2

1244 Kata
2 “Kau ingin mengundurkan diri? Kenapa?” tanya Rock Xander terkejut sekaligus heran. Ia melirik surat pengunduran diri Celine yang terhampar di atas meja, kemudian beralih pada sebentuk wajah berbentuk hati yang cantik nan menawan itu. Alis Rock kian terangkat saat semenit kemudian, gadis cantik dalam setelan blazer sopan nan elegan itu masih tidak menjawab. “Eh ..., aku, aku ..., ehm! Aku berencana istirahat dulu ..., setelah itu ....” “Ah, aku mengerti,” tukas Rock. “Kau lelah dan butuh liburan. Kau bisa mengambil cuti tanpa harus mengundurkan diri, Celine.” Celine menegang. Rock bertanya-tanya mengapa wanita itu bereaksi seperti itu. Celine berdeham dan menggeleng samar. “Aku ingin berhenti, Rock. Jadi apakah aku boleh mengatur wawancara untuk sekretaris baru?” Rock menatap gadis itu dalam-dalam. Sejenak mata mereka beradu. Rock terpukau. Selama ini ia pikir mata Celine sewarna biru laut, ternyata ia salah. Mata gadis itu jauh lebih indah dari biru laut. Mata Celine berwarna biru langit musim panas. Begitu cemerlang dan memikat. Jantung Rock berdebar lebih keras. Tatapannya turun menyusuri hidung mancung Celine, turun lagi dan terpaku pada sebentuk bibir yang dipoles warna merah gelap. Bibir itu sangat seksi. Tanpa sadar pikiran Rock berkelana, membayangkan apa yang bisa bibir itu lakukan padanya dan apa yang bisa ia lakukan pada bibir itu. Ia bisa mencium bibir itu dengan penuh gairah, mengulum lembut dan menggodanya. Sementara bibir itu bisa menyenangkannya dengan ciuman yang sama panasnya. Rock membayangkan bibir itu menyusuri sekujur tubuhnya, memanjakan di suatu tempat yang intim. Lidah Celine pasti akan terasa panas dan nikmat. Celana Rock seketika menyempit. Ia meringis samar merasa nyeri. Seluruh darah dalam tubuhnya seolah berlomba-lomba menderu ke s**********n. Rock bersyukur ada meja yang menghalangi Celine dari melihat betapa besar tonjolan di celananya saat ini. Diam-diam Rock mengutuki dirinya sendiri. Ia mengenal Celine saat berusia 25 tahun. Kini tujuh tahun sudah berjalan, dan selama itu ia berusaha untuk tidak memandangnya sebagai wanita dengan daya tarik sensualitas. Celine adik sahabatnya. Iblis pun tahu Davien Blythe tidak akan mengizinkannya melirik Celine, meski hanya sedetik—apalagi mendekati dan menyentuhnya. “Rock?” Rock tersadar. “Ah, ya. Aku tidak menginginkan sekretaris baru, Celine. Aku sarankan kau mengambil cuti.” Celine menggeleng cepat. “Tidak. Aku butuh suasana baru, Rock. Aku harap kau menyetujui pengunduran diriku.” Iris kelabu Rock menyusuri sosok di depannya. Celine memiliki tubuh yang sangat indah, meski tidak terlalu tinggi—Rock perkirakan tinggi Celine sekitar 15 senti di bawahnya, bahkan meskipun gadis itu sudah memakai sepatu hak tinggi—tapi Celine tampak sangat ideal dan seksi. “Kau jenuh di sini?” tanya Rock. Ia pikir Celine menikmati pekerjaannya. Selama ini Celine selalu sangat antusias setiap perusahaannya akan meluncurkan produk baru. Rock memberi hak istimewa kepada Celine untuk memakai produk itu lebih dulu dibandingkan yang lain. Celine mengangguk samar. Rock mendesah kurang senang. “Baiklah. Meski berat, aku tak bisa memaksamu tetap tinggal, bukan? Tapi aku sangat berharap kau berubah pikiran, mengambil cuti, lalu—” “Aku tidak akan berubah pikiran, Rock.” Itu nada final. Dan Rock tahu, ia tidak akan berhasil membujuk Celine tetap tinggal. *** Celine melangkah ringan menuju ruang kantor Davien Blythe. Saat ini jam makan siang, ia berencana mengajak kakaknya makan bersama sekaligus menceritakan tentang pengunduran dirinya dari perusahaan Rock. Celine tiba di depan ruangan Davien. Tanpa mengetuk lebih dulu, ia membuka pintu. Seketika mulut Celine ternganga dengan tidak elegan. Matanya membeliak melihat pemandangan yang tersaji di depannya. Ia tadi memang tidak menghubungi Davien lebih dulu dengan asumsi kakaknya akan ada di kantor. Lagi pula jarak kantor perusahaan Rock dan Davien tidak terlalu jauh, jadi tidak masalah kalau Davien tidak berada di tempat. Ia bisa pergi makan siang sendirian. Asumsinya ternyata sangat benar. Kakaknya berada di tempat, tapi dengan kondisi di luar bayangannya. Davien tampak sedang b******u dengan seorang wanita muda yang Celine kenal sebagai sekretaris kakaknya itu. Marlyn Boyd baru dua bulan ini menjadi sekretaris Davien. Melihat kehadiran Celine, keduanya terkejut. Si w************n buru-buru merapikan pakaiannya, sementara Davien, meski tampak dengan gerakan santai merapikan diri, tak urung rona gelap mewarnai tulang pipinya. Celine menatap tajam saat sekretaris kakaknya itu berlalu melewatinya. Dari dulu, ia tak pernah suka pada sifat playboy Davien, yang akan melahap wanita mana saja—asal bertubuh seksi dan berkaki indah. “Hei, Manis. Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Davien dengan nada santai yang dibuat-buat. Celine melangkah mendekati kakaknya dengan wajah cemberut. Davien tampak duduk kaku di balik meja. Celine menarik kursi di depan meja Davien dan duduk di sana dengan tas tangan di pangkuan. “Aku ingin mengajakmu makan siang.” “Ide brilian. Ayo,” Davien mengangguk senang dan berdiri. Dua puluh menit kemudian mereka sudah duduk berdua di sebuah restoran Prancis. “Aku mengundurkan diri dari perusahaan Rock,” kata Celine membuka pembicaraan sambil menyesap teh lemon. Alis Davien terangkat. Celine tersenyum lemah. “Aku ..., aku pikir ..., aku butuh suasana baru.” “Hmm ....” Meski hanya gumaman pelan itu yang terdengar dari Davien, tak urung wajah Celine merona mendengar sindiran samar kakaknya. Dua tahun lalu, ketika Celine lulus kuliah dan melamar di perusahaan Rock yang bergerak dibidang kecantikan; memproduksi lipstik dan segala kosmetik mahal dan mewah, pria itu enggan menerimanya. Celine yakin bukan karena ia tak cukup pantas mengisi posisi tersebut, tapi karena ia adik seorang miliuner—yang bila dipikir-pikir sangatlah tidak mungkin bekerja sebagai sekretaris dengan gaji rata-rata. Davien Blythe, kakaknya yang berjarak usia enam tahun dengannya, memprotes keras. Namun Celine meyakinkan ia ingin bekerja dan belajar mandiri. Davien menawari posisi di perusahaannya, tapi Celine menolak dengan alasan tidak seru bekerja di perusahaan milik kakak sendiri, membuat sang kakak geleng-geleng pasrah. Lalu Celine meyakinkan Rock untuk menerimanya. Akhirnya ia pun bekerja di perusahaan pria itu. “Aku hanya ingin berganti suasana. Aku butuh liburan.” “Hmm ..., sebenarnya apa yang terjadi, Celine? Apakah akhirnya kau menyerah?” Davien menyesap kopi hitamnya dengan tatapan tak lepas dari sang adik. “Apa?” “Kau sudah lelah bertepuk sebelah tangan, ya?” Davien meletak gelas kopi ke atas meja. “Apa maksudmu, Davien? Jangan berbelit-belit.” “Cintamu yang tak berbalas itu. Apakah akhirnya kau menyerah?” Celine menatap kakaknya ngeri. “Kau ..., tahu ...?” Davien menyeringai samar. Celine terdiam kaku dengan wajah memanas. Davien tahu ia memuja Rock ..., mencintai pria itu. “Aku tahu kau mencintai Rock, Celine.” “Tak ada yang luput darimu, bukan?” desah Celine kesal. Davien tersenyum penuh kasih sayang pada adiknya. “Apalagi yang membuatmu rela menjadi sekretaris Rock sementara aku bisa menawarimu kemewahan, kalau bukan karena tergila-gila padanya?” Celine terdiam kaku dengan wajah serasa terbakar. “Dia tidak cocok untukmu, Sayang. Dia playboy. Sejak awal aku tidak setuju kau bekerja padanya, yang aku yakin untuk mendekatinya. Aku juga tidak setuju jika kalian menjalin hubungan. Kau akan patah hati.” “Sekarang pun aku patah hati.” Davien mengulurkan tangan ke seberang meja, mengusap-ngusap punggung tangan adiknya. “Kau akan baik-baik saja, masih banyak pria lain, yang lebih layak untukmu. Lebih tepat. Aku senang akhirnya kau berhenti berharap. Aku meyakinkan diri, setelah bekerja pada Rock, kau akan berhenti mencintainya setelah tahu sepak terjangnya.” Bahu Celine terkulai. Kepalanya menunduk dengan mata berkaca-kaca. Satu sisi hatinya terharu dengan perhatian kakaknya, di sisi lain ia semakin patah hati. Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan, akhirnya Celine berdeham. Ia mendongak menatap kakaknya. “Terima kasih, Davien.” *** Love, Evathink Instagram: evathink
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN