Pelakor vs. Mantan Gagal Move On

1975 Kata
Nggak ada angin, nggak ada hujan, apalagi petir di siang bolong. Tiba tiba aja, Diera si pelakor rumah tangga Rio dan Diandra sudah berdiri di depan pintu rumah besar Rio. Setelanya modis, rambutnya dia kuncir kuda. Memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih. Sebelum mengetuk pintu rumah Rio, Diera merogoh tas slempangnya. Parfum yang konon katanya bisa memikat hati laki laki, dia semprotkan di area leher, d**a, dan pergelangan tanganya. Anak jaman now banget ya. Masih percaya sama yang namanya kayak begituan. Generasi micin makin berkembang, otak pun terlalu tumpul untuk mikir segitu nggak logisnya barang barang kayak begituan. Dasar! Pintu di depanya terbuka saat Diera asik memainkan bel rumah secara brutal. Tujuanya memang mau buat bising, dan pemilik rumah terganggu. Apalagi Diandra, wahh demi gunung yang ada satu tanjakan dua belokan, tiga perempatan, Diera benci banget sama cewek sok manis itu.  Wajah Diera tiba tiba merengut, kenapa harus Diandra sih yang nongol? Muak tau nggak Diera lihat muka sok manisnya. Mau muntah seempang! Huekkk!!  "Diera, apa kabar?" Diandra menyapa ragu ragu. Abis muka Diera garang amat. Diandra kan jadi takut mau nyapa titisan mak lampir. "Mau masuk?"  "Ya iyalah! Gue itu tamu, ya sudah seharusnya di ajak masuk. Nemu di mana sih Kak Rio istri kayak elo." Diera berbicara dengan mulut pedasnya seperti biasa. Buseeett!! Itu mulut atau cabe sih, pedes amat. Memang Diandra barang apa, main nemu nemu aja.  Diandra masih tersenyum, menggapai tangan Diera yang menggantung bebas. "Ayo masuk."  Mata Diera melirik tanganya yang di genggam Diandra. Selanjutnya, dia menghempaskan tanganya kuat. "Telat tau nggak, gue udah kesemutan dari tadi nggak lo suruh masuk masuk!" Diera komat kamit menyemburkan mantranya, yang sudah pasti menusuk hati Diandra. Orang kayak gini enaknya di apain sih? Lempar ke kandang buaya? Atau kubur hidup hidup dalam tanah?  Tangan Diandra mengepal. Dia meremas bajunya kuat kuat. Sabar, sabar, sabar, kata itu terus di rapalkan Diandra dalam hati.  Tanpa menunggu tuan rumah masuk duluan. Diera si ratu nggak tau diri, udah melenggang masuk. Celingukan sana sini, tujuanya sih buat nemukan keberadaan Rio.  Ahh... bayangkan udah hampir dua tahun dia nggak ketemu sepupu sekaligus orang yang dia cintai itu. Rasanya kangen berat. "Eh Ka-" "Kalo kamu mau nanya di mana Kak Rio, dia masih bawa anak anak beli kado buat anak tetangga." Diandra memotong pertanyaan Diera. Bahkan pertanyaan Diera sudah dapat Diandra baca sebelumnya. Kalau bukan ketemu Rio, Diera mau ketemu siapa lagi kalau namu kesini?  Mau nengok keponakanya? Alamak boro boro! Waktu selamatanya si kembar aja dia ogah datang dengan alasan sakit perut. Heh, napa nggak sekalian mampus aja sih! Bumi bakalan tenang kayaknya kalau satu pelakor musnah dari muka bumi. Pelakor tuh kalo udah nggak bisa di bina, mending di binasakan aja. Buat apa hidup, kalo hidupnya di habiskan buat ngerusak rumah tangga orang. Ya ampun, situ kurang piknik? Kurang bahagia? Sini author bahagiain. Diera menghempaskan tubuhnya ke sofa. "Lama nggak?"  "Bentar lagi mungkin pulang." Diandra melirik jam dinding. Yah suaminya bentar lagi pasti pulang. Cari kadonya kan nggak mungkin sampai Amerika, palingan sekitaran komplek yang jual mainan, atau ke mall.  Diandra berdiri linglung di hadapan Diera yang asik memainkan ponselnya. Bingung mau ngapain. Mau ngajak ngobrol, takut di bilang sok kenal. Tau sendiri kan watak Diera kayak apa? Persis tuh sama cabe dipasar, pedes bowk! "Eh, gue tamu loh." Diera akhirnya buka mulut. Tapi bikin ambigu. Jadi, Diandra hanya mengangguk bodoh. Dia nggak ngerti maksud Diera sebenernya. Diera memghembuskan nafas kesal. Bisa hipertensi lama lama dia berhadapan sama istri sepupunya ini. "Bikinin minum kek apa kek! Sana!"  "Iya?" Diandra menggaruk pelipisnya. Barusan Diera nyuruh dia kok kesanya dia kayak pembantu dan Diera nyonyanya ya? "Ya ampun! Bikinin gue minum, tamu adalah raja!"  Ralat, tamu adalah setan! Mau nggak mau, Diandra ke dapur. Mengambilkan minum dan camilan buat si nenek lampir yang katanya tamu tadi. Hedeuhh, padahal sih dia kayak jalangkung. Datang tak di undang pulang tak diantar, kedatanganya pun sama sekali nggak Diandra inginkan.  Beberapa menit, Diandra kembali lagi ke ruang tamu. Kali ini dia bawa nampan, isinya granat, pistol, pisau daging, bola bowling, teplon roti bakar, dan itu semua buat bunuh si Diera.  Eh enggak deng. Diandra bawa teh hangat dan cemilan ringan. "Maaf Diera, cuman ada ini di rumah. Belum sempat belanja."  "Ya gue paham kok." Diera mengangguk angguk sok paham. Dan itu membuat Diandra membuang nafas lega. Pengertian juga si setan ini. Tapi itu nggak bertahan lama. Setelah dia minum teh buatan Diandra. Tehnya dia semburkan, lidahnya melet melet. "Mau lo apasih hah?! Panas tau nggak!" Bentak Diera, dia mengipasi lidahnya yang kena teh panas. "Kan emang panas? Kalo kamu pinter pasti di tiup dulu atau nunggu dingin."  Skak mat!!  Rasanya Diandra pengen guling guling saking senengnya. Coba liat! Mukanya Diera langsung merah. Hahah... Diandra di lawan. Lulusan luar negeri aja kalah sama lulusan SMA.  "Yaudah.. yaudah.. kasih es batu aja." Diera menyodorkan gelasnya.  Sekali lagi ada yang nggak bener, Diandra kasih sianida tehnya. Biar mampus!  Diandra balik lagi dengan teh panas tadi, yang dia sulap menjadi teh dingin. Barulah, Diera tersenyum puas. Untung aja nggak banyak cincong lagi. Kalo iya, bener bener Diandra kasoh sianida tehnya. "Ka-kamu-"  "Tolong dong ambilin kacangnya."  Baru aja Diandra mau buka percakapaj basa basi supaya lebih akrab. Diera malah ngerusak dengan minta kacang kulit yang padahal bisa di jangkau sama tanganya. Saoloh! Percuma tanganya di ajak ke salon, kalo nggak bisa ngambil sesuatu sendiri. Buang aja mending itu tangan, nyiksa orang aja.  Bibir Diandra tersenyum, Diandra sama sekali nggak menampakan wajah nggak sukanya. Kalo orang jahat, di jahatin balik, pasti tambah jahat. Tapi, kalo orang jahat di baikin, insyallah sembuh. Kalo nggak sembuh juga bawa aja ke rsj. Recomended banget loh ini. "Lama banget sih Kak Rio! Bt deh!"  Suami orang di cariin, bininya aja kalem!  "Mungkin macet." Jawab Diandra sekenanya. "Ada yang pencet bel, Diandra bukain dulu." Diandra langsung bangkit dari duduknya, si pemencet bel mungkin kalo nggak segera di hentikan, bakalan menyebabkan seluruh penghuni rumah kena stroke ringan. "Kak Mar?" Mulut Diandra terbuka lebar. Ngapain coba Mario ada di sini? Mau ngajakin Rio perang deh kayaknya. Mario melambai lambai di depan wajah Diandra. "Aku memang ganteng, lihatnya nggak usah kayak lihat setan gitu dong."  "Masuk Kak!" Diandra masuk ke dalam rumah, diikuti Mario yang mengekor. "Diandra buatin minum dulu." Cekalan tangan Mario, menghentikan Diandra yang akan pergi ke dapur. "Ya?" Mata bulat Diandra yang jernih menatap Mario bertanya tanya.  Salah tingkah, Mario menggaruk tengkuknya yang nggak gatal. Dengan berat hati, dia melepaskan tangan mantan pacarnya itu.  Niatnya kesini bukan mau ngajak ribut suami Diandra. Tapi mau menjaga tali silaturahim sesama mantan. Walau udah mantan, bukan berarti harus jadi musuh dengan nggak bertegur sapa kan? Muslim mengajarkan, untuk selalu menjaga tali silatirohim jangan sampai putus. Ceileh, pak Ustadz. "Reuni?" Diera menyilangkan kakinya. Terus mengambil cemilan keripik singkong dalam tupperware dan memasukan dalam mulutnya, s*****l. Ceritanya dia mau beri kesan seksi ketemu cowok yang di gadang gadang adalah mantan pacar Diandra. Biar Mario nyesel, masih ada cewek seksi di luaran sana. Kenapa malah milih Diandra yang dadanya sebesar telur dadar hadeuhh.  Alis Mario terangkat. Sebelum berbicara dengan nada rendah. Mario maju, berdiri di samping sofa yang di duduki Diera. "Pertama liat lo aja gue udah tau siapa elo."  "Bagus deh kalo gitu. Jadi gue nggak repot repot jelasin, darimana dan gimana gue." Diera tersenyum iblis. Memalingkan wajahnya ke arah Mario yang terlihat santai. Sama sekali nggak kesulut emosi. Menghadapi cewek macam Diera udah sering dia mah. Kalem euy. Mario nggak mau ambil pusing sama tingkah menggelikan Diera. Dia ngambil langkah seribu buat datengin Diandra yang lagi nyiapin minumanya di dapur. Sekalian lepas rindu.  **** "Daddy, tado na nana?" Nate mengadahkan tanganya. Kotak berbungkus winnie the pooh dengan hiasan pita di atasnya di berikan Rio kepada Nate. Nggak terlalu berat isinya, makanya Nate langsung lari ke dalam rumah. Meluk kadonya dan teriak teriak. "Tuu nya tado! Uat Yaya. Woooo!!!"   "Jangan lari lari ntar jatoh, Mommy marahnya sama Daddy." Rio mengeluarkan Mike yang tidur di dalam mobil. Terus dia masuk ke dalam, ngikutin jejak anak bungsunya yang super nakal itu. Bayangin aja, masa dia tadi masuk ke dalam rok ibu ibu. Apa ya nggak shok itu si ibu ibu yang di lecehkab bocah. Antara mau marah sama mau ngakak sih Rio tadi. Habis waktu di marahin ibu ibunya, Nate malah nari nari nggak jelas. Mungkin efek semalam saat Rio ngasih liat vidio orang Papua joget lagu apuse. Ya ampun ucul deh anaknya itu.  "Mommy tu nya tado uat Yaya." Nate meluk kaki orang yang duduk di sofa. Tanpa mendongak, Nate tetep ngoceh siapa sih Yaya itu. Duh padahal sih nama tetangganya Rara bukan Yaya. Maklum lah anak dua tahun, lagi cadel cadelnya.  "Ukan Mommy?" Nate berlari menjauh. Salah sasaran ternyata dia.  Rio jalan mendekat ke sofa. Bener, ternyata bukan istrinya. Tapi sepupunya, Diera. Ah demi apa?! Padahal Rio lagi males deh ketemu Diera. Pasti nanti timbul masalah masalah baru kalo Diera mampir ke rumah. Padahal hubungan Rio akhir akhir ini sama Diandra adem ayem aja. Lihat aja, bentar lagi istrinya bakalan diemin dia dan nggak bakal ngomong sampe cemburunya ilang. Minimal rasa keselnya lah.  "Long time no see, Kak." Diera menubruk d**a Rio. "I miss you."  Mike bergerak gelisah di gendongan Rio akibat sentuhan Diera. Anak kecil aja nggak mau kesentuh Diera, apalagi Rio coba. Geli Rio malah sama cewek agresif. Ngalah ngalahin ular kobra aja.  "Eh iya sayang, ke kamar ya." Rio mengelus punggung Mike. "Gue ke kamar anak anak dulu." Tanpa memandamg raut kecewa Diera. Rio jalan ke kamar anak anak, naruh Mike di box nya.  Setelah itu, dia ke dapur buat naruh belanjaan yang udah di pesen Diandra. Nggak bamyak pesenanya. Cuman lima kotak donat j.co. Rio senyum senyum sendiri. Menenteng kotak j.co nya. Biar kecil kecil begitu, Diandra pasti habis lima kotak donat. Kecil kecil cabe rawit. "Kak." Sial! Rio mengumpat. Dia sampe lupa kalo masih ada nenek lampir di rumahnya. Kenapa dia nggak melipir lewat jalan lain. "J.co?"  "Bukan, kardus mie instan." Jawab Rio jutek. Males berurusan lama lama sama Diera. Sepupu nggak tau diri yang ngejar ngejar dia sejak jaman majapahit.  "Lucu lo Kak."  "Gue buru buru, pesenan bini soalnya."  "Eh." Diera mencekal kaos belakang Rio. Mau nggak mau Rio nengok dengan raut nahan kesel. Untung cewek, untung sepupu, sabar Rio. "Jangan kaget ya kalo sampe dapur." Alis Rio terangkat satu. "Maksud lo?"  "Ah liat aja sendiri. Kalo gue yang ngoming takutnya lo nggak percaya." Diera duduk lagi di sofa. Mengaduk aduk es tehnya.  Ngeselin banget sih ini sepupu gue! Cepat cepat Rio lari ke dapur. Jarak seratus meter, Rio denger Nate ketawa tawa. Bukan, bukan suara Nate yang ngganggu. Tapi suara kekehan cowok. Apa Rizkan? "Mario?!" Kaget Rio. Dia langsung jalan cepet ke meja makan yang lagi di duduki Mario, Nate sama bininya. Aduh berasa keluarga bahagia aja ya.  Dada Rio naik turun.  "Daddy, om Mayo." Nate menunjuk Mario, tepatnya hidung mancung Mario. "Tayak nya Daddy."  "Argh!" Geram Rio mengacak rambutnya sendiri. Pusing dia lama lama sama istrinya. Bisa bisanya ngajak mantan ke rumah. Nggak tau apa kalau Rio suka cemburuan. Kesal, Rio membuka kulkas, menaruh kotak j.co kasar. "Kalo mau selingkuh, di luar aja. Jangan di area rumah. Tau kan akibatnya kalo anak anak liat." Rio berbaik. Tanpa menengok ke Diandra. Dia jalan lurus ke kamar, mengunci dirinya sendiri layaknya anak gadis baru puber. Diandra sadar dari keterkejutanya, menepuk pipinya pelan. "Diandra susul Kak Rio dulu ya, dia kayaknya salah paham." "Huumm... oke."  Masalah lagi masalah lagi. Kenapa setiap mak lampir datang selalu ada masalah. Huhh kayaknya si Diera butuh berendam di air bunga tujuh warna, supaya sialnya nggak nular nular. Mati aja sana pelakor Diera!!  Minggat aja sana mantan gagal move on. Bikin huru hara rumah tangga Diandra aja. Eh tapi pepatah mengatakan. Semakin banyak masalah dalam rumah tangga. Semakin awet juga rumah tangga. Jadi nggak lurus aja kayak jalan tol, endingnya pasti bosen dan memutuskan buat... ah isi sendiri. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN