Rio memasuki lobby kantornya dengan gaya eleganya seperti biasa. Hari ini ia begitu gagah dengan balutan kemeja putih dan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan pas. Tidak sedikit karyawati yang menjerit histeris. Namun tidak ada yang menunjukanya terang terangan. Karena mereka tau bahwa CEO mereka itu telah menikah dan dikaruniai bayi kembar.
Dari yang mereka tau juga. Istrinya itu masih muda dan sangat cantik. Tak ayal jika atasanya begitu setia dan tergila gila pada istrinya. Sehingga tidak ada waktu melirik wanita lain.
Langkah kaki Rio terhenti saat seorang wanita dengan beberapa map di tanganya menghadang jalanya. Rio menghindar kesamping kanan. Namun wanita itu ikut ke kanan. Saat Rio menghindar ke samping kiri. Wanita itu pun ikut ke samping kiri.
Geraman lolos dari bibir Rio. Ia menatap tidak suka sekertaris nya ini. Apalagi pakaian yang dikenakan sekertarisnya sangatlah minim dan ketat. Juga senyuman sok cantik yang ia umbar. Oh jangan fikir dengan senyuman dan pakaian itu Rio bisa jatuh hati. Malahan Rio merasa ilfeel. Dan berfikir mengapa ada wanita seperti ini.
Dan lebih mirisnya wanita itu adalah sekertaris Rio.
"Selamat pagi Pak." Sapa Gia sambil menunjukan senyum terbaiknya.
"Pagi." Jawab Rio seprofesional mungkin.
"Apa ada yang bisa saya bantu Pak? Bapak ingin saya buatkan kopi? Sepertinya semenjak istri Bapak melahirkan. Bapak menjadi tidak terurus. Bahkan dasi bapak miring." Gia mendekat. Membenarkan posisi dasi Rio. Langsung saja Rio menepis tangan Gia.
"Cih berani sekali kau. Minggir! Apa kau sudah beralih profesi menjadi office girl? Pergilah saya tidak membutuhkan bantuan mu. Lebih baik hapus semua make up yang ada di wajahmu Gia. Ini kantor bukan club malam. Sekian!" Kata Rio lalu ia segera bergegas menuju lift khusus. Menekan nomor lantai teratas yang ada di gendung ini.
Saat sampai di ruanganya. Rio membanting bokongnya di kursi kebesarannya. Ia memeriksa beberapa laporan yang menumpuk di mejanya. Mendesah frustasi dan memijat batang hidungnya. Kepalanya pusing sekali. Mengapa banyak sekali yang harus Rio periksa?
Rio merogoh saku jasnya. Mengeluarkan benda pipih berwarna putih. Ia ingin melakukan vidio call sama Diandra istrinya.
Tidak berapa lama. Wajah istrinya yang cantik muncul. Di sertai kedua jagoanya yang berebut menampakan diri di layar ponsel.
"Assalamu'alaikum sayang."
"Dedi tuuuu!!!! Mite Dedi tuu da di citu!!"
"Tu tau!"
"Dedi teren!!"
"Waalaikumsalam sayang. Apa semua baik baik aja?"
"Baik kok. Hmm... hai jagoanya Daddy udah makan belum?" Kedua jagoanya itu saling tengok. Lalu tertawa geli. Telunjuknya yang mungil menutupi kamera. Sehingga hanya warna merah yang terlihat oleh Rio kini.
Nate juga masih sibuk mengoceh di seberang sana. Entahlah... Rio belum terlalu lancar bahasa alien baby embuls.
"Nate kameranya jangan di tutup. Wajahnya Nate sama Mike gak kelihatan nanti. Daddy sedih nanti." Omel Diandra.
Gambar mereka telah muncul kembali. Nate mendekatkan wajahnya ke kamera.
"Dedi tedih? Atu talah. Atu nta maap." Rio menyapukan jempolnya ke layar ponselnya. Mengelus pipi Nate.
"Daddy bahagia kok. Mike mana nih? Kenapa sibuk sama coklat aja? Gak kangen Daddy nih." Rio menggelengkan kepala saat Mike hanya melirik sebentar dan menunjukan senyum yang hanya berdurasi satu detik saja. Lalu ia kembali fokus makan coklat batanganya. Dasar! Baby embulsnya yang satu itu memang sangat cool dan mahal senyum. Satu senyum di bandrol dengan seratus juta muehehe.
"Aduh anak Mommy celemotan. Buk tolong bawa mereka yah."
Sekarang hanya ada wajah Diandra yang memenuhi layarnya. Pagi ini Diandra terlihat sangat cantik sekali. Rambutnya di gulung ke atas. Menampilkan keher putih dan jenjangnya.
Rio tersenyum bahagia. Ingin rasanya ia memeluk Diandra dan menghirup aromanya dalam dalam. Tapi hanya di imajinasinya saja. Paling paling ia hanya bisa memeluk berkas dan laptop sialan ini.
"Sayang kamu cantik." Goda Rio. Sukses membuat rona merah timbul di pipi Diandra.
"Apaan sih! Gombal mulu. Tuh kerjaan cepet di kelarin." Rio terkekeh.
"Mas mau meeting nih. Kasih semangat dungs. Supaya Mas gak lemes dan lebih konsen." Pinta Rio.
"Yang semangat ya suamiku. Semoga meetingnya berjalan dengan lancar." Diandra mengembangkan senyuman cantiknya. d**a Rio bergetar hebat. Sensasinya masih sama. Sama seperti ia pertama kali mengungkapkan perasaanya kepada Diandra. Bahkan ini lebih kuat lagi.
"Yahh masa gitu aja. Cium dong."
"Kita LDRan Mas." Diandra memutar bola matanya.
"Cium jauh aja deh."
"Muaahh... hwaiting suami ku. Semoga meetingnya berjalan dengan lancar." Diandra menempelkan telapak tanganya ke bibir. Lalu menempelkanya di layar ponsel.
Kalau di perhatikan lebih dalam. Wajah Diandra pagi ini terlihat tidak terlalu fresh. Bibirnya lumayan pucat. Juga matanya yang terlihat sayu.
"Sayang kamu sakit yah?" Tanya Rio khawatir.
"Sakit? Gak kok. Emang kenapa? Ada yang aneh."
"Wajah kamu pucat sayang. Kalau merasa sakit aku pulang aja deh kita ke rumah sakit."
"Lebay ah! Diandra gak merasa sakit kok. Oh iya nanti Diandra boleh ke kantor Mas gak? Mau anterin makanan. Diandra masak enak hari ini."
Rio mengangguk cepat dan mengukir senyuman lebar. Sekalian ia akan memperkenalkan Diandra lebih jauh kepada para karyawanya. Terutama pada Gia.
"Iya sayang boleh banget."
"Udah dulu ya sayang. Anak anak nyariin. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam sayang." Stelah itu sambungan berakhir. Rio kembali berkutat dengan laptopnya dan laporan laporanya. Namun kali ini dengan perasaan yang berbunga bunga.
Makan siang nanti ia akan makan berdua dengan Diandra. Uh Rio tidak sabar menanti jam makan siang.
****
"Silahkan nyonya saya antar sampai ruangan Pak Rio." Ujar salah satu karyawan yang stylanya sangat modis. Sangat tampan yah Diandra akui itu hehe.
Diandra tertawa dalam hati. Nyonya? Memang dia terlihat sudah tua apa? Orang muka unyu begini di panggil nyonya. Duh pengen Diandra teriakin tepat di telinganya seperti ini. "NYONYA DENGKULMU!". Tapi Diandra hanya tersenyum lembut. Biar bagaimanapun seorang istri CEO harus mempunyai tatakrama yang baik. Supaya bisa menjadi contoh.
Yah walaupun Diandra masih bau kencur. Tapi jangan salah. Dia sudah melahirkan dua orang baby embuls. Sedangkan kalian yang om tante? Udah belum?
"Stop deh Om. Jangan panggil aku begitu haha." Pria itu terkejut saat istri bosnya berbicara nonformal. Ia lalu segera menyadari kalau istri bos nya masih bisa di bilang masih remaja. Wajarlah jika kalau ngomong anak jaman now banget.
"Oke, Pak Rio udah nungguin kamu."
Kemudian Diandra memasuki lobby dengan langkah sedikit berat. Ini bukan kali pertama ia masuk ke dalam kantor ini. Namun tempat ini masih terlalu asing untuk Diandra.
Ia memasuki lift biasa. Berbarengan dengan beberapa karyawan dan karyawati. Dapat ia dengar suara bisik bisik yang cukup menggelitik telinganya.
Huft... jika Rio tau ia naik lift biasa. Suaminya tentu akan marah besar.
"Istri Pak Bos."
"Cantik yah."
"Kelihatan muda banget yah. Tapi gue suka dandananya. Gue lebih setuju Pak Delrio sama yang ini ketimbang sama Felicia."
"Hust... nanti denger istrinya mampos lu."
Diandra menghela nafas berat. Dadanya selalu sesak di saat mengingat nama Felicia. Si cinta pertamanya Rio.
"Ih bukanya cantikan Felicia yah? Lebih dewasa gicu."
"Elah... dewasa apanya. Dia gak lebih dari sekedar PHO njir. Sebulan lalu buktinya dia datengin Pak Delrio. Meluk meluk gicu guys. Tiati CLBK."
"Paan tuh?"
"Cinta Lama Belom Kelar muahahaha."
"Stress anjeng! Ada istrinya ogeb lu."
"Sans gak denger ini orangnya."
Mereka salah besar! Diandra mendengar semuanya. Jadi selama ini Rio masih berhubungan dengan cinta pertamanya. Umm... bagus!
Setelah sampai di lantai teratas. Diandra berjalan tergesa dengan d**a naik turun. Entahlah.. ia merasa snagat cemburu. Kepalanya seketika langsung terasa pening.
"Eh.. eh.. main nyelonong aja. Udah buat janji belum?!" Bentak Gia sambil menahan tangan Diandra yang hendak membuka pintu ruangan Rio.
"Tante pikun yah? Aku ISTRI nya Bapak CEO!" Kesal Diandra.
"Tante? Wush... nyari mati."
"Ganggu aja sih tan! Urusin tuh muka tante yang make up nya kelunturan kaya pakaian yang di rendam dua hari dua malam.
Diandra menghempaskan tangan Gia. Ia masuk ke dalam ruangan suaminya.
Mendengar pintu di buka. Rio bangkit dan memeluk wanita mungil di hadapanya erat sekali.
"Akhirnya yang di tunggu tunggu datang juga." Diandra menguraikan pelukanya. Mencoba tersenyum. Ia tidak mau egois. Suaminya terlihat lelah sekali. Kalau ia marah sekarang akan menambah beban suaminya. Biarlah ia marahnya kapan kapan aja.
Rio menghela Diandra duduk di sofa.
"Bawa apa sayang?"
"Makanan."
"Iya makananya apa sayangku cintaku ibu dari baby embulsku." Greget Rio.
"Oh hehe... Diandra bawa udang pedes gilak. Dan kawan kawan."
"Ah yang bener? Udang pedes gilak?! Makasih sayang."
"Nih makan." Diandea menyodorkan makananya kepada Rio. Sedangkan Rio menatap Diandra sambil mengedipkan matanya cepat.
Diandra sempat berfikir. Apa suaminya ini cacingan? Apa Diandra harus lari sprint ke apotik buat beli combantrin? Pembasmi cacing cacing di perut curi semua nutrisi?
"Minta suapin boleh?"
"Boleh dungs. Janji makanya banyak yah?"
"Janji lah sayang. Rio gicu. Selalu menepati janji dalam keadaan apapun. Kecuali dalam kondisi darurat. Rio akan mengucapkan isyaallah. Supaya gak termasuk dalam golongan orang munafik. Ntar di benci Allah." Diandra terkekeh.
Lihat sendiri kan. Rio memang yang paling bisa membuat Diandra tertawa. Bahkan Diandra sudah lupa dengan apa yang ia dengar di lift tadi.
Mempunyai suami humoris. Memang sangat menyenangkan.
"Enak sayang." Rio mengacungkan dua jempolnya.
"Makasih Sayang."
Diandra meletakan wadah tupperware nya di meja. Lalu meminumkan air putuh pada Rio. Setelahnya mengelap mulut suaminya dengan tisu. Manja kan?
Diandra menutup mulutnya. Perutnya terasa bergolak hebat. Buru buru ia berlari ke kamar mandi. Diikuti Rio yang kebingungan.
"Hoek.. hoek.." Diandra memuntahkan isi perutnya di wastafel.
"Kan kamu sakit." Rio memijit tengkuk Diandra lembut.
"Hoek.. hoek.." Diandra membasuk mulutnya. Melihat pantulan wajahnya di cermin. Pucat banget.
Rio memutar tubuh Diandra. Di rangkumnya wajah Diandra.
"Tuh kan sakit. Ngeyel sih di bilangin suami."
"Nggak sakit sayang. Cuman pusing dan tiba tiba mual aja pengen muntah." Diandra memeluk Rio manja.
Alis Rio berkerut. Senyuman terukir di bibirnya.
"Fix kamu hamil sayang. Hamil anak ketiga."
GUBRAK!
Diandra pingsan di dekapan Rio.
****