Part 4

1627 Kata
Seperti pagi pagi biasanya. Diandra sudah bangun jam lima subuh. Setelah menunaikan ibadah berjamaah bersama Rio. Ia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suami tercinta. Sedangkan suaminya tercinta kembali bergelung didalam selimut.  Sembari menyiapkan bahan bahan untuk masak. Diandra telah memanaskan minyak untuk menggoreng ayam. Entah kenapa hari ini ia ingin memasak ayam kecap. Makanan paling kesukaan suaminya. Sepertinya sudah lama sekali ia tidak memanjakan Rio. Diandra terlalu di sibukan mengurusi Nate dan Mike. Bahkan ada saatnya Rio ngambek dan cemburu melihat hampir semua waktu Diandra hanya untuk bebi embuls. Maka dari sekarang Diandra akan mengatur waktunya sebaik mungkin. Agar tidak menimbulkan kecemburuan di antara ketiganya. Pasalnya walaupun sudah menjadi Daddy. Rio masih suka bertingkah kekanakan dan gampang cemburu. Meski begitu. Ia tetap menjadi Daddy yang terbaik untuk baby embuls.  Tanpa sadar Diandra tersenyum. Setiap mengingat Rio hatinya berdesir. Ia menggeleng mengusir bayang bayang Rio. Dan mulai memasukan ayam ke dalam penggorengan. Kalau memikirkan Rio masakan tidak akan kelar kelar. Setelah ayam matang. Diandra beralih mengupasi bawang merah dan bawang putih.  "Aw... ya ampun!" Pekik Diandra. Ia mengkibaskan tanganya yang tidak sengaja tergores pisau. Mencoba menghentikan darahnya menggunakan lap. Tapi darahnya masih keluar saja. Diandra meringis. Perih sekali! "Sayang kenapa?!" Tiba tiba Rio sudah berdiri di samping Diandra. Menarik tangan Diandra. Melihat lihat lukanya yang terkena goresan pisau. "Bukan apa kok Kak." Diandra mencoba menyembunyikan tanganya di belakang punggung. Namun Rio sudah melihatnya terlebih dahulu. Langsung Rio menarik tangan Diandra. Mengamatinya sebelum ia berdecak kesal.  "Buk Diany kemana? Kenapa bukan Buk Diany aja yang masak? Mas nggak bisa lihat kamu luka begini." Rio memasukan jari telunjuk Diandra yang terluka kedalam mulutnya. Membersihkan darah sang istri.  "Diandra nggak papa kok sayang. Nggak perlu khawatir. Buk Diany pulang. Bentar lagi datang kok."  Rio mengangkat wajahnya. Terlihat sangat kesal kalau di lihat dari rautnya.  "Ini berdarah sayang. Sekecil apapun luka yang ada di tubuhmu mas bakalan khawatir. Mas ini sayang sama kamu." Ujar Rio. Kemudian Rio menarik Diandra ke dalam pelukanya. Diandra mengangguk di depan d**a bidang Rio. Membalas pelukan hangat suaminya. "Udah ah Diandra mau lanjut masak." Kata Diandra lalu mengurai pelukanya. Ia kembali berkutat dengan masakanya. Mengabaikan Rio yang sepertinya ingin melarang.  Akhirnya Rio hanya bisa diam. Rio mengamati pergerakan istrinya saja. Ia menopang dagunya dengan tangan.  "Kok udah bangun? Kan weekend. Nggak ngantor kan?" Rio memeluk Diandra dari belakang. Lalu menggeleng pelan. Rio meletakan dagunya di bahu Diandra. "Enggak kok sayang. Kan udah janji mau nemenin baby embuls. Katanya kamu mau belanja bulanan sama Mami?" Rio melepas ikatan rambut Diandra. Lalu ia menggesekan hidungnya di rambut istrinya itu.  Rio selalu senang dengan aroma rambut Diandra. Aromanya seperti strawberry. Dan sangat memabukan bagi seorang Delrio Erlangga Darmawan. Diandra mendengus pelan. Menyikut perut sixpack Rio.  "Kenapa di lepas sih? Kan jadi risih." Rio terkekeh pelan. Ia sedikit mencondongkan kepalanya untuk melihat raut Diandra yang kini tengah kesal. Rio mendaratkan kecupan lama di pipi Diandra. Sampai timbul rona merah di sana. Diandra menahan senyumanya.  "Enggak! Aku maunya begini aja. Biar bisa cium rambut kamu. Wangi banget!" Rio mengeratkan pelukanya. Menggoyangkan badan istrinya ke kanan dan kiri sesuai irama lagu Naik Naik Ke Puncak Gunung yang ia nyanyikan. "Mas ganggu! Mandi sana. Terus tengokin Nate sama Mike siapa tau udah bangun." Perintah Diandra tegas. Namun ia masih dalam mode mengaduk aduk ayam kecapnya yang sebentar lagi matang. Rio kembali mendaratkan kecupan romantis di pipi Diandra.  "Kalau gak mau gimana?" Diandra mematikan kompornya. Lalu memutar tubuhnya menghadap Rio. Suaminya itu kini tengah mengangkat sebelah alisnya dengan senyum menggoda. "Siap siap nanti malam bawa bantal guling ke sofa!" Diandra mendorong d**a Rio. Tidak cukup membuat laki-laki tampan itu mundur. Ia malah mengeratkan pelukanya. Mengikis jarak diantara mereka. "Ishh enggak deh Sayang. Gak bisa tidur tanpa meluk kamu. Tanpa di kasih night kiss sama kamu."  "Makanya cepetan mandi." Diandra mulai jengah. Kenapa suaminya ini keras kepala sekali? Semoga Nate dan Mike sifatnya tidak menurun Rio. Kalau wajahnya sih mereka memang lebih dominan ke Rio. Tapi Diandra mohon sifatnya jangan. "Minta mandiin boleh?" Tanya Rio seperti anak kecil yang minta dimandiin oleh ibunya. Diandra melotot. Menggeram pelan lalu menyentil jidat suaminya. "Enak aja. Udah ya sayang sana mandi. Diandra mau siapin makanan di meja makan. Hush... hush..."  "Bercanda kok sayang. Kan mas mu ini sudah besar. Sudah mandiri alias sudah bisa mandi sendiri hehe." Rio tertawa mengundang Diandra untuk tertawa juga.  Lantas Diaandra menguraikan pelukanya. Memegang lengan suaminya itu. Menatap manik mata suaminya penuh cinta dan kelembutan. "Sudah sana mandi."  "Morning kiss ? Mas Rio nggak dapat sayang?" Rio menunjuk tepat di bibirnya.  "Tadi kan sudah dua kali."  "Itu pipi." "Oke.. oke.. sini Diandra kasih morning kiss supaya suamiku yang manja ini semangat." Diandra memberikan kecupan singkat di bibir Rio. Tanpa ada lumatan sedikitpun. Tapi Rio sudah cukup puas. Ia menyeringai dan menangkup pipi Diandra dengan tanganya yang besar dan hangat. "Morning kiss dari Mas supaya kamu juga semangat." Rio juga memberikan kecupan di bibir tipis Diandra.  Lalu ia segera beranjak untuk mandi. Meninggalkan Diandra yang mulai sibuk menata sarapan di meja makan. **** "Momi... momi... Momi... Momi... Momi... Momi... Momi..." Nate mengitari meja makan. Ia memanggil manggil Momi. Namun dia seperti sedang menyenandungkan lagu cicak cicak di dinding. Nate meringis. Merasa senang menyenandungkan lagu itu. Mungkin saat ia besar nanti. Ia akan menciptakan lagu yang berjudul Momi. Dengan nada cicak cicak di dinding. Atau sambalado. "Momi... atu hungly." Kata Nate sambil memegangi perutnya. Ia memeluk kaki Diandra. Bibirnya mencebik. "Nate laper iya? Sini di pangku Mommy." "No! Atu duk dili." Nate menegakan tubuhnya. Lalu menjulurkan tanganya kepada Diandra meminta pertolongan karena ia ingin duduk sendiri di samping Diandra.  Diandra menerima uluran tangan mungil Nate. Membawanya duduk di kursi di sampingnya. Haha... Diandra mendadak tertawa geli. Bahkan Nate terlihat tenggelam di bawah meja makan. Diandra mengusap pucuk kepala Nate yang terlihat bungung melihat Mommynya tertawa nyaring. "Momi pain?" Tanya Nate bingung sambil menggaruk telinganya. "Gimana Nate mau makan? Kan gak nyampe."  "Yaya... Atu ndak mpe. Tangku Momi leh?" Tanya Nate dengan ekspresi lucu. Diandra mengangkat tubuh Nate kepangkuanya. Dan menyiapkan bubur untuk Nate. "Sayang..." panggil Rio dengan suara manja. Di gendonganya ada Mike yang baru saja pup. Muehehe. Rio mengambil duduk di samping Diandra. Dengan menyempatkan mencium kening Diandra cukup lama.  "Momi atu mau ma Dedi." Rengek Nate menjulurkan tanganya ke Rio yang sedang memangku Mike. Diandra dan Rio saling pandang. Lalu menukarkan posisi Nate dan Mike.  "Mau di ambilin apa sayang?" Tanya Diandra. "Apa aja yang di masak sama kamu. Pasti Mas makan. Masakan kamu memang yang paling juara." Rio mencubit hidung Diandra. "Dedi! Momi takit anti!" Mike berteriak pada Rio. Anak kecil berpipi embuls itu sepertinya tidak suka kalau Rio mencubit hidung Mominya. Ia merasa itu suatu tindak kekerasan dalam rumah tangga. Rio tertawa geli.  Plak Mike memukulkan tangan mungilnya ke tangan Rio. "Momi ndak pa? Momi atit? Dedi kal?!" Tanya Mike. Menatap Diandra khawatir. Anaknya ini memang yang paling sweet deh. "Nggak sayang nggak sakit kok. Mas minta maaf sama Mike." Diandra tersenyum simpul. Meremas tangan Rio lembut yang berada di pangkuan pria itu. "Iya deh Mike sayang. Maafin Daddy yah. Janji nggak buat Mommy sakit lagi." Rio mengangkat kelingkingnya. Mike membuang muka. Ia lebih memilih memakan apel yang telah di potong potong oleh Diandra. Rio menggela nafas frustasi. Mike dan Rio. Tidak akan bisa bersatu. Diandra mengelus tangan Rio yang terlihat sedih. Meletakan piring yang sudah terisi nasi dan lauk pauk di hadapan Rio. Perlakuan itu cukup membuat Rio senang. "Assalamu'alaikum Mbak Mas." Suara Buk Diany membuat Diandra bangkit dan menyambut Buk Diany. Sedangkan Mike ia letakan dulu di kursi.  "Waalaikumsalam Buk." Diandra tersenyum hangat. Menyambar tangan Buk Diany untuk di ciumnya. Rio yang melihat itu jadi senyum senyum sendiri. Selain cantik rupanya. Diandra juga cantik hatinya. Tidak pernah merasa tinggi. Sekalipun di hadapan seorang pembantu rumah tangga. "Sini Mbak biar Mas Nate sama Mas Mike sama Ibuk. Mas Mbak lanjut makan aja." Buk Diany mengambil kereta si kembar. Lalu membawa kembar pergi ke ruang khusus untuk si kembar. Diandra kembali duduk di tempatnya semula. Dan melanjutkan aktivitas makanya.  Sebuah elusan Diandra rasakan di kepalanya. Ia menoleh mendapati Rio yang tersenyum lembut kearahnya. "Sayang, I love you." Kata Rio.  "I love you too sayang."  ***** "Loh Sayang gak jadi belanja?"  "Gak Mas. Chello mendadak sakit demam."  "Sini Sayang." Rio menepuk nepuk sofa kosong di sampingnya. Diandra menurut. Ia kini telah duduk di samping suaminya tercinta. "Mas tiduran yah di paha kamu?"  "Tiduran aja kalau Mas mau." Rio tersenyum senang. Merebahkan kepalanya di paha Diandra.  Tangan Diandra tergerak. Mengelus rambut Rio yang berwarna coklat keemasan. Membuat lelaki berwajah tampan itu memejamkan matanya nyaman.  "Berat kamu menurun yah?" Tanya Rio tiba tiba. "Mungkin." "Makan yang banyak sayang. Kamu makan nya susah banget. Biar body kamu kaya gitar sepanyol. Bahenol biar enak di pandang." Mata Diandra membulat. Jadi selama ini dirinya tidak enak di pandang? Jahat! Fix Diandra ngambek. "Jadi selama ini Diandra gak enak di pandang? Iya cukup tau aja. Diandra ini badanya gak sexy beda sama sekertaris Mas yang gitar spanyol itu." Diandra melipat tanganya di depan d**a.  "Hei... bukan gitu. Haha... kamu cemburu?" Goda Rio. Ia menarik tengkuk Diandra. Agar istrinya itu mau menunduk dan menatapnya.  "Secara gak langsung Mas bilangin Diandra gak enak di pandang. Beda sama sekertaris Mas yang bohai itu."  "Gia?! Huahaaha... sama sekali aku gak tertarik sama dia. Bukan type aku dia mah. Cintaku hanya untuk kamu seorang." Rio memiringkan posisinya. Kepalanya jadi menghadap ke perut rata Diandra. Menenggelamkan kepalanya di sana. Menyimpan baik baik aroma istrinya ini di dalam indra penciumanya. "Iya iya Diandra percaya kok."  Dengkuran halus keluar dari mulut Rio. Menandakan bahwa ia telah jatuh ke alam mimpi. "Mimpi indah suamiku. We love you Daddy." Diandra menunduk mencium kening Rio lama. Sebelum ia menyandarakan tubuhnya di sofa dan ikut tertidur. ***** Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN