Part 8

2122 Kata
Pagi ini Rio dapat rejeki nomplok dari seseorang tak di kenal yang mengirimi paket berupa bunga, coklat, surat, sekeranjang snack, sama cek seratus juta. Duileh.. yang terakhir tipu tipu. Mana ada jaman modernisasi dan krisis uang begini ada orang dengan suka rela ngasih duit seratus juta. Teralalu kaya kemungkinan sampai duitnya bisa di pakai buat ngelap keringat. "Ngapain gue mikirin yang aneh aneh" Rio memukul kepalanya untuk menghentikan lamunan konyolnya. Kembali ke realita... Tanganya kini telah penuh oleh barang barang yang di telantarkan di depan rumahnya tepatnya di depan pintu rumahnya. Entahlah siapa pelakunya. Yang pasti itu orang kurang kerjaan sampai ngirim ngirim beginian. Ck.. mungkin fans Rio yang mengiriminya. "Pd-an banget dah lu yo. Siapa tau salah kirim" Dewi batin Rio menghujat. Bodo amat! Rio membawa semua barang barang itu ke dalam. Tak lupa dia mengunci pintunya supaya aman, damai, tentram, sakinah, mawadah, warahmah amin.. "Sayang kamu ada pesen sesuatu?!" Ujar Rio setengah berteriak.  "ENGGAK!!!!"  Busyet! Ngomong sama orang serumah kaya' ngomong sama alien di planet lain aja. Tch! Rio berfikir dan meletakan barang barang itu di atas meja makan. Mondar mandir sana sini untuk mendapatkan pencerahan. Siapakah gerangan orang yang menelantarkan ini semua di depan pintu rumahnya? Selembar kertas berbentuk hati berwarna pink menarik perhatian Rio. Note imut itu terselip diantara bunga mawar. Rio menjulurkan tanganya untuk mengambil note tersebut.  Begitu di bukanya. Rio mengernyit dan ingin menyumpah untuk orang yang telah mengirimi barang barang j*****m nan terlaknat ini.  Berani beraninya menulis rangkaian kata kata semanis ini. Dan di tujukan untuk istri tercintanya!  Di bacanya berulang ulang note tersebut. Sampai Rio hafal dan dia merasa kesal mengakui bahwa pengirimnya ini memiliki kata kata yang cukup bagus dan indah. Rio mengkibaskan tanganya ke udara. Mungkin ini Kata kata copasan dari google. "Cukup gue lelah baca tulisan ini. Mati aja sana yang ngirim!" Rio meremas note itu dengan wajah merah padam. Lalu di lemparkan ke keranjang sampah mini yang ada di dapur. Semua barang barang yang ada di meja di angkutnya dan di ikut sertakan bersama note imut itu ke dalam tong sampah.  "Ehh... jangan deh sayang. Coklatnya bisa buat si gembuls. Bunganya bisa buat hiasan di kamar. Ckck... bodo amat deh sama pengirimnya. Makasih atas kirimanya. Tapi maaf istri gue gak perlu tau. Awas gue cari lo sampe dapet! Belum tau aja kuasanya Daddy Rio" Rio kembali mengorek tong sampah itu. Mengambil semua barang yang telah di buangnya. Kemudian dia membawa semua itu ke kamarnya. Untuk di tunjukan kepada Diandra. Bilang aja ada orang salah kirim. Aduh Rio memang hebat! **** Diandra tidur tiduran di kasur dengan mulut Nate yang menempel di payudaranya. Diandra memukul p****t Nate pelan. Supaya Nate diem dan nenen dengan tenang. Si gembuls memang paling nggak bisa diem kalau urusan nenen. Pasti pantatnya  nungging ke sana kemari. Tanganya ngegerayangin wajah Mommynya.  Sementara itu Mike sedang asik dengan spidol warna warni dan buku gambarnya. Membuat benang ruwet yang memenuhi buku gambar. Sesekali dia menggerutu dan melempar spidolnya saat gambaranya tak sesuai keinginanya. Maunya kan bikin benang ruwet. Kok malah jadi upin ipin sih. No!!! Mike maunya benang ruwet! Nggak mau anak aneh berkepala botak yang nggak pernah lulus tk itu dan nggak mengalami pertumbuhan.  "Lihat Daddy bawa apa!"  Suara sexy nan membahana badai itu memenuhi ruangan kamar Diandra yang di d******i warna putih dan coklat. Semua mata menoleh ke bingkai pintu. Di mana Rio membawa banyak sekali barang barang.  Kerutan di dahi Diandra semakin bertambah dan semakin bertambah. Seiring Rio yang semakin mendekat. Jadi untuk ini dia nanya ada pesen sesuatu atau nggak?  "Wuaaaaaa atu au totat dedi!!!!!" Jerit Mike yang matanya langsung ijo saat ngelihat coklat berbatang batang. Memang anak ini. Coklat lovers banget. Kalau si Nate dia mah kalem aja. Masih setia nenen sama Mommynya. Dan masih dalam posisi nungging nggak jelas. Tapi matanya melirik penuh minat pada bunga yang di bawa Rio.  "Banyak banget? Dari siapa? Dari kurir JNE?" Tanya Diandra. Rio mengendikan bahunya. Meletakan semua barang itu di atas kasur. Dia bersila meraih Mike untuk duduk di pangkuanya.  "Nggak tau Sayang. Tiba tiba ada di depan rumah. Orang kurang kerjaan pasti yang ngirimin. Aku fikir kamu yang pesen" "Emang gak ada nama pengirimnya. Biasanya kan ada. Biar kita bisa balikin"  "Eh.. nggak usah Yang. Rejeki nggak boleh di tolak. Lagian nggak ada nama pengirimnya kok. Kosong!"  Yah Rio tipu tipu saja. Padahal ada tadi nama pengirimnya. Lagian pengirimnya nggak tau diri. Mampus barangnya Rio embat! Istri orang mau di rayu rayu. Say good bye wahai pengirim sialan. "Yang mau nenen juga dong" Rio meringis. Setelahnya dapat hadiah lemparan bantal dari Diandra. "Nenen sana sama sapi!"  Demi sempak neptunus! Sungguh jahat istrinya ini. Masa di suruh nenen ke sumbernya langusng. Buat apa punya istri kalo nggak bisaㅡ ekhem you know lah what I mean. Rio memgerucutkan bibirnya seperti anak kecil yang merengek. Diandra merubah posisi tiduranya menjadi duduk bersandar di kepala ranjang. Dan Nate menjadi duduk di pangkuan mommynya. Tanganya yang gembuls melinkari pinggang Diandra. "Tuu au totat" Mike mengambil satu bola coklat yang di lapisi kertas emas itu.  "Dedi atu au duda" Nate merangkak ke arah Rio. Duduk di sebelah kembaranya. Sambil nggelendotin lengan kekar Rio.  Wokehh semuanya sudah dapat jatah coklat. Okesip tinggal tunggu kasur penuh sama coklat.  Ting... tong... ting... tong... Bel rumah bunyi. Rio hendak turun dari ranjang untuk membukakan pintu. Tapi tanganya di tahan sama Diandra. Dengan senyuman mautnya. Diandra bilang mau bukain pintunya. Kalau sudah begitu Rio mana bisa nolak ya kan. Diandra berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang cukup terburu buru. Takutnya tamu penting kalau tidak cepat di bukakan pintu kan kasihan. Iya kalau masih muda. Kalau udah tuir gimana? Bisa asam urat ntar. Eh... tunggu. Diandra menghentikan langkahnya saat melihat note kecil yang tergeletak di lantai. Dia mendecak kesal. Kenapa masih ada sampah di rumahnya.  Di masukanlah note kecil itu ke dalam kantong bajunya. Lalu dia membukakan pintu. Senyuman lebar di perlihatkan sang tamu yang membawa banyak sekali kotak kue.  "Mami Papi!!! Kangen!" Diandra menghambur ke pelukan Mami dan Papinya yang datang tanpa adanya Chello. Entahlah bayi yang mempunyai tingkat kekepoan yang tinggi itu kemana. Bersyukurlah karena dia nggak ikut. Takutnya Chello bakalan nanya lagi tentang bagaimana caranya membuat Nate dan Mike yang memiliki rupa sama. Mati kutu dia dan suaminya. "Unchh kesayangan Mami. Mami juga kangen taukk. Sebenernya mau dateng kemaren tapi Papi nih sok sibuk" "Loh emang sibuk Mi. Lagian kan kemaren Mami nyalon sama nganterin Chello latihan sepak bola" protes Papi yang tidak mau di salahkan. "Orang Papi kelihatan sibuk banget kok. Makanya Mami putusin buat merefresh otak. Papi pokoknya yang salah nggak mau tau" "Hooh deh.. perempuan selalu benar" final Papi pada akhirnya. Daripada berdebat sampai maghrib mending di selesaikan secara jantan.  Diandra tetawa kecil. Papi dan Maminya ini masih saja tidak berubah. Suka mendebatkan hal hal yang sepele. Tidak ingin memperkeruh suasana antara Papi dan Maminya. Diandra mempersilahkan mereka masuk.  "Rio mana Di?" Tanya Papi sang raja kepo. "Di kamar" "Cie cie yang ngamar mulu. Tau tau hamil anak ke tiga. Eh bisa juga yang ketiga dan keempat kan Rio tokcer banget" goda Mami sambil merangkul bahu anak gadisnya. Eh bukan gadis lagi sih. "Hust Mami kasihan tuh anak kita. Mukanya udah merah banget kaya kepiting rebus. Jangan di godain mulu" peringat Papi. "Eh tapi gak papa Di kalau hamil lagi. Semangat ngamarnya"  Diandra mencubit pinggang Papi. Baru aja Diandra merasa terbelakan. Sekarang Papi juga ikutan menggodanya. Memang pasutri tukang nggoda. "Diandra panggilin Kak Riㅡ"  "Papi Mami ikut ke atas. Mau ketemu sama baby twin" potong Mami cepat. Lalu dia mendahului Diandra naik ke atas kamarnya. Diandra menunjuk lantai atas dan mengadap Papinya. Papinya menggeleng dan menunjuk sofa yang ada di ruang tamu.  Jadi mereka seperti orang tunawicara yang menggunakan bahasa isyarat.  Diandra pun menyusul Maminya ke atas. Bahaya kalau Mami nanya yang macam macam sama suaminya. Seperti; berapa kali sehari bikin dedenya si gembuls? Diandra menggelengkan kepalanya. Itu pertanyaan paling horor untuk di jawab.  "Hello Grandma dateng!" Kata Mami melambaikan tanganya ke arah baby embuls.  "Dlenmaaa!!!" Mike dan Nate turun dari kasur. Berlomba lomba untuk mencapai Neneknya terlebih dahulu.  Mereka berdua bergelayut manja di kaki Mami. Nate dan Mike memang sangat senang dengan kedatangan seseorang di rumah. Maka tak heran jika mereka sesenang ini.  "Tamunya Mami toh. Gimana Mi kabarnya? Papi ikut?" Rio menyalami Mami mertua dengan sangat sopan. Jaga image depan mertua. "Baik aja Yo. Papi ikut kok tapi di bawah" Rio manggut manggut dan hendak menggendong anaknya yang bergelayut manja di kaki Mami mertua.  Si kembar malah melengos dan menarik narik Mami mertua keluar kamar. Bertepatan dengan itu Diandra masuk dengan senyum cerahnya. Hati Rio jadi adem kalau ngelihat istrinya ceria begini.  Dia menghampiri Diandra san menggamit pinggang istrinya itu. Diandra menatapnya dengan tatapan peringatan. "Ada Mami kak ih malu" Kata Diandra mencoba lepas dari Rio.  Mami tertawa pelan. "Udah kalian di kamar aja. Baby twin mau Mami ajak ke zoo. Selamat bersenang senang. Mami culik bentar ya si gembuls"  "Ah iya Mi. Jangan lupa pakein jaket sama topi ya" pesan Diandra sebelum Maminya keluar dari kamar.  "Yeeeee jooo" si gembuls menghentakan kakinya kelantai senang. Menarik narik Mami tidak sabaran untuk keluar kamar.  "Ah sayang aku butuh pelukan" Rio merentangakan tanganya berharap Diandra masuk ke pelukanya dan menenggelamkan kepalanya di d**a Rio.  Harapan hanya sebuah harapan. Diandra berbalik langkah menuju pintu yang terbuka lebar. Dengan sigap Rio menahan tangan Diandra.  "Aku kan cuman mau nutup pintu" kekeh Diandra sambil menutup pintu dengan kakinya karena kedua tangnya di tahan oleh Rio. Rio memepet tubuh Diandra di dinding. Menatap manik mata Diandra dalam. Aroma mint yang menyegarkan menusuk indera penciuman Diandra. Juga wangi maskulin dari shampoo dan parfum Rio. Begitu wangi dan membuatnya ingin menyimpan aroma itu dalam dalam di indera penciumanya.  Diandra meletakan telapak tanganya di d**a Rio. Detakanya begitu memburu seakan akan jantungnya akan meledak dan keluar dari sarangnya. Diandra melengkungkan bibirnya untuk tersenyum. Mengusap pipi Rio sayang. Entah siapa yang memulai. Bibir keduanya sudah saling terpaut. Mencecap rasa bibir satu sama lain dengan lembut tanpa emosi.  Lutut Diandra terasa melemah. Andai saja jika Rio tidak menahan pinggangnya. Mungkin dia sudah luruh ke lantai. Habis ciuman Rio sangat memabukan.  Rio semakin mempersempit jarak dengan menekan tubuh Diandra ke dinding. Sehingga rasa dingin terasa menyentuh punggung Diandra.  "Mphh... udah nafas" pinta Diandra di sela sela ciuman Rio yang mulai brutal.  Rio melepaskan ciumanya. Setelah dilihatnya nafas Diandra normal. Rio kembali mendekatkan wajahnya. Tapi Diandra malah melengos dan berlari ingin keluar kamar.  "Tangkap wlee" ejek Diandra sambil menjulurkan lidahnya.  "Awas kamu ya sayang" Rio tersenyum lalu memeluk Diandra dari belakang. Pelukanya begitu erat sampai Diandra merasa tulangnya akan patah patah setelah ini.  "Lepasin Kak ihh" "Nggak ah. Kamu dapat hukuman karena ngejek suamimu tadi" Rio menyelusupkan kepalanya di rambut Diandra. Mengecup ringan leher istrinya itu. Diandra terkekeh pelan. Rio membalikan badan Diandra dan kembali mencium bibir mungil istrinya itu. Rio tersenyum di depan bibir Diandra yang membengkak. Di kecupnya pelan lalu memeluk Diandra erat. "Oh iya Diandra lupa tadi Diandra nemu sesuatu" ucap Diandra tiba tiba mendorong d**a Rio untuk menjauh. Dia merogoh kantong bajunya dan tersenyum bahagia melihat note kecil itu berada di tanganya. Berbanding terbalik dengan Rio yang melotot dan menggeram marah. Tanganya terkepal. Kenapa tadi dia tidak meluluh lantahkan saja note sialan itu! Arghss gila! "Sayang kasih ke aku deh"  "Entar mau baca dulu sayang"  "Jangan sayang!" Rio berusaha merebut note itu dari tangan Diandra. Diandra mengelak dan terus membaca note itu sampai terjatuh di kasur.  Saat kita jauh  Sebenarnya hanya raga kita yang jauh Namun hati kita selalu dekat Karena hatiku ada di hatimu Semoga kamu suka sama bunga pemberianku Diandra.  Walau kamu milik orang lain Percayalah aku akan datang dan kembali merebutmu untuk jadi miliku Bila saatnya tlah tiba nanti EX Diandra mengedipkan matanya beberapa kali. Kenapa note ini terdapat tulisan yang mengerikan begini.  "Mau menjelaskan ini?" Tanya Diandra terlihat marah dan mengacungkan note itu.  Rio mengacak rambutnya kesal. Dia ikutan tiduran di samping Diandra. Merangkum pipi istrinya itu. Meminta kepercayaan tidak kebih dari itu. "Maaf" "Kata maaf nggak akan bisa ngejelasin ini Kak" kesal Diandra. Rio menarik Diandra ke dalam pelukanya. "Itu note yang ada di bunga itu. Aku kesal! Jadi nggak aku kasih ke kamu. Kamu tau kan betapa pencemburuanya aku. Kata kata itu seperti dia bakalan rebut kamu dari aku. Nggak! Aku nggak mau kamu di rebut siapapun. Kamu milik aku kan? Ya kan? Jawab!"  Rio menggoyangkan tubuh Diandra yang berada di pelukanya. Memikirkan ada lelaki lain yang memiliki istrinya dan menyntuh istrinya saja mampu membuatnya gila. Apalagi melihatnya langsung dengan mata kelalanya. Mungkin dia akan bunuh diri saja. "Tenang my husband. Diandra milikmu"  Diandra mencium sudut bibir Rio. Membalas pelukan hangat yang di berikan sang suami.  Otaknya berfikir keras. Siapakah yang mengirim note kata kata cinta itu? ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN