12

1195 Kata
Carmilla akan tahu seperti ini akhirnya jika Chloe dan Austin bertemu, semua akan kacau balau karena si Austin otaknya yang begitu m***m, ditambah Chloe juga sama saja. "Terserah kalian saja," ucap Carmilla dan akhirnya duduk karena dia sadar sedari tadi terus berdiri dan merasa pantas jika kakinya sedikit pegal. Dengan mood yang kembali membaik, Austin mencoba untuk meminta tolong kepada Carmilla dengan masalah yang menimpanya. "Carmilla, aku membutuhkan bantuanmu, boleh?" tanya Austin. "Jangan sungkan Austin, kau telah menolongku sebelumnya dan kali ini aku akan membantumu sebisaku," jawab Carmilla. "Kemungkinan ini akan sangat memberatkanmu dan aku akan menyeritakan semuanya dari awal mengapa diriku menjadi stress hingga berada di cafe ini. Yah ... aku sedang me time, dengan adanya kalian tidak masalah bagiku, malah aku mendapatkan pencerahan untuk menyelesaikan masalah, di mana ... kau harus berpura-pura hamil agar ayahku tidak jadi membawa seorang wanita ke rumah untuk memperkenalkanku dengan wanita itu," ujar Austin, Carmilla benar-benar dilema, berpura-pura hamil? Ini sangatlah berat untuknya, sementara Chloe sendiri, dia ingin ikut membantu akan tetapi mendengar kalimat Austin, Chloe lebih baik diam saja. "Austin, bukannya aku tidak mau menolongmu, tapi berpura-pura hamil akan membohongi keluargamu, bagaimana jika mereka tahu yang sebenarnya setelah begitu percaya kepadamu? Mereka akan kecewa besar, Austin, pikirkan ini baik-baik, aku tak mau menjadi wanita yang menghancurkan keluarga seseorang," balas Carmilla. Austin dapat menebak jawaban itu karena memang ini adalah pilihan yang berat untuk Carmilla. Namun, ia harus mencoba, siapa tahu ada keajaiban, tapi mendengar jawaban dari gadis itu barusan, membuatnya menghela napas berat karena tidak tahu lagi harus mencari cara apa. "Kenapa tidak menjadi kekasih bohongan saja? Bukannya itu lebih baik di banding pura-pura hamil?" celetuk Chloe memberikan saran. "Aku tidak yakin jika mereka akan menerima alasan itu, ayahku sangat keras kepala untuk membuat kami berpisah," jawab Austin. Carmilla langsung memegang kedua pundak Austin dan meyakinkan pria itu untuk mencoba. "Kita tidak akan tahu bagaimana hasil akhirnya, tetapi kita patut untuk mencoba dari dua jawaban yang berkemungkinan, antara lain, berhasil dan tidak," ucap Carmilla, menatap Austin dengan serius, dia tidak akan main-main jika seseorang membutuhkan bantuannya, apalagi orang itu telah menolongnya tanpa pamrih. "Austin, aku akan marah bila kau tidak menerima pertolonganku ini, sampai kapan pun aku akan sulit melunasinya, mengingat dirimu yang menolongku dengan suka rela, aku rasa ... di balik sifat m***m dan menjengkelkanmu, aku tetap terpukau dengan sikapmu yang satu itu," ujar Carmilla semakin meyakinkan Austin dan akhirnya berhasil. "Baiklah, kalau begitu kita langsung ke rumahku karena keluargaku kebetulan masih berada di sana dan kuharap dirimu jangan merasa gugup ataupun takut, karena aku selalu ada di sampingmu, Carmilla," balas Austin dan Carmilla mengangguk. "Sepertinya aku tidak berperan besar di sini, aku akan pulang dan kutitip sahabatku kepadamu Mr. Blade," pamit Chloe. "Maaf Chloe, a-" "Aku mengerti, jangan meminta maaf Carmilla, karena aku paham situasi sekarang ini, bantulah Austin karena dia membutuhkanmu sekarang, ingat ... jangan pernah mengecewakannya, okey?" potong Chloe sembari tersenyum agar Carmilla tidak merasa bersalah dengannya. "Hati-hati, Chloe." Chloe menaikkan jempolnya kemudian meninggalkan mereka, Chloe telah puas berkenalan dengan Mr. Blade, rasa penasarannya akhirnya lenyap juga dan satu hal yang dia tangkap dari Austin yaitu: pria nakal yang menggoda. Austin dan Carmilla pun pergi, menuju ke lokasi yang terdapat orang tua Austin untuk meyakinkan mereka bahwa Austin tidak bisa menerima perjodohan yang menurutnya konyol itu. "Aku heran, ternyata di zaman sekarang perjodohan itu masih ada, padahal di umur 18 tahun bukannya kita sudah dilepaskan untuk mandiri? Terutama bagi kalian para laki-laki," tanya Carmilla. "Aku juga heran akan hal itu, Carmilla, maka di rumahku nanti, segala kejadian yang tidak pernah kita bayangkan bisa saja terjadi, persiapkan dirimu," balas Austin dan Carmilla hanya menurut saja karena dia juga tidak tahu pasti, apa maksud dari perkataan pria di sampingnya ini. Schout Blade dan Heyne Blade, merupakan ayah dan ibu Austin yang kini melihat putranya bersama seorang wanita yang terus menunduk, tak berani menatap keduanya. "Jangan bilang dia kekasihmu," ucap Schout ketika melihat anaknya baru saja tiba, kecurigaan Schout juga sama dengan Heyne. "Ibu yakin dia bukanlah kekasihmu, Austin, kau pasti memaksa ataupun meminta bantuannya bukan?" tanya Heyne yang curiga, segala alasan yang diberikan oleh seorang anak kepada orang tuanya, tentu mudah ditebak oleh Heyne secara langsung, tapi dia tetap ingin memastikannya terlebih dahulu, karena tidak selalunya tebakan akan benar. "Itu cara yang tidak etis, apakah seorang anak harus memperkenalkan kekasihnya setiap kepada orang tuanya agar mereka yakin? Kurasa itu tidak perlu dan aku bukanlah orang yang terburu-buru, Mom. Lagipula kekasihku ini pemalu, dan memang aku memaksanya untuk datang ke sini, tapi bukan untuk berpura-pura menjadi kekasihku, tapi memang inilah saatnya aku memberitahu kalian bahwa ada hati yang kujaga, dan ini adalah alasan terkuat untukku menolak perjodohan konyol itu, Mom," balas Austin panjang lebar, aktingnya seolah-olah nyata tanpa meninggalkan keraguan di sana, adrenalin Carmilla pun menjadi naik dan secara refleks Carmilla mengikuti permainan Austin. "A-apakah itu benar kalau Austin ingin menikah dengan wanita pilihan kalian?" Suara Carmilla bergetar tak karuan, pelupuk matanya telah berlinang dan memberanikan diri untuk menatap kedua orang tua Austin tanpa ragu sedikit pun, hal apa yang membuat Carmilla tiba-tiba seperti ini? Karena keyakinan, serta rasa tulus dan rasa terima kasihnya ketika Austin benar-benar menolongnya dari kejaran p****************g pada kemarin lalu. Schout dan Heyne tak terpengaruh sama sekali, keputusan mereka tak dapat digoyahkan dengan alasan apa pun. "Putuskan Austin sekarang juga, Nak. Dirimu cantik dan banyak pria lain yang menantimu," balas Hyne yang menjadi kalimat yang tak terduga untuk Austin dan Carmilla. Carmilla segera memutar pikirannya, mencari cara mutakhir untuk membuat keduanya mengurungkan niat agar Austin tak menikah dengan wanita pilihan mereka. "Saya tidak bisa, saya mencintai Austin, begitupun sebaliknya, banyak waktu yang kami lalui bersama, Austin benar-benar menghargaiku sebagai wanita, memerlakukanku bagaikan ratu dan aku pun tak ragu menganggapnya sebagai seorang raja, tidakkah kalian mengerti perasaan kami?" tanya Carmilla. "Kami sebagai orang tua lebih berhak memutuskan sesuatu untuk kebaikan Austin, mau sebagaimana baiknya Austin padamu, kami takkan peduli, keputusan tak dapat diganggu gugat gadis muda, putuskan putra kami sekarang juga!" jawab Heyne tetap pada pendiriannya. Austin semakin frustasi mendengar ucapan Heyne, sampai-sampai dia kelepasan emosi, "Tidakkah kalian mengerti? Jangan membuatku pusing seperti ini, biarkan aku menentukan pilihanku sendiri, aku bukan anak kecil lagi yang harus kalian atur, jika ayah dan ibu masih saja egois, baiklah ... jangan terkejut jika kalian mendengar berita buruk, di mana aku membunuh istriku sendiri, lalu membawa mayatnya di hadapan kalian dan di hadapan keluarganya!" ancam Austin di luar dugaan Carmilla, Schout, dan Heyne. "Austin, apa kau gila?!" bentak Schout. "Yah, aku gila, sampai-sampai aku akan menghamili kekasihku sendiri di hadapan wanita pilihan kalian dan memilih untuk kabur dan merasa jijik kepadaku, Ayah." Austin memejamkan matanya, dia sudah sangat kasar dan ini pertama kalinya untuk dia bersikap seperti ini, mengapa? Sikap kasar ini tumbuh secara naluri akibat keegoisan mereka berdua, tanpa memikirkan perasaannya sama sekali dan Austin benci akan hal itu. "Maaf, Ayah, persetan dengan wanita pilihan kalian, satu hal yang akan menjadi peringatan dariku, jika ayah dan ibu masih kukuh untuk menjodohkanku, sembilan bulan ke depan kalian akan mendengar tangisan cucu kalian," tutup Austin kemudian membawa Carmilla ke kamarnya lalu mengunci pintu dan masuk ke ruangan rahasia agar tidak mendengar suara gangguan di luar sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN