Besoknya Diandra pagi pagi sudah siap cus nemenin Mario ke suatu tempat. Dia pakai kaos biasa warna hitam dan celana jeans warna putih di padukan sneakers hitam bergaris putih andalanya. Rambutnya dia ikat ke atas. Soalnya perkiraan cuaca hari ini bakalan terik banget. Kalau urai urai rambut nanti bakal kegerahan.
Di kamar mandi suara guyuran shower sudah nggak terdengar lagi. Berarti Rio udah selesai mandinya. Dan sekarang giliran Diandra yang menyiapkan mentalnya buat minta izin ke suaminya.
Hasilnya mungkin agak mengecewakan ya. Kan kalau di fikir fikir. Mario itu mantan pacarnya Diandra. Suami mana sih yang membiarkan istrinya jalan sama mantan pacar?
Diandra menghembuskan nafasnya. Membenarkan poninya lalu duduk di pinggiran ranjang menunggu Rio keluar dari kamar mandi. Semoga aja Rio mengizinkan. Lagian Diandra jalan sama Mario tujuanya baik kok. Nggak ada tujuan selingkuh atau apapun. Mario kan sudah...
Ceklek
Rio keluar dengan tubuh bagian bawah di balut handuk putih. Rambutnya masih basah dan tetesan airnya membasahi lantai. Rawrrr.... Rio hot banget sih.
"Kok udah rapi. Mau kemana?" Rio memperhatikan Diandra dari atas ke bawah. Yang sebenernya sih dia tau kalau Diandra ada rencana jalan sama Mario. Tapi pura pura nggak tau aja. Supaya Diandra nggak jadi jalan sama si k*****t itu. "Tolong ambilkan kemeja yang putih dong Yang"
Diandra berdiri mengambilkan kemeja Rio yang tegantung rapi di dalam lemari. Rata rata kemeja kantor Rio emang warnanya putih. Ah makin hot aja deh kalau pakai kemeja putih gitu.
"Boleh nggak Diandra..."
"Jas aku yang hitam mana ya?"
Mau nggak mau Diandra bantu mencarikan jas Rio yang hilang secara misterius itu. Waktu Diandra pun terbuang 5 menit.
"Kak Diandra mau..."
"Dasi dong dasi. Yang warna abu abu" Perintah Rio sambil mengancingkan kemejanya. Sialan! Kalau gini kan Diandra nggak jadi terus ngomongnya. Habis setiap mau ngomong selalu di potong. Emangnya Diandra pohon yang di tebang buat kertas ujian apa? Main potong potong aja.
Diandra cemberut menyerahkan dasinya. Rio tersenyum kemudian memasang dasinya lambat lambat.
"Makasih sayang. Aku ke kantor dulu" Rio melingkarkan tanganya di pinggang Diandra. Haishh kalau gini kan Diandra harus mendongak buat bertatapan sama Rio. Pegel nih lama lama leher Diandra dongak terus.
Badan Rio terlalu tinggi sih. Macam tiang listrik aja. Udah gitu tinggi Diandra cuman seketek nya aja. Bisa kan kalian bayangin gimana menderitanya Diandra waktu mau tatap tatapan sama Rio. Atau betapa menderitanya Rio saat mau cium bibir Diandra. Pokonya sama sama menderita lah. Tapi karena cinta penderitaan itu nggak berarti apa apa. Eaaaak...
"Aku kerja dulu. Baik baik di rumah"
Cup
Diandra mengangguk angguk membalas ciuman Rio di keningnya dengan menempelkan bibirnya di atas bibir Rio. Dia hanya memberikan ciuman singkat. Habis kalau lama lama capek jinjitnya. Rio juga nggak mau ngalah dengan jongkok atau apa gitu. Dasar suami nggak pekaan.
Saat Rio mau balik badan meninggalkan kamar. Diandra menarik tangan Rio. Aduh udah kayak adegan di film film india aja. Kurang backsound lagu Tuminah aja. Eh Tum Hi Ho hihi.
"Hmm"
"Diandra mau..."
"Aduh lupa kasih makan kucing. Harus buru buru nih" Rio melihat jamnya dan memberikan tatapan penyesalan ke Diandra.
Alis Diandra bertaut naik. Tangan Rio di hempaskan keras. Sampai Rio meringis kesakitan. Dikit lagi bray kena asetnya. Untung enggak.
"Kenapa sih setiap mau ngoming di potong terus? Lagian sejak kapan Kamu punya kucing? Punya ayam aja besoknya mati gara gara nggak di kasih makan. Apalagi piara kucing!!" Jengkel Diandra sambil mengingat ngingat peristiwa naas yang terjadi pada ayam warna warni baby embuls yang mati kelaparan karena lupa di kasih makan.
"Eum hehe" Rio terkekeh merangkul pundak Diandra. "Iyadeh mau ngomong apa sih cantik" Kata Rio mengedipkan satu matanya.
"Kayak om om tau nggak sih hihi" kekeh Diandra lalu mengangkat tangan Rio dari pundaknya. "Diandra mau pergi sama Mario"
"Ke mana?" Tanya Rio sabar.
Di kerjain enak nih hehe. Diandra menyeringai dalam hati. "Mau kerumah Kak Mar. Terus di ajak ke kondangan sepupunya Kak Mar. Dapat makanan gratis deh yeee.."
Mulut Rio terbuka lebar. Waras nggak sih istrinya ini. Kok jadi pengen ngakak ya.
Huakakakak
"Maunya yang gratisan ya. Sini... sini aku traktir sate pinggir jalan" Rio memberi Diandra kiss air. Diandra bergidik geli lalu memukul lengan Rio dengan tas tanganya. "Ahahaha... iya iya nggak godain lagi. Nanti aku traktir di nasgor di dekat komplek deh"
"Sama aja dong. Eh tapi nggak papa sih. Asal makanya sama Kak Rio. Makan di tong sampah pun berasa makan di hotel bintang lima"
Pipi Rio memanas. Dia menjeput kepala Diandra di keteknya lalu menjitak kepala Diandra pelan. Heheh Rio kok kadi malu sendiri gini ya.
"Pinter gombal ya sekarang"
"Iya dong emang Kak Rio aja yang jago gombal. Masalah gombal tanya nih ke ahlinya" Diandra mengacungkan ponselnya yang layarnya terpampang tulisan 'GOOGLE'. Wajah Rio langsung mupeng.
"Yee kirain langsung dari hati. Sini jitak dulu biar pinter dikit"
"Udah pinter kali. Harusnya Kakak yang palanya wajib di jedotin ke pintu biar romantis dikit. Wleee" Ejek Diandra menjulurkan lidahnya.
"Lohh kalo kamu jedotin pala ku di pintu ntar muka aku jadi kayak squidward gimana?" Diandra berhenti ngakak. Dia menggaruk kepalanya lalu mengangguk.
"Kalo Kakak squidward aku cari suami lain aja deh. Yang ganteng kayak spongebob hihi"
"Emang spongebob ganteng?" Tanya Rio sambil tertawa pelan dan mencolek lengan Diandra. Rio kembali merangkul pundak Diandra.
"Nggak sih. Tapi spongebob lebih sabar ketimbang squidward yang suka marah marah"
"Yaudah deh. Aku jadi patrick aja" kata Rio membuat Diandra menatap Rio bingung. Kan Patrick terkenal bodoh bin t***l bin konyol yak. Kok pengen pengenya gitu jadi patrick di saat semua orang pengen jadi tuan crab yang kaya bin kikir hihi. Atau sandy yang mampu menciptalan alat alat nggak masuk akal yang bisa masuk ke dalam air. Yang penting jangan jadi squidward deh yang gampang tempramen.
"Kok patrick?"
"Ya karena aku pengen jadi bodoh selama itu buat kamu ketawa lepas kayak gini"
"So sweet. Uhh patrick ku"
"Hehe.. udah ah mau kerja dulu" Rio melepas rangkulanya dan membenarkan jasnya yang sedikit berantakan. "Boleh pergi sama Mario. Asal jangan balikan" peringat Rio.
"Siap bos. Lagian Kak Mario mau kawin kok"
"Eh beneran?" Tanya Rio nggak percaya. Seneng juga sih akhirnya pesaingnya rontok satu tapi nggak tau deh kalau ada seri keduanya. Pusing deh pala Rio. "Btw nikah Yang bukan kawin. Kamu kira kucing" kata Rio dengan wajah datar.
Diandra cengegesan mentoel pipi Rio yang langsung tertawa. "Hehe iya nikah. Yaudah sana kerja. Ayo ke bany embuls dulu. Ntar mereka ngambek kalau nggak di pamiti"
Cup
"Manis banget sih istriku"
"Iya lah. Kalo pahit nggak mungkin main nyosor" sindir Diandra.
"Iyadeh yang manis sampe bikin diabet"
*****
Ben mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Eh sialan dia dapet bogem mentah dari preman pasar yang mukanya persis sampah. Gila banget sih. Untung aja Ben udah belajar silat dari lahir. Jadi preman pasar kampungan itu di habisin Ben dan lari kocar kacir.
Rama dan Rian berlari menghampiri Ben yang babak belur. Nggak terlalu sih. Cuman pipinya lebam terus bibirnya sobek. Itu aja. Yang parah malah premanya. Bibirnya sobek. Palanya benjol. Pipinya biru biru. Tanganya keseleo. Terus lehernya kena pukulan mematikan dari Ben. Haha Ben di lawan. Anak Bapak James Bond gitu.
"Nggak papa lo?" Tanya Rama panik. Gehh udah kayak pacar aja sih.
"Udah gue bilang jangan berantem mulu. Bisa bisa mereka dendam terus nyari lo nyet" nasehat Rian memukul mukul bahu Ben pelan.
Tiba tiba aja ada bapak bapak keluar dari semak semak dan menghampiri Ben.
"Terimakasih ya dek. Kalau nggak ada adek mungkin dagangan saya sudah habis sama preman preman itu" kata Bapak bapak penjual cilok itu.
"Iya Pak sama sama"
"Oh jadi nolongin Pak cimol? Tapi saran gue jangan berantem lagi deh Ben. Bahaya" Kata Rian.
"Selagi gue bisa dan mampu why not? Nolong orang pahala kali. Gue capek buat dosa mulu" kata Ben yang membuat Pak Cimol berbinar binar. Jaman sekarang gituloh masih ada anak muda yang perhatian sama sekeliling dan nggak sibuk main mobile legend. Bener bener pantes di jadiin mantu.
"Gue sih iyes" Rama manggut manggut. Bener juga kata si cebong. Kalau buat dosa mulu kasihan kan malaikat nyatet nggak ada henti.
"Tapi kalo preman nya banyak ya gue kabur haha"
"Timpuk nggak ya?" Bisik Rama ke Rian. Disaksikan oleh Pak Cimol yang langsung mupeng dan berbelok arah untuk menjual cimolnya. "Dasar ben ten sekdeng"
"Tinggal aja tinggal" Rian dan Rama pun meninggalkan Ben yang masih ngakak sendiri.
"HOY MONYET! GUE DI TINGGAL!"
Ben langsung naik ke motor gedenya dan mengebut mengejar Rama dan Rian yang sudah masuk ke gerbang sekolah.
*****
"Hai sayang. Cantiknyaaaa... sini cium dulu muah muah" sapa Mario mencipika cipiki Diandra. Namun di tahan Diandra dengan menampol kepala Mario. Enak aja main sosar sosor.
"Cium tuh bamper mobil!"
"Hehe yaudah yuk. Btw udah makan belom?" Tanya Mario sembari memasang seat-belt nya. Dia memperbaiki dandanan rambutnya yang membuat Diandra memutar bola mata. Di dalam mobil aja masih sempet sempetnya dandan. Siapa coba yang mau perhatiin? Diandra gitu? Ogah! Haha.
"Belum lah. Kan tunggu di traktir hihi"
"Untung aku nggak jadi sama kamu Dii. Habis duit aku di matrein sama kamu"
"Eh enak aja aku nggak matre ya. Cuman cowok miskin yang ngomong cewek itu matre"
"Cie yang udah dewasa. Cium nih" kekeh Mario sambil menjalankan mobilnya membelah ibu kota.
Diandra menepuk bahunya sombong. "Iyalah udah punya anak dua"
"Yeuu sombong. Nanti aku punya anak 10"
"Emang kuat?"
"Kuat apa?" Tanya Mario polos. Aduh otot doang gede. Masalah gini masih polos bray.
"Ihh Mario ku masih polos. Gemes deh"
Diandra mencubit pipi Mario gemas.
"Lagi nyetir. Jangan salahin aku kalau kita mati bersama"
"Eh omonganya. Bisa di bunuh Kak Rio nanti" Diandra mengecek ponselnya dan nggak ada pesan masuk satu pun.
Hufftt... susah mah punya suami super sibuk. Harus siap nggak di kabari setengah hari. Kan Diandra kangenn.
"Gimana kamu sama Rio?"
"Baik"
"Bagus deh" Mario terdengar lega. Di antara mereka sekarang udah nggak ada kecanggungan lagi. Diandra udah menganggap Mario layaknya kakanya sendiri. Mario pun juga. Sudah menganggap Diandra seperti adiknya sendiri. Dan dia nggak segan segan nonjok muka Rio pakai tanganya sendiri kalau sesuatu yang buruk di lakukan Rio sama Diandra.
"Calon Kak Mar namanya siapa?"
"Cie nanya nanya cemburu ya?"
"Mati pede! Kan cuman nanya. Udah deh nggak jadi" Diandra manyun.
"Hehe... namanya Fiesta. Temen sekelas SMA dulu"
"Hah bener? Kak Fiesta yang berhijab itu?" Kaget Diandra menatap Mario yang senyam senyum doang. Merasa bangga gitulah. "Kok mau ya?" Celetuk Diandra.
Jleb
Mario menahan diri supaya nggak ngelempar Diandra keluar dari mobil. Kecil kecil nyinyirnya nyelekit banget bray. Nggak nahan.
"Hehe... sekali lagi ngomong aku lempar kamu keluar mobil" geram Mario tapi dengan tersenyum. Malah semakin membuat Diandra mengkerut dan memeluk lengan Mario.
"Bapeeerrrrr huuuu"
"Au ah"
Mereka pun melanjutkan bercanda sampai di café tempat mereka akan sarapan. Lihat... mantan pun bisa jadi saudara kalau kita berpikir secara dewasa.
*****