Rio Sakit.1

1222 Kata
Nate dan Mike mulai mengucek ucek mata. Yang berarti mereka sudah mengantuk. Diandra pun membawa mereka ke kamar setelah membuatkan s**u. "Minum s**u dulu ya anaknya Mommy yang paling ganteng. Habis itu bobo ya. Udah jam sembilan nanti Daddy ngambek." Diandra memberikan Mike dan Nate dotnya masing masing.  Mereka langsung rebahan di box bayinya masih sambil ngedot.  "Bumbumbum." Celoteh Nate sambil mengangkat kakinya sampai menyentuh dot. Sedangkan Mike masih cool seperti biasa. Karena ke antengan Mike itu. Nate merapat ke Mike. Biasa mau cari perhatian dari sang Kakak yang irit segalanya. Mike tetap cuek. Membuat Nate cemberut kesal. Melipat tanganya di d**a. Diandra tertawa melihat interaksi antara Nate dan Mike. Mimpi apa selmalem bayi bayi uculs ini keluar dari rahim Diandra. "Aduh anak siapa uculs banget siii." Gemas Diandra mencubit pipi kedua jagoanya. "Nak Dediii!!" Teriak Nate. Dia mengangkat tanganya ke atas. Dengan dot yang masih menempel di mulutnya. Setelah itu dia tertawa geli karena Diandra menggelitiki perutnya. "Bobo ya?" Diandra menarik selimut sampai sebatas d**a. Lalu dia mengusap usap kepala Nate dan Mike bergantian. Sampai mata mereka sayup sayup mulai menutup. Dot di mulut mereka pun sudah habis. "Ututu lucu. Mirip Daddynya siii kalo bobo. Mulutnya kebuka." Diandra menarik dot nya perlahan. Takut mengganggu tidur nyenyak anaknya yang susah tidur siang itu. Sebelum meninggalkan kamar baby embuls. Diandra mencium kepala Nate dan Mike. Lalu mematikan lampu utama. Tetap menghidupkan lampu tidur. Takutnya nanti kebangun. Kalau gelap pasti mereka menangis. Diandra mendudukan diri di sofa. Dia melirik jam LED yang ada di meja belajar suaminya.  "Kenapa belum pulang ya Kak Rio? Semoga gak ada apa apa." Cemas Diandra. Ceklek Gak lama pintu kamar terbuka. Rio berjalan gontai ke arah Diandra yang sudah berdiri menyambut Rio. "Udah pulang?"  "Gak Yang masih di kantor." Lawak Rio. "Lah terus ini siapa?" Tanya Diandra polos. 'Au ah gelap. Untung bini.' Batin Rio. "Ya elah Yang. Kan cuman bercanda. Lagian pertanyaanya kamu aneh. Bikin gemes."  Rio mengacak acak rambut Diandra gemas. Diandra mengulum senyum. Memeluk Rio dan menyandarkan kepalanya di d**a bidang suaminya. "Anak anak mana? Udah pada bobo?"  Diandra mengangguk di depan d**a Rio. Tangan Rio terangkat mengelus rambut Diandra yang sangat lembut. "Mau sampai kapan begini?"  Diandra mendongak. Mencebikan bibirnya. "Kan Diandra kangen Kak. Wajar dong pengen nempel terus kalau ketemu."  "Titisan cicak ya kamu nempel mulu sama aku?" Rio ngakak mencium gemas hidung Diandra. Padahal badan Rio sudah remuk redam ini. Saking padatnya jadwalnya menemui para klien dan investor. Demi dah. Demi istri tercintanya Babang Rio. "Istri sendiri di katain."  "Hehe maaf. Aku mandi dulu ya Yang." Rio menjauhkan badan Diandra yang ogah ogahan melepas pelukanya dari Rio. "Jelek banget kalau ngambek haha." Ejek Rio menoel noel pipi tembem Diandra yang makin berisi kalau lagi ngambek. Jadi pengen nyeret ke ranjang. Hihiw. Diandra makin cemberut. Melipat tanganya di depan d**a. Mengabaikan Rio yang terus terusan menertawainya. Toh kalau giginya kering yang repot Rio sendiri. "Udah sana mandi bau tau nggak!" Diandra mendorong d**a Rio menjauh darinya.  Dengan sigap Rio mencekal tangan Diandra. Membalikan tubuh istrinya itu sampai berdiri meminggunginya. Lalu di peluknya tubuh mungil istrinya yang makin berisi. Makin pelukable. Makin ena. Makin empuk. Ah~ Rio mengelus perut rata Diandra. Kepalanya ndusel ndusel di leher Diandra yang jadi spot favoritnya. Wangi lavender selalu membuat Rio merasa lebih baik. "Wangi banget sih." Kata Rio. "Bau banget sih!"  "Suami sendiri di katain bau." "Kenyataan Kak ih. Buruan mandi. Kalau kemalaman bisa masuk angin." Diandra memegang lembut tangan Rio yang mengusap perutnya. "Gak peka ya kamu." Rio mencium leher Diandra. Diandra mengernyit. Peka apa yang di maksud Rio? "Peka apa?" "Mandiin dong."  "Ih kan udah gede."  Semburat merah memenuhi pipi Diandra. Dia mulai memghayal bagaimana dia memandikan bayi besar seperti Rio.  'Geli ah ngebayanginya. Aku malah ngebayangin yang aneh aneh. Kenapa aku m***m siii!' Batin Diandra. "Ngebayangin ya?" Tanya Rio jahil. Diandra menggeleng kuat. Badanya menegang dan dapat di rasakan oleh Rio. Membuat Rio pengen ngakak so hard beibeh. "Gak usah di bayangin Yang. Langsung praktekin aja. Ranjang ada lima langkah di depan kamu." "Ahh Kak Rio m***m. Diandra gak like."  "Kalau gak m***m anak anak gak akan keluar Yang." Kata Rio santai kaya di pantai makan petai. Eh?! Diandra mengangguk angguk. Membenarkan ucapan Rio dalam hatinya. "Bener kan aku?" "Iya Kakak bener."  Rio menyeringai. Saat nya beraksi!! Woy yang ada di sana yang ada di sini semua ikut mendesah!! Eh?!(2) Hidung Rio menyelusuri tulang leher Diandra. Mengendusnya sepetri vampir yang akan menggigit mangsanya. Alah kenapa nyambungnya ke fantasi? Lol! "Kalau bener ayo Kakak mesumi Yang."  Diandra mendengar itu sangat geram. Dia menginjak kaki Rio. Dan melepaskan pelukan suaminya. Biang modus tetaplah biang modus. "Auhh Yang sakit Yang." Erang Rio sambil loncat loncat memegangi kakinya. "Maaf Diandra sengaja."  "Dosa kamu sama suami Dii. Aku kutuk kamu jadi cantik." Kata Rio. "Emang ada ya kutukan begitu Kak?" "Ada. Aku penciptanya. Kalau kamu yang cantik kan aku yang untung." Rio nyengir menunjukan deretan giginya yang rapi dan bersih. Lagi lagi Diandra mencebikan bibirnya. Tukang modus! Setelah bercandaan. Akhirnya Rio mandi. Dan Diandra menata bantal dan guling yang akan mereka pakai. Beberapa menit kemudian Rio sudah bersih dan harum. Dia sudah menggunakan piyama. "Badan aku gak enak Yang. Serius!" Adu Rio memijit kepalanya. Wajahnya juga terlihat memucat. "Rebahan sini." Diandra menepuk kasur di sampingnya. Rio lantas berbaring. Menyilangkan tangan di d**a dan menggigil. Diandra menarik selimut sampai d**a Rio. "Dingin Yang." Keluh Rio mencengkram erat selimut yang di pakainya. Diandra menyentuh kening Rio. "Demam. Kak Rio demam." Seru Diandra cemas.  "Hmm." Rio hanya menggumam gak jelas. Matanya terpejam dan mulutnya terus merintih. Dahinya mengernyit. "Diandra buatkan bubur ya? Habis itu minum obat. Tunggu sebentar."  Saat Diandra mau berdiri. Tanganya di tahan sama Rio. Suaminya menatapnya mengiba dan memohon. "Jangan pergi." Diandra tersenyum. Megusap rambut suaminya sayang. "Bikin bubur sebentar. Kakak kan harus makan terus minum obat." Rio mengangguk lemah. Melepaskan tangan Diandra. Segera saja Diandra beranjak ke dapur. Membuat bubur untuk Rio. Setelah jadi dia kembali ke kamar dengan air putih. Bubur. Juga obat penurun demam. Gak lupa kain kompresan dan air hangat. Di tempat tidur Rio sudah terlelap dengan dahi yang mengernyit. Menandakan Rio gak nyaman dalam tidurnya.  Diandra duduk di pinggiran ranjang. "Kak bangun." Kata Diandra sambil menepuk pipi Rio pelan. Rio menggeliat. Membuka matanya sayu sayu.  "Harus?" Tanya Rio yang di jawab anggukan oleh Diandra. "Sebentar aja kok. Nanti tidur lagi." Mau gak mau Rio bangun dan bersandar di headboard ranjang. Perlahan Diandra memasukan bubur ke dalam mulut Rio. "Gak enak Yang. Rasanya pahit." Rio mendorong sendok suapan kedua. Melengoskan kepalanya seperti anak kecil.  'Bayi besar!' Dumel Diandra di dalam hati. "Habiskan Kakak. Biar cepet sembuh. Mau sembuh kan?" "Iya mau." Kata Rio menggemaskan sambil menganggukan kepalanya lemah. Diandra jadi heran sendiri. Kesehatan suaminya ini sangat rentan. Baru aja tadi sehat. Sekarang sudah tumbang.  "Habis juga kan?" Diandra memberesi mangkok bekas makan Rio. Meletakanya di nakas. "Ya kan kamu paksa Yang."  "Nih minum obatnya." Diandra menyodorkan air putih dan sebutir obat. Yang langsung di teguk oleh Rio.  "Udah tiduran lagi." Diandra menyelimuti Rio. Dia mengambil kompresan dan di letakanya di dahi Rio yang sangat panas.  Kemudian dia ikut masuk ke dalam selimut. Memeluk Rio yang badanya terasa hangat. Rio terus terusan merintih. Diandra mengelus rambut Rio.  Rio meringkuk. Membenamkan kepalanya di d**a Diandra. Sampai nafasnya terdengar teratur.  "Good nite suamiku." Kata Diandra sambil mencium pipi Rio. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN