3

1136 Kata
3 Rock Xander menyesap bir dengan santai. Di depannya, Davien tampak melirik kedua gadis cantik di meja lain. Mereka berdua sedang berada di sebuah bar elite di tengah kota London. Rock menggeleng-geleng kecil melihat tingkah sahabatnya. Bukan berarti ia tidak pernah bertingkah seperti itu sebelumnya. Usianya 32 tahun, dan ia sepenuhnya pria yang menikmati keindahan yang ditawari hidup—hal yang menjadi keluhan kedua orangtuanya yang sangat ingin melihatnya menikah dan memberi mereka cucu. Rock bersyukur orangtuanya memilih menikmati masa tua di rumah indah dengan kebun luas di perdesaan Inggris. Ia sesekali berkunjung ke sana. Tidak bisa dibayangkan bagaimana frustrasi dirinya jika orangtuanya tinggal di London. Rock yakin ia akan sering mendapat nasihat agar segera melepas masa lajang. “Davien,” panggil Rock. Davien menoleh dan tersenyum pada Rock. “Kedua gadis itu cocok untuk kita, Rock.” Rock menggeleng samar. “Aku ingin bicara tentang Celine,” kata Rock sambil menyesap bir dan mengabaikan lirikan menggoda dari kedua gadis berpakaian seksi itu. Malam ini ia tidak berminat bertualang. Ada hal lain menguasai pikirannya. “Ada apa dengan Celine?” “Dia mengundurkan diri.” Davien mengangguk-angguk pelan. “Ya, aku tahu.” “Sebenarnya aku tidak menginginkan sekretaris lain. Celine sangat cakap.” “Tapi kau harus mencari sekretaris lain, Kawan.” Rock mendesis kurang senang. “Apakah terjadi sesuatu?” “Apa?” “Pengunduran diri Celine sangat mendadak. Tidak ada indikasi ke arah sana sebelumnya.” Davien tertawa kecil. Rock jengkel melihat tanggapan sahabatnya itu. “Mungkin Celine sedang jenuh,” ujar Davien datar. “Omong-omong berhenti membicarakan Celine, ada dua gadis cantik menunggu kita, Sobat.” Setelah mengatakan itu, Davien berdiri, mengajak Rock menghampiri kedua gadis yang sejak tadi terus mengerling menggoda ke arah mereka. “Aku tidak menginginkan mereka, Kawan,” tolak Rock. “Kau tiba-tiba impoten?” Rock menyeringai pada sahabatnya. *** Memulai misi melupakan Rock, Celine menerima ajakan kencan seorang taipan muda tampan yang ia kenal di suatu pesta beberapa waktu lalu. “Jadi akhirnya kau akan berkencan juga.” Celine yang sedang duduk memoles makeup di depan meja rias, menoleh ke arah sumber suara. Tampak Davien berdiri di ambang pintu dengan senyum senang. “Ya, tidak ada gunanya terus menunggu.” Davien tertawa kecil. “Aku senang mendengarnya.” Davien masuk dan duduk di ranjang Celine. Celine bisa melihat kakaknya itu dari pantulan cermin. “Jadi siapa pria itu?” “Grey Samuelson.” “Grey Samuelson? Wah ..., gadis pintar. Dia laki-laki yang tepat untukmu. Baik, muda, tampan, kaya raya pula. Hidupmu akan serasa berada di negeri dongeng, Cupcake.” Hati Celine seketika menghangat mendengar panggilan kesayangan kakaknya itu. Ia tersenyum lebar. “Kau sendiri kapan akan serius, Davien? Umurmu sudah tiga puluh tahun, sudah cukup matang untuk menikah.” Davien terkekeh. “Aku masih punya tanggung jawab.” “Perusahaanmu berkembang sangat pesat.” “Bukan itu.” Celine menatap bertanya lewat mata mereka yang beradu di cermin. “Tanggung jawabku padamu, adikku. Aku tidak bisa berkomitmen bila kau belum menikah.” Celine mencibir kesal. “Jadi maksudmu akulah yang bertanggung jawab atas banyaknya hati wanita yang kau patahkan berkat sifat playboy-mu itu?” Davien tergelak. “Oke, oke, aku akui, aku belum berkomitmen karena belum menemukan wanita yang cocok. Tapi aku benar mengatakan tak akan menikah bila kau belum menikah. Aku ingin menjagamu.” Celine mendengkus gemas. “Dengan tinggal terpisah dariku?” Kedua orangtua mereka telah lama tiada. Celine tinggal sendirian di rumah mewah mereka yang terletak di bilangan elite London, sementara Davien tinggal di penthouse sejak usia Celine dua puluh tahun. Davien tertawa terbahak-bahak. “Aku memang tak bisa menang berdebat denganmu.” Celine menyeringai senang. Davien bangkit dari ranjang dan berjalan menghampiri adiknya. “Selamat bersenang-senang, Sayang. Ingat, kau tidak boleh tidur dengan lelaki mana pun pada kencan pertama.” Celine merona mendapat pesan itu dari kakaknya. Namun ia ingin menggoda, “Jadi boleh pada kencan kedua?” Davien meringis. “Itu juga tidak boleh. Sampai kau menikah.” Kemudian ia berderap keluar, meninggalkan Celine yang tersenyum sendiri melihat sikap protektif kakaknya. Bagaimana mungkin pria yang meniduri begitu banyak wanita tapi menginginkan adiknya masih perawan sampai malam pengantin? Sungguh lelaki primitif yang egois. *** Rock menatap kosong wajah cantik di depannya yang bercerita dengan penuh semangat. Pikirannya berkelana jauh. Pada Celine. Sejujurnya sangat berat bagi Rock menyetujui pengunduran diri Celine. Dua tahun terakhir ini, ia sudah terbiasa dengan kehadiran gadis itu di sisinya, dan memikirkan tidak akan melihat senyum manis nan ceria itu lagi, hati Rock terasa hampa. Hari-harinya di kantor pasti akan membosankan. Namun ia tentu saja tidak bisa menahan Celine. Seperti yang gadis itu katakan, dia membutuhkan suasana baru. Rock memahami dengan baik bahwa suatu pekerjaan yang monoton terkadang membuat jenuh. Celine akan meninggalkan perusahaan Rock akhir bulan ini, tepatnya tiga minggu lagi. Posisinya akan diganti oleh Sandie, sekretaris general manajer-nya, sementara sekeretaris baru akan menempati posisi Sandie. Kenyataan Sandie bekerja dengan baik dan cekatan sama sekali tidak membuat Rock merasa senang. Ia menginginkan Celine. “Rock?” Rock tersentak. “Eh, apa?” “Kau melamun,” tuduh Gisela. “Maaf, aku lagi banyak pikiran.” Sudah dua pekan ini Rock berkencan dengan Gisela. Gadis yang berprofesi sebagai foto model majalah dewasa pria itu sangat menggiurkan. Tubuh Gisela seksi dengan d**a besar menggoda—yang dicurigai didapat dari implan. “Bisnis?” “Ya, tentu saja,” dusta Rock. “Jadi, kau bilang apa tadi?” “Aku bilang, akhir pekan ini aku harus ke Paris, sepupuku menikah. Jadi kau akan menemaniku, kan?” Belum sempat Rock menjawab, perhatiannya teralihkan pada sejoli cantik dan tampan yang baru melangkah memasuki restoran. Si gadis mengenakan gaun provokatif berwarna merah hati. Panjang gaun itu setengah paha, tanpa lengan dan berleher rendah. Rambut pirangnya tampak tergerai indah dengan bagian ujung yang diikalkan. Seorang pria tampan dengan sopan merangkul pinggangnya, membawanya ke sebuah meja yang berjarak beberapa meja dari Rock. Rock kenal pria itu. Grey Samuelson, salah satu taipan muda idola para wanita. “Rock?” “Eh?” “Kau melamun lagi.” Gisela merengut. “Maaf.” “Jadi, bagaimana?” Sesaat Rock bingung, tidak mengerti apa yang Gisela bicarakan. Kemudian ia teringat pertanyaan wanita itu sebelum pikirannya dialihkan pada gadis cantik bergaun merah tersebut. “Ah, maafkan aku, Gisela, sepertinya aku tidak bisa. Aku sedang banyak pekerjaan.” Gisela mendesah kecewa. Rock hanya diam dengan mata kembali memandang ke meja yang ditempati Celine dan Grey. Tanpa alasan yang jelas, Rock merasa kesal. Ia baru tahu kalau Celine ternyata berkencan. Selama ini Celine tak tampak memberi perhatian pada pria mana pun yang mendekatinya—dan hal tersebut diam-diam membuat Rock lega. Namun malam ini .... Rasa panas yang menyesakkan membakar d**a Rock. Ia memandang tajam pasangan itu, mengabaikan Gisela yang jelas-jelas mulai kesal dan merajuk. *** Love, Evathink Instagram: evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN