Malam Jum'at

2079 Kata
Rio mengerjapkan matanya. Lalu ia merasakan badanya yang enakan. Beda sama semalam. Kepalanya rasanya berat. Pengen Rio buang aja tuh kepala semalam saking sakitnya. Lalu Rio menopang kepalanya. Menghadap miring Diandra yang tidur meringkuk di sebelahnya. Iaia tersenyum seperti orang i***t. Sebelah tanganya ia lingkarkan ke pinggang Diandra. Sekali kali ia menyingkirkan anak rambut Diandra yang menjuntai bebas di kening.  Hampir beberapa jam Rio pakai buat memperhatikan wajah Diandra yang damai saat tidur. Sambil senyum senyum gaje. Rio memajukan kepalanya ke leher Diandra. Lalu ngusel ngusel di sana. Wangi vanila langsung memenuhi hidung Rio. Di tambah wangi strawberry yang segar dari rambut Diandra. Membuat Rio betah berlama lama ada di sekitaran Diandra. Poin pertama untuk menyenangkan suami. Dan tidak membuat suami berpaling ke wanita lain adalah pakailah wangi wangian yang lembut dan nyaman di hidung. Dapat di pastikan suami pasti nempel kaya cicak kawin wkwk. "Eughh... sejak kapan Kakak bangun? Badanya udah enakan?" Tiba tiba Diandra membuka matanya. Ngulet ngulet persis ulat bulu kepanasan. "Belum enak sih, kan belum ngapa ngapain." Kata Rio tersenyum jenaka. Ia menaik turunkan alisnya. Sampai membuat Diandra beringsut menjauh. Takut Rio habis kesurupan apa gitu. "Subuh subuh udah gila aja sih, Kak!" Gidik Diandra membuat Rio tertawa dan mencubit pipi Diandra ganas. "Aw... sakit... kalau mau cubit bayar!!" Kata Diandra gedeg setengah mati. Mengelus pipi putihnya yang telah di dzalimi oleh Rio yang menatap ke arahnya dengan tampang tanpa dosa. "Berapa sih? Semua uangku bakalan aku kasih ke kamu kok, tenang aja. Kaulah hang terakhir bagiku, engkaulah hidup, dan matiku." Gombal Rio dan reflek Diandra membuat gesture seolah olah muntah.  Tapi tidak dapat Diandra bohongi kalau ia senang di perlakukan begini. Ia suka suaminya yang sekarang. Humoris dan dengan gamblang mengungkapkan isi hatinya. Jadi Diandra tidak perlu repot repot menebak nebak apa yang di pikirkan Rio seperti dulu. "Hari ini mau makan apa?"  "Apa aja, yang penting di masak sama kamu." "Receh banget sih gombalnya, kaya anak alay aja." Diandra menutupi wajahnya yang memerah. Salting. Ya taulah gimana Diandra bisa salting. Tatapan mata Rio yang lembut. Suara yang halus. Gimana Diandra mau nggak meleleh? Miper aja paling udah rata sama tanah kali kalau di godain sama Rio.  "Ciye yang salting!" Kata Rio ke arah Diandra yang ngalahin kepiting di rebus. Akhirnya Diandra bangkit dari kasur. Sebuah cekalan menghentikan Diandra. Sampai ia terjatuh lagi ke kasur. Ke pelukan Rio. "Kaaak!" Pekik Diandra kesal. "Apa sih Yang, hmm."  "Lepas nggak! Mau mandiin anak anak."  "Kalau nggak mau." "Lagian aku kangen tau sama kamu. Semalam aja sayangnya minta ampun, sekarang? Kok aku di marahin terus sih." Lanjut Rio sok merasa teraniaya. Diandra mendengus. "Sekarang udah sehat, jadi nggak ada yang perlu di khawatirkan." Balas Diandra sambil menengokan kepalanya ke arah Rio yang memasang tampang puppy eyes nya. "Ada Yang, ini anu aku bangun loh."  "Ishh mesuuumm, udah jelek m***m lagi!" Diandra memukuli d**a Rio brutal. Yang di pukuli cuman nyengir nyengir kuda aja. Suka aja gitu ngelihat Diandra marah marah terus sampai pipinya merah. Lebih imut. Mirip banget kaya dede embuls. "Bercanda Yang, elah."  "Udah ah Diandra masak, Kak Rio mandiin baby embuls ya? Sambil nungguin Buk Diany." Titah Diandra. "Siap laksanakan bos ku!" Rio membuat tanda hormat sembari berdiri menjulang di hadapan Diandra yang kaya kurcaci di hadapan Rio. Diandra mendongak lalu tersenyum. Rio mengacak rambut Diandra gemes. "Ini ekspresi apaan sih Yang, imut banget saoloh. Nggak kuat mas Rio." Alay Rio masih nguyel nguyel kepala Diandra. Yang di uyel uyel ngakak sambil megangin perut. Habis muka Rio kaya minta ena ena gitu sih. Hihiw. Rio maju selangkah lalu menunduk. Mulutnya tepat berada di kuping Diandra. Diandra mau nengokin kepalanya tapi keburu Rio membisikan sesuatu yang membuat Diandra bergidik ngeri. "Nanti malam jum'at loh... sunnah rasul ya." **** "Ya ampun... Yang... Nate nggak mau mandi nih!" Rio frustasi. Ia mengejar Nate yang dengan lincahnya lari kesana kemari menghindari tangkapan Rio. "Atu ndak au andi Daddy, ngin brrrr. Mite ada yang ndi." Kilah Nate sambil menunjuk Mike yang menatap datar ke arah Nate.  "Andi Nate!!!!!" Teriak Mike merasa kesal.  "Tu ndak au... tamu ndak andi." Balas Nate memanyunkan bibir mungilnya. "Atu babang.. dadi bebas." Mike menjulurkan lidahnya. Lalu ia melangkahkan kakinya sedikit berlari keluar kamar. Dengan p****t yang geol sana sini.  "Te mana Mite?!!!" Tanya Nate menggaruk kepalanya melihat kepergian kembaranya tersebut. "Antuin Mommy, tatian di dapul ndilian." Jawab Mike sok dewasa. Rio tertawa melihat tingkah Mike yang dewasa sebelum waktunya itu. Ia jadi ingat beberapa hari yang lalu saat Mike mengangkat teleponya. Dengan kepintaranya dia membalas semua perkataan orang yang menelpon dengan gaya cadel dan ketusnya. Yang lebih emejingnya. Yang nelpon itu adalah Gia. Satu perkataan Mike yang membekas di ingatan Rio. "Tamu tiapa?! Pacal Daddy?! Daddy dah punya pacal tau! Pacal Daddy Mommy Dii. Dangan dandu Daddy atu lagi. You know!!!" Setelah itu Mike melempar ponsel Rio ke dinding. Menyebabkan ponsel Rio rusak dan minta dedek baru. Huh untung Rio kaya. Wkwkwk... Sebuah tarikan di celana selutut Rio mencuri atensi nya.  "Atu lapal, au matan duyu."  "Ishh... kalau mau mandi minta makan. Kalau di suruh makan minta mandi, seribu alasan banget sih anak Daddy ini." Rio berjongkok. Mensejajarkan tingginya dengan Nate yang memainkan kancing kemeja Rio. "Atu au matan, Mite ada ndak andi. Mite matan duyu."  "Habis Nate baru Mike yang mandi, oke!"  "Ote," pasrah Nate lalu ia melompat ke pelukan Rio.  "Siap mandi?!" "Tiaapp Daddy!!" Seru Nate kegirangan sampai menumpahkan kuah dari mulutnya dan mengenai wajah Rio. "Yha.. Nate nggak usah pakai kuah juga dong. Daddy kesembur ni." Ucap Rio memanyunkan bibirnya pura pura ngambek. "Tuah pa Daddy?" Tanya Nate tanpa dosa membiat Rio menepuk jidat verulang ulang. "Nggak Nate besok hujan." Nate mengangguk angguk lucu sampai Rio mencium pipi gembul Nate gemas. Setelah itu mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi. Dengan Nate yang mengoceh tentang anak tetangga sebelah yang berhasil mencuri hatinya.  Yailah bocah, batin Rio menatap calon playboy di gendonganya dengan ngeri. **** "Kak ambilin garam di atas situ dong, tinggi banget nggak sampai." Kata Diandra. Ia melambai lambaikan tanganya ke lemari kaca yang berada jauh di atas kepalanya. Susah banget jadi orang pendek. Susah ngambil barang barang tinggi. Tidak terjangkau ileh tangan. Rio tertawa melihat Diandra jinjit jinjit dan memanyunkan bibirnya kesal karena tidak sampai. Kemudian ia berdiri tepat di belakang Diandra. Membuka lemari itu dengan mudah dan mengambil garam yang di inginkan Diandra. Pergerakan Rio itu membuat punggung Diandra tertempel sempurna di perut kotak kotak Rio. Huh... pipinya kembali panas. Apalagi wangi Rio yang maskulin. Arghsss... Diandra frustasi pengen nyeret Rio ke ranjang. Tapi masih pagi. Yah.. gimana dong? "Nih Chagiya," Rio menyerahkan garam ke tangan Diandra. Sedangkan Diandra melongo. Menatap Rio dengan tatapan tidak percayanya. Ia tidak salah dengar kan? Rio tadi memanggilnya chagiya.  "A-a-a makasih Kak." Gagap Diandra. "Kalau butuh bantuan lagi bilang aja." Rio mengusap kepala Diandra sayang dengan bibir yang di lengkungkan ke atas. "Emang Kakak mau kemana? Nggak nemenin Diandra masak?"  "Yahh... pengen di temenin ya.. ciye.. ciye.."  "Hehe.. nggak sih. Diandra mau Kak Rio cuciin piringnya."  Wajah Rio langsung datar. Ia fikir mau mesra mesraan seperti di drama korea. Istri masak terus suaminya peluk istrinya dari belakang. Sambil sesekali mencuri ciuman di pipi. Aishh... kenapa Rio jadi terbawa suasana drama gini? "Iya Yang, tapi nanti sunah rasul ya. Malam jum'at loh."  Diandra mengangguk tanpa suara. Masih sibuk mengupasi bawang putih.  "Beneran loh Yang,"  "Iya bawel," "Yosshhhh!!!" Teriak Rio kegirangan. Lalu dengan semangat ia mencuci semua piring kotor. Tapi sebelumnya ia memakai celemek bergambar hello kitty membuat Diandra menahan tawanya.  "Kakak kok bisa tinggi sih? Kecilanya makan tiang listrik ya?" Tanya Diandra memecahkan kesunyian. Rio menoleh dan mengernyitkan alisnya. Memangnya ia apa makan tiang listrik. "Ya makan bubur Chagiya," balas Rio sambil tertawa heran. "Kok Diandra pendek sih, padahal Diandra juga makan bubur kok, minum s**u juga." Curhat Diandra. Ia mematikan kompornya. Lalu mengambil mangkuk kaca yang telah di cuci Rio untuk meletakan sup ayamnya. Rio memegang bahu Diandra supaya menghadap ke arahnya. "Denger ya Chagiya. Cewek pendek itu lucu, imut, ngemesin, pakai baju apa aja cocok, dan kelihatan awet muda." Tutur Rio dengan suara lembutnya. Tanganya naik mengusap pipi Diandra. "Tapi kan.... Diandra pengen kelihatan sejajar sama Kakak." "Pada dasarnya, suami harus lebih tinggi segala galanya dari seorang istri."  "Lagian kita kalau di ranjang sejajar kok Yang.. aw.. aw.. iya iya hahaha..." Rio berlari menghindari Diandra yang mencubiti pinggangnya. Ia memutari meja makan. Begitu juga dengan Diandra yang mengejari Rio. "Hah... capek tau!!" Keluh Diandra sambil mengusap keringatnya. "Yaudah kamu istirahat aja, biar aku yang siapkan makanan di meja makan." Rio mengusap kepala Diandra.  Diandra mendongakan kepalanya.  "Nggak papa?" Tanya Diandra yang mendapat anggukan oleh Rio. "Nggak papa Chagiya,"  Kemudian Diandra berjalan dengan gontai menuju kemarnya. Sedangkan Rio menata nata makanan di meja makan. **** "Sini... biar saya aja den yang nyuapin Mas Nare sama Mas Mike," Bu Diany berdiri di samping meja khusus makan baby embuls. "Saya bisa kok Bu, ibu bantuin istri saya aja beres beres. Biar dia nggak capek untuk nan- ehehe ini kan malam jum'at jadi ibu taulah apa yang di lakukan suami istri." Ucap Rio tidak tau malu. Memang dasarnya Rio ini hobi banget mempermalukan Diandra dengan membicarakan sunah rasul kepada bu Diany. Untung Diandra lagi beres beres dapur. Kalau nggak udah di jadikan sambal terasi si Rio. Sambil senyum senyum bu Diany melenggang ke dapur meninggalkan Rio dengan mangkuk bubur si kembar di tanganya. "Aakk.. pesawat terbang mau masuk mulut Nate.." Rio melayangkan sendok di udara. Lalu masuk ke dalam mulut Nate yang antusias manyambut sendok yang di sulap jadi pesawat itu. "Atu tenyang Daddy, mau bobo." Nate mengucek matanya. "Atu duda," sahut Mike malahan sambil menguap lebar yang langsung di tutupi Rio menggunakan jari telunjuknya. "Oke.. kita bobo ya." Rio kemudian memberesi perlengkapan makan baby embuls. Lalu menggendong dua jagoanya ke kamar.  **** "Yaaaaang...." "Hmm..." "Piyama aku kemana sih Yang? Yang motif marsha bengek?" Kesal Rio mengobrak abrik lemari mencari piyama couple yang baru di belinya sama Diandra kemarin.  "Nggak tau," jawab Diandra sembari menaikan bahunya acuh. Biarin ajalah bapak rempong satu itu. Nyari baju aja musti teriak teriak dulu. Nggak like deh Diandra punya suami toak masjid gitu. Tapi cinta sih, cinta banget malahan. Rio mendengus dan memperbaiki handuk di pinggangnya yang selalu ingin melororot. Seakan akan ingin menunjukan keindahan di dalamnya. Ya lordddddd......  Setelah mendapat bajunya. Rio segera memakinya dan bergabung dengan Diandra di atas tempat tidur. Ia memandangi Diandra yang sedang memainkan ponselnya.  Lalu ia pindah tempat duduk tepat di belakang Diandra. Kakinya ia angkat dan menindih kaki Diandra sampai istrinya itu mendongak kesal. Tapi Diandra diam saja. Percuma cari masalah sama Rio kalau ujung ujungnya Rio yang bakalan menang. Buang buang tenaga ya pan? Jemari Diandra berselancar di atas ponsel touch screen nya. Membalasi chat dari grup somplak Zelo, Zela, Bulan, dan Michel.  Rio melingkarkan tanganya di perut Diandra. Dan meletakan dagunya di bahu Diandra manja sambil memeperhatikan ponsel Diandra yang menampilkan chat geng somplaknya. "Ngapain?" Tanya Rio yang tidak tahan di cuekin Diandra. "Pegang hp, balas chat teman." Jawab Diandra singkat padat dan jelas. "Udah ya, besok lagi." Rio merebut paksa ponsel berlogo apel di gigit itu. Lalu meletakanya di nakas.  Setelah itu ia lebih mengeratkan pelukanya di tubuh Diandra. Semacam kode malam jum'at lah. Hihiw.. "Sunnah rasul loh Yang," peringat Rio di telinga Diandra yang langsung bergidik sendiri karena kegelian sentuhan bibir Rio di kulit belakang telinganya yang memang sangat sensitif. Rio menggariskan hidungnya yang lancip di tengkuk Diandra dengan nafas yang sudah memburu. Begitu juga dengan Diandra. Dadanya sudah bergetar dengan noraknya. Nafasnya juga sama memburu dan terengah engah. "Kak," "Hmmm..." gumam Rio menyemburkan aroma mint segar dari hembusan nafasnya. Membuat Diandra tercekat dan lupa caranya bernafas. Tabung gas oy! Eh salah tabung oksigen cepat. Sekali sentakan. Diandra sudah duduk di pangkuan Rio dan saling berhadapan. Lewat kode matanya. Rio meminta izin kepada Diandra untuk menjamah bibir mungilnya itu. Diandra mengangguk dan detik selanjutnya bibir lembut Rio mendarat sempurna di bibir Diandra. Tangan Rio menyusup masuk ke dalam piyama Daindra yang sama denganya. Lalu mengelus perut rata Diandra. Fiks Diandra langsung menjerit geli. "Baru perut Yang, belum yang lain." Kekeh Rio. "Abisnya geli sih," "Kalau ini?" Rio mendaratkan bibirnya ke leher jenjang Diandra. Mencecapnya dan membuat beberapa tanda berwarna merah. Diandra semakin mendongak memberikan akses pada Rio untuk memberikan tanda kepemilikan di lehernya. Entah sejak kapan Rio sudah menindih Diandra. Ia mencium Diandra lebih kasar dari sebelumnya.  Berguling sana sini di ranjang King size mereka. Kadang Diandra yang di atas dan terkadang Rio yang di bawah sampai.... GUBRAKKKK *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN