Diandra duduk di samping Rio. Dia memperhatikan wajah serius Rio dari samping. Jari jari Rio terus berselancar di atas keyboard. Nggak terganggu dengan keberadaan Diandra.
"Sibuk ya?" Tanya Diandra pelan. Takut mengganggu konsentrasi Rio.
"Hum?" Rio menolehkan kepalanya sebentar sebelum kembali ke laptop. Wkwk udah kayak acara talkshow aja.
"Lagi sibuk?" Tanya Diandra untuk yang kedua kalinya. Kalau nggak dengar lagi bakalan Diandra lempar popok baby embuls.
"Dikit sih. Besok ada meeting di kantor. Jadi harus siapain apa yang mau di presentasikan." Jelas Rio sambil melirik sebentar pada Diandra. Dan intinya Diandra nggak ngerti apa yang di bicarakan sama Rio.
Diandra menguap lebar. "Hoaammzzz.... nggak ngerti. Otak Diandra nggak sampe."
Rio terkekeh menutup mulut Diandra yang terbuka lebar. Ada lalat masuk kan gawat. Bisa jadi kayak pelangganya Tn. Crab ntar.
"Kalau nguap itu di tutup. Setan bisa masuk."
Kepala Diandra manggut manggut. Dia menyenderkan kepalanya di bahu Rio. Ahh sumpah ya suaminya ini wangi banget sih. Kuburan baru aja kalah. Umm... kan jadi betah lama lama di dekat Rio.
Tapi suaminya itu malah betah di depan laptop. Sama sekali nggak merespon Diandra.
"Tapi kan besok sabtu." Protes Diandra kesal.
Hari sabtu minggu itu jadwalnya quality time sama keluarga. Lha ini kok malah quality time sama laptop dan berkas berkas.
Rio mengelus pipi Diandra dengan satu tanganya. Kemudian mendaratkan ciuman di kepala Diandra.
"Sabar ya."
Bibir Diandra maju ke depan. Sabar apanya? Mau sabar sampe kapan? Sampe p****t Diandra jadi lebar?
"Padahal besok Diandra pingin ke puncak. Nginep di villa Mami. Sumpek di Jakarta terus." Diandra menghela nafas panjang. Tanganya dia lipat di depan d**a.
Apa coba yang bisa dia lihat di Jakarta? Cuman serentetan gedung gedung pencakar langit. Dan suara bising kendaraan.
Beda sama puncak yang masih hijau dan asri. Kan bagus buat baby embuls.
"Sabar ya." Rio menenangkan lagi.
"Satu kali lagi dapet piring cantik!" Ketus Diandra sambil melingkarkan tanganya di pinggang Rio. Sehingga ruang gerak Rio terbatas.
Rio melirik istrinya geli.
"Yaudah... yaudah... sekarang maunya apa?" Tanya Rio. Dia mengotak atik laptopnya sebelum menutupnya.
Rio memutar tubuhnya untuk bersila berhadapan dengan Diandra. Sehingga pelukan Diandra lepas.
Tangan Rio memegang pundak Diandra. Supaya Istrinya yang lagi cemberut itu duduk tegak.
"Maunya ya...." ucap Diandra menggantung.
"Apa?" Rio penasaran sampai alisnya terangkat.
"Yaaa..."
"Ishh apasih?" Rio mencubit pipi Diandra gemas.
Diandra meringis lebar. "Maunya Kakak besok nggak usah kerja."
"Sampai seterusnya? Jadi pengangguran gitu?" Cibir Rio sedikit bercanda.
Ya kali dia jadi pengangguran. Mau makan apa keluarganya nanti.
"Setiap sabtu minggu aja. Itu hari khusus Kakak nggak kerja." Jelas Diandra semangat.
"Maunya sih begitu. Tapi meeting besok penting banget." Rio menggenggam tangan Diandra. Supaya istrinya itu bisa mengerti.
Dan benar. Diandra mengangguk angguk sambil mengacak rambut Rio seperti anak kecil. Sekarang giliran Rio yang cemberut.
"Harusnya aku yang giniin kamu tauu!" Rio menyerang Diandra cepat.
Dia menjepit kepala Diandra di ketiaknya dan mengacak rambut Diandra sampai ikat rambutnya yang memang longgar itu terlepas.
Diandra tertawa nyaring.
"Haha.. udah dong iket rambut aku lepas." Ucap Diandra berontak dari pelukan Rio.
Rio menghela nafas. Melepaskan Diandra dari pelukanya. Kemudian merangkul pundak Diandra supaya merapat ke tubuhnya.
"Besok kamu sama baby embuls ikut ke kantor ya."
"Heh? Mau ngapain? Tumben ngajak ke kantor?" Diandra menatap Rio bingung.
"Um... emang... nggak mau ya?" Rio mengetuk jari di dagunya. "Kalau nggak mau sih... nggak papa."
"Kalau baby embuls buat rusuh di kantor Kakak gimana? Aishh mending nggak usah deh. Baby embuls lagi aktif aktif nya."
Hhhhh...
Diandra menghela nafas. Mengingat gimana tingkah baby embuls akhir akhir ini.
Suka naik naik kursi.
Suka manjat rak buku Daddy Rio.
Suka gigit handpohone Daddy Rio.
Jambak rambut orang.
Gigit tangan orang.
Entah berapa banyak lagi perincian yang harus di ingat Diandra. Pokonya bisa hancur kantor Rio kalau ketemu baby embuls.
Seakan tau ke gusaran Diandra. Rio mengusap usap pipi Diandra pelan.
"Haha... jangan mikir kejauhan. Pokonya besok kalian ikut Daddy ke kantor."
"Umm... dapet apa?" Tanya Diandra jahil.
Rio menunjukan smirk nya. Dalam hitungan kurang dari tiga detik. Diandra sudah berada dalam gendonganya.
"Ishh... turunin Kak!" Jerit Diandra tertaha sambil memukul d**a Rio kaget.
Rio tertawa lebar tanpa suara.
"Dapet service spesial dari Daddy Rio."
'Aduhh... mati gue!'
****
"Tu isa Mommy!!"
"Lihat deh sayang. Masa bajunya angry bird. Celananya spongebob. Nanti di ketawain Daddy loh.."
"Api... api... tu mau patek ndili! Tu isa!"
"Nate!!! Patekan Mommy. Anti amu di tindal Daddy."
Suara berisik Nate dan Mike lagi lagi membuat Rio tersenyum lebar. Dia memasang dasinya cepat cepat. Lalu melangkahkan kaki ke kamar sebelah lewat pintu penghubung.
Sekali masuk dia di kagetkan dengan nggak kontrasnya pakaian Nate. Ya kali baju merah celana kuning.
Rio tertawa keras.
"Daddy apa?" Nate membalikan badanya. Sehingga tawa Rio makin keras.
"Hii.... serem ada hantuuu!!!" Ucap Rio pura pura takut saat melihat wajah Nate yang sudah belepotan bedak.
"Antu? Nana Daddy?" Tanya Mike sambil menarik narik kaos Diandra. "Mommy nana antu na?"
"Itu hantunya!! Hiii serem ih.. Mommy mau sama Daddy aja." Diandra buru buru berdiri. Kemudian memeluk Rio dari samping.
"Aaaa... tu ukan antu!" Jerit Nate kesal.
"Oohhh... amu antu? Hiiii.... Nate antu. Tu mau tama Daddy!!" Kata Mike meniru ucapan Diandra tadi. Dia langsung berlari memeluk kaki Rio yang tertawa keras.
Nate menghentakan kakinya ke lantai.
"Tu ukan antu!!!"
"Amu antu!!!" Balas Mike cekikikan.
"Kalau nggak mau di bilang hantu. Ganti bajunya ya." Bujuk Rio sambil melangkah mendekati Nate.
"Ndak mau!"
"Yaudah Nate di tinggal aja."
"Aaaa!!! Tu itut!" Nate menarik lemari bajunya. Mencari pasangan celana angry bird. Dia menggaruk kepalanya kesal. Saat dia nggak menemukan. "Mommy!! Nana teyana angly tuu!! Ang alna led?"
Rio tertawa lagi. Bahasa Nate campur aduk banget. Ini sih akibat aunty Nisa yang suka ngomong Indo campur Inggris. Jadi nular kan.
"Umm... ini celananya!" Seru Diandra mengangkat celana warna merah itu dari lemari.
"Yeee!!! Nate patek teyana angly led... adi tama..." Mike menunjuk bajunya yang serupa dengan yang di pakai Nate.
Rio memang sengaja banyak membelikan baju kembar. Supaya lucu kalau di pakai. Kan kompak.
Rio mengacungkan dua jempolnya saat melihat Nate dan Mike berdiri sampingan.
"Gud nak... gud."
Nate menggaruk garuk kepalanya. Kepalanya dia miringkan ke samping.
"Tok Daddy ndak patek teyana? Teyana Daddy ilang?" Rio langsung menatap ke bawah.
Astaga!!!
Kemana celananya? Kok dia cuman pakai boxer aja?
"Kebiasaan deh Kak Rio hihi..." Diandra cekikikan melihat Rio yang malu itu.
Rio hanya bisa nyengir. Juga menahan malu.
"Hii... Daddy ndak patek teyana!!" Ejek Mike menaik naikan bahunya.
"Hiii..." sahut Nate juga. Dia memeluk Mike dari belakang.
"Sana pakai celananya." Suruh Diandra sambil membereskan satu persatu berang berserakan yang di lempar lempar Nate tadi.
"Hehe Daddy lupa pakek celana. Saking pengen liat kalian."
Kemudian Rio berlari menuju kamarnya. Bisa gempar dunia kantornya kalau dia datang nggak pakai celana. Duhh... kenapa Rio bodoh banget sih.
Diandra menggeleng gelengkan kepalanya.
"Tau caranya pakai celana kan Kak?! Atau Diandra bantuin pakai kayak Nate?" Tanya Diandra sambil cekikikan mendengar suara barang berjatuhan di kamarnya.
Juga suara orang jatuh. Hihi... ada ada aja deh Daddy Rio itu..
"Kak?!"
"I'm okay Baby!!" Teriak Rio.
Diandra mendesah dan menggekeng gelengkan kepalanya. Sekarang dia tau kenapa Nate suka banget nggak pakai celana.
Ternyata Daddy nya juga.
"Mommy tu apal!!" Mike memukul perutnya. Diandra menundukan kepalanya. Melihat Mike dan Nate yang sudah menempel erat di kakinya seperti koala nempel di pohon.
"Tu uda.. tu mau tutu totat!" Sahut Nate.
"Milk time!!" Diandra melepaskan tangan mereka yang kangsung loncat loncat girang.
Nggak berapa lama Rio muncul di pintu penghubung. Dan sekarang sudah memakai celana rapi. Selayaknya akan pergi bekerja. Bukan celana boxer tadi. Hihi...
"Mau nyusu kok nggak ajak ajak sih... Aku juga mau s**u Mommy!!" Ucap Rio merangkul bahu Diandra.
"Ohh... bayi besar mau s**u?" Tanya Diandra melirik Rio yanv langsung sumringah.
"Iya dong Mom." Jawab Rio cepat. Mengangguk semangat. "Tapi s**u kamu ya hehe." Rio nyengir melihat wajah garang Diandra.
Aduh jadi makin pengen Rio kalau garang gitu.
"Sana nyusu sama sapi!" Diandra menghentakan tangan Rio. Meninggalkan Rio merana sendirian.
"Nggak ada s**u Diandra. s**u sapi pun jadi." Rio mengejar Diandra ke dapur untuk meminta jatah susunya.
"Mihhh s**u aku Mihhhh!!!!"
****