Setelah aku tahu kalau Kuroda-san selalu cemburu karena aku yang tidak pernah berhenti menyebut nama Kuji di depannya, aku sudah tidak pernah lagi menyinggung soal apa pun itu persoalan yang pernah terjadi dulu dan mulai menjalani kehidupan kami seperti yang kami inginkan. Seperti hari ini, saat aku bangun dari tidur setelah muntah hebat pagi tadi, aku sudah melihat Kuroda-san duduk di salah satu bangku meja makan sambil berkutat dengan laptop miliknya. “Kuroda-san?” panggilku. “Ah, kau bangun? Mau kubuatkan sesuatu?” Aku menggeleng, “Sedang apa?” tanyaku setelah berjalan sedikit lebih dekat padanya. “Hanya mengecek beberapa laporan yang harus kuserahkan pada komisaris Marumaki.” “Kenapa harus melakukannya di rumah?” “Suhu badanmu sedikit tinggi tadi pagi, jadi aku bilang padanya ka

