Aku menggelitiknya, membiarkan jemariku bermain di antara kulit pinggangnya hingga dia menggeliat dalam pelukanku sementara air dari keran terus mengalir dan tidak kubiarkan dia mematikannya. “Ngh, Kuro—“ Kutarik lagi wajahnya agar semakin dekat denganku, kuraup lagi bibirnya, melumatnya bahkan aku sesekali menggigit bibirnya, menariknya sambil kulihat dia dari sudut mataku. Wajahnya sangat merah sekarang. Bahkan aku bisa mencium aroma karamel yang sangat pekat padanya sekarang. Aku tahu dia mulai merasakan kalau dia terangsang tapi aku tidak melepaskan pungutan kami. Perlahan, aku melepaskan pakaiannya dan aku bisa dengan jelas melihat bahu kurusnya yang menggoda. Aku membiarkan pakaian dia turun ke lantai kamar mandi dan dia menggeliat untuk setiap sentuhan yang kuberikan. Aku berhe

