Puncak Part 2

1690 Kata
"Omaaaaaaaa!!!!!"  "Waaahh... cucu Oma pada ganteng ganteng." Mommy jongkok dan memeluk Nate yang dari tadi histeris sejak pertama melihat Mommy berada di ruangan Rio. Sedangkan Mike masih stay cool di gendongan Rio.  "Mommy ada di sini juga?" Heran Diandra sambil mencium punggung tangan Mommy. Mommy manggut manggut mencium pipi nate yang kegirangan. "Iya Sayang. Daddy setelah meeting ini mau ngajak Mommy jalan.." Nate memeluk leher omanya. Rio tertawa geli. Si Nate nggak bisa lihat cewek cantik dikit aja. Pasti langsung nempel. Entah sama auntynya. Omanya. Dan semua spesies yang bernama cewek. "Duuh... Nate berat ya Mom...? Sini Diandra gendong aja."  "Ini sih nggak berat Dii... Masih berat Rio waktu seumuran mereka hihi..." "Miii!!!" Tegur Rio kesal. Membuat Mommy cekikikan. "Bener Mom?" Diandra menyenggol lengan Rio jahil.  Rio menoleh kesal. Dan Diandra menaikan alisnya sambil berbisik pelan pada Rio. "Hiiihii... gendut." Rio mendengus kesal. Memelototi Diandra yang cekikikan itu. "Daddy tu apal." Mike menarik narik dasi Rio. "Kakak Mike lapar lagi?" Diandra mengelus pipi Mike. "Huum... Mommy."  "Eh... kebetulan tadi Mommy bawa brownies. Mike mau?" Tanya Mommy. Mike mengangguk antusias. "Tu mau Oma!!"  "Nate mau?" Nate menggeleng sambil minta di turunkan. "Tu mau tetana Omaa!!! Tuyun.."  "Haha... iya... iya... turun.. jangan gangguin Opa ya." Nate mengangguk.  Seratus persen Rio nggak yakin sama ucapan anaknya yang buandel itu.  "OPAAA!!!!!" Jerit Nate sambil berlari menghampiri Opa nya yang sibuk dengan laptop dan berkas berkas yang di tanda tanganinya. "Heii... jangan ganggu Opa ya anak ganteng." Tegur Opa menahan tawanya. "Opa adi apa?" Nate melongokan kepalanya melihat apa yang di lakukan Opanya. "Belajar Sayang."  "Apa tu delajal?" Nate memiringkan kepalanya. "Nate mau belajar?" Rio berjongkok di samping Nate yang pengen banget gangguin Opanya itu. "Ndak mau!!!"  "Kalau nggak mau sekolah... trus nggak ada cewek yang mau dong sama Nate?"  "Oohh.... tu ndak mau delajal! Tu mau tutu totat!" Nate berlari ke arah Diandra yang menyuapi Mike dengan brownies. Nate menarik narik baju Diandra.  "Apa sayang?"  "Tutu tu di nana Mommy? Tu auss!!!"  "Duhh Oma ke sembur!!" Oma cekikikan mengusap wajahnya yang di sembur Nate tadi. "Kecilanya Rio mirip banget sama Nate. Suka nyembur haha." Rio menatap Mommynya tajam.  "Aib Myy... jangan bikin malu Rio." Diandra terkekeh melihat raut masam Rio. "Tuh... menantu Mommy juga tukang sembur." Rio menunjuk Diandra yang langsung diam. Duh... enak aja dia di bilang tukang sembur.  Giliran Rio yang cekikikan melihat wajah di tekuk Diandra.  Jadi inget Diandra semalem. Udah sering... tapi masih hot aja dia.  Rio tertawa sendiri mengingat kerja rodi semalam. "Mommy!!!!!!! Tutu tu!" Jerit Nate kesal. Merasa di campakan. "Daddy ambilin tas baby embuls dong." Diandra menunjuk tas imut berwarna biru itu. Rio segera mengambilkanya. Lalu mengambilkan botol s**u Nate.  "Daddy minum boleh?" Tanya Rio. "Ndak olehhhh!!!!! Ni unya tu! Daddy tan tutu Mommy!" Nate merebut botol susunya. Dan cepat cepat di taruh di mulut. Rio tertawa lebar mengacak acak rambut Nate yang langsung memanjat sofa dan duduk anteng di samping Omanya. "s**u Mommy?? Maksudnya??" Mommy bertanya tanya bingung. Diandra dan Rio saling tatap.  Waduhh!!!! Nate emang tadi bilang apa sih? Dasar biang rusuhhh!! "Tutu na Mommy Oma..." jelas Nate enteng sambil menggerak gerakan kakinya. Blusshhhh.... Pipi Diandra memerah saat Mommy mertua menatapnya penuh kegelian.  "Eh..." Rio menggaruk tengkuknya salah tingkah. Yahh.... ketahuan deh suka nyusu. "Nateee!!!!!" Jeritan Mike menyelamatkan keadaan canggung.  Mike menjauhkan wajah Nate yang berusaha mencium pipinya.  "Tiummm... tu tayang Mite!!"  "Hihi... sayang Kakak nggak mau di cium tuh." Rio geli sendiri melihat Nate yang suka sekali mengerjai Kakaknya yang sama sekali nggak mau di ganggu acara makanya itu. "Api.. tata Daddy talo' tayang... alus di tium nini naa.." Nate menunjuk nunjuk pipinya. "Tayak Daddy tayang Mommy. Api... api... Daddy tium Momny di nini. Tlus....." Nate menunjuk bibirnya sendiri. Rio langsung membekap mulut Nate. Kalau di biarkan bisa dia ceritakan secara detail ntar. PLAKK "Aduh!! Kok di pukul sih pala Rio Mom?" Rio mengusap kepalanya kesal.  "Kamu kasih tontonan apa Rio!!" Geram Mommy kembali melayangkan tas tanganya. Sementara Diandra hanya bisa tertawa geli menyaksikan interaksi mertua dan suaminya itu. Lucu banget deh. "Yang bantuin dong... duh!!!"  "Daddy tok di tutul Oma?" Tanya Mike sambil menarik baju omanya. "Daddy kamu ini nakal." Rio hanya mendengus kesal di bilangi nakal. "Tayak Nate natal! Tu ndak mau di tium Nate.." Mike turun dari sofa lalu berlari ke arah Opanya. "Nate natal Opa..."  "Miteee tiumm!!!" Nate ikut turun lalu mengejar Mike yang sekarang lari muter muter ruangan kerja Daddynya yang memang luas itu.  "Ndak mau Nate natal!!"  "Tu ndak natal... tu tayang Mite!"  "Lihat mereka berdua jadi ingat masa kecil Rio dan Nisa." Mommy menggenggam tangan Diandra. Diandra langsung menatap Mommy mertua excited.  "Mommy jangan mulai." Tegur Rio sambil duduk di samping Diandra. Dia melepaskan genggaman Mommynya pada tangan Diandra. "Punya Rio ini Mom."  "Kak..." Desis Diandra sambil menginjak kaki Rio. Untung aja Diandra pakai flat shoes. Kalau pakai high heels? Gimana tuh nasib kaki Daddy Rio. Rio mengangkat bahunya cuek. "Kamu kan memang hak milik aku..." "Jangan mulai!"  "Kalau aku mau mulai gimana?" Rio emanikan alisnya menggoda. "Arghh... ka-"  Cup "Dah ah jangan marah marah.. I love you..." Rio mencium pipi Diandra cepat. Mommy terkikik sendiri. Anaknya yang satu itu memang dari kecil sudah sangat senang cium cium orang.  Nggak heran kalau udah nikah dia suka cium cium nggak kenal tempat. Mommy udah hafal luar dalam Rio.  "Tena amu Mite!!!" Teriak Nate kesenangan. Dia memeluk Mike yang kelihatan sudah pasrah. Diandra sampai bingung. Yang doyan makan dan ngemil Mike. Tapi Nate yang memiliki tenaga super ekstra.  Diandra geleng geleng melihat Nate yang membuntuti kemanapun Kakaknya itu pergi.  "Gemes ihh sama mereka!" Mommy mengeluarkan ponselnya lalu membidikan kamera ke arah Nate dan Mike yang sedang berpelukan. Rio menyenggol nyenggol lengan Diandra.  "Hum?" Tanya Diandra. "Boleh cium satu kali lagi?"  ***** "Hujan Kak!" Diandra melihat keluar jendela saat hujan mulai mengguyur kota Jakarta yang seharian ini terik banget. "Mau neduh dulu? Kamu kedinginan?" Tanya Rio.  Dia menatap sebentar Diandra yang mengeratkan pelukanya pada Nate dan Mike yang sudah tertidur pulas. "Nggak deh... istirahat di rumah aja."  "Sebentar aja... kamu udah pucet lho Yang... aku baru inget kamu cuman makan sedikit tadi."  "Tapi aku pengen bakso."  Rio meletakan tanganya di atas tangan Diandra.  "Tidur aja dulu. Ntar aku bangunin kalau  udah sampai."  Diandra tersenyum menepuk pipi Rio mengisyaratkan Rio untuk fokus menyetir.  Kemudian dia menyandarkan kepalanya dan nggak lama tertidur.  Rio melirik Diandra lalu tersenyum lebar. Saat lampu merah Rio mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. "Udah siap?"  "Beres Yo!!"  "s***p lu.. udah ya kurang 10 detik lampu merahnya. Makasih.." kata Rio ketus. Hhh... kalau nggak karena si k*****t ini udah rela bantuin dia. Nggak akan dia teleponan sama makhluk homo satu ini. "k*****t lo Yo.." Tut... tut... Rio menutup sambungan teleponya. Kembali melajukan mobilnya saat traffic light nya sudah berwarna hijau. **** Diandra merasakan pundaknya di goyang goyangkan. Dia mengucek matanya dan melihat Rio nyengir di depan wajahnya.  Duhh... Diandra meregangkan tubuhnya. Berapa lama sih dia duduk dalam mobil. Kok berasa pegal sih? Padahal jarak kantor ke rumah kan nggak makan waktu banyak. "Baby embuls man-" "Udah aku bawa masuk Yang." Potong Rio sambil merapikan poni Diandra. "Capek?"  "Huum... berasa duduk berjam jam. Padahal nggak sampe 20 menit. Habis ini kerokin ya?"  Rio tertawa lalu mengacak rambut Diandra.  "Iya... iya... di kerokin pakai beling."  "Ishh... gigit nih."  "Of course baby..." Rio menyodorkan tanganya. Dan sesuatu menancap di bahunya.  Yah siapa lagi kalau bukan Diandra. Bukanya di gigit di telapak tangan. Dia malah gigit bahu Diandra. Huh... kadang cewek suka aneh. Rio nggak habis thingking. "Gendong atau jalan?" Tanya Rio. "Gendong..." Diandra menjulurkan tanganya minta di gendong.  "Pakai ini dulu ya?" Rio menunjukan sebuah kain yang lumayan panjang.  Diandra memiringkan kepalanya. "Buat apa?"  "Pakai aja." Diandra hanya menghela nafas dan memutar badanya memunggungi Rio.  Cepat cepat Rio mengikatkan kain itu di kepala Diandra.  "Tunggu sini bentar. Aku muter dulu." Diamdra manggut manggut mengiyakan. Ceklek Rio turun dari mobil dan membuka pintu samping kemudi. "Sini naik."  "Nggak berat emang?"  "Nggak."  "Aku udah 21 tahun loh. Bukan Diandra lima tahun lalu lho.."  Rio terkekeh.  "Udah deh naik. Nggak habis thingking deh kenapa aku bisa nikah sama cewek cerewet kayak kamu." Ejek Rio bermaksud bercanda. "Siapa suruh iyain." Sewot Diandra memukul kepala Rio jengkel. "Cause I love you.."  "Ck... sok inggris ah. Sini sini punggungnya." Diandra meraba raba punggung Rio. Kemudian melingkarkan tanganya di leher Rio.  "Ready?"  "Yes!"  Rio berlari lari kecil sambil menggendong Diandra. Sementara Diandra teriak teriak nggak jelas. Gimana kalau jatuh kepleset pisang?  Suami sableng memang. Rio ngos ngosan dan menurunkan Diandra. "Tu udah di bilangin juga."  "Huhh... huh.... nggak papa..." Rio masih ngos ngosan. "Boleh di buka?" Tanya Diandra sambil meraba raba talinya.  "Ehhhh!!!!! Sini aku bukain..." Rio perlahan lahan membuka pengikat kain Diandra.  "Kak kok ada suara orang bersin? Kita di mana sih? Buk Diany belum pulang emang? Eh kok pengharum ruanganya beda?" Diandra bertanya tanya.  Rio tersenyum memeluk Diandra dari belakang. "Penasaran?"  "Mommyyyy!!!!!!" "Nate?" Lirih Diandra. "Nate belum tidur?" "Yom Mommy!!!! Tini lamee!!!"  "Hah???"  "Surprize!!!!!!!" Teriak Rio sambil membuka pengikat kain Diandra.  Diandra mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya di ruangan serba putih ini.  "Haiiii!!!!!!" Teriak semua orang yang ada di dalam ruangan. Membuat Diandra terbengong.  Lha kok rame?  Ada Rizkan, Nisa, Mommy, Daddy, Mario dan pacarnya. Tapi Diandra nggak melihat Mami, Papi dan Chello. "Mami Papi Chello nggak bisa hadir. Tau kan Chello mau masuk SD?" Rio menengkan Diandra.  "Makasih Kak." Diandra memeluk Rio erat.  "Baby aku juga mau di peluk!!" Seru Mario mengangkat tanganya. "Bini orang sebleng!! Tapi makasih atas bantuan lo." Ketus Rio. "Yaelah... bercanda doang Yo. Ini gue bawa calin bini gue." Ucap Mario bangga memperkenalkan pacarnya yang berjilbab ke pada yang hadir. "Mommy... adi... Daddy tiummm Yaya!!" Nate menepuk kepalanya seakan baru ingat sesuatu. "Cium siapa sayang?" Tanya Diandra sambil mensetarakan tubuhnya dengan Nate. "Yaya Mommy!!!!"  Diandra menatap Rio tajam. Sampai Rio menggaruk tengkuknya. "Jelasin!" Ucap Diandra sambil berjalan ke arah meja makan. Di mana semua orang berkumpul. Meninggalkan Rio yang stress. Dia segera menggendong Nate. "Ya Allah Nate!!! Anak Daddy yang ganteng!! Daddy harus apa sekarang? Kamu mau Daddy di suruh tidur di luar?"  "Yaa... Daddy tidul di lual!!!"  "Serah nak serah!! Daddy nggak denger..." Rio menghela nafas.  "Yang dengerin aku dulu Yang!!"  ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN