Setelah menghabiskan liburan selama seminggu penuh, Adinda kembali ke rutinitas perkuliahannya. Ia telah memasuki masa-masa skripsi dan menyisakan satu mata kuliah lagi. Aktivitas ini agak menyita waktu dinda, hingga ia sangat bisa jarang menemani yoyo lagi kantornya. Apalagi sekarang yoyo malah sering mendapat tugas diluar kota.
Karena Adinda telah terbiasa ia merasa santai saja, namun rasa rindu selalu ada apalagi jika ia tiba-tiba high.. itu agak menyulitkannya. Namun dinda sedang berusaha untuk tak lagi mencari kenikmatan di pria mana pun. Ia menghargai usaha yoyo untuk membawa hubungan mereka ke tahap yang lebih serius. Tante Maria pun berharap banyak padanya untuk bisa membuat yoyo kembali normal. Tante Maria adalah seorang Psikiater, dia adalah satu-satunya kerabat yang masih dinda miliki sebagai keluarga.
Ia pula yang menjadi Psikiater pribadi yoyo, selain membantu yoyo Tante Maria pun membantu kesehatan Dinda. Siang ini Adinda mempunyai jadwal bimbingan, ia pun menuju kampus sembari ditemani dengan telepon dari yoyo. Pria itu semakin hari semakin cerewet, ia sangat khawatir saat dinda pergi sendirian kemana-mana tanpanya.
“Yo aku matiin ya teleponnya, soalnya udah sampe kampus nih” ucap dinda di ujung teleponnya, ia masih berbicara dengan yoyo..
“Iya deh... hati-hati ya dan semangat.. besok aku pulang kok”
“Oke kamu juga.. ya see u tomorrow my dear”
Telepon pun dimatikan dan Adinda bergegas menuju ruangan dosennya. Setelah melewati berbagai omelan dan revisi dimana-mana. Bimbingan dinda selesai ia menghembuskan nafas panjang, semuanya semakin melelahkan. Ia ingin sekali segera menyelesaikan skripsinya.
Adinda merasa agak mual dan pusing, mungkin karena efek dia belum makan siang. Lalu dinda memutuskan untuk ke apotek kampus terlebih dahulu. Ia ingin membeli obat dan setelah itu makan siang dengan sahabatnya.
Sesampainya Adinda di apotek kampus, ia sangat terkejut ketika melihat Juna sedang memeluk seorang gadis cantik. Adinda pun ingat gadis itu yang pernah mereka temui saat Juna meminta maaf padanya.
Adinda termenung melihat cara Juna memeluk dan menatap gadis itu. Penuh rasa cinta dan sayang, perlakuan yang tak pernah dinda dapatkan ketika ia bersama Juna di masa lalu.
Ketika langkah dinda mendekati mereka, Juna sangat terkejut seolah melihat hantu. Ia dengan tergagap menyapa Adinda.
“Eh.. adinda.. lama ga ketemu”
“Iya Jun.. apa kabar? Terus ngapain kesini?”
Adinda hanya basa basi, ia pun melihat pacar Juna tersebut terus menunduk malu dan merasa bersalah.
“Baik dinda.. eh masih ketemu sama yoyo ya?” Tanya Juna sambil duduk dihadapan dinda..
“Iya aku pacaran kok sama dia”
Jawaban dinda membuat raut wajah Juna terkejut, namun ia hanya tersenyum datar. Lalu Juna pun berpamitan dengannya. Adinda kembali menatap pacar Juna, ia meminta obat Maag. Dengan gugup gadis itu memberi padanya.
Dan adinda pun berlalu dari sana. Sahabatnya Anna sedang menunggu dinda di kafe itu, mereka pun memesan makanan. Anna agak heran melihat wajah dinda yang begitu pucat. Tak lama Anna hampir meloncat karena terkejut, ia lalu menatap Adinda. Adinda pun merasa heran melihat sikap Anna.
“Eh neng kamu kenapa? Kayak liat hantu aja “ tanya dinda yang masih sibuk memainkan makanannya, entah kenapa ia tak berselera dengan makannya.
“Adinda....” Panggil Anna pelan namun terlihat jelas wajahnya sangat panik..
“Iyaa Ann.. kenapa ?? Tanya dinda.
“Dinda.. Kamu harus lihat ini”.. Anna pun memberikan ponselnya pada Dinda, dan gadis itu melihatnya.. detik kemudian ia merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Foto dan video sebuah gadis sedang having s*x terlihat di layar ponsel itu. Gadis itu adalah Adinda dan mengerikannya ia seperti digilir 3 pria sekaligus. Tapi kenapa wajahnya disini terlihat begitu menikmati. Adinda bahkan tak pernah ingat kapan ia melakukan semua ini.
“Dinda...kamu baik-baik aja kan?” Ucap Anna yang begitu khawatir melihat adinda yang diam mematung.
“Aku balik dulu ya Ann..” adinda pun langsung bergegas pulang, ia tak memperdulikan apapun di sekitarnya.
Adinda agak syok melihat foto dan video s*x nya tersebar dimana-mana. Ia merasa malu namun sekarang tak ada satupun yang bisa dinda lakukan. Pikiran dinda langsung teringat akan Yoyo, astaga bagaimana tanggapan pria itu jika melihat semua hal menjijikan tadi. Dinda setengah berlari menuju gerbang kost nya, karena jarak kampus dan kostnya tak terlalu jauh.
Adinda tak pernah menangisi hal-hal yang menyakitkan terjadi di hidupnya, namun ia begitu terluka mengingat tentang yoyo. Jujur saja dinda merasa selalu memberikan hal buruk untuk pria itu. Tatapan sinis tertuju pada dinda ketika ia sampai di kostnya, sepertinya video dan foto itu semakin viral sehingga teman-teman di kost nya pun tahu. Dinda hanya diam dan berlalu menuju kamarnya.
Ia terlalu lelah untuk memikirkan lebih dari ini, entahlah hal buruk apalagi yang besok akan terjadi. Namun bukan ketenangan yang ia dapat dikamarnya, ia malah semakin gelisah. Suara bisik-bisik diluar semakin mengganggunya. Dinda pun mengambil tasnya, kembali lagi keluar. Ia harus bisa pergi dari sini untuk sementara.
Di lain tempat yoyo terlihat terburu-buru menuju kantornya, ia datang lebih cepat hari ini. Tapi sangat disayangkan kerjaannya malah masih menumpuk. Awalnya yoyo mempunyai niat untuk menemui Adinda. Ia sangat merindukan gadis manis itu, rasanya hanya seminggu jauh darinya sungguh menyiksa.
Kantor masih terlihat ramai, apalagi segerombolan wanita saling bergosip ria. Mereka menatap kedatangan yoyo dengan tatapan sedih. Yoyo hanya tersenyum dan agak merasa aneh dengan ekspresi mereka. Sambil menyiapkan apa yang harus ia kerjakan, yoyo mencoba menelpon dinda. Ia berharap gadis itu dengan senang hati mau datang kesini.
Tapi tak ada jawaban apapun dari dinda. Yoyo merasa heran gadis ini kemana, apa bimbingannya belum selesai.
“Duh dinda kemana sih...jangan-jangan malah ketiduran di kost nih” guman Yoyo menatap ponselnya dan ia mengirimkan chat pada gadis itu.
Sebuah ketukan di pintu ruangannya terdengar, yoyo pun mempersilahkan nya masuk. Terlihat salah satu rekan kerjanya bernama Adrian.
“Kenapa Dri ??” Tanya yoyo menatap sekilas.
“Anu mas... ada yang mau saya tunjukkan “
“Oh oke .. apaan nih ???”
“Nih mas...”
Tab Adrian terulur ke arah Yoyo, pria itu menatap tanpa berkedip. Nafasnya terasa tercekik, dan emosi tersulut di otaknya..
“Dri lo dapat dari mana nih?” Tanya Yoyo dengan tatapan yang mengerikan ke arah Adrian..
“Haaah.. eh anu mas tadi ada yang nyebarin link gitu, aku buka ternyata ini mbak dinda tunangannya mas yoyo”
“Dri.. Aku minta tolong lo ngehandle ini dulu ya.. kerjain semampunya aja”
“Oh oke mas tenang aja...”
Yoyo pun berlari keluar kantor, ia harus segera mungkin menemui Adinda. Gadis itu pasti sedang terpukul dan ketakutan. Ia memang marah namun bukan pada Adinda, ia bersumpah jika sampai menemukan siapa dibalik penyebaran video itu. Maka orang itu akan habis . Mobil yoyo melesat cepat menuju tempat adinda, ia harus segera melihat gadis itu atau ia akan menjadi gila sekarang. Teleponnya pun terus di abaikan dinda.
Arghh.. dinda jangan bikin aku gila dinda. Kamu ga boleh sendirian...!! Kamu masih punya aku disini.
Yoyo memarkir mobilnya di sembarang tempat dan bergegas naik ke lantai 2 menuju kamar adinda. Ia tak peduli larangan bahwa pria tak boleh masuk kesini. Dengan tak sabar yoyo terus mengetuk kamar dinda, namun nihil tak ada respon apapun dari nya. Kepala yoyo kembali pusing, ia mulai merasa panik karena tak menemukan gadis ini.
“Mas yoyo...cari dinda?” Suara wanita di belakang yoyo membuatnya melihat siapa itu.
Oh dia sahabat Adinda..
“Eh iya Ann.. Kamu tau ga dinda kemana ?” Tanya Yoyo.
“Dinda tadi pergi mas, tapi ga jawab mau kemana” jawaban Anna semakin membuat rasa panik yoyo menjadi bertambah.
“Haaah?..astaga dinda...” Yoyo mengusap wajahnya frustasi.
“Mas yo, maaf sebelumnya tapi jangan marah ya sama dinda gara-gara video itu..” ucap gadis itu dengan wajah yang sama cemasnya seperti yoyo.
“Ga Ann, aku mana mungkin sanggup marah sama Adinda..tapi aku cari dia kemana coba”
Yoyo memegang kuat kepalanya, ia benar-benar tak mengetahui kemana dinda pergi. Gadis itu tak punya siapapun selain tantenya.
Astaga iya Tante Maria, kenapa dia lupa hal itu. Kenapa Yoyo tak mencoba menelponnya.
“Ann aku pergi ya.. Kamu tenang aja aku bakal nemuin dinda kok” ucap yoyo sambil berlalu..
Gadis itu hanya mengangguk sedih, ia pun sama khawatirnya dengan keadaan dinda sekarang.