Jebakan Batman

2326 Kata
Apa sih yang ada di dalam otak Diandra? Si Mamah muda beranak dua nan seksi bak gitar spanyol itu. Udah tau Rio tingkat cemburunya udah di garis merah yang artinya suami paling pencemburu di dunia. Eh malah di panas panasi dengan ngobrol sama mantan.  Setelah kejadian Diandra kepergok ngobrol sama mantan. Di situ Rio ngerasa marah. Pengen hajar itu mantan Diandra yang sok kecakepan. Hadeuhh lagian istrinya itu nggak ada rasa bersalahnya sama sekali sih. Suaminya lagi marah bukanya di sodorin yang enak enak malah lanjut ngobrol sama mantan galon. Alias mantan gagal move on.  Mana Nate sama Mike nempel sama si manusia galon. Gimana Rio nggak panas. Dan berakhirlah dia duduk di sofa ngobrol ngalor ngidul sama Diera. Sebenernya sih Diera aja yang semangat ngobrol. Rio mah memfokuskan kupingnya untung menguping pembicaraan Diandra dan Mario di dapur. Soalnya tempat yang dia duduki sekarang ini. Spot paling bagus buat di jadikan tempat pengupingan. "Haha Kak Mar masih simpen foto Diandra? Kok di taruh di dompet sih. Ketahuan jomblonya huakakakak"  Kampret!  Rio bergerak gelisah. Enak aja foto istrinya di pasang di dompet. Rio aja nggak pernah tuh masang foto Diandra di dompet. Paling di selipin aja di dompet di sela sela kartu kartu yang memenuhi dompetnya. Siapa tau kangen gotu waktu kerja di luar kota atau negeri. Plaakkk Oke oke itu sama aja.  "Ya kan nungguin jandanya kamu Dii"  Apa?!!!! Janda?!!! Wah ngajak ribut. Berarti Mario doain Rio cerain Diandra atau paling parah Mario doain Rio mati ketabrak semut. Rio berdiri dengan rahang mengeras.  "Eh Kak Rio mau kemana? Diera kan belum habis cerita tentang kuliahnya Diera" tahan Diera memegang lengan Rio. Bahkan dia peluk lengan kekar Rio sampai sampai Rio merasakan sesuatu yang empuk menghimpit lenganya.  Rio memutar matanya. d**a seukuran tutup botol aja gaya di sodor sodorin. Noh istri Rio ukuran dadanya sebesar telur rebus. Jadi Rio nggak tertarik sama d**a Diera. Walau di pompa sampe segeda balon udara. "Lepasin Ra" Rio menggoyangkan tanganya. Huh tapi dasar si Diera masih aja nemplok persis kotoran cicak. Dia menggeleng keras di sekitaran ketiak Rio. "Diera jangan gitu" Diera senyum memperlihatkan gigi yang dia kasih pagar warna hijau. Jaman sekarang bray. Nggak behel nggak keren. Itu sih kata anak alay zaman now ya. Yang memanfaatkan behel buat di jadikan aksesoris dan bukan buat manfaat yang sesungguhnya.  "Kak Rio terangsang ya?" Tanya Diera blak blakan tanpa rasa malu.  Mata Rio melotot. Dia sampai mendorong Diera sejauh jauhnya dari tubuhnya. Kalau diibaratkan. Diera itu sebagai tumbuhan benalu. Suka menempel dan merugikan yang di tempeli.  "Haha enggak. Cuman kemaren lengan gue habis di gigit Diandra jadi ya gitu. Masih nyeri"  Duarrrr Jadi sudah main gigit gigitan? Hah! Demi apa?! Seagresif itukah? Diera sampai mau pingsan dengernya. Pantes sekali brojol dapet dua. Sekaliny sama sama nafsuan.  Perlahan lahan Diera mundur. Rio cuman memperhatikan saja sambil menahan senyumnya.  "Eum.. gue pulang salam ke Nate sama Mike ya" Kemudian Diera lari keluar dari rumah Rio. Rio menyilangkan tangan di depan d**a. Menaikan satu alisnya yang tebal. "Bagus deh. Jadi nggak usah repot repot ngusir" Rio mengusap lenganya naik turun beberapa kali. "Tapi emang masih nyeri sih. Nyesel udah gangguin Diandra masak. Jadi kena gigit"  Habis itu Rio jalan ke arah dapur. Ya bodo amat sama gengsi. Daripada istri di ambil mantan. Lebih baik Rio yang menurunkan egonya. Kalau nungguin Diandra yang nyamperin sampe bumi jadi gepeng pun Diandra nggak akan pernah lakuin itu. Cewek kan gengsinya lebih gede. Ya kan?  "Ehem ehem..." Rio pura pura batuk dan mengambil sebotol tupperware yang isinya aur putih di dalam kulkas. Dia melirik ke meja makan. Di mana Diandra dan Mario asik ngobrol. Rio menekuk wajahnya. Meneguk air dari botol tupperware itu sampai habis. Di tegukan terkahir. Dia keselek dan batuk batuk beneran bray. Kapok nggak lu huakakak. "Duh kalau minum pelan pelan dong Kak" Diandra langsung gerak cepat berdiri di samping Rio. Memukul mukul punggung Rio lembut. "Sini Diandra lap keringetnya" Diandra memutar tubuh Rio sampai menghadap ke arahnya. Dengan sedikit berjinjit. Diandra mengusapkan telapak tanganya di dahi Rio yang banjir sama keringat. Rio melirik Mario yang sesekali melirik. Tapi dia masih sibuk ketawa tawa sama Mike dan Nate yang menarik narik hidungnya. "Makanya jangan suka cemburu" kata Diandra menekan hidung Rio yang mancung. Rio tersenyum tipis mengangguk angguk di bahu Diandra. Rio mencium leher Diandra gemas. "Ishh... nggak malu di lihat Kak Mar?" Diandra menunjuk Mario yang masang wajah mupeng.  Rio menutup kulkas. Menaruh botol tupperware di kitchen set. Kemudian dia duduk di depan Mario. Sedangkan Diandra duduk di samping Rio.  "Sini sini sama Daddy" Rio mengulurkan tanganya. Nate dan Mike merangkak di atas meja. Langsung menubruk d**a bidang Rio yang di balut kemeja putih.  "Tu au tampo Daddy!!" pekik Nate. "Mau apa?" Tanya Rio nggak ngeh. Tempe? Tanto? Tape? Haishh apa sih. Bahasa palnet mana sih itu. Ngalah ngalahin bahasa planetnya alienya si Wowok aja. Preketek ketek tek tek preketek.  "Tampo blue Daddy. Miti mos" lanjut Nate memberi clue.  Rio menengok Diandra meminta bantuan. Lah istrinya malah senyam senyum aja. Nggak tau apa obat diabetes sekarang mahal? Manis banget sih senyumnya.  "Dia bilang mau shampoo Mickey Mouse warna biru" Mario bersuara. Tatapanya nggak beralih sedetikpun dari ponselnya. Dahi Rio mengernyit. Kok lebih tau manusia galon daripada dia sih. Sebenernya yang Daddy di sini siapa? Dan kenapa Rio jengkel gini sih. "Aku taruh kuenya di kulkas ya Dii"  Diandra mengangguk semangat. Mario menenteng kantong yang berisi kue dari toko terkenal. Dalam juga koceknya deketin istri orang. Mario sudah menaruh kue kuenya di dalam kulkas. Terus dia balik lagi ke posisi semula. Yaelah... kira Rio bakalan pulang. Sekalinya masih nyangkut. Rio manyun. "Besok pagi jadi nemenin aku kan Dii?" Rio kaget. Dengan cepat nengok ke Diandra yang mengangguk antusias. Hanya satu yang di pikirkan Rio. Mau kemana mereka? **** "Mau mampir ke supermarket. Mau ikut masuk atau tunggu sini?" Diandra melepaskan safety beltnya. Lalu mengencangkan ikatan rambutnya yang sedikit melorot.  Rio mencium dua kepala plontos yang sedang ada di pangkuanya. "Ikut Mommy atau di mobil hm?"  "Itut!!!" "Atu duda!!!" Teriak mereka bersamaan. "Atu au pil. Dua" kata Mike mengangkat tiga jarinya. Uh tumben sih si Mike semangat gini. Rio jadi gemes dan meniup leher Mike. "Dodoh! Tu tida. Ni dua" Nate menurunkan satu jari Mike dan dia juga memukul kepala Mike. Nggak tau lagi lah bray. Nate ini memang suka main kekerasan. Entah nurun siapa. Padahal kan Daddynya lemah lembut. Seperti princes elsa. Eakkk.. "Eh Nate nggak boleh nakal. Kakak sakit nanti"  "Biarin Yang. Lucu tau" Rio tertawa keras. Bisa nih di vidio masukin ke youtube. Siapa tau kan viral. Plaak "Lucu dari mana! Nanti jadi kebiasaan. Bapak macam apa kamu ini!"  Rio menggosok kepalanya yang di tabok pake tas sama Diandra. Rio nyengir mencium pipi Diandra yang memerah. "Haha iya iya jangan ngambek dong" "Jatah stop ya" ancam Diandra tajam. Dia mau membuka pintu tapi keburu tangan di tahan Rio. Jatah stop? Tidaaakkkkkkk!! Masa main sendiri lagi. Kasihan kecebong Rio kalau di buang buang percuma di kanar mandi. Kalau cari tempat sampah ntar di kebiri lagi sama Diandra.  "Mana bisa gitu. Jatah ya masih lancar dong" "Nggak Delrio" "Iya sayang" "Nggak ya nggak" "Emang kamu mau aku jajan di luar? Pulang kerja nggak langsung pulang malah ke cewek lain. Mau kamu?"  Diandra langsung pucat. Dia memukul mukul d**a Rio. "Delrioo!!!" Bugh Bugh Bugh Bugh "MOMYYYYY TOP. ATU PUCING!!!" Teriakan Nate menghentikan aksi penganiayaan Diandra.  "Awas aja kalau jajan di luar! Diandra kebiri burung Kakak sampai habis!" Diandra menunjuk kebawah Rio lalu dengan isyarat memotong lehernya. Rio meneguk ludahnya. Dia nyengir. Wah ganas ya kalau sumanti ngamuk. Eh nggak deng maksudnya istri tercinta. "Hehe bercanda Yang. Yaudah sana belanja. Aku sama anak anak di sini aja"  Braak Diandra menutup pintu dengan keras. Untung aja jantung Mike, Nate, sama Rio buatan Allah. Kalau buatan China mungkin udah rontok. Dasar ibu ibu PMS. Suka berubah jadi monster dalam satu menit.  Hihh serem. **** Setelah menghabiskan bermenit mwnit untuk belanja keperluan dapur dan keperluan anak anak. Diandra keluar dari supermarket. Dia menengok ke belakang sebelum dia keluar lebih jauh. Takut diikutin sama gerombolan anak SMA yang tadi ngotot minta nomor WA nya.  Ah generasi anak jaman now. Bukanya belajar yang bener malah gangguin ibu ibu. Cantik cantik begini kan Diandra udah punya anak dua. Suami satu. Ya iyalah masa dua. Mana mintanya maksa banget. Sampe rela relain mau bayarin belanjaanya Diandra. Uh sorry ya. Rio masih cukup kaya buat beli keperluan Diandra. Jadi nggak perlu lah namanya ditraktir. Kalau Rio tau bisa habis itu si anak anak SMA.  "Hei!!" Diandra berhenti. Dia mulai geram. Terus menjatuhkan belanjaanya di tanah. Dengan cepat dia berbalik sambil menaikan lengan bajunya.  "Cari masalah sama saya? Saya bisa silat loh kalau kamu macam macam sama saya" ancam Diandra dan itu malah membuat anak SMA itu ketawa ngakak. Dia mengusap pucuk kepala Diandra.  "Manis banget sih" Diandra pasang wajah cengo. Menepis tangan cowok itu di kepalanya. Emang dia kucing apa di elus elus. Terus Diandra nengok ke kanan dan ke kiri. Kok sendirian si manusia tengil ini. Kawan nya mana? Di telan bumi kali ya? Hihi. "Aku Ben"  "Nggak tanya!" Diandra menjawab dengan ketus. Mengabaikan tangan Ben yang sudah menggantung di udara.  Di dalam hati cowok yang namanya Ben itu jingkrak jingkrak. Naklukin cewek galak itu lebih menantang. Karena selama ini dia terus yang di kejar kejar cewek mulu. Nah ini saatnya dia yang ngejar ngejar cewek. Lagian ceweknya cantik kok. Banget lagi.  Pendeknya sesuai kriteria Ben. Kulitnya putih bersih dengan rona merah di kedua pipinya. Rambutnya sebahu dan diikat tinggi. Gilaa ini sih idaman banget namanya. Ben rela deh jadi kacung sekalipun biar bisa deket sama cewek jutek ini. "Sini aku bawain belanjaan kamu" Ben ngelewatin Diandra buat membawakan belanjaan Diandra yang tergeletak mengenaskan di tanah.  "Eitssss!!!" Diandra menarik seragam Ben. "Nggak usah repot repot! Sana minggir" "Nggak repot kok cantik. Aku ikhlas" Ben tersenyum tulus. Baru sekali ini dia bener bener ngerasa deg degan deket cewek.  Diandra diam. Bohong dia kalau bilang Ben jelek. Ben itu ganteng. Tapi kelihatan banget premanya. Dan Diandra nggak suka sama yang namanya brondong! Lagian Diandra udah punya suami yang ganteng. Diandra melengos. Dia merebut belanjaanya dari tangan Ben. Kemudian dia berlari ke parkiran mobil. Di mana mobil Rio di parkir.  "Nama instagramku @Ben10. Kalau ada apa apa DM aku aja!!!!" Teriak Ben sambil melambaikan tanganya. Diandra memijat keningnya lalu menggeleng pelan. Hah kelakuan!!! ***** "Lho mobil Kak Rio mana?" Diandra celingukan sana sini. Dia nggak mungkin salah. Tadi kan mobil Rio di parkir disini. Lagian tenpat parkirnya kan nggak terlalu besar jadi Diandra nggak mungkin lupa.  Diandra merogoh ponselnya di tas tanganya. Ishh geram banget sih sama kelakuan suaminya ini. Lagi PMS juga. Perut Diandra kan sakit. Malah pergi entah kemana. Suami gila!!! Suami durhaka memang. Diandra Drmawan: kok nggak ada di parkiran sih. Diandra udah kelar belanjanya Eh kampret.. cuman di baca doang. Awas ya bener bener nggak Diandra kasih jatah itu orang. Peduli amat sama dedek nya yang besar itu.  Diandra Drmawan: DELRIOOOOO!!!! AKU BENCI KAMUUUUU!!!!! Lagi lagi cuman di read. Diandra udah hampir menangis. Dia cari tempat duduk di sekitaran tempat dia berdiri. Untung ada kursi panjang yang ada di bawah pohon. Jadi dia bisa duduk dan nggak kepanasan.  "k*****t banget sih!" Gumam Diandra. Dia mengambil teh botol dari kantong belanjaanya. Lalu meneguknya cepat. Uhh cuacanya panas banget. Nggak nahan bray.  Udah cuaca panas. Di tambah hati sama kepala panas. Bisa meledak kali Diandra di sini. Diandra Drmawan: balas Delrio kalau kamu masih mau hidup! Sialan! Ini bener bener pesan terakhir yang bakal di kirim Diandra. Dan kalau masih di baca aja. Diandra bakal panggil Ben dan ngajak pulang bareng. Itu sih kalau dia masih ada. Kalau enggak ya pesan go car aja. Bodo amat lah sama harga diri. Udah nolak Ben. Eh malah mibta bantuan. Rio Drmawan: apa sayang kuhh❤ Diandra Drmawan: sayang sayang palalu peyang! Dimana kamu Delrio?! Rio Drmawan: aku juga nggak tau lagi di mana. Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang Diandra Drmawan: huaaaaaaaaaaㅠㅠ Rio Drmawan: kamu nangis? Diandra Drmawan: pertanyaamu sangat bagus sekali sayang. YA! AKU NANGIS DI TEMOAT PARKIR SENDIRIAN KAYAK ORANG GILA TAU NGGAK HUHUHU... DI TINGGAL SUAMI DURHAKA! Rio Drmawan: uhhh sayang  Tiba tiba ada lengan kekar yang memeluk Diandra dari belakang.  "AAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!" Diandra berteriak dia ancang ancang mau berbalik dan memukul kepala siapapun orang kurang ajar itu dengan botol teh yang isinya masih setengah itu. Lumayan bikin oening loh kalau kena. Tapi setelah melihat cengiran bodoh suaminya dia malah makin histeris dan nangis sejadi jadinya.  Bugh Bugh Bugh Diandra memukul mukul lengan Rio dengan botol teh yang dia bawa. Dan Rio malah ngakak keras dan memeluk Diandra. Mengusap usap rambut Diandra geli. "Jahat tau nggak! Jahat! Jahat!"  "Hahaha iya iya maaf"  "Jangan ketawa!" "Lucu sih kamu kalau nangis gini" Rio menangkup kepala Diandra. Menyapu air mata Diandra dengan jempol besarnya. "Hehe sampe nangis gini. Maaf ya sayangku" kata Rio memeluk Diandra lagi. Kali ini Diandra melingkarkan tanganya di pinggang Rio.  "Hiks apa maksud Kakak hiks hiks?" Tanya Diandra sambil sesenggukan.  Srootttt Dia membuang ingusnya dan mengelap tanganya di kaos Rio.  "Niatnya sih mau buat jebakan batman buat kamu haha. Tapi nggak tega ih. Kamu unyu gini kalo lagi nangis. Ntar di culik tering terongan lagi"  "Kirain di tinggal beneran" "Mana tega sih Yang"  "Tega! Tuh buktinya ngerjain Diandra" "Kamu sih nyebelin seharian ini!" "Nyebelin apa?" Tanya Diandra polos. Rio mencubit pipi Diandra yang seakan nggak salah itu. Padahal kesalahnya banyak. "1. Kamu buat aku cemburu dengan ngobrol sama Mario" "2. Kamu bukanya kasih aku yang enak enak waktu aku lagi marah. Malah ngobrol lagi sama Mario" Diandra mengernyit. Mencubit bibir Rio supaya diam dari cerocosanya itu. "Maksudnya kasih yang enak enak apa ya?" Rio menggaruk tengkuknya yang ngga gatal. Dia nyengir lalu mencondongkan tubuhnya dan bibirnya berada di depan telinga Diandra. Kemudian dia membisikan sesuatu yang pasti membuat Diandra ingin mencekik Rio sampai mati.  Eh jangan deh. Mencekik Rio sampai nggak mati. Kalau mati jadi janda kembang dong. "DELRIO MESUUUUUMMMMM!" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN