Rio berlarian di loby kantornya. Mengejar Istrinya yang sudah melangkah jauh di hadapanya. Hishh... lagian kenapa tas baby embuls ketinggalan. Rio jadi takut kalau dia tidak mengembalikanya. Anaknya nanti ngedot pakai apa? Nenen? Oh tidak! Baby embuls itu sangat pengertian jadi urusan nenen sudah di serahkan kepada Daddynya yang paling ganteng ini.
Para karyawan karyawati memandangi setiap langkah Rio yang lebar. Kebanyakan para karyawati menahan nafas akibat menyaksikan Rio yang hot tanpa jas yang biasanya selalu menempel di tubuhnya.
Kali ini mata keranjang mereka terpuaskan melihat d**a bidang Rio yang tercetak di balik kemeja putihnya. Dan juga kancing kemeja Rio yang terbuka dua.
Semoga saja habis ini kantor tidak banjir. Karena di khawatirkan karyawati ngiler melihat penampilan Rio yang super hawt itu.
"YAAAAANGGGGGG TAS BABY EMBULS KETINGGALAN!!!!" Teriak Rio membahana.
Mulut para karyawati terbuka. Kenapa bosnya yang selalu kalem, cool, berwibawa. Jadi kayak tarzan kota begitu. Akhirnya para karyawati kembali menunduk menatap layar laptop. Mengabaikan aksi Rio yang bisa di bilang mirip tarzan teriak teriak di hutan. Tau dah! Rasanya sekarang jadi ilfeel lihat bos Rio.
Diandra membalikan badanya. Diurungkanya masuk mobil. "Hishh... kenapa lagi itu Daddy kamu teriak teriak di lobby." Greget Diandra mendudukan satu persatu baby embuls dengan nyaman di kursi belakang.
DUGH
"HUWAAAAAA!!! YANG KEPALAKU KEJEDOT PINTU!!!"
"SIAPA YANG NAROH PINTU DI SINI WOI! TANGGUNG JAWAB JIDAT GUE BENJOL!" Maki Rio pada pintu tidak bersalah di depanya.
Kepala Diandra tergeleng geleng berapa lali menyaksikan ulah suaminya yang alay itu. Cuman kejedot aja udah kayak ketabrak apaan.
"Ya Allah apa salah hambamu ini!" Ucap Diandra dramatis. Lalu dia menghampiri Rio yang sedang marah marah dengan pintu tidak bersalah itu. "Bang Minion saya titip baby embuls. Mereka lagi tidur."
Bang Minion sang supir mengangguk angguk sambil menunjukan jempolnya.
"Heh apaan sih? Apaan? Ribut amat?"
"Tuh jidad Pak Rio kejedot pintu."
"Lagian sih Pak Rio tinggi banget. Pintu sampe di tabrak."
"Katarak kali!"
"Ganteng ganteng lebay sih."
Rio hanya bisa mengelus d**a mendengar komentar para karyawanya yang kurang ajar. Belum tau aja kalau Rio marah. Rio bisa berubah jadi kanibal.
Sabar Rio... sabar... nggak sabar cepet tua... jadi sabar.. sesungguhnya Allah bersama orang orang yang sabar. Batin Rio sambil menghela nafas dan mengelus jidadnya.
"Kok bisa sih pintu segede ini Kakak tabrak?" Ucap Diandra kaget melihat benjolan di jidad Rio.
Rio mencebikan bibirnya. Tanganya masih mengelus jidadnya yang lumayan benjol. "Pindahin aja ini pintu! Ke belakang kek. Ke samping kek. Ke atas kek. Ke bawah tanah kek. Yang penting jangan di depan!"
"Iya Sayang iya... nanti kita pindahin!" Ucap Diandra mencoba tetap sabar.
"Kok kita sih! Buat apa punya pegawai kalau nggak bisa di suruh pindahin pintu!" Bantah Rio memukul pintu kaca di hadapanya.
Diandra mengetatkan giginya. Maunya apa sih onta Arab satu ini. Diandra membalikan badanya mengabaikan Rio yang alay itu. Biarlah drama king itu meneruskan dramanya. Pusing Diandra memikirkan kelakuan suaminya. Lama lama mati muda dia.
"Eh bentar Yang. Ini tas baby embuls ketinggalan." Tahan Rio menarik pergelangan tangan Diandra.
"Nggak ikut pulang?" Tanya Diandra menerima tas dari Rio.
"Daddynya baby embuls mau kerja dulu. Sini aku anterin ke mobil. Biar berasa kayak di drama."
"Jangan alay atauㅡ" Belum habis Diandra mengancam. Rio sudah memotongnya penuh semangat.
"Nggak ada jatah selama sebulan. Ya kan iya kan? Pinter kan aku nebak. Mirip belum sama Roy kiyoshi? Namanya hampir mirip lagi." Ucap Rio dengan gaya yang di buat buat semirip mungkin dengan Roy Kiyoshi yang sedang booming itu.
"Sebulan penuh minta jatah sama onta Arab aja ya. Kakak lohh yang bilang. Daahhh!!" Diandra melambaikan tanganya meninggalkan Rio yang bengong menyesali perkataanya.
"Arab jauh Yang nggak tahan!!" Rengek Rio yang tentunya di abaikan oleh Diandra. Biarkan saja Daddy drama king itu merengek rengek. Toh dia sendiri yang minta nggak di kasih jatah.
Diandra bersorak kegirangan di dalam mobil. Akhirnya selama sebulan dia bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa gangguan Rio yang tiap tengah malam rengek rengek minta jatah.
MERDEKAAA!!!
****
Setelah mobil Diandra menghilang Rio mengacak acak rambutnya jengkel. Sebulan tidak ada jatah bagaikan sayur tanpa garam. Enak nggak tuh?! Ya pasti enggak lah.
Tanda tanda nih Rio bakalan merana sebulan ke depan. Aha!! Rio tersenyum memperbaiki kerah bajunya. Gampang! Otaknya yang pintar akan menyusun sebuah strategi perang yang tidak akan bisa di tolak oleh Diandra.
"Daddy Rio di lawan hah!!" Ucap Rio menepuk dadanya. Kemudian Rio berlari lagi masuk ke dalam kantornya untuk mengambil kunci mobil.
"Mau kemana Pak?" Tanya Gia di balik mejanya. Rio mendengus. Mau tau aja sih nenek lampir ini. Belum puas apa di sembur hujanya baby embuls. Rasa rasanya Gia pengen rasain hangatnya di pipisin deh. Haha... lain kali Rio dan baby embuls akan rencanakan.
"Mau berguru!" Ketus Rio.
"Berguru ke siapa?"
"Ke pakarnya. Sudah ya saya nggak punya banyak waktu." Rio langsung melesat pergi setelah mendapatkan kunci mobilnya.
Saatnya pergi ke rumah sang ahli. Dan Rio akan berguru padanya supaya menjadi ahli seperti dia.
****
"Hayo... Nate nggak boleh lari lari ya. Kalau jatuh nanti kepalanya kepentok kayak Daddy loh." Ucap Diandra mengingatkan Nate yang dari tadi berlarian ke sana sini mengukur lebar rumah.
Nate menolehkan kepalanya. Cepat cepat dia menghampiri Diandra. "Daddy tetentok apa Mommy?" Tanya Nate.
"Tadi Daddy kepentok pintu. Terus sakit deh kepalanya." Diandra mengelus jidad Nate. Tempat di mana sang suami mendapatkan hiasan benjol di kepalanya.
Mike bersandar santai di lengan Diandra. Mulutnya dari tadi tidak berhenti mengunyah cookies pemberian dari Omanya. Matanya fokus melihat tayangan Masha and the bear yang sedang tayang di televisi.
"Daddy tatit ya Mommy? Ndak di telikca di dotel?" Nate berlari lagi masuk ke dalam kamarnya. Entahlah Nate sedang mengambil apa.
"Mommy abisss!!!" Mike menunjuk kotak cookies di pangkuanya yang sudah lenyap isinya itu.
"Udah habis? Sini Mommy buang bungkusnya." Ucap Diandra mengambil bungkus cookies di pangkuan Mike. Namun di rebut kembali oleh Mike. "Itu udah habis sayang. Jadi harus di buang."
"No! Tu mau adi. 'Ang tayak dini." Ucap Mike meminta lagi. Diandra menggelengkan kepalanya. Mike dan Daddynya memiliki kesamaan. Kalau enak mereka selalu minta lagi. Lagi. Dan lagi. Tapi tarafnya masih mending Mike sih. Kalau Daddynya sudah parah. Ada kamera nggak? Diandra mau angkat tangan saja.
"Gigi Mike nanti hitam lho kalau suka makan yang manis manis."
"Huaaa Mommy tu mau adi!!!!!" Jerit Mike.
"Haha... cium Mommy dulu baru di kasih." Diandra menunjuk pipinya.
"No! Tu ndak mau tiss Mommy!"
"Yaudah. Nggak ada kiss nggak ada cookies."
Mike langsung naik ke pangkuan Diandra. Mencium berulang ulang seluruh bagian wajah Diandra sampai Diandra tertawa kegelian mendapatkan kecupan basah dari Mike.
"Dah Mommy. Nana tutis tu?" Rengek Mike.
"Bentar ya Mommy ambilin."
Mike mengangguk lalu kembali duduk dengan tennag menonton acara kesukaanya itu. Benar benar deh si Mike. Suka banget makan.
"Mommy!!! Ni Daddy tuyuh num bat ni!!" Teriak Nate berlari menghampiri Diandra yang akan pergi ke dapur.
Pandangan Diandra jatuh pada tangan Nate. Dia membawa botol sirup penurun panasnya. Diandra jadi tertawa terpingkal pingkal. Menertawakan Nate dengan segala kepolosan dan kelucuanya. Ya kali kejedot obatnya penurun panas. Apalagi dengan dosis anak umur 3 tahun. Nggak mempan kali sama laki laki umur 32 tahun. Sama sama 3 nya sih. Tapi Rio ada buntutnya 2 hehe.
"Sayang itu obat penurun panas. Daddy sakit nya di kepala bukan demam." Diandra masih tertawa.
"Ukan nanas? Api tatit tetala?" Tanya Nate menatap obat di tanganya.
"Bukan Sayang. Sini Mommy kembaliin lagi. Nate duduk sama Kakak Mike ya. Mommy ambilin maem. Nate mau maem?"
"Tu mau maem tama Mite." Nate berlari menghampiri Mike dan selanjutnya Nate mengganggu ketenangan Mike menonton televisi.
Diandra geleng kepala melihat kelakuan Nate menarik perhatian Kakaknya. Duh yang penting nggak bertengkar aja. Bisa stress Diandra nanti.
****
Rio memencet bel sebuah apartemen mewah yang tidak jauh dari kantornya. Rio melihat jamnya. Mungkin dia agak pulang telat hari ini karena ingin berguru kepada sang maniak. Hehe..
Lama Rio memencet bel namun orang yang hidup di dalam sana tidak merespon. Apa perlu Rio tendang ini pintu terus di putar di jilat di celupin. Wadaww!!! Udah kayak iklan biskuit kesukaan Mike aja.
Rio bersandar di dinding masih tetap memencet bel.
CEKLEK
Sang tuan rumah akhirnya membukakan pintu. Rio men-scan penampilan lelaki di hadapanya. Ck..ck..ck.. habis kena angin tornado dari mana sih? Rambut acak acakan. Nggak pakai baju. Badan dan leher ungu ungu. Boxer kebalik. Ini habis kena serangan kame kameha atau gimana ini.
Rio tiba tiba tertawa keras. Ohh dia know sekarang. Hahanjay!!! Dia berguru pada guru yang tepat.
PLETAK
"Eh sakit b**o!" Kesal Rio saat mendapatkan jitakan di jidadnya. Hadeuhh!! Jidadku yang malang. Kena serangan bertubi tubi. Batin Rio dramatis.
Lelaki yang habis terkena serangan kame kameha itu menatap Rio jengkel. Tanganya dia lipat di depan d**a.
"Apa?!!!" Tanyanya.
"Gue tamu k*****t!" Rio balas menjitak kepala lelaki di hadapanya.
Lelaki itu akhirnya membuka pintunya lebar lebar. Mempersilahkan Rio untuk masuk. Rio duduk di sofa dengan nyaman. Mengamati keadaan apartemen sahabatnya yang benar benar kacau balau. Apartemen bagus bagus tapi nggak pernah di bersihkan. Penghuninya sibuk aja sama urusan ngamar. Pusing kepala Rio melihat barang berserakan dan sampah snack tersebar di mana mana.
Kalau Diandra tau mungkin sifat anti sampahnya keluar dan dia bakalan jadi pembantu dadakan. Rio tersenyum sendiri memikirkan Diandra yang gila bersih itu.
"Tumben lo kesini nyet. Ganggu aja padahal udah hampir naaiiikkkk trus lo pencet bel jadi nge-down b*****t lo!" Maki lelaki yang tidak lain adalah Bryan itu. Sahabat Rio dari alam kandungan.
"Naik kemana? Gunung?" Kekeh Rio menertawakan wajah kusut kurang asupan Bryan.
Dalam hati Rio menggelengkan kepalanya. Bener bener maniak sahabatnya. Selalu saja jika dia bertamu keadaanya seperti ini. Tanpa baju, acak acakan, dan penuh dengan bercak ungu yang tersebar di d**a, perut, leher. Wuahaha... istrinya Bryan ganas juga. Untung Diandra kalem.
"Langsung aja nyet. Lo bertamu ke sini ada maunya kan?"
Rio menjentikan jarinya secara berlebihan. "Yaakk tepat sekali!"
"Masalah apa lagi? Jatah?"
Lagi lagi Rio menjentikan jarinya lebih alay dari yang sebelumnya. "Yakk anda benar lagi. Anda dapat piring cantik."
"Yeyyyy!!!Mumpung piring gue kotor semua Yo. Siniin piring cantiknya."
"Masih di tokonya." Rio terkekeh mendapati wajah Bryan kembali kusut. "Gue langsung aja ya."
Bryan mengangguk angguk menunggu Rio menceritakan alasanya datang ke apartemenya. Dalam benak Bryan sih sudah menebak. Pasti masalah jatah lagi. Kalau Rio datang padanya tidak akan jauh jauh dari masalah itu. Dasar suami kurang pengalaman!
Baru saja Rio ingin menceritakan masalahnya. Istri Bryan datang membawakan kopi dan biskuit.
"Maas ya Rio cuman ada ini di rumah." Ucap istri Bryan.
"Nggak masalah. Ayo silahkan duduk Fer."
PLAAKK
Bryan menampol kepala Rio yang langsung cekikikan itu. Bryan memberi isyarat mata kepada istrinya untuk masuk ke dalam kamar.
"Lo mau istri gue ternodai hah sama cerita lo yang selalu ngenes itu?!!"
"Ngenes lo kata? Istri gue masih 21 menn!! Masih seger!!" Bangga Rio.
"Eh iya ya. Istri lo kan masih muda. Mana cantik lagi. Terus bodynyaㅡ"
"Terusin Bry terusin!" Sinis Rio memijat pelipisnya yang berdenyut akibat benjolan di jidadnya yang semakin membiru itu.
"Hehe gue bercanda elah Yo. Tapi istri lo memangㅡ"
"Lo nggak mau kan apartemen lo ancur? Udah lo diem nggak usah puji puji istri gue lagi. Dan dengerin gue cerita." Rio menatap Bryan tajam. Sampai Bryan merinding melihat tatapan laser Rio.
"Ceritain beb."
"Giniㅡ"
TULING TULING TULING
Ponsel Rio berbunyi dari balik saku celananya. Bryan terkekeh sendiri mendengar ringtone panggilan Rio yang jaman old banget. Namun dia segera diam saat Rio menatapnya tajam.
"Bry!! Istri gue Bry!! Gimana ini woy!" Panik Rio setelah melihat layar. Ternyata sang istri tercintanya menelponya menggunakan vidio call. Bisa ketangkap basah dia nanti.
Bryan melempar bantal sofa tepat ke wajah Rio. "Angkat! Daripada jatahㅡ" Rio menaruh telunjuk di depan bibirnya. Mengisyaratkan Bryan supaya diam.
"Iya sayang?"
"Daddy ndak tuyang?" Wajah Nate yang pertama muncul di layar dengan wajah sembab khas bayi baru menangis.
"Nate kenapa? Habis nangis ya jagoanya Daddy?"
"Huwaaaaaaa Daddy!!!!!!" Rio menggaruk kepalanya bingung melihat Nate tambah nangis.
"Lho... lho... kok makin nangis?"
"Tadi Nate habis nyusruk Kak." Jelas Diandra yang membuat Rio kaget dan bumi seperti terbelah menjadi dua. Ah alay Daddy mah!
"APAAAAAAAA?!!!!!!!! NATE NYUSRUK!!!!!!!! ANAK DADDY NYUSRUKKKKKK?!!!!!!" Teriak Rio sambil berdiri. Mengundang istri Bryan untuk datang lagi ke ruang tamu.
"Daddy tuyaanggg!!!" Jerit Nate.
"Nate nanis!!" Pekik Mike memeluk adiknya itu dari belakang. Dia mengusap air mata Nate. "Nate danan nanis."
"Tatit Mitee!!" Manja Nate.
"Daddy pulang ya nak. Kita ke rumah sakit!"
"Kakak cepet pulang. Nate rewel." Rio mengangguk angguk pada istrinya yang cemas sambil menenangkan Nate yang tidak berhenti menangis itu.
Rio mematikan sambungan telephonenya. Dia menatap Bryan dan istrinya bergantian.
"Maaf ya kalau gue ganggu aktivitas kalian. Gue mau pulang. Anak gue nyusruk!"
"Iya bro. Semoga anak lo cepet sembuh." Bryan menepuk punggung Rio.
"Gue pulang dulu Bry. Besok gue kesini lagi."
"Pintu terbuka lebar buat lo nyet!" Ucap Bryan.
Rio segera berlari keluar dari rumah Bryan. Yang ada di fikiranya sekarang hanyalah Nate. Dan Nate. Kenapa sih anaknya yang satu itu hobby banget nyusruk?! Rio nggak habis thingking.
****