Rio melempar jas hitamnya ke sembarang arah. Entah itu jas terlempar ke sofa, ke lantai, atau kemana aja. Rio sama sekali tidak peduli. Fikiranya penuh dengan Nate, Nate, dan Nate.
Nate habis nyusruk mukanya masih tetap unyu kan? Nggak bakal berubah jadi Avatar kan? Batin Rio cemas. Bisa gawat dunia akhirat kalau anak Rio berubah jadi Avatar. Jadi plontos kepala anaknya. Ntar dikira tuyul peliharaan Rio lagi. Di arak keliling kampung kan bahaya. Mau di taruh mana muka ganteng dan berkharisma Daddy Rio.
"BUNNN!!!! IBUNNN!!! KAMU DI MANA SIH BUNN? BUNDANYA ANAK ANAKU! WHERE AREㅡ"
PLAKㅡ
"Habis nelen toak masjid atau gimana sih? Nate habis nangis langsung tidur. Kalau Kak Rio berisik jadi rewel lagi! Sana keluar!" Usir Diandra di sertai geplakan di pundak Rio. "Lagian apatuh Ibun... Ibun... nggak usah sok so sweet! Udah tua juga!"
Rio nyengir menggaruk kepalanya. Dia menyenderkan tubuhnya di tembok. Cantik nih kalau bininya lagi ngamuk ngamuk nggak jelas. Tapi lebih cantikan kalau lagi ngasih jatah Rio sih. Udah jelas kalau itu.
"Apa nyengir nyengir?!!" Tanya Diandra galak ditanggapi Rio dengan senyuman.
"Emang nggak boleh? Udah ada undang undang di larang nyengir?" Tanya balik Rio dengan gayanya yang minta di tenggelamkan ke Samudra Hindia. "Udah makan belum Yang? Tadi masak apa?"
"Udah! Habis makan ati!" Diandra ikut ikutan bersender di samping Rio.
"Asikk makan ati. Di goreng atau di kecap?"
"Atinya di sini nih!" Diandra menunjuk dadanya. Iya dia habis makan ati. Lagi enak enaknya tidur. Eh si toak mesjid teriak teriak.
"Dengan senang hati." Rio menundukan kepalanya. Mencium tempat yang di tunjuk Diandra tadi. Ini sih lebih enak dari ati yang di kecapin atau ati goreng. Ini makan ati yang bisa bikin enaa...
"GELI KAK IHHH!!" Teriak Diandra menjauhkan kepala Rio dari d**a sucinya.
"Kata kamu suruh makan ati. Ya aku mau makan ati kamu." Kata Rio dengan wajah tanpa dosanya. Lebih tepatnya sok polos. Otak Rio mah nggak ada yang tau.
Diandra menghentakan kakinya kesal. Lama lama otak suaminya ini dia bawa ke tempat reparasi otak. Biar otaknya waras dikit lah. Lama lama suaminya itu jadi gila. Bisa bisa Diandra ikutan jadi gila.
"Mau kemana Bun? Aku ikuut!!" Rio mengejar Diandra. Mengikuti langkah istrinya menuju dapur dan berhenti di depan kulkas.
"Kak Rio mau makan? Diandra buatin sesuatu." Kata Diandra tanpa menoleh. Masih sibuk memeriksa snack dan beberapa kemasan. Siapa tau udah kadaluarsa. Kalau ada yang kadaluarsa kasih ke Rio aja. Dia suka makanan kadaluarsa.
Haha nggak lah ya. Bisa mati kali itu si Daddy sableng.
Rio melingkarkan tanganya ke perut Diandra dari belakang. Erat seperti mau meremukan Diandra. Gila? Ya Rio bener bener tergila gila sama Diandra. Nggak tau gimana nasibnya dia kalau Diandra pergi dari hidupnya.
Mendingan Rio minum racun tikus saja. Atau mencampuri kopinya dengan sianida. Rio tak akan sanggup. Eaa..
"Kakak bau!! Sana jauh jauh!" Usir Diandra menutup hidungnya.
"Bau dari mana sih Bun?" Tanya Rio mengendus endus bau badanya. Wangi kok. Iya lah orang Rio semprotkan parfum sebotol. Kalau mandi dia juga berendem pakai parfum mahal keluaran Italy. Eh iyuh... padahal juga kalau mandi berendem pakai sabun cair 70 rebuan.
"Kan badan Kakak sendiri jadi nggak keciuman. Ini Diandra yang cium jadi pengen muntah." Maki Diandra.
"Ya Allah Yang padahal aku tadi berendem pakai parfum sebotol. Trus parfum sebotol botolnya sekalian aku telen." Rio tidak terima dong badanya di katain bau. Jadi dia bohong aja. Walau agak nggak masuk akal sih makan botol parfum. Emang Rio omnivora apa. Alias pemakan segala.
"Kakak gila!"
"Yang please Yang!!" Rengek Rio saat Diandra berlalu pergi meninggalkanya.
Ah emang bau badan sialan. Itu hidung istrinya kesumbat ingus atau gimana sih. Orang wangi juga di bilang bau. Butuh dokter THT kayanya.
Rio jadi sebel. Dia mencoba memasak apa yang bisa dia masak. Semuanya sih dia bisa. Dari sambel bawang. Sampai sambel teri dia bisa. Tapi kali ini dia bakal buat mie instan.
Eladalah nggak singkron. Bodo amat. Penting kenyang.
****
Rio sudah mengganti kemeja nya dengan kaos rumahan dan celana selutut. Rencananya dia mau menyusul my baby honey sweetynya yang bilang badanya bau. Kita lihat setelah ini istrinya bakalan bikang dia bau atau nggak.
Kalau masih bilang bau juga. Rio kunciin Diandra di kamar.
Rio membuka pintu kamar. Sebelum dia buka. Rio membaca do'a terlebih dahulu. Allahumma bariik lana fiima razaktana waqina 'adza bannar. Aamiin. Doa Rio dalam hati. Busyett Daddy sebleng memang. Mau menghadapi istri malah baca doa mau makan. Emang Diandra mau dia makan apa.
Pokonya habis ini Rio bakalan ena enain Diandra. Ayo semangat!!
"Astagfirullah!!! Ya Allah... Ya Allah... Innalillahi wainnailaihi raji'un." Kaget Rio melihat istrinya tidur di atas kasur dengan daster tipis dan tersingkap sampai paha.
Gini gini Rio masih normal. Masih doyan paha mulus. Nggak cuman doyan paha ayam doang dia mah.
"Ya Allah tenggelamkan saja hambamu ini. Daripada sleping beuty yang lagi tidur itu saya terkam dan saya ena enain 5 ronde." Rio mengelus dadanya. Di tutupnya pintu pelan pelan. Supaya Diandra tidak bangun. Lebih baik tidur. Kalau bangun rewel. Pengen deh mulut istrinya Rio jejelin jengkol biar diem.
"Ululu... cantiknya istri siapa sih?" Kekeh Rio. Perlahan dia naik ke atas kasur. Ikut tiduran di belakang Diandra.
Rio memeluk Diandra dari belakang. Lumayan. Kapan lagi bisa modusin istri sendiri.
Tidak lama Rio juga ikut tertidur. Dan posisi mereka sekarang Diandra yang malah ngusel ngusel di ketek Rio. Dengan senang hati Rio ngusel ngusel balik. Huhu... gue menang banyak.
"HUAAAAA MOMMY!!!"
"Ya Allah anak gue bangun. Gimana ini? Lagi enak." Rio menepuk mulutnya sendiri. "Ya Allah maafkan hambamu ini. Saya tidak bermaksud berkata begitu."
Rio mengelus rambut Diandra lalu pelan pelan menjauhkan tangan Diandra yang melingkar di perut nya.
"Nate kok bangun Nak?" Daddy padahal lagi modus loh Nak. Ayo tidur lagi. Batin Rio meneruskan.
"Daddy tu mau Olens." Jerit Nate.
"Stt... Mommy sama Kakak bobo siang sayang. Jangan berisik." Rio menaruh telunjuk di depan mulutnya.
"Tu mau olens."
"Olens? Apa itu olens? Dih Nate jangan susah susah dong. Daddy susah pecahinya. Itu permintaan atau rahasia ilahi sih ah." Rio membawa Nate ke gendonganya.
"Tetahin pa Daddy? Tu mau olens. Ukan tetahin."
"Di mana kita bisa dpet olens nya? Tunjukin jalanya ke Daddy."
"Api tu mau Mommy ang tuapin." Nate menjambak rambut Rio.
Berdosa kau naak. Untung Daddy Rio sabar. Jadi Nate nggak akan Daddy Rio kutuk jadi adonan kue.
"Mommy bobo."
"AAAA TU MAU MOMMY! TOTOKNYA TU MAU MOMMY! HUAAAA DADDY NATAL!" tangis Nate membuat Mike juga ikut menangis dan terbangun.
Waduh dua pasukan penghancur nih.
Rio menghampiri Mike dan menggendongnya juga.
"Huaaaa!!!!"
"Huaaaa!!!"
Rio bingung saat dua duanya menangis. Rio menatap nanar kedua bocah berwajah sama di gendonganya. Apa sekalian ini Rio tuker anaknya ya di pasar loak?
****