Pembicaraan dua wanita tempo hari itu mempengaruhi pikiran Adinda. Namun ia terlalu segan untuk bertanya pada yoyo, bagaimanapun itu menjadi sebuah kenangan buruk untuk pria itu. Sungguh tak pantas Adinda mengungkitnya.
Selama mata kuliah berlangsung Adinda terus menerus melamun, untung saja ia duduk di belakang. Jadi ia tak perlu terlihat oleh dosennya yang terkenal killer. Akhirnya jam kuliah usai ia pun bergegas keluar tanpa menyadari jika salah senior mendatanginya.
“Adinda .. heii dinda...”
Adinda berhenti dan menatap kearah pria yang memanggilnya.
Terlihat salah satu senior yang dulunya juga pernah tidur dengannya. Malah senior ini agak terobsesi dengannya. Sebut saja nama dia Yogi, pria tampan namun agak belagu dimata Adinda.
“Kenapa bang?” Tanya dinda dengan datar, ia terlalu malas harus terlibat dengan pria ini lagi.
“Hehehe udah selesai ya kuliahnya?”
“Ga liat ya kita udah keluar kelas semua ?”
“Ih dinda jutek banget sih...”
Adinda menghela nafas kesal karena basa basi tak penting ini, ia pun membalik tubuhnya dan berjalan cepat. Tapi Yogi terus mengikutinya.
“Astaga Dinda.. aku cuman pengen ngajak makan kok di kafe depan itu, mau ya “ desak pria itu..
“Ga bang.. makasih banget tapi aku buru-buru mau pulang”
“Yaelahh 15 menit aja kali.. Kamu gaya banget sih din mau pulang cepat. Kayaknya punya kerjaan penting aja”
“Sorry bang ga bisa... Permisi bang yogi”
Kini Adinda setengah berlari menuju ke depan gerbang, Yogi hanya mampu menatapnya kesal. Dengan tetap melangkah ia mengikuti gadis itu. Adinda tahu jika yogi sedang mengikutinya di belakang. Itu agak membuat Adinda cemas, mana sekarang sudah jam 8 malam. Dinda memang mengambil kuliah malam.
Perasaan cemas Adinda langsung berubah tenang, ketika di depan gerbang ia melihat yoyo sedang menunggunya. Pria itu berdiri terus menatap ke dalam, ketika pandangan mereka bertemu ia pun tersenyum. Adinda setengah berlari menemui yoyo dan langsung memeluknya senang ketika pria itu di depannya. Yoyo hanya tertawa melihat Adinda yang seperti anak kecil malam ini.
“Heii kok semangat banget sih ketemu aku yang ?” Tanya yoyo memandang dinda yang masih mendekapnya, tanpa peduli tatapan orang di sekitar mereka.
“Ssst... Aku senang kamu sudah disini, ada cowok resek yang maksa aku tadi yo” jawab dinda sambil melepas pelukannya.
Yoyo pun menatap ke belakang Adinda namun ia tidak menemukan siapapun selain gerombolan cewek yang menatapnya dengan mata berbinar.
“Ga ada kok..siapa sih ?”
“Ih dia sembunyi lah pasti.. kan karena kamu disini”
“Duh kalau gini bikin aku khawatir loo..”
Adinda tersenyum mendengar ucapan yoyo dan menariknya untuk masuk ke mobil. Adinda tak ambil pusing dengan sikap seniornya tadi, ia yakin Yogi pasti tak akan mengganggunya lagi. Karena ia tahu sekarang adinda mempunyai seorang pacar.
Hari ini dinda free dari mata kuliah dan tugas. Tapi ia terlalu bingung harus melakukan apa hari ini. Yoyo pun berada diluar kota, walaupun dia ada disini Adinda agak malas ikut pria itu ke kantor. Rasanya tatapan sinis dari rekan kerja Yoyo yang wanita semakin tak enak untuk dilihat.
Sebenarnya Adinda mempunyai niat untuk bertanya pada Juna tentang masa lalu Yoyo, namun ia kembali mengurungkan niatnya. Ia terlalu malas bertemu Juna dan Adinda takut membuat Yoyo marah jika ia tahu. Tak lama ponsel dinda bergetar, adinda pun menatapnya, dia tersenyum lebar melihat nama Yoyo disana..
: Yoyo ---- : Adinda
_____________________________
: Hai sayang...
: Heii.. kok nelpon..
: Astaga sayang.. aku ga boleh nelpon ?
: Boleh dong, tapi emang ga sibuk kerja apa..?
: Coba dinda tebak aku lagi dimana ?
: Ya lagi di hotel kali atau di lokasi kerjaan..
: Hahahaha salah sayang.. emm coba deh liat dari jendela kos kamu..
: Haaah ???? *Dinda beranjak mendekati jendelanya, ia menatap dengan tak percaya, pria itu tersenyum manis di bawah sana*
: Gimana sayang.. aku disini kan..
: Kok bisa sih..tunggu disana ya, aku turun..
: Eh lagi libur kuliah kan, ikut aku ya...
: Kemana ???
: Udah diam aja, bawa baju ya...
: Haaah.. oh oke..
_________________________________
Yoyo menatap bahagia, melihat gadis itu menghampirinya dengan membawa sebuah ransel kecil. Ia hari ini ingin memberikan sebuah kejutan buat Adinda.
“Sayang... kita mau kemana sih ??” Tanya dinda menatap wajah yoyo yang terus tersenyum penuh rahasia..
“Ada deh... Yuk ahh mari jalan..”
“Tapi yo...-“
“Sssttt diam aja.. pokoknya Dinda pasti senang”
Yoyo pun membuka pintu mobilnya, dan mempersilahkan gadis itu masuk. Mobil yoyo melaju ke tempat rahasia yang yoyo maksud. Adinda terus menatap ke arah Yoyo, ia ingin bertanya namun raut wajah yoyo mengisyaratkan nya untuk diam menunggu. Tak lama sekitar 25 menit perjalanan mereka sampai di sebuah komplek perumahan yang benar-benar indah menurut Adinda.
“Yo kita dimana nih ???” Tanya dinda menatap keluar jendela mobil.
“Ada deh... Sebentar lagi sampai kok”
“Emm kok kamu mulai suka nyimpen rahasia gini ya”
Yoyo hanya tersenyum simpul. Mereka pun berhenti didepan gerbang yang dijaga oleh satpam. Yoyo membuka kacanya dan menyapa, pintu gerbang pun terbuka. Rumah mewah namun tak terlalu besar terlihat didepan mata Adinda. Suasananya benar-benar nyaman, yoyo pun memarkir mobilnya.
“Yuk sayang turun...” Ucap yoyo menatap dinda yang masih penuh pertanyaan untuknya.
Mereka berdua menuju pintu besar itu dan membukanya, terlihat isi didalam rumah yang lengkap dan tertata rapi. Yoyo masih menggenggam erat tangan dinda dan menuju ke kamar atas. Dinda hanya diam mengikutinya, mereka lalu masuk kesalah satu kamar yang lumayan besar.
Mereka menuju balkon yang berhadapan dengan pemandangan sebuah gunung dan dibawah terlihat taman kecil yang cantik. Yoyo memeluk tubuh Adinda dari belakang, wangi pria ini terasa begitu nyaman di penciumannya. Yoyo pun mencium lembut pipi adinda.
“Love u dinda...” Bisiknya pelan ditelinga adinda..
Adinda hanya tersenyum simpul, namun pipinya merona begitu merah.
“Kok ga dibalas kalimatnya?” Protes terdengar dari mulut yoyo.. membuat dinda makin tergelak..
“Astaga lebay banget sih kayak cabe...”
“Dijawab dong.. ga ada romantisnya banget sih jadi pacar”
“Aku emang ga romantis yo.. tapi aku jago bikin kamu puas...”
Yoyo mencubit pelan pipi dinda.. dan mendengar gadis itu mengaduh pelan. Ia semakin mendekap dinda erat dipelukannya, ia merasa begitu nyaman di dekat gadis ini. Semuanya kembali terasa normal ketika ia mulai jatuh hati pada Adinda.
“Yo kenapa sih kita kesini...” Adinda kini mulai bertanya tujuan yoyo..
“Aku mau nunjukin rumah kita sayang...”
“Rumah kita ??? Nnngg... wait..wait rumah?”
“Iya rumah kita.. milik aku sama kamu..”
Dinda membalik tubuhnya dan menatap dalam kearah yoyo.. ia butuh penjelasan.
“Dinda...aku pengen hubungan kita lebih dari ini.. bukan cuman sekedar pacaran dan having sex.. aku tulus sayang sama kamu” ucapan yoyo begitu manis terdengar bagi dinda..
Tapi ia masih terdiam karena kebingungan, selama ini dinda hanya menganggap hubungannya dan yoyo sekedar pacaran dan senang-senang saja. Ia tak pernah terpikir harus lebih dari ini.
“Yo..kamu mau lebih dari ini itu kayak gimana sih ??”
“Tsk.. masa ga paham sih yang...”
Dinda hanya menggeleng kepala, ia bertingkah seolah-olah tak mengerti apapun.
“Mhhhpp... Adinda willadya.. Will you marry me?” Ucap yoyo sembari mengecup ringan bibir dinda..
Mata dinda membulat..
Ahh si yoyo masih waras kan :’)
“ Nikah ?? Wah gila.. aku kan masih kuliah kali yo.. baru juga semester 6..” adinda tertawa keras mendengar ucapan yoyo. Ia merasa seperti sedang kena prank.
“Why not my dear ??? Aku pikir itu ga jadi masalah bukan ? Aku mau jagain kamu 24/7.. dan yang pasti ena-ena nya ga lagi dosa hehehe”
“Sejak kapan sih ingat dosa yo...” ujar dinda masih dengan menatap tak percaya ke arah pria ini.
“Dinda... Kamu ga mau yaa ???”
Mereka saling bertatapan, bagaimana pun ini terlalu cepat dan bagi seorang Dinda, pernikahan itu omong kosong.
“Aku mau tapi nanti, kalau aku selesai kuliah.. kalo kamu ga mau nunggu ya ga papa”
Helaan nafas yoyo terdengar berat, ia sebenarnya mengharapkan jawaban yang lain. Namun ia harus menghargai keinginan dinda. Mungkin dinda benar hubungan mereka terlalu singkat. Yoyo memeluknya erat meyakinkan ia bisa menerima semua keputusan Adinda.
“Oke sayang.. aku bakalan nungguin kamu selama apapun itu...”
“Kamu ga marah kan yo...”
“Ga ada yang sanggup marah sama kamu dinda...”
Adinda menatap yoyo dengan bahagianya, ia pun mencium bibir pria itu lembut. Terasa manis dan sangat dan menyenangkan. Yoyo pun membalas ciuman gadis itu, baginya tak pernah ada kebosanan diseluruh tubuh adinda Yoyo pun membalas ciuman gadis itu, baginya tak pernah ada kebosanan diseluruh tubuh adinda. Semuanya terasa menyenangkan dan membuat candu..
“Sshhhh yo.... Liat wajah ku...” Ujar dinda sambil melepas ciumannya, ia memegang wajah yoyo dan menatapnya penuh arti..
“Yo.. jangan ada satupun rahasia dari kamu.. sebelum kita memutuskan untuk lebih jauh, aku mau kamu jujur semua hal sama aku”
Yoyo hanya mengangguk ragu, tebakan Adinda benar pria ini masih menyimpan rahasia yang dalam. Ia masih belum ingin berbagi, itu membuat hati dinda perih..
“Wait me oke.... Aku nanti bakalan ngasih tahu kamu semuanya..”
Dinda pun hanya tersenyum. Mungkin semuanya butuh waktu. Dinda akan menunggu itu, dan mereka tak akan pernah mengetahui sekejam apa takdir membuat kenyataan yang bahagia menjadi sebuah takdir yang buruk....nantinya.