"Daddy." Mike merengek menarik narik kaos Rio yang sedang fokus mengecek e-mail yang masuk.
Rio menolehkan kepalanya sebentar ke arah Mike yang menyandarkan tubuhnya di lengan Rio. Lalu dia fokus lagi ke laptopnya. Duh pekerjaanya kali ini bener bener tidak bisa di tunda. Jadi jangan bilang Rio tidak sayang anak ya.
"Tu mau tetemu Chello."
"Hmm.. Kakak Chello?" Tanya Rio. Mike mengangguk tanpa suara. Mukanya maju menghadap laptop Rio. Tangan mungilnya terjulur dan memencet mencet sembarangan. Sampai Rio pusing sendiri di ganggu anak sulungnya yang dulunya pendiam ini.
Tidak ingin semua kerjaanya hancur. Akhirnya Rio yang mengalah. Dia menutup laptopnya lalu menyimpanya. Setelah itu dia mengangkat Mike dan memangkunya.
"Ke rumah Kakak Chello mau ngapain?" Rio meraih tangan Mike lalu di ciumnya. Mike memutarkan bola matanya.
"Pain a? Atu mau tetemu aja. Ndak boyeh?"
"Ayo bilang Mommy dulu." Ajak Rio.
Kemudian Rio menggendong Mike dan mengayunkan kakinya ke kamar. Di mana Diandra dan Nate berada.
****
"Yang lagi apa?" Rio melangkah mendekati Diandra yang sedang menulis sesuatu di atas sebuah karton besar berwarna merah muda.
Diandra mendongakan kepalanya. Wajahnya ada corengan cat air. Diandra jadi kayak tentara mau perang aja. Wkwkwk..
"Nate minta di buatin gambar wajahnya yang gembul itu."
Rio menaikan satu alisnya. Mengalihkan pandanganya pada Nate yang duduk berpose di atas karpet dengan kacamata membingkai wajahnya.
Walhasil Rio tertawa kencang. Sampai Mike menutup kupingnya sendiri.
"Kacamatanya nggak nyangkut di hidung hahaha." Kekeh Rio geli sendiri melihat kacamatanya di pakai Nate yang melorot sampai bawah hidungnya.
Lagian hidung mblesek gitu pakai kacamata. Ya mana bisa nyangkut. Ah Rio jadi tidak bisa berhenti tertawa.
"Dila!!!!" Nate melepaskan kacamatanya lalu melemparkanya sampai patah.
"Heh Nate nggak boleh ngomong kayak gitu. Mommy nggak suka ya." Omel Diandra membuat Nate memasang tampang watadosnya. Sekali bandel tetep bandel ya. Kayaknya versi Rio kecil begini.
"Atu talah Mommy." Ucap Nate ngusel ngusel di lengan Diandra.
Sedangkan Rio berhenti tertawa dan meratapi nasib kacamata oleh oleh dari Paris itu. Ya Allah salah apa kacamata itu sampai di perlakukan tidak barangawi seperti itu. Kacamata juga punya hati tau.
"Nate natal. Nya Daddy lutak!" Tegur Mike menunjuk kacamata Daddynya yang tergeletak di lantai.
"Atu ndak natal! Daddy natal biyangin atu ndak nya dung. Telus ni pa?" Tanya Nate lucu menunjuk hidungnya. Diandra tertawa kecil mendengar pernyataan konyol Nate barusan.
"Itu kutil hahaha." Sahut Rio. Selanjutnya Mike juga ikut tertawa. Yah padahal dia tidak tau apa yang lucu. Pokonya kalau kembaranya ternistakan dia bahagia.
Nate mencebikan bibirnya. Dia mendekati Diandra dan memeluk pinggang Diandra. Menyembunyikan kepalanya di ketek Diandra. Senjata terampuh masa kini. Kalau Kakak dan Daddynya tidak pro. Nate tidak apa apa kok. Masih ada Mommy yang selalu berada di pihaknya.
"Kak!" Bentak Diandra yang sontak membuat Rio bungkam. Dia menutup mulut Mike yang masih tertawa. Meletakan jari telunjuknya di mulutnya sendiri. Menginstruksikan Mike untuk diam.
Nate meringis menjulurkan lidahnya ke arah Rio yang diam seribu bahasa di bawah tatapan tajam Diandra.
"Yang Mike mau ke tempat Chello, boleh?" Mike mengangguk angguk dalam gendongan Rio.
"Aaaaaa!!! Atu itut Daddy!" Teriak Nate tiba tiba. Lalu dia berlari ke arah Rio. Nate memeluk kaki Rio dan menempelkan wajahnya di sana sampai pipi gembulnya tergencet dan bibir mungilnya maju. "Tu itut a Daddy?" Rengek Nate mendongakan kepalanya.
Rio tergelak geli. "Boleh nggak Yang?"
Apa yang bisa Diandra lakukan selain mengangguk. Para lelakinya ini kalau tidak di perbolehkan akan pergi juga. Apalagi mereka di ketuai Rio yang bandelnya ampun ampun. Diandra jadi berasa punya tiga anak. Dengan Rio menjadi si sulung.
Nate melonjak girang. Menghampiri Diandra yang masih diam di tempatnya. Habisnya pinggang Diandra masih sakit akibat insiden semalam. Udahlah tidak usah di bahas.
"Aku antar anak anak dulu ya Yang. Nggak papa kan di rumah sendiri? Kalau ada apa apa telepon aja." Pesan Rio sambil mencium pipi Diandra. Diandra mengangguk dan tersenyum. Mengacak acak rambut hitam Rio.
"Atu tium duda Mommy." Nate menarik narik baju Diandra. Dia menunjuk nunjuk pipinya sendiri. Dan memegang kedua pundak Diandra.
Diandra melongo. Lalu memelototi Rio yang seharusnya tidak mempertontonkan kemesraanya di depan Nate yang gampang menangkap semuanya.
Dapat pelototan dari Diandra. Tawa Rio meledak. Bisa bisanya Nate minta cium setelah Rio mencium pipi Diandra. Untung saja tadi Rio mencium di pipi. Kalau bibir gimana? Heh tidak bisa. Bibir itu daerah punya Rio.
"Tium Mommy!"
"Ya ya sini cium muaahh."
"Aaaa!! Tium Mommy. Ukan Daddy!" Kesal Nate sambil menggosok bekas ciuman Rio di pipinya.
"Lucu sih dede Nate. Bikin Daddy gemes."
"Atu malah!" Nate bersedekap d**a.
Rio terkekeh mengacak rambut jagoanya.
"Ayo berangkat keburu siang." Setelah itu Rio menggendong Nate dan melangkah meninggalkan Diandra yang sibuk membereskan kekacauan yang di buat Nate di kamarnya.
****
Rio meninggalkan rumah mertuanya. Di dalam mobil dia mengambil ponselnya lalu menelpon Diandra. Pada deringan pertama sambungan langsung di angkat.
Wah ketahuan istrinya itu sedang nunggu telepon haha.
"Aku mau ke supermarket. Mau nitip?" Tanya Rio lembut.
"Mmm..."
Dahi Rio mengernyit. Bukanya menjawab Diandra malah mendengung di seberang sana.
"Yang?"
"Aduh gimana ya ngomongnya. Diandra malu."
Rio menarik sudut bibirnya. Menghentikan mobilnya di parkiran supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Dia melepaskan seat-beltnya lalu keluar dari mobil.
"Ngomong aja perlu apa?" Rio memasuki uper market. Dirinya di sambut sama mbak mbak super market. Dan dia hanya menganggukan kepalanya lalu melenggang ke dalam. Di ikuti tatapan semua wanita yang ada di dalam supermarket.
Lepas lepas dah tu mata saking melototnya natap Rio yang ganteng abis. Kalau aja Diandra tau bakalan di pites satu satu. Atau di uleg baremg sambal terasi.
"Persedian pembalut Diandra habis Kak. Diandra baru dapet. Diandra mau nitip pembalut."
Rio agak shock. Tapi dia tersenyum lalu mengangguk. Dia memukul kepalanya menyadari kebodohanya. Mana bisa Diamdra lihat dia mengangguk.
Hal terbodoh yang pernah di lakukan Rio. Mengangguk di telepon.
"Yang kayak apa Yang? Bersayap atau biasa?" Tanya Rio sambil mengayunkan kakinya ke rak yang berisi pembalut wanita.
Aishh Rio rada gimana juga sih beli pembalut wanita. Tapi demi istri tercinta deh. Rio rela berbuat apapun.
Rio menatap layar ponselmya saat suara Diandra tidak terdengar lagi. Dia mengacak rambut frustasi. Ternyata pulsanya habis. Dia lupa isi pulsa.
Lalu bagaimana ini? Rio tidak tau pembalut apa yang biasa di pakai Diandra.
Akhirnya Rio melihat satu persatu pembalut yang ada di rak. Meneliti satu satu sebelum masuk ke dalam trolly nya. Pada akhirnya semua pembalut dengan merk berbeda beda masuk ke dalam trolly Rio. Bodoh amat! Kalau perlu Rio borong semua pembalut yang ada di supermarket ini. Tapi kasihan sama wanita yang membutuhkan pembalut. Nanti pakai apa?
"Banyak banget Mas beli pembalutnya. Buat siapa?" Tanya seorang karyawati super market.
Rio menoleh tersenyum singkat. Tidak lebih dari 3 detik.
"Buat istri saya."
"Udah punya istri?!" Histeris Karyawati itu menatap Rio tidak percaya.
Rio menaikan satu alisnya. "Ada yang salah?"
"Nggak Mas." Setelah itu dia pergi dari hadapan Rio yang menatap aneh. Kesurupan apa cewek tadi? Pikir Rio sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah itu Rio berbelanja keperluanya yang lain. Dan membawa semuanya ke kasir.
Sang kasir menatap menggoda ke arah Rio. Menyunggingkan senyum sok manisnya.
"Buat adeknya Mas?" Tanya Kasir sambil mengjitung belanjaan Rio.
Lagi lagi Rio mengernyit kesal.
"Buat istri saya." Ketus Rio.
"Wah suamiable banget. Saya telat ya ketemu Mas."
"Cih." Dengus Rio pelan.
Setelah itu dia buru buru bayar belanjaanya lalu keluar dari supermarket. Melesat dengan kecepatan di atas rata rata di jalanan yang cukup lengang saat weekend seperti ini.
Sepuluh menit kemudian Rio sudah sampai di rumah nya.
Rio segera naik ke lantai atas. Menuju kamarnya sembari mengecek email yang masuk di ponselnya.
Di bukanya pintu kamar. Matanya membulat sempurna saat melihat Diandra meringkuk di atas ranjang sembari memegangi perutnya.
"Ya Allah kamu kenapa? Kamu sakit Yang?" Tanya Rio khawatir. Dia menghempaskan belanjaanya begitu saja di lantai.
Rio duduk di pinggiran ranjang. Membalik tibuh Diandra supaya telentang menghadapnya. Dapat Rio lihat bibir Diandra pucat. Dan Diandra menggigit bibirnya menahan sakit datang bulanya.
"Jangan buat aku panik Yang. Yang mana yang sakit? Aku panggil dokter ya."
"Sa kit..." erang Diandra.
Rio jadi panik sendiri. Dia mengacak rambutnya. Lalu dia ingat sesuatu. Segera dia membongkar belanjaanya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
"Ini minum Yang. Aku belikan pereda sakit saat menstruasi yang biasa kamu beli. Punya kamu habis aku lihat di kotak obat." Kata Rio sambil membantu Diandra untuk duduk bersandar di lenganya.
Diandra menurut saja. Perutnya akan semakin sakit kalau dia banyak bicara. Pinggangnya pun masih sakit gara gara jatuh dari kasur semalam waktu lagi anu. Di tambah semalam ketindih badan Rio yang super keras dan berat.
Setelah meminumkan pereda rasa sakit Diandra kembali berbaring.
"Gimana?" Tanya Rio mengusap perut Diandra pelan.
"Agak mendingan."
"Jangan sakit dong Yang. Nggak tega aku lihatnya." Kata Rio serius. Dia pun ikut berbaring di samping Diandra. Tanganya dia gunakan sebagai bantalan kepala Diandra. Sedangkan tangan satunya merengkuh pinggang Diandra supaya lebih dekat.
"Maaf sudah buat Kakak khawatir."
"Aku nggak papa. Yang penting kamu sembuh."
"Kak."
"Ya."
"I love you Kak." Rio menegang lalu kembali bersikap santai. Dia mencium kening Diandra lama.
"Me too Sayang."
"Pinggangnya masih sakit? Mau aku pijitin nggak?" Rio menyusupkan tanganya ke dalam baju Diandra. Dan mengusap kulit pinggang Diandra.
Diandra mengangguk pelan. "Masih sakit. Tapi nggak usah di pijitin."
"Yakin?"
Diandra mengangguk semakin mengeratkan pelukanya ke tubuh hangat Rio yang wangi. Kakinya bahkan dia lilitkan ke kaki Rio.
"Kalo nggak sakit udah aku garap kamu Yang."
"Aku kan masih sakit. Jangan ngomong m***m dulu." Diandra menarik menggigiy bibir bawah Rio gemas.
Sejenak Rio tertegun. Memegangi bibirnya sendiri yang barusan di gigit Diandra.
"Aaa mau di cium lagi." Rengek Rio menenggelamkan kepalanya di leher jenjang Diandra.
Diandra mendengus geli.
"Diandra kan tadi gigit bukan cium." Kekeh Diandra.
"Lagi pokonya."
"Ngapain!" Diandra membalikan badanya memunggungi Rio. Dia memilih memeluk guling ketimbang Rio yang rada geser otaknya.
"Yahh kok Mas Rio di punggungi sama adek Diandra sih." Alay Rio sambil memeluk Diandra dari belakang. Mengangkat kakinya dan menindih kaki Diandra.
"Aaa!! Lebay tau! Geli dengernya."
Cup
Rio mendaratkan bibir kissable nya ke pundak Diandra sampai Diandra bergidik geli sendiri.
"Kak." Peringat Diandra sebelum Rio berbuat lebih jauh lagi.
"Hmm..." Rio menghentikan aksinya lalu memeluk Diandra erat. Sebelum mereka sama sama terlelap.
****