Menjadi Tawanan Mafia
“Aku dimana?”
Kesadaran seorang wanita datang seperti ombak yang menghantam perlahan.
Kepalanya terasa berat. Saat membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit tinggi berwarna putih gading dengan lampu kristal yang memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan.
Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
Dan ia menyadari bahwa ini bukanlah di apartemen miliknya
Ia langsung menegakkan tubuhnya di atas ranjang besar yang terasa terlalu empuk untuk tempat asing yang tidak dikenalnya.
Pandangannya menyapu ruangan.
Tidak ada satu pun benda yang terasa familiar.
“Akhirnya, kau bangun juga.” Suara seorang pria seketika membuat tubuh wanita itu menegang seketika.
Ia menoleh cepat dengan napas yang tertahan.
Di sudut ruangan, seorang pria duduk dengan santai di kursi kulit hitam. Salah satu kakinya menyilang di atas lutut, sementara satu tangannya bertumpu di sandaran kursi.
Matanya menatap lurus ke arah wanita yang masih berada di atas ranjang.
Wanita itu Adalah Kyleena Freya.
Sebuah senyum smirk pun di perlihatkan pria itu, “Selamat datang di kehidupan Klan Wolfe.”
Darah Kyleena seakan berhenti mengalir.
“Tuan Tristan?” pekiknya.
Pria itu tersenyum tipis.
Senyuman yang tidak pernah benar-benar mencapai matanya.
Dan Kyleena merasa senyuman itu jauh lebih mengerikan daripada kemarahan.
Dihadapannya saat ini ada, Tristan Luciano.
CEO Wolfs De Corporation, bossnya.
Pria yang selama ini yang ia kenal sebagai pebisnis sukses dengan sifat dingin dan sulit ditebak.
Namun semalam… Kyleena langsung teringat.
Suara tembakan yang begitu keras, lalu setelahnya seorang pria langsung tergeletak dengan cairan merah yang mengalir deras membasahi trotoar.
Dan disana, ia melihat Tristan yang berdiri di tengah semuanya tanpa menunjukkan sedikit pun keterkejutan, dan kecurigaannya pada sebuah logo klan Wolfee, klan mafia yang Kyleena pikir hanya sebuah bualan, ternyata nyata?
Tubuh Kyleena langsung menegang ketika ia selesai mengingat kilasan itu
Tristan bangkit dari kursinya, dengan tenang ia melangkah ke arah Kyleena.
“Tak perlu khawatir, kau berada di tempat yang aman,” ucap Tristan dengan smirk tipis masih Kyleena lihat dengan jelas.
“Aman?” Kyleena menatapnya tak percaya.
“Kau menyebut ini aman?”
Jelas ini tidak aman, orang yang begitu berbahaya kini ada di hadapannya.
Ia segera turun dari ranjang.
“Aku harus pergi.”
Tristan hanya mengamati, tidak berusaha menghentikan atau menahannya.
Sikap tenangnya justru membuat Kyleena semakin tidak nyaman.
Ia bergegas menuju pintu, memutar gagangnya tapi sama sekali tidak bergerak, pintu itu terkunci.
Kyleena mencoba lagi, dan tetap sama pintu itu terkunci rapat.
Panik mulai merayapi dadanya.
Kyleena pun kini mulai mengetuk pintu, dari yang awalnya pelan hingga sampai ketukan yang keras.
“Hei! Apa ada orang diluar?”
“Tolong, aku!”
“Tolong buka pintunya!”
Tapi tak ada jawaban sedikit pun ataupun langkah kaki yang mendekat.
Hanya kesunyian yang Kyleena dengar dari luar.
Sementara di belakangnya kini terdengar suara langkah yang perlahan mendekat.
Kyleena berbalik.
Tristan berjalan santai dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepanikan.
“Percuma.”
Kyleena menatapnya tajam.
“Apa maksudmu?”
Tristan membuang pandangannya sejenak dan terdengar kekehan yang begitu samar, “Tak seorang pun akan membuka pintu itu.”
“Tentu saja ada, aku yakin ada orang diluar yang akan membantu---”
“Karena ini rumahku,” jawaban Tristan membuat Kyleena langsung terdiam seribu bahasa.
“Dan orang-orang di sini hanya mendengarkan perintahku.”
Rahang Kyleena mengeras.
Amarah mulai mengalahkan ketakutannya.
“Kau tidak berhak melakukan ini padaku!”
“Oh ya?”
“Kau ingin menculikku?!”
“Kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat,” ucap Tristan.
Seketika ruangan terasa semakin sunyi.
Kyleena mengepalkan tangannya, ia mengerti apa yang Tristan maksud.
Sementara Tristan, ia masih berdiri beberapa langkah darinya.
Tatapan pria itu tidak bergeser sedikit pun dari Kyleena.
Dan itu membuat Kyleena semakin muak.
“Aku tidak menyangka selama ini bekerja di perusahaan yang di dalamnya terlibat dengan sekelompok mafia sepertimu!” Suaranya mulai bergetar karena emosi.
Tristan menghela napas pendek.
Lalu melangkah mendekat, hingga jarak di antara mereka semakin sempit.
Kyleena menelan ludah.
“Baik, aku perkenalkan diriku lagi, Aku Tristan Luciano Wolfe.” Suaranya rendah.
“Tuan Luciano yang kau kenal di kantor hanyalah sebagian kecil dari diriku.”
Tatapan matanya mengeras.
“Dan bagian yang kau lihat semalam adalah bagian yang tidak pernah seharusnya diketahui orang luar.”
Kyleena berusaha mempertahankan keberaniannya, menghadapi seorang mafia, meski jantungnya berdetak semakin cepat.
“Aku tidak takut padamu!”
Tristan mengangkat sebelah alis.
“Benarkah?”
Kyleena membuka mulut.
Namun kata-katanya tertahan.
Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu itu bohong.
Ia saat ini begitu takut.
Ia melihat sendiri apa yang mampu dilakukan pria ini.
Dan kesadaran itu membuat seluruh situasi terasa jauh lebih nyata.
Tristan berhenti tepat di hadapannya.
Tatapan mereka bertemu.
“Kau sekarang mengetahui sesuatu yang bisa menghancurkan banyak orang.” Suara pria itu terdengar datar.
“Tidak semua orang yang berada dalam posisi seperti itu mendapatkan kesempatan kedua.”
Kyleena merasakan tenggorokannya mengering.
“Apa yang akan kau lakukan padaku?!”
Tristan terdiam beberapa detik.
Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
Senyuman yang sama sekali tidak menenangkan.
Ia hanya menatap Kyleena beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang jauh lebih rumit daripada pertanyaan itu sendiri.
Kemudian pria itu melangkah semakin dekat.
Justru ketenangan itulah yang membuat d**a Kyleena semakin sesak.
“Ada dua kemungkinan yang biasanya terjadi pada orang yang mengetahui keberadaanku.”
Kyleena menahan napas.
“Satu, mereka menghilang.” Suara Tristan terdengar datar.
“Bahkan tanpa meninggalkan jejak.”
Wajah Kyleena memucat.
“Kedua ….” Tristan melanjutkan. “Mereka tetap hidup.”
Harapan sempat muncul dalam diri Kyleena.
Namun hanya sesaat.
Karena sorot mata pria itu sama sekali tidak memberi rasa aman.
“Tapi hidup mereka tidak pernah kembali seperti sebelumnya.”
“A-apa maksudmu?”
“Maksudku, kau sudah melihat terlalu banyak malam itu.”
Kyleena menggeleng cepat.
“Aku tidak akan mengatakan apa pun.”
Tristan hanya mendecih, memangnya ia orang bodoh yang akan percaya dengan begitu mudah?
Kyleena menelan salivanya, “Tolong lepaskan aku.”
“Tidak.” Jawaban itu keluar tanpa keraguan.
“Kau tidak bisa menahanku di sini!”
“Aku bisa melakukan apapun.”
Kyleena menatapnya tak percaya.
Tristan mencondongkan tubuh sedikit ke depan hingga suaranya terdengar lebih rendah.
“Mulai malam ketika kau melihat apa yang terjadi di tempat itu, hidupmu berubah, Kyleena.”
“Mulai sekarang, kau berada di bawah pengawasanku sampai aku yakin tidak ada seorang pun yang bisa memanfaatkan keberadaanmu.”
Kedua mata Kyleena membulat, “Aku bukan tahananmu!”
“Boleh saja kau menyebutnya apa pun.”
Tatapan Tristan tidak bergeser sedikit pun.
“Tapi kau tetap tidak akan bisa meninggalkan tempatku ini!”
Dan kini menjadi tawanan adalah hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Kyleena Freya, wanita berusia 27 tahun.
Apalagi menjadi tawanan seorang pria yang ternyata menyembunyikan dunia gelap di balik senyum tipis dan jas mahal yang selalu dikenakannya.
Dan semua kesalahan itu dimulai dua bulan sebelumnya, hari dimana ia tak seharusnya mengenal perusahaan Wolfes De Corporation.