Kebohongan Tentang Keluarga

1228 Kata
Pagi sudah menyapa. Entah kemarin jendela sudah ditutup kemudian dibuka kembali, atau sejak kemarin sore belum ada yang menutup, gadis pirang itu hanya menatap jendela terbuka itu dengan tatapan jenuh. Tentu saja dirinya jenuh harus berada di ruangan ini untuk sementara waktu, bukan karena ia sakit yang menurutnya tidak masuk akal ini, ia hanya ingin menumpang untuk makan di rumah sakit ini. Masalah biaya rumah sakit? ia belum memikirkan jauh tentang biaya. Kalau ia ditebus masalah biaya, mungkin ia akan pura-pura mati, melarikan diri kembali, atau bahkan berbohong untuk menguntungkan dirinya. Mengedipkan mata sekali, bisa-bisanya ia terpikirkan untuk menjual diri demi mencukupi kebutuhan. Menggelengkan kepala. Setidak mampunya dirinya, jangan sampai ia menjual tubuh ke orang lain, dinikmati seperti barang sampah yang terlihat bagus. Harga dirinya tidak serendah itu, ia adalah keturunan Camellia yang terhormat, dijunjung tinggi derajatnya oleh banyak mata, dan ia termasuk taun puteri di Inggris. Puteri tukang berbohong, bercanda. Salju yang turun semakin tebal. Mengerutkan kening, berpikir keras sambil merekatkan selimut dengan kencang. Kalau dipikir-pikir, kenapa jendela dibuka saat di luar muncul salju? bukankah udara di luar sangat dingin, jika masuk ke ruang rawat akan memengaruhi kesehatan pasien? mata biru Audrey membola, memang tidak ada yang menutup jendela sejak kemarin. Gara-gara memikirkan jendela ditutup atau tidak, ia harus melepas selang infus yang melekat di pergelangan tangannya. Dengan tertatih ia berjalan menuju jendela. Pandangan pertamanya adalah kepada bulatan-bulatan kecil salju yang turun dari langit, jatuh ke bumi dengan elegan memberi warna cantik pada tumbuhan dan tanah. Tangannya terjulur untuk menggapai salju-salju yang turun. Melirikkan mata ke beberapa ruang rawat yang bisa ia pandang. Seluruh jendela terbuka. Jadi bukan hanya ruang rawatnya saja yang jendelanya terbuka, lalu jawaban yang sebenarnya adalah apa? jendela kamarnya sejak kemarin terbuka, atau memang sudah ditutup kemudian ada yang membuka? memikirkan hal-hal untuk mengurangi beban pikirannya malah tidak membuat ia terhibur, malah membuat ia semakin stress dan semakin terbebani. Menutup jendela dengan cepat, ia tidak ingin suhu ruangannya menjadi dingin, kemudian membuat dirinya mati membeku di dalam sini dengan keadaan mengenaskan. Mengunci jendela dengan hati-hati, di saat yang seperti ini tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama samarannya dari belakang, membuat ia membalik badan. "Yuki?" Di ambang pintu ada dokter tampan yang kemarin datang ke sini, dia berdiri dengan tegap di ambang pintu, membuat jalan terisi penuh oleh dia. Audrey berjalan menuju ranjangnya, duduk di atas kasur dengan tenang, kemudian menyelimuti diri dengan selimut. Jujur saja, ia sedikit tidak nyaman bersama malaikat yang telah menyelamatkan dirinya dari busung lapar. Pintu ruangan ditutup. Durell duduk di kursi yang berada di samping ranjang. Buku tebal yang dia bawa ditaruhnya di atas meja. Mata gelapnya menatap pergelangan tangan Audrey dengan seksama, "Kenapa infusnya kamu lepas? jadi berdarah, kan, pergelangan tanganmu." Dia berkata dengan lembut tetapi Audrey malah terkejut dengan jari-jari Durell yang menyentuh permukaan kulit tangannya. Dokter itu membersihkan darah yang mengalir di pergelangan tangannya, ia sendiri tidak tahu kalau tangannya berdarah setelah melepas infus. Masih dengan posisi duduk menyender, matanya terus mengamati pergerakan Durell yang merawatnya, tetap saja ia merasa seperti dilindungi sejak kemarin oleh manusia di depannya. Meringis pelan, matanya menutup rapat. Selang infus kembali di masukkan ke dalam tangannya, itu sangat sakit untuknya. "Sakit?" tanya Durell yang ia dengar dengan jelas. Tentu saja sakit, kalau tidak sakit mungkin ia takkan meringis seperti saat ini. Ia tidak segera membalas pertanyaan dia, ia menunggu rasa sakitnya selesai terlebih dahulu. Perlahan-lahan rasa nyeri di pergelangan tangannya mereda, dengan begitu ia langsung menganggukkan kepala beberapa kali, "Hum, sakit." Jawabnya kemudian. "Maaf kalau itu menyakitimu. Jangan dilepas lagi infusnya kalau bukan dokter yang melakukannya." Peringatan dari Durell hanya ia tanggapi dengan sekali anggukan kecil. Sebuah buku muncul di atas pahanya yang dilapisi selimut, matanya menatap tulisan entah apa yang tidak asing di matanya, hiragana dan katakana, atau malah kanji? memiringkan kepala, masih mengamati buku tebal yang diberi Durell. "Kamu baca aja buku itu, sudah diartikan ke bahasa Inggris juga. Aku akan mengambilkanmu makanan, setelah itu segera mengecek kondisimu." Dia pergi, Audrey tidak peduli dengan kepergiannya. Ia lebih memilih membaca buku itu dari halaman satu. Ia disapa oleh huruf yang biasa digunakan rakyat Jepang, mungkin ini untuk dasar memulai belajar bahasa Jepang. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, entah kenapa semakin ia mencoba mengerti, malah semakin membuat ia kebingungan harus bagaimana? hurufnya terlah banyak yang harus ia hapal, mungkin saja selama sebulan lebih ia hanya bisa menghapal separuhnya, kemudian sisanya ia bodoh di dalam kosakatanya. Tidak mau semakin dibuat bodoh dengan kumpulan huruf, ia membalik lembar buku, menemukan kata-kata dasar dalam berbahasa Jepang. Lebih baik begini, setidaknya ilmu bahasanya lebih berguna daripada menghapal tulisan yang sulit ia ingat. Sambil mempelajari kosa kata Jepang, sambil belajar tulisan Jepang, istilahnya sambil berenang minum air atau sekali dayung dua pulau terlabuhi? "Apa sulit?" Jantungnya terasa mau lepas dari sangkar ketika sebuah suara mengejutkan dirinya. Ia terlalu fokus dengan bacaannya sampai tidak menyadari dokter itu sudah berada di posisi semula. Wajah terkejutnya yang terlihat konyol mampu membuat Durell tersenyum lebar, tetapi malah membuat Audrey merasa mati dalam sekejap. "Kamu kaget?" Kenapa Durell selalu menanyakan hal-hal yang sudah pasti tidak perlu ditanyakan. Dari bagaimana cara ia terkejut sudah pasti Durell tahu kalau ia sedang kaget, kenapa juga harus ditanya ulang, untuk memastikan begitu? ia menggerutu di dalam hati. "Sejak kemarin kamu tidak banyak bicara, apa kamu seorang yang pendiam? padahal aku sudah mengajakmu bicara memakai bahasa Inggris." Beber Durell. Ia tak menjawab, karena ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi padanya. Pada akhirnya ia disuapi dia sambil terus membaca, ia sudah meminta untuk makan sendiri akan tetapi dokter muda itu sudah terlebih dahulu mengalahkan dirinya. Dengan demikian ia diberi makan sampai kenyang. Setelah selesai makan, ia diperiksa oleh Durell. Dari tekanan darah, denyut nadi, detak jantung, suhu tubuh, dan infus dicek semua. Ia kurang mengerti dengan bagaimana cara dokter bekerja selain membedah tubuh seseorang, jadi ia hanya mengamati bagaimana Durell melakukan tugasnya dengan baik. "Kamu punya keluarga?" Mendongak, menatap Durell yang bertanya demikian. Keluarga, satu kata yang menarik ingatannya ke malam di mana rumahnya dibakar oleh beberapa orang, ayah dan ibunya ditembak mati, dan anggota keluarga lainnya yang ditusuk sampai jiwa mereka keluar. Pantaskah ia disebut memiliki keluarga? Menggelengkan kepala pelan. Pandangannya sedikit mengabur karena genangan air yang hendak keluar. Cukup, sudah cukup ia menangis, lebih baik memikirkan cara bagaimana mengatasi rasa sakit di dalam dadanya. "Kamu tidak memiliki keluarga?" ulangnya. Mengangguk kemudian menggeleng, mengangguk kembali, kemudian menggeleng. Ia bingung harus memilih opsi mana yang memungkinkan jati dirinya tidak nampak. Mungkin Durell bingung dengan respon aneh yang ia keluarkan, tetapi sekalipun ia tak memikirkan kebingungan dokter muda itu, "Yah, aku punya." Bohongnya dengan suara serak. "Ternyata kamu masih ingat keluargamu walau melupakan namamu sendiri, cukup aneh. Kondisimu sudah membaik, mungkin besok lusa kamu boleh pulang." Beritahu Durell sambil tersenyum lebar. Menerawang jauh sampai matanya bertatapan dengan dinding putih di depannya. Kenapa Durell mengatakan kata-kata yang bagi untuknya sangat laknat? Pulang. Ia tidak memiliki rumah, ke mana ia harus melangkah untuk pulang? bagaimana ia menyebut kata pulang dengan damai? langkah kakinya tidak bisa ia bawa kembali ke tanah kelahirannya, ia tidak boleh pulang jika tidak ingin mati dibunuh mereka. Ia tak boleh pulang sebelum mengetahui alasan keluarganya dibunuh. Kepergian Durell tidak menghasilkan respon apapun darinya. Ia masih diam, duduk dengan sendu menatap dinding, terus memikirkan bagaimana ia harus menjalani hidup setelah besok lusa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN