11

1120 Kata
Paksaan dan rengekan dari Chloe membuat Carmilla harus menuruti keinginan sahabatnya itu, kalau tidak ... Chloe akan terus melakukannya sampai dia benar-benar malu di depan umum. "Baiklah, kita akan bertemu dengannya, tapi satu permintaanku Chloe, jangan merengek seperti itu, usiamu sudah tidak cocok lagi," ucap Carmilla dan Chloe tak peduli dengan kalimat itu, yang penting ... dia tahu bagaimana rupa, bentuk tubuh si Mr. Blade, apakah mampu memacu adrenalinnya atau tidak? "Aku tak dapat membayangkan, seberapa nakalnya Mr. Blade itu, Carmilla." "Yah dan yah, kalian sama-sama nakal, sepertinya cocok untuk membuat suatu rumah berantakan," balas Carmilla dengan nada malas, sementara Chloe menggumam tidak jelas, lebih tepatnya menggerutu. "Ngomong-ngomong, kita berangkat nanti sore saja, diriku harus pulang dulu, Chloe, nanti ayahku marah-marah karena aku tidak pulang dari semalaman." "Bukannya kau sudah mendapatkan izin?" tanya Chloe. "Tentu. Namun bukan berarti aku harus berlama-lama bukan? Sebaiknya antar aku cepat!" jawab Carmilla dan Chloe mendecak sebal kemudian membalas, "Baiklah Nyonya penyuruh yang menyebalkan." ... Mr. Blade, hari ini dia sangat malas untuk mengikuti kelas komunikasi karena memiliki dosen yang super ribet dan tidak mau diajak berkompromi agar meringankan setiap tugas yang dia berikan, maka dari itu, Austin memilih untuk bolos karena mood-nya benar-benar buruk hari ini, di mana ayahnya tiba-tiba datang dan menyuruhnya untuk menikah dengan seorang wanita, tentu Austin menolak keras akan hal itu, dia benci perjodohan dan di zaman sekarang, hal tersebut sudah tidak berlaku lagi. "Mood-ku benar-benar hancur hari ini, double s**t!" umpatnya yang ingin meninju kaca, tapi dia sayang dengan tangannya. Di mana pria itu berada? Dia sedang menyendiri di cafe, lebih tepatnya untuk me time dan melepaskan segala ke-stress-san yang melanda. Tak terduga, Austin memikirkan Carmilla karena mengingat kejadian tempo lalu yang dirinya bertemu dengan gadis tersebut di situasi yang tak pernah ia sangka. "Jika diriku tidak keluar pada saat itu? Kira-kira, kepada siapa dia meminta pertolongan?" pikir Austin, pria itu mulai berimajinasi mengenai Carmilla yang berteriak dan berhasil memancing perhatian orang-orang untuk menolongnya. Akan tetapi, apakah ada? Karena posisi Carmilla telah dibeli oleh pria yang memberinya 5000 dollar. "Hm, tak ada yang berani karena itu bukan urusan mereka lagi," gumam Austin kemudian menyesap rokoknya. "Hei, berhenti merokok! Kau tidak melihat di sekitarmu terdapat anak-anak, Tuan?" Austin melirik pria yang menegurnya dan dia segera melenyapkan asap rokok tersebut dan membuang puntungnya. "Maaf." "Lain kali, perhatikan di sekitarmu, Bung!" Austin menghela napas, di otaknya banyak sekali pikiran yang membuatnya sedikit pusing, apakah dia harus melakukan s*x bersama wanita lain untuk menghilangkan stress-nya? Tidak! Austin khawatir jika dia kelepasan, walau di luar sana, banyak yang namanya pengaman. Dering ponsel mengalihkan perhatian Austin, wanita yang dia pikirkan tadi, meneleponnya sekarang ini. Halo, Nona manis. Hal apa yang membuatmu meneleponku? Kau merindukanku? (Austin tertawa kecil kemudian, di pembukaan ini dia sedikit senang menggoda Carmilla) Mulai lagi, aku hanya ingin bertemu denganmu tapi jangan percaya diri dulu karena ini adalah paksaan temanku agar kalian saling mengenal. (Carmilla) Oh, yah? Apakah dia wanita? (Austin) Tentu saja. (Carmilla) Ah, pas sekali, aku membutuhkan klimaks hari ini, karena aku benar-benar stress, aku butuh kenikmatan. (Austin memberikan nada sensual, membuat Carmilla mual di seberang telepon kemudian menggeram dan mengancam pria tersebut.) Jangan berani-berani Austin, atau cacingmu itu akan menghilang dalam sekejap mata akibat gunting rumput milik ayahku. (Carmilla) Aku hanya bercanda sayang, kau kurang mengasyikkan hari ini dan kebetulan pula diriku berada di cafe, aku akan memberikan lokasinya, apa kau setuju bertemu di tempat ini? (Austin) Baiklah, aku setuju. Sampai jumpa, Mr. Blade. (Carmilla) Sampai jumpa. (Austin) Austin senang sekali jika Carmilla akan datang menemuinya bersama dengan teman wanitanya, dia juga penasaran, mengapa teman Carmilla ingin berkenalan dengannya dan di sinilah Austin mulai berpikir, apakah Carmilla mengatakan bahwa dia sangatlah tampan sehingga temannya penasaran? Austin tersenyum sendiri lalu tertawa kecil. "Aku tak sabar menanti kedatangan mereka," gumam Austin. Setidaknya, rasa pening di kepala pria itu sedikit mereda akibat Carmilla. Di tempat lain, Carmilla menunggu Chloe yang sangat lama berdandan, padahal mereka hanya ingin bertemu dengan Austin. "Chloe kau terlalu berlebihan, pria m***m itu akan menyulik dan memerkosamu jika kau terlalu cantik, awas saja, jangan menyesal jika dia terus menggodamu, aku takkan membela dan hanya ikut menyaksikan bagaimana dia menyiksamu," ujar Carmilla karena sudah kesal dengan temannya yang sedang bergincu. "Kau kejam sekali, tunggulah sebentar, nanti khiasan di bibirku ini meleset, itu akan mempengaruhi level ciuman kami," balas Chloe yang membuat Carmilla begitu tidak mengerti, mengapa dia memiliki sahabat wanita yang m***m dan overheat otaknya? "Jangan menjadi gila karena selalu berimajinasi kotor, Chloe," balas Carmilla tapi Chloe tak peduli, selesai dengan semua riasan yang dia anggap sebagai karya seni terbaik, Chloe bergaya di depan cermin terlebih dahulu kemudian cepat-cepat menyusul Carmilla agar sahabatnya tidak bertambah emosi. "Maafkan aku yang sedikit lama, kita berkhias tidak boleh setengah-setengah, harus tampil maksimal cantiknya," ucap Chloe. "Aku tak peduli, jangan heran jika mood Mr. Blade itu akan memburuk hanya karena dirimu yang lama, Chloe." "Tidak akan setelah melihat bidadari berwujud manusia ini, tenang saja." Keduanya segera berangkat dan berhasil bertemu dengan Austin yang sedang bermain game sembari menunggu mereka berdua. Saat Carmilla menyapa, Chloe merasa sebal karena pria tampan yang berhasil membuatnya terpukau, sedikit pun tak meliriknya. Karena hal itu, Chloe menyenggol Carmila agar dia peka bahwa dirinya juga ada di tengah-tengah mereka. "Austin, inilah yang kumaksud, dia ingin sekali berkenalan denganmu, namanya Chloe, sahabatku," ucap Carmilla dan sedikit ketawa karena baru sadar bahwa Chloe juga ada di sini. "Chloe." "Austin. Senang berkenalan denganmu, Nona. Kebetulan dirimu adalah sahabatnya, aku ingin bertanya tentang Carmilla, bahwa apa saja yang dia sukai dan tidak sukai?" balas Austin dan melayangkan pertanyaan. Chloe mengembuskan napas, dia pikir pria yang bernama Austin ini akan bertanya banyak hal tentangnya, tapi ternyata tidak, walau Chloe menyadari bahwa Austin ini memang tertarik dengan Carmilla. "Hal yang Carmilla tidak sukai adalah boneka, dia memang aneh, tapi yang paling dia sukai adalah celana dalam laki-laki," balas Chloe dan membuat Austin terkejut, sama halnya dengan Carmilla yang langsung membulatkan mata. Chloe menahan tawanya setengah mati, ini adalah bentuk pembalasan karena rasa kesalnya akibat Carmilla yang sibuk sendiri bersama pria tampan itu. "Ah, benarkah? Kalau begitu, aku akan memberikannya celana dalam sebagai hari kasih sayang," balas Austin dengan antusias penuh. "Chloe berhentilah mengawur dan Austin, tidak perlu memberikan celana dalammu itu padaku, berikan saja pada wanita lain atau Chloe sendiri, karena sepertinya dia penasaran dengan ukuran celana dalammu itu, saking penasarannya sampai-sampai menuduhku padahal dia yang menyukai benda itu," ujar Carmilla dan Chloe-lah yang melototkan matanya ke arah Carmilla. "Hei, itu tidak benar." Melihat kondisi yang semakin seru, Austin langsung menyeletuk, "Baiklah, tidak perlu meributkan celana dalamku, aku tahu kalian sama-sama penasaran dengan ukurannya, tapi ... ukuran mana dulu? Pakaiannya kah atau isinya?" tanya Austin dengan alis yang dinaikturunkan. ♤♤♤ Jangan lupa tap love yah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN