Berkali kali telepon Rio yang ada di balik minumanya berkelap kelip menandakan ada pesan masuk. Dia yang sedang makan siang di salah satu restauran dekat kantornya pun tak sadar. Tetap melanjutkan makanya dengan melakukan sedikit perbincangan masalah pekerjaan dengan Leon, salah satu tangan kanan Rio di perusahaan. Terkadang Leon juga yang menggantikan posisi Rio sebagai CEO saat bos nya itu sedang mengajukan cuti.
Leon melirik ponsel Rio yang berkelip terpampang foto istri dan dua buah hati bos nya itu. Tanpa sadar hatinya mencelos. Dalam hati kecilnya dia juga ingin seperti bos nya. Memiliki keluarga kecil nan bahagia. Dulu dia juga begitu. Namun semuanya telah berubah saat dia dengan bejadnya meninggalkan dan menceraikan istrinya yang tengah mengandung.
Tanpa sadar Leon menghela nafas kasar. Andai dulu dia tak sebrengsek itu mungkin anaknya telah tumbuh menjadi bocah kecil yang lucu. Benaknya sampai kini bertanya tanya. Masih hidupkah istrinya yang cantik itu. Ralat mantan istrinya? Semoga saja suatu saat nanti dia akan di pertemukan kembali dengan istrinya. Menebus semua kesalahan yang telah dia perbuat.
"Ada masalah Le?" Tanya Rio yang menyadari perubahan ekspresi Leon menjadi suram dan gelap.
"Tidak Pak.. itu ada panggilan masuk di ponsel bapak" Leon menunjuk ponsel Rio yang menyala dengan telunjuknya. Lalu ia kembali menyantap makan siangnya.
Secepat kilat Rio menyambar ponselnya. Mengumpat pelan sambil mengecek panggilan tak terjawab yang ada 9 buah tersebut.
Kenapa dia sampai lupa kalau istirahat makan siang begini Diandra akan menelpon. Siap siap saja istrinya akan marah besar. Dan semoga tak berubah jadi kyubi. Kan bisa bahaya.
Karena merasa tak sopan jika menelpon di hadapan Leon. Rio memutuskan untuk mengirimi istrinya pesan. Dengan begitu istrinya tak akan merajuk saat dia pulang nanti.
Rio: Maaf ya sayang gak terima panggilan kamu. Aku lagi makan siang. Jangan marah ya nanti sampai di kantor aku langsung telepon
Rio memandangi terus layar ponselnya berharap Diandra membalasnya secara cepat. Saat di read saja Rio sudah merasa senang.
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit...
Sampai lima menit istrinya tak kunjung membalas. Membuatnya risau setengah mati. Kerisauanya itu segera di gantikan dengan senyuman kecil saat dia menerima balasan dari istrinya itu. Cukup lama menunggu akhirnya di balas juga. Jadi penantianya tak akan sia sia.
"Hanya itu jawabanya? Keras kepala sekali istri kecilku itu" gumam Rio seraya mengetikan balasan yang membuat perutnya tegelitik geli.
Leon yang menyaksikan itu sampai heran. Bosnya yang terkenal berwajah es itu bisa tertawa dan tersenyum setulus itu? Jujur baru beberapa kali Leon melihat bosnya itu tersenyum. Dan itu semua karena menyangkut istri bos nya. Pasti sangat beruntung bukan istri bos nya itu?
"Ehem... mari kita kembali ke kantor Leon. Sebentar lagi ada meeting dengan perusahaan X. Bantu aku mempresentasikanya untuk sementara kau menggantikan Gia. Dia sedang cuti satu hari karena ayahnya sakit" titah Rio lalu berdiri memperbaiki dandananya.
"Maaf tapi Bapak sudah bilang itu sebanyak tiga kali" protes Leon dengan menyelipkan nada geli di dalamnya.
"Benarkah? Wah pasti saya lupa"
Rio memandang jamnya untuk menyembunyikan senyuman bahagianya dari Leon. Ini semua karena dia membayangkan betapa menggemaskanya Diandra saat membaca pesan terakhirnya. Sampai dia lupa sudah mengatakan kalau ayah Gia sakit sebanyak tiga kali. Rio merasa menjadi remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Dia merasa sedang menjalani cinta monyet. Ahh... dia ingin sekali memeluk Diandra untuk saat ini.
Mereka pun keluar dari restauran. Sebuah mobil Limousin sudah menunggu mereka tepat di depan restauran. Membawa mereka ke kantor yang berjarak tak terlalu jauh dari sini.
*****
Diandra melakukan panggilan kepada Rio entah untuk yang keberapa kalinya. Tetap juga tak ada respon. Diandra yang paranoid jadi berpikiran macam macam. Terlebih yang buruk buruk. Yah... semoga saja suaminya itu tak kenapa kenapa.
Arghss... tapi kenapa kesal sekali di abaikan begini. Sebenarnya Diandra juga tak ingin egois dengan mengharapkan Rio selalu membalas semua panggilan teleponya. Tapi setidaknya jawab saja sekali agar Diandra tak cemas. Iya katakan saja Diandra posesif. Habis suaminya ganteng sih. Kan takut di lirik cewek lain yang gitar spanyol. Diandra yang cewek papan karambol bisa apa?
Diandra berjalan gontai menghampiri baby embuls yang sedang main bersama Buk Diany. Wajahnya terlihat sangat kusut dan tak bersemangat.
Ketika baby embuls merangkak mendatanginya pun Diandra hanya tersenyum kecil sambil mengelus kepala anaknya sayang.
"Momi atu au bil balu. Yak di titu!" Nate merengek sambil menunjuk tv yang sedang menayangkan iklan mobil remote control.
"Atuu au duda!" Mike meringis sambil mengangkat tanganya tinggi tinggi.
"Oalah Non Diandra kok sedih gitu kenapa toh?" Tanya Buk Diany. Mungkin wajah kesal Diandra kentara banget ya? Sampai Buk Diany kepo begitu.
"Bukan apa apa Buk. Eumm.. oke nanti Mommy belikan ya buat Mike warna merah buat Nate warna biru"
Tak lama ponselnya bergetar. Senyuman sukses timbul di bibir Diandra. Dia membuka password ponselnya lalu membuka pesan dari Rio.
Rio: Maaf ya sayang gak terima panggilan kamu. Aku lagi makan siang. Jangan marah ya nanti sampai di kantor aku langsung telepon
Diandra tersenyum senang. Tapi lebih baik dia balasnya singkat singkat saja. Memangnya Diandra tak bisa marah apa? Lihat saja.
Diandra: Y
Singkat padat dan jelas. Tak membutuhkan banyak tenaga untuk mengetiknya. Lalu Diandra kembali di sibukan mengobrol dengan baby embuls juga Buk Diany yang kadang kadang nimbrung.
Saat asik bercandaan dan menggelitiki perut Nate. Ponselnya kembali berdering.
Rio: ish istri kecilku marah ya? Kamu tau gak aku takut kalau kamu marah. Jadi jangan marah yah yah? Aku tau kok kamu kangen sama aku. Aku lebih kangen sama kamu. Satu lagi yah jangan mikirin aku terus ntar ada jerawat yang numbuh di kening kamu loh hehe. Tunggu bentar lagi aku pulang. Oke sayang see you
Huaaaaa!!!
Kenapa Diandra jadi deg degan begini?! Kenapa?
Diandra memutuskan tak membalas pesan Rio. Perutnya terasa tergelitik jika mengingatnya. Apalagi pipinya terasa panas.
Oh cidakk!!
****
Malamnya Rio pulang dengan kancing kemeja biru langitnya yang terbuka dua. Juga lengan bajunya digulung sampai siku. Matanya yang tajam, hidungnya yang mancung, bibir merah dan tipisnya, juga rambut hitam legam yang terlihat lembut dan acak acakan di saat bersamaan membuat Rio terlihat seperti pangeran yang sangat.. sangat tampan. Da terlihat sedikit bandel.
"Diandra Sayang!" Rio memanggil nama Diandra. Tak butuh waktu lama Diandra datang dan langsung mengambil alih tas Rio.
Tanpa banyak bicara apalagi menyapa Rio dengan senyuman khasnya yang memabukan atau ciuman yang sudah menjadi candu bagi Rio. Istrinya itu melengos pergi dengan wajah yang masam.
Rio mengekori Diandra sampai kamarnya. Istrinya itu tetap diam. Rio jadi ngeri kalau istrinya diam begini. Lebih baik marahnya teriak teriak aja atau mukulin Rio ini lebih sereeem. Brr...
"Sayang anak anㅡ"
"Sudah tidur" potong Diandra cepat juga sedikit ketus. Dia duduk di pinggiran ranjang. Berkutat dengan ponselnya.
Sepertinya istri kecilnya ini benar benar marah. Aku harus apa?, pikir Rio dalam hati.
"Yang lagi marah mah beda. Kaya ada manis manis nya gitu" kata Rio sambil duduk di sebelah Diandra. Merebut ponsel istrinya lalu meletakanya di laci nakas. Diandra mendengus kesal. Membuang pandangan ke mana saja asalkan jangan melihat wajah tampan suaminya yang di sinari cahaya temaram lampu kamar. Bisa meleleh hatinya nanti seperti karamel.
"Maaf... maaf... maaf... maaf... maaf!" Rio mengulangi kata maaf sampai lima kali. Diandra menolehkan kepalanya menatap Rio.
"Kata kamu kan kalau aku ada salah di suruh minta maaf lima kali. Kamu ingat kan sayangku? Dan aku bener bener minta maaf karena gak jawab telepon kamu dan pulang lebih terlambat dari biasanya. Habis kerjaan menumpuk. Aku gak mau jadi orang yang gak ber ㅡ"
Kalimat Rio terpotong saat Diandra membungkam bibir tipis Rio dengan bibirnya. Diandra melepaskan ciumanya. Menangkup pipi Rio sayang.
"Sebenernya nggak marah sih. Cuman mau tau apa reaksi Kakak kalau aku marah. Ternyata sesuai dugaan ku. Kakak alay banget sampai mau nangis gitu ih" ejek Diandra sambil tertawa puas. Dia juga mencubit gemas hidung mancung Rio yang selalu membuatnya iri. Kan hidungnya malu malu. Sedangkan Rio. Hidungnya seakan mau pamer pamer hhh...
"Biarin... biarin aku alay. Yang harus kamu tau aku cinta sama kamu itu aja"
"Sepertinya masih cintaan Diandra deh"
"Cintaan aku pokonya. Cinta dari kamu gak lebih besar dari cintaku. Gunung himalaya aja gak cukup buat nampung cintaku buat kamu" Rio memeluk Diandra erat. Menumpukan dagunya di kepala Diandra.
Diandra pun membalas pelukan Rio. Jujur dia sangat bahagia dengan pernikahan ini. Umurnya dengan Rio memnag terpaut sangat jauh. Tapi dengan rasa kepercayaan yang tinggi dan rasa saling memahami cinta mereka semakin kuat. Apalagi di tambah dengan kehadiran jagoan kembarnya. Memperkuat pondasi hubungan mereka.
Semoga ini tak akan pernah berakhir, batin Diandra.
Kruyuukk
"Aduh bunyi apa itu sayang? Sepertinya ada orang di dalam kamar ini yang kelaperan? Kamu denger gak sih?" Kata Rio sedikit mengejek.
"Bunyi perut aku hehe" Diandra nyengir memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Kenapa gak makan hmm?"
"Nunggu Kakak. Kangen masakan Kakak" jawab Diandra jujur dan terdengar manja. Dia memang sangat merindukan masakan Rio yang selalu enak di lidahnya. Seperti masakan chef chef restauran mahal.
Rio pun mengajak Diandra ke dapur. Dia menyuruh Diandra duduk manis menyaksikan dia memasak.
Rio mengenakan apronya. Lalu mulai memasak makan malam yang tak membuang banyak waktu. Kasihan kalau istrinya harus menunggu lama.
Sedangkan Diandra terus terusan menatap punggung lebar dan tegap Rio. Punggung itu seakan akan mengundang Diandra untuk mendekat dan memeluknya erat.
Setelah 20 menit berlalu. Masakan Rio sudah siap. Dia meletakan masakan yang sangat wangi tersebut di hadapan Diandra.
"Makasih sayang" kata Diandra. Dia mencium pipi Rio singkat.
"Sama sama sayang. Makan gih"
"Enak banget jadi iri sama kemampuan masak Kakak" pekik Diandra senang. "Kakak gak makan?"
"Lihat kamu makan aku udah kenyang sayang"
"Gombal"
"Sayang kamu ada kepikiran buat kuliah nggak? Kan kamu sudah ikut UNBK dan dapat ijazah SMA. Emm... kamu mau kuliah nggak?"
"Uhuk... uhuk..." Diandra terbatuk mendengar penuturan Rio. Rio segera memberikan segelas air putih dan Diandra langsung meneguknya sampai tandas.
Setelahnya dia menatap Rio dengan tatapan yang sulit untuk dia artikan.
"Maksud Kakak. Kakak ngizinin Diandra lanjutin pendidikan? Diandra boleh kuliah?"
"Why not?" Kata Rio dengan senyuman lembutnya.
"Huaaaaa gak nyangka Kakak baik banget" Diandra bangkit lalu duduk di pangkuan Rio. "Tapi anak anak?" Tanya Diandra setelah mengingat baby embuls.
"Kan ada Buk Diany sayang. Kamu juga nggak 24 jam kan di kampus? Jadi kamu masih bisa quality time sama si kembar. Walau nggak bisa sesering sebelum kuliah. Ini juga demi masa depan kamu. Aku gak mau buat masa depan kamu suram gara gara menikah muda. Dan membuat orang orang berpikiran negative tentang menikah muda yang sebenarnya enak. Bisa ngapain aja tanpa menimbulkan fitnah. Adegan ranjang yangㅡ" Diandra membekap mulut Rio lalu menggeram kesal.
"m***m!"
"Tapi kalau kuliah jangan deket sama temen atau kakak tingkatan ya. Janji ya?" Rio terlihat memohon.
"Iya nggak akan kok sayang. Apa aku gila mau selingkuh saat suami aku aja jadi incaran untuk di jadikan selingkuhan ibu ibu komplek" ejek Diandra.
Kepala Rio mendekat ke leher jenjang dan putih Diandra. Wangi yang lembut dan menengkan menusuk indra penciumanya. Lalu ia menempelkan bibirnya di sana dan memghisapnya membuat beberapa kiss mark.
"Shh geli..." Diandra meremas rambut Rio. Dia menengadahkan kepalanya kegelian.
"Kalau mau kuliah harus di cap dulu supaya gak ada laki laki yang berani deketin istri ku yang paling cantik ini" kata Rio dengan nada posesif.
"Ngomong ngomong mandi dulu sana Kak. Bau asem"
"Biasanya juga kalau tidur kamu sembunyi di ketek aku. Kalau nggak. Gak bisa tidur"
"Makanya mandi biar Diandra lebih suka nguselin ketek Kakak hehe"
Rio lalu berdiri dengan Diandra yang masih menempel di dadanya seperti anak kangguru yang tak ingin lepas dari induknya.
****
Paginya Diandra bangun sudah tak menemukan Rio di sampingnya. Dia duduk di kepala ranjang. Saat selimutnya melorot Diandra langsung menariknya sampai sebatas leher. Menutupi tubuh polosnya.
Lalu dia berjalan ke kamar mandi dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Nyenyak tidurmu sayang?" Diandra memutar kepalanya ke sumber suara. Di bingkai pintu kamar Rio sedang memperhatikanya. Sesungging senyum mengejek mengembang di bibir tipisnya itu.
Diandra mendengus kesal. Bagaimana dia bisa tidur dengan nyenyak? Kalau Rio terus terusan merengek mintaㅡ ah tak usah di bahas lah.
"Gak Kak. Semalem ada makhluk aneh yang terus terusan merengek di ketek aku Kak" balas Diandra dengan senyuman mengejek juga.
Rio mendekat lalu mengait pinggang Diandra.
"Mandi sana!" Titah Rio tapi tak melepaskan tanganya di pinggang Diandra.
"Kan masih di peluk"
"Siapa yang peluk sih sayang" kata Rio pura pura tak tau.
Sebenarnya Diandra ingin meninju wajah tampan suaminya ini. Tapi sayang lah kalau ada lebam yang menghiasi wajah tampan suaminya. Yang ada dia di pecat sebagai mantu oleh Mommy dan Daddy.
"Satu ciuman"
"Cium cium cium terus. Capek" Diandra memanyunkan bibirnya.
"Ya aku tau pasti kamu bosan ya aku cium. Baiklah mulai detik ini gak akan ada ciuman di antara kita" Rio menunduk pura pura sedih. Dengan gemas dan dengan tingkat keberanian tipis. Diandra menarik tengkuk suaminya dan mencium dalam bibir Rio. Selimut yang di kenakanya sampai melorot ke lantai.
Ciuman itu juga membuat Rio kaget dan tak seimbang sehingga mereka jatuh ke lantai yang di lapisi karpet tebal itu. Posisinya sekarang Diandra sedang menindih Rio.
"Sayang masih pagi. Jangan ngajak main"
"Ish siapa yang ngajak" pipi Diandra bersemu merah.
"Kamu polos loh sayang. Buat aku tegang aja"
"Hah?!" Diandra bangkit dari tubuh Rio. Langsung mengenakan kembali selimutnya. Tanpa kata dia masuk ke dalam kamar mandi.
"Kalau mau main lagi aku siap siap aja kok sayang" goda Rio sambil tertawa renyah.
"DELRIOOO MAU KULEMPAR GAYUNG?!!!!!"
*****