, namun baru saja hendak membuka pintu mobil Guzel kembali menoleh kearah bangunan dan juga halaman di depannya. Dia seakan melihat Guzel kecil sedang berlari-lari mengitari taman diiringi oleh seorang lelaki dan seorang perempuan yang tertawa bahagia dan itu tak lain adalah Billy dan juga Amanda.
" Ayo nona... Tuan Shawn sudah menunggu di mansion " ujar Bams yang sudah membukakan pintu penumpang untuk Guzel.
Gadis itu menoleh sekali lagi kerumah yang penuh kenangan bahagianya sebelum masuk kedalam mobil, Guzel mengusap airmatanya lalu menutup pintu mobil itu rapat dan perlahan kendaraan roda empat itu meninggalkan halaman.
Sepanjang perjalanan Guzel tidak mengeluarkan suara, mata indahnya menatap jalan raya ibu kota yang dirayapi oleh kendaraan tak terhitung sudah berapa kali dia menghela nafas lelah.
" Jay... " panggil Guzel ragu
" Apa nona ingin sesuatu? " tanya Jay
Buset gercep banget ni orang, baru di panggil namanya saja dia sudah langsung bertanya ke poin. Guzel menatap lekat lelaki itu sebenarnya canggung tapi dia tiba-tiba sangat ingin datang ketempat itu.
" Nona..... " tegur Jay yang menghancurkan lamunan gadis itu
" Sebelum ke mansion, apa kamu bisa antar aku ke pemakaman dulu? " tanya Guzel
" Apa nona ingin mengunjungi pemakaman orang tua, nona ? " tebak Bams
" Iya... " Jawabnya singkat menatap Jay dan Bams bergantian karena kedua orang itu terlihat ragu
Jay menghentikan laju mobilnya begitu melihat lampu merah menyala, lelaki itu mengambil ponsel nya lalu mengirim pesan entah pada siapa begitu mendapatkan pesan balasan dan tepat lampu hijau menyala Jay kembali melajukan kendaraannya dan menuju tempat yang diinginkan oleh Guzel tadi.
Tidak butuh waktu lama mereka pun sampai di depan gerbang pemakaman Guzel bergegas turun membawa bunga mawar yang sempat dia beli tadi, melangkah dengan pelan dia menuju ke salah satu gundukan tanah diselimuti oleh rerumputan hijau yang tumbuh rapih, batu nisan itu bertuliskan nama sang papa, Billy Wijaya.
Guzel hanya duduk dan berdo'a untuk almarhum papanya lalu menebar kelopak bunga mawar yang dibawanya tadi, wajah gadis itu tersenyum tapi jauh didalam lubuk hatinya gadis itu menangis meratapi semua kesedihan nya yang ditinggalkan oleh sang papa.
Hampir setengah jam gadis itu berada disana, kamudian Jay menghampirinya dan mengajaknya untuk kembali karena hari sudah semakin gelap.