"DADDYYY!!!!" Teriak Nate memukul kan sendok dan piring di meja makanya.
Di kira nggak laper apa ya Nate. Daritadi Daddynya buka tutup kulkas terus. Belum menemukan olens kesukaan Nate. Bisa ileran nanti anak Nate. Lha anjir kan Nate nggak bunting cuy.
"Sebentar sayangnya Daddy!"
Dughhh...
"Setan!" Maki Rio saat kepalanya kejedot pintu kulkas. Rio sampai lupa dengan keberadaan dua curutnya yang setia menonton sang Daddy yang ribet sendiri itu. Ngalah ngalahin mak mak rempong aja.
"Tetan!" Tiru Mike membuat Rio melotot. Ini istrinya masih tidur kan? Iyakan? Kalau udah bangun bisa di kubur idup idup Rio.
Istrinya itu akhir akhir ini suka sadis banget. Jatah di potong potong udah kayak pakek diskonan aja. Terus suka mengancam kebiri Rio. Pala Rio suka di tampol tampol. Bahkan Rio minta satu ciuman tanpa ada lumat lumatan aja langsung di tendang sampai ke Arab. Katanya suruh minta cipok sama pohon kurma.
Terus Rio bingung. Apa gunanya punya istri kalau tidak memuaskan suami. Tanya noh sama ustadz manapun. Hukum nolak suami pengen anu anu itu dosa besar. Langsung di cemplungin ke neraka. Karena ridho suami berada pada kepuasanya.
"Olens apa sih nak? Bisa pass nggak sih? Lewat lewat ini nggak bisa Daddy jawab. Pass! Pass!" Rio menggelengkan kepalanya pusing. Menatap kedua anaknya nyalang.
"TU MAU OLENS! TETALANG!"
"Kalau Mike mau apa?" Tanya Rio manis kepada Mike. Siapa tau kan anaknya yang cool ini kasihan sedikit sama dia dengan membatalkan permintaan Nate.
"Tu uda mau olens."
Glodakkkk....
Rio jatuh tersungkur ke lantai dapurnya. Kamera mana kamera. Rio udah nggak tahan angker ini mah. Lebih angker dari rumah peninggalan jaman Belanda.
"Nate sama Kakak Mike mau apa sayang?" Diandra menghampiri kedua anaknya. Matanya melotot melihat Rio tiduran di lantai. Suaminya itu kekurangan kasur apa ya? Sampe tidur tiduran di lantai. Berasa di pantai gitu?
"Ibunn!!! Anak anakmu menyiksa suamimu yang paling ganteng ini." Rio berlari memeluk Diandra erat. "Ibun huhuhu..."
Rambut Rio di elus elus oleh Diandra. Lama lama kasihan juga sama sang suami sablengnya. Dikit dikit di bully sama anak anaknya. Karena keterbatasan Rio mengenai cara bicara baby embuls yang lebih mirip bahasa alien. Apalagi kalau melihat kesabaran Rio.
Sumpah ya. Mungkin bapak bapak yang lain bakalan kesel kalau berhadapan sama baby embuls. Tapi Rio beda. Dia sabar. Pengertian. Pokonya Daddyable deh. Suamiable juga. Diandra jadi merasa berdosa udah aniaya suaminya minggu minggu ini. Habis Rio orangnya enak di aniaya sih. Soalnya pasrah aja.
"Kakak sama Nate nggak boleh gitu ke Daddy. Minta yang lain ya?" Bujuk Diandra.
"Yudah deh. Tu mau tutu totat." Ucap Nate nurut. Rio mendesah lega. Untung Nate nurut sama Mommynya.
"Lepas!" Satu pukulan mendarat di tangan Rio yang masih memeluk perut rata Diandra. Mau ambil kesempatan dalam kesempitan? Oh no!! Diandra sudah tau bagaimana watak bejad suaminya ini.
"Enak Yang. Empuk." Ucap Rio merasa nyaman memeluk Diandra. Rasanya seperti senderan di kasur busa berlapis lapis.
"Empuk. Empuk buapakmu itu. Mau buatin s**u anak anak dulu."
Dengan berat hati Rio melepaskan pelukanya. Dia ikut bergabung dengan anak anaknya yang menopang dagu. Memang pada dasarnya lelaki Darmawan paling anti dengan wanita Dermawan. Sama tuh kayak Opanya baby embuls. Suami suami takut istri.
Diandra memberikan satu persatu botol s**u kepada anaknya. Rio merasa cengo melihat anaknya rebutan. Ya Allah kuatkan hambamu yang tampan ini. Udah di kasih satu satu masih aja berantem. Aelah.. bunuh diri Rio lama lama.
****
Rio ikut menemani Diandra menonton drama Korea di laptop Rio. Beginilah nasib para suami takut istri. Istri bilang A. Ya harus A. Istri bilang B ya harus B. Hitung hitung nyenengin istrilah. Apalah arti hidup Rio tanpa adanya Diandra dan dua krucilnya. Hidup Rio akan seperti remahan biskuit roma.
"Ihh Kakak Diandra mau burger!" Rengek Diandra menarik narik kaos Rio.
"Jam 10 ini Ibun. Ntar gendut loh katanya dalam masa diet." Peringat Rio. Soalnya udah semingguan ini Diandra bilang badanya jadi lebih gendut. Jadi dia bilang mau diet. Eh sekarang malah mau makan burger malam malam. Labil emang.
"Mau burger ih. Ya.. ya.. sayang ih." Rio sih tidak masalah Diandra minta makan malam malam. Tapi yang jadi masalah besoknya Rio pasti di berondong Diandra dengan pertanyaan. Diandra gendut ya? Bayangin gimana menderitanya jadi Rio kalau Diandra sudah tanya begitu.
Kalau Rio bilang kurus kok Yang. Dibilang bohong. Kalau bilang ih iya gendutan. Kepala Rio langsung di tebas. Sebenernya di mana letak kesalahanya. Apa semua lelaki di takdirkan selalu salah di mata perempuan.
Diandra menyenderkan kepalanya di d**a Rio. Melupakan drama Koreanya yang ngoceh ngoceh di laptop Rio.
"Mau sate juga."
"Mau gado gado."
"Mau seblak."
"Mau bakso."
"Stop! Stop! Yakin mau makan itu semua?" Diandra Diandra mengangguk. Bibir Diandra mencebik karena merasa Rio meninggikan nada suaranya. Rio menghela nafas. Ya Allah kenapa kau menciptakan dengan segala rayuanya yang nggak bisa hambamu ini tolak? "Yakin habis? Mubadzir tau!"
"Yakin. Janji deh." Diandra menunjukan kelingkingnya subgguh sungguh. Pokonya dia lagi pengen makan itu. Bodo amat besok pagi pipinya jadi tembem. Suaminya juga tidak akan cari istri baru yang lebih kurus. Emang mau di tebas?
"Kalau di ingkari? Aku dapet apa?" Dalam hati Rio bersorak. Ini saatnya menebar jala jala kemodusan.
"Terserah Kakak deh mau ngapain aja." Mata Rio melotot. Ini langka bung.
"Ena ena sampe subuh." Pinta Rio cepat tanpa berfikir lagi.
Plaakkkk
"Auh sakit Ibuuunnnn! Pala aku di geplak."
"Sampe subuh gundulmu! Rontok pinggang Diandra!" Diandra menggeplaki badan Rio jengkel. Tapi setelah itu dia memeluk Rio sambil menangis. "Sakit nggak Diandra pukul? Huhu... maafin Diandra."
Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ini istrinya kenapa? Habis ngamuk ngamuk kok nangis kejer? Pusing Rio.
"Nggak sakit kok. Ibun tunggu sini biar aku beliin semua yang Ibun mau." Rio mengacak rambut Daindra. Memberikan ciuman singkat di bibir Diandra yang selalu lembut dan manis. Anjeerrr andai nggak lagi sensi udah Rio dorong itu istrinya terus di gasak. Astagfirullahal 'adzim. Batin Rio beristighfar.
"Ehhhh!!" Cegah Diandra menarik kaos Rio. "Sama cheetos ya. Yang bueesaaarrr!" Ucap Diandra merentangkan tanganya lebar lebar.
"Haha iya aku beliin. Tapi ena ena ya."
"Iya nggak ya?" Pikir Diandra.
"Ayolah."
Diandra mengangguk malu malu. Sudah lama juga rasanya dia tidak memberikan hak Rio. Bisa karatan kali itu dedenya.
"Woii anjeerr gue baru kali ini ngerasa bahagia sampe rasanya mau nyium Licinta Luna!" Teriak Rio nggak tau diri. Mendapat pelototan dari Diandra.
"Tapi.. tapi.."
Rio segera berhenti. Menatap istrinya was was. Jangan jangan dia jadi korban PHP lagi.
"Tapi?" Ulang Rio harap harap cemas. Semoga aja dede jadi masuk kandang. Udah nyeri soalnya.
"Pil kb Daindra habis dua minggu lalu. Jadi gimana?"
Rio memegang kepalanya. Cilaka dua belas! Terus dede nggak jadi masuk kandang gitu? Tidaaakkk!!!
"Yahhh! Pakai pengaman dong. Nanti aku mampir ke supermarket." Untung aja Ya Allah otak Rio pinter. "Ambilin jaket Daddy ya Ibun. Di kamar." Pinta Rio yang di angguki Diandra.
"Nih! Jangan lama lama. Jangan keluyuran. Jangan lirik biji cabe. Pokonya jangan macem macem!"
"Nggak macem macem. Aku satu macem aja kok. Yaudah aku pergi dulu. Hati hati di rumah kalau ada maling nyusup getok aja palanya pakai panci." Ucap Rio sambil mencium kening Diandra.
Setelah itu dia cepat cepat melajukan mobilnya untuk mencari pesanan sang istri.
****