"Austin seberapa egoismenya mereka, dirimu tak perlu sekasar itu sampai-sampai mengancam segala, ingatlah ... mereka yang merawatmu dari kecil hingga sekarang. Memangnya, kamu bakalan realisasikan ancamanmu itu?" tanya Carmilla merotasikan matanya, menatap malas dengan Austin yang terus menatapnya pula.
"Wajar kalau seorang lelaki cepat emosi dan tadi aku benar-benar khilaf karena sangat jengah dengan paksaan mereka, kau mendengarnya sendiri bukan? Bahkan aktingmu berpura-pura menangis itu tak mempan, Nona manis, tapi bagaimana jika aku menghamilimu? Kau tidak akan rugi dan tidak perlu khawatir jika anak kita akan jelek nantinya, secara aku ini sangat tampan," jawab Austin kemudian memberikan tawaran yang tidak membantu sama sekali.
"Mulai lagi, mau seberapa tampannya dirimu aku takkan mau karena kau merupakan pria m***m yang ulung, bahkan diriku takkan ragu mengecapmu sebagai pria playboy sepanjang masa," balas Carmilla dan Austin tidak terima akan hal itu hingga mereka berdebat terus menerus sampai akhirnya Austinlah yang menyerah.
"Wanita memang sulit dimengerti, selain itu keras kepala pula," frustasi Austin dan Carmilla langsung tertawa.
"Kau tidak akan bisa mengalahkanku dari segi bersilat lidah!"
"Bersilat lidah? Maksudmu, lidah kita saling bertautan?"
Carmilla menyentil mulut Austin yang tidak bisa menahan ucapan mesumnya itu, padahal Carmilla tahu jika pria itu telah mengerti ucapannya. Namun, memang pada dasarnya Austin adalah orang yang jahil, pastinya memiliki ribuan kalimat untuk mengalihkan pembicaraan ke arah yang tidak diinginkan.
Kesimpulan dari permasalahan Austin dengan orang tuanya masih belum terpecahkan, Austin berusaha memikirkan cara yang lain untuk bisa membuat Schout dan Heyne mengerti bahwa dia tidak mau menikah dengan pilihan mereka, dia hanya ingin menikah dengan wanita pilihannya sendiri.
"Austin, kau belum membuang benda menjijikkan itu?" celetuk Carmilla tiba-tiba yang melihat beberapa bungkus pengaman yang berserakan di lantai, Carmilla yakin bahwa rahasia gelap Austin dalam hal bercinta masih terus dilakukan oleh pria itu.
"Kenapa kau tidak impoten saja agar kau kapok Tuan m***m, kamarmu pun kotor sekali, aku tidak yakin jika tidak ada serangga yang bersemayam di tempat ini." Carmilla mengimajinasikan para kecoak berkeliaran di tempat ini, bahkan hewan sejenis tikus pun kemungkinan besar ada.
"Jangan berpikiran ke mana-mana, ruanganku ini tak seburuk bayanganmu, lagipula tak ada bekas benihku di sana dan hanya pengaman saja bukan? Benda itu takkan membuatmu menjerit ketakutan, dan hei! Kau mendoakanku agar aku impoten? Aku pikir kau ingin merealisasikan rencana kita tadi?" ujar Austin dan Carmilla menatap sebal pria di depannya ini.
"Tidak akan pernah, Mr. Blade, kau harus tahu bahwa aku ini masih gadis dan wanita sepertiku sangatlah selektif menentukan siapa yang akan mendapatkan mahkotaku ini, paham bukan?" tanya balik Carmilla dan kini Austinlah yang menatapnya dengan malas.
"Kau tidak seru, kenapa kita tidak melakukannya saja? Hanya sekadar melepaskan penat, Carmilla."
"Lakukan ke wanita lain, memangnya aku ini wanita malam? Cari saja, banyak di club sana dan kau bebas memilih, yang sok polos ataupun agresif tersedia," balas Carmilla dan Austin terkekeh mendengarnya.
"Tapi yang kuinginkan adalah dirimu, Carmilla. Bagaimana kalau dirimulah yang menjadi istriku? Segala kenakalanku akan menghilang, aku janji akan hal itu."
"Aku tahu kau membual Mr. Blade, seseorang berubah bukan sekejap mata dan pertemuan kita itu baru-baru saja dan aku tidak akan percaya padamu, lagipula konyol sekali jika kita menikah agar kau tidak bersama orang yang dipilihkan," jawab Carmilla sebagai tanda bahwa dia tidak bisa membantunya lebih jauh lagi, Austin pun sadar akan hal itu, jika sudah seperti ini ... dia harus mencari cara lain yang lebih mutakhir untuk membuat mereka percaya.
"Austin, kenapa kau tidak mencoba bertemu dengan wanita itu? Kalian bisa berbicara serius dan saling memutuskan pendapat, kalau tidak cocok ya sudah, tinggal kalian bicarakan secara kekeluargaan, itu sangat mudah," ucap Carmilla. Namun Austin rasa itu akan percuma apabila sang wanita tak dapat menolak permintaan orang tuanya sendiri dan malah mengikut saja, ini semakin membuat Austin stress.
"Takkan membantu banyak Carmilla," balas Austin.
"Walau sedikit masih ada harapan bukan? Cobalah! Kau tinggal melakukan negosiasi kepada orang tuamu bahwa kau ingin bertemu dengan wanita pilihan mereka tapi untuk membicarakan suatu hal yang penting, jika wanita itu setuju kau katakan saja, 'aku akan mencoba' nah dan aku memberimu saran ketika kalian bertemu, kau beritahukan segalanya bahwa kau tidak mau menerima perjodohan konyol ini," balas Carmilla yang tidak mau kalah, jika memang Austin tidak mau, maka dia akan membuat pria itu semakin tidak mau.
"Kalau kau berhasil, aku sarankan dirimu menikah saja dengan Chloe karena kalian sangatlah serasi untuk menghancurkan sebuah rumah," lanjut Carmilla kemudian tertawa, membuat Austin menggelitikinya karena gemas.
"Untung aku baik, jika tidak, kau akan menjadi korbanku di kamar ini," ucap Austin dan Carmilla langsung menjerit, jeritannya dapat membuat Austin kapok dan segera menutup mulut gadis tersebut dengan tangannya.
"Kau bisa memecah gendang telingaku, aku hanya bercanda!"
"Kau tidak terlihat seperti itu, Mr. Blade!"
....
Shcout dan Heyne dibayang-bayangi oleh ancaman dari putra mereka sendiri, di mana Austin akan menghamili anak orang jika mereka masih saja kukuh untuk menjodohkan anak itu.
"Apa yang harus kita lakukan? Austin tidak pernah main-main jika dia marah seperti itu," tanya Heyne yang khawatir dengan kalimat Austin.
"Kita lihat saja pergerakannya, lagipula dia takkan menyesal jika telah mengenal wanita yang kita pilihkan," balas Schout yang masih kukuh dengan pendiriannya.
Heyne sebenarnya tidak akan memaksakan putranya, tapi dia harus mengikuti keputusan suaminya dan tidak boleh menentangnya. Kalau tidak, Schout akan marah besar.
Orang yang mereka bahas akhirnya keluar dari istana kerajaannya-kamar-Austin menghampiri Schout lalu mengatakan, "Aku akan bertemu dengan wanita itu untuk berbicara empat mata dan membahas perjodohan konyol ini, Dad, jika kami berdua memutuskan untuk tidak bersatu maka keputusan tersebut tak dapat dipungkiri lagi."
"Ayah yakin hal itu takkan terjadi, masing-masing dari kami sudah kukuh untuk menyatukan kalian, bukan karena bisnis, melainkan teman lama yang sudah mengidam-idamkan waktu ini, Nak, jangan kecewakan kami di hari pertemuan kita dengan keluarganya, untuk wanita itu ... sebenarnya ayah belum pernah melihatnya tapi ayah yakin, dia adalah wanita yang baik untukmu," balas Schout dan kalimat akhirnya membuat Austin ingin gila sekarang juga, ayahnya pun belum mengetahui bagaimana rupa wanita itu? Bahkan karakternya pun juga tidak diketahui, kenapa ayahnya senekat itu?
"Mom," panggil Austin yang ingin meminta penjelasan, tapi balasan dari Heyne, hanya gelengan semata lalu meninggalkan mereka berdua untuk menyusul suaminya yang pergi terlebih dahulu. Sementara Carmilla yang ada di samping Austin, pun tak habis pikir dengan pemikiran dua orang tua tersebut.
"Sepertinya ujianmu kali ini sangatlah berat, Austin," ucap Carmilla dan menepuk pundak Austin.
"Carmilla, akan kuhamili dirimu agar aku tak menikah dengan wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku akan menikahimu walau kau tak hamil karena mahkota yang kau jaga sampai sekarang ini, akan kau khususkan kepada suamimu, dan orang itu adalah aku, sebagai balas budi dari pertolonganku, kau harus menyanggupinya!"