Chapter 8

1589 Kata
Malam ini Adinda diminta yoyo untuk menemaninya lembur dikantor. Sebenarnya yoyo tahu gadis ini cepat sekali bosan, namun ia merasa senang jika bisa melihat Adinda disini bersamanya. "Yoyo... masih sibuk ga kapan pulang yo" ucapan itu terus Dinda katakan dari mulutnya. Ia merasa sangat bosan, hanya duduk diam dan menatap yoyo yang begitu serius bekerja di hadapannya. "Dinda kan bisa dengerin lagu,baca buku, main ponsel kek kalo bosan atau nonton film di laptop nih ?" Ujar yoyo menunjuk laptopnya yang tergeletak di sampingnya. Adinda hanya menggeleng malas, wajahnya semakin ditekuk karena bosan. Yoyo pun mendekatinya, mengusap pelan puncak kepala gadis manis ini. "Sayang.. aku janji bakal nyelesein kerjaannya cepat" ciuman lembut mendarat di kening adinda. Dinda hanya tersenyum menatap yoyo.. manis banget sih :') "Yo...kurang..." Ucap dinda menarik pelan tangan yoyo.. "Kurang ?? Maksudnya ??" Tanya Yoyo heran.. ia kembali duduk disamping Adinda.. "Ini loo... Bibir aku yo " Dinda menunjuk bibirnya sambil tersenyum menggoda.. "Astaga...siniin bibirnya mana sih..." Dinda terlihat senang, godain yoyo emang paling enak ya kan.. :) Lumatan singkat mendarat di bibir Adinda, dan dengan cepat yoyo menariknya. Ia pun kembali fokus ke sisa pekerjaannya. Dinda kembali menunjukan raut wajah tak senangnya. "Apa sih dinda minta cium mulu tapi panggilnya kamu aku, ga mau panggil sayang" ujar yoyo dan tatapannya masih ke arah berkas-berkas yang menumpuk. Dinda hanya tertawa, ternyata yoyo bisa ngambek juga. Ia lalu mendekati yoyo dan memeluknya dari belakang, sembari menciumi lembut leher pria ini. "Sayang.. nanti aja, kalau kita pulang" ucap yoyo menatap wajah dinda yang begitu nakal.. "Ga mau... aku cuman gini kok" Yoyo hanya pasrah dan ia membiarkan gadis itu melakukan sesukanya. Adinda masih asyik menciumi leher yoyo dan terkadang mengigit pelan telinganya, membuat yoyo semakin tak fokus dengan kerjanya. "Duh sayang nyerah deh.. bisa ga aku dikasih waktu 10 menit aja, please.." ucap yoyo menarik wajah dinda dengan raut wajah memelas.. Dinda hanya tertawa ia pun berdiri dihadapan yoyo menatap mata pria itu. Dan berbisik pelan ditelinganya.. "Yoo... Boleh ga aku mainin itu di bawah..??" Mata yoyo membulat, dia terkadang memang agak kewalahan jika Dinda mulai high seperti ini. "Sayang.. ga boleh, aku ga bakalan fokus jadinya.., udah duduk aja disana" "Ga mau yo.. aku nangis ni yaa.." rengek dinda manja, semakin membuat yoyo gemas menatapnya. "Astaga.. dinda.. ah.." Gadis itu tak peduli ia pun berjongkok di hadapan yoyo dan membuka celana pria itu dengan cepat. Yoyo akhirnya pasrah dan diam saja. Ia akan mencoba bertahan sebisa mungkin. Terasa hisapan dinda yang begitu hangat menjalar dimiliknya, kepala gadis ini mulai naik turun bermain dibawah sini. Yoyo mencoba masih memfokus kan pikirannya ke berkas yang hanya tersisa satu lagi untuk dikerjakan. Adinda merasa begitu ketagihan untuk memainkan milik yoyo layaknya sebuah lolipop untuknya. Ia terus menyiksa hasrat pria ini lewat kulumannya. Menjilati dari atas hingga kebawah, semua yang ada sana tersapu oleh lidah nakal Adinda. "Ssshhh....nakal banget sih dinda..." Yoyo mendesah dengan memegang kepala dinda, ia begitu terangsang dengan permainan lidah Adinda. Yoyo akhirnya melepas hisapan dinda dimiliknya dan langsung mengendong gadis itu untuk duduk di sofa. Adinda memekik pelan karena terkejut dengan gerakan Yoyo yang begitu bernafsu menatapnya. "Yo gapapa nih main disini ??" Tanya Adinda ragu-ragu, kan siapa tahu tiba-tiba ada yang denger suara mereka. "Asal dinda ga teriak ya... Hehehe" ujar yoyo menatapnya dengan wajah nya menggoda. Ia mengulum penuh hasrat ke bibir gadis ini, dinda pun membalasnya penuh nafsu. Ia memegang erat wajah yoyo untuk membuat ciumannya semakin dalam. Yoyo pun berjongkok dan menyerang v****a dinda masih terbungkus panty dibalik rok mininya. Pria itu memainkan satu jarinya untuk mengusap-usap perlahan diluar panty. Terlihat begitu basah dan tubuh dinda terus bergerak-gerak menahan nikmat. Dengan perlahan yoyo menurunkan panty nya dan menghisap kuat k******s dinda. "Aaaakhhh yo... enak...." ucap dinda menekan kuat kepala pria ini. Yoyo menatapnya sambil mengisyaratkan untuk diam. Dinda hanya mengangguk sambil tersenyum. Suatu penyiksaan jika ia harus menahan desahannya sendiri. Yoyo lalu menaikan kemeja yang dinda kenakan lalu meremas kuat kedua payudaranya. Mulut dan lidah yoyo masih sibuk bermain dibawah. Suara lidah yang begitu nyaring karena cairan adinda menambah panasnya permainan mereka. "Yo...please masukin aja langsung.." bisik dinda pelan, ia tak mampu lagi menahannya dan suasana sekarang tak mendukung untuk bermain lebih lama lagi. Yoyo pun bangun dan menurunkan celananya setengah lalu meminta dinda berbalik. Ia mulai menekan miliknya sedalam mungkin dan menikmati betapa sempit dan hangatnya v****a dinda. Adinda hanya mampu mengigit jaketnya agar tak kelepasan untuk mendesah nyaring. Padahal sekarang ia sungguh menahan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya. Kedua p****g dinda yoyo pilin dengan kuat hingga tubuh dinda bergetar menahannya. Tangan yoyo meremas lagi b****g dinda dengan kuat seiring gerakannya semakin cepat mengejar kenikmatan yang semakin memuncak. Yoyo dengan tak sabar menarik rambut dinda lalu menepuk kasar b****g gadis itu. "Yo...Ssshhhh please anal...." Pinta dinda pelan. "Seriusan ?? Kalau sakit gimana?" Tanya yoyo agak ragu. Ia sudah cukup puas dengan milik dinda.. tapi gadis itu memohon merintih padanya. Dinda menggapai tasnya dan memberikan pelumas pada yoyo. "Tetesin disitu yo...please, pengen banget nih" Yoyo terdiam sesaat ia masih ragu.. "Yo.. buruan..." Suara dinda memecah keraguannya. Yoyo pun meneteskan sebanyak mungkin, karena ia takut dinda kesakitan. Lalu yoyo menarik miliknya dan mencoba masuk perlahan, terasa lebih sempit. Tangan dinda mencengkram kuat bokongnya sendiri. Wajahnya terlihat menahan sakit namun juga ada kepuasan diwajahnya. Yoyo pun bergerak pelan dan tiba-tiba saja ia ingin memainkan tangannya di v****a dinda. Desahan pelan dan tertahan keluar dari mulut dinda, ia terus mengerang penuh kenikmatan. Yoyo rasa dinda menikmati permainan anal mereka, ia pun semakin yakin untuk menaikan temponya. Begitu juga gerakan jari jemarinya di liang yang basah tersebut. Dengan penuh nafsu yoyo memukul berkali-kali b****g dinda, gadis itu pun memekik pelan dan tangan yoyo begitu basah. Dinda telah duluan orgasme.. "Hmmmmpppp...Yoo mhhhhppp" hanya itu yang mampu keluar dari mulut adinda, ia mendesah tertahan. Yoyo pun berhenti sejenak membiarkan Adinda menikmati sisa orgasmenya. Ia menciumi punggung dinda dengan lembut dan membelai rambutnya.. "Masih kuat sayang ??..." Bisik yoyo pelan membuat dinda mengangguk pelan.. "Yo.. pengen teriak.." "Hehehe kalau kamu teriak orang-orang disini ngiranya kamu lagi di pukulin sama aku dinda" "Makanya main dirumah kek.." "Yang ngegodain aku duluan siapa??" Adinda hanya tersenyum, ia ingin bisa leluasa berteriak, mendesah dan mengeluarkan makiannya. Namun benar kata yoyo jika itu yang ia lakukan seisi kantor ini akan geger. "Nikmatin aja sayang.. kayak gini lebih menyiksa kan.." bisikan yoyo membuat dinda kegelian dan gerakan di belakangnya mulai terasa nikmat. Yoyo menarik miliknya dan memasukan ke v****a dinda, terlihat raut protes dari wajah dinda yang masih menginginkan disana. "Gantian sayang.. jujur aku lebih suka disini..." Ucap yoyo sembari mengehentak kuat miliknya diliang v****a dinda. Sehingga membuat gadis itu memekik pelan dibalik jaketnya.. Yoyo memainkan bagian sensitif b****g dinda dengan jarinya, agar gadis itu tetap merasa puas. Milik yoyo terus memacu hingga ke titik kepuasan mereka berdua. Rambut dinda kembali yoyo tarik ke belakang, ia semakin cepat menaikan tempo gerakannya. Pria itu juga terus menjilati belakang leher dinda hingga ke punggungnya. Membuat gadis itu meremas dan mencubit putingnya sendiri. Yoyo pun semakin bergoyang dengan gilanya, ia harus segera mungkin menyelesaikan ini. Terlalu beresiko bermain lama-lama disini. Yoyo menahan sekuat tenaga erangannya sendiri. Ia tanpa sadar dengan kuat menjambak rambut dinda, tanpa tahu jika gadis itu menahan sakit dikepalanya. "Aaahh sayang aku mau sampe nih..." "Ughhh iyaa yo.. udahan tarik rambutnya, sakit"... Yoyo tak peduli semakin hampir sampai ia pun makin kuat menariknya. Jari yoyo semakin dalam bermain di b****g dinda. Suara basah dan milik mereka yang beradu menjadi sebuah perpaduan suara yang menggoda hasrat. Plok...plok..plok.. Dengan kuat ia menghisap setiap inci kulit di leher dan pundak dinda, menyisakan bekas yang begitu merah. Akhirnya terasa kedutan luar biasa di milik yoyo maupun dinda, dan semburan kecil terasa dari v****a dinda. Tak lama pun yoyo memuntahkan cairannya didalam milik dinda. Mengalir pelan ke seluruh v****a hingga rahim dinda. b****g dinda masih bergoyang perlahan mencari sisa-sisa kenikmatannya. "Ssshhhhh ahhhhh sayang.. udahan yuk.. kita harus pulang nih..." Ujar yoyo mencium perlahan pipi adinda.. Ia pun menarik miliknya dan mengambil tisu untuk dinda. Terlihat sedikit cairan miliknya menetes perlahan dari liang v****a dinda. Ia membantu dinda untuk membersihkannya.. "Yo sebelum pulang mampir toilet dulu yaa, aku pengen bersih-bersih nih" ucapnya sambil merapikan kembali baju dan ikatan rambutnya. "Ayok.. aku beresin kerjaan ku dulu.." "Aku duluan aja yo, nanti kamu nyusul" "Berani ? udah jam 11 loh ??" Ucap yoyo menunjuk jam di dinding.. Dinda hanya tersenyum pelan, dia lebih takut manusia ketimbang setan. Ia pun berlalu menuju toilet dan masuk ke dalam biliknya mulai membersihkan dirinya. Tak lama ia mendengar langkah kaki 2 orang wanita, terdengar dari suara percakapan mereka. Dinda hanya diam didalam, ia agak bingung harus keluar sekarang. "Win kamu tau mas yoyo kan..?" Ucap suara wanita itu pada temannya.. "Iya aku tau yang bagian penyiaran dan editing kan, kenapa emang?" Sahut wanita yang dipanggil Win tadi.. "Astaga dia cakep banget ya..sayang sih ada yang punya, mana ceweknya nempel terus lagi" "Hahaha iya sih, Mas yoyo tu emang cakep padahal ni ya dia itu muda banget beda setahun doang sama kita" "Iya udah cakep mapan pula, mana sikapnya baik banget" "Eh tapi aku dengan rumor sih dia itu dulunya punya pacar lebih cantik dari yang sekarang, tapi ya meninggal gitu ceweknya" "Haah seriusan kamu..? Gara-gara apa?" "Katanya sih sakit gitu, cuman agak mencurigakan sih cara matinya" "Maksud kamu ???" "Masa hari ini sehat, terus besok sakit langsung meninggal, riwayat jantung juga ga ada" "Ih serem juga ya..kasihan banget" Tak lama toilet kembali sepi, tersisa hanya Adinda yang masih terdiam kaku mengingat apa yang dua wanita tadi katakan.. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN