Kyler tetaplah waras untuk tidak membunuh Raymond, terkaparnya dan tidak sadarnya pria itu membuat Kyler harus menghentikan aksinya. Sedikit rasa kasihan tak dapat ditampik olehnya karena rasa persahabatan di antara mereka masihlah tersisa.
"Aku mengampunimu Raymond, aku sadar ... walaupun aku tetap membunuhmu nanti, Carmilla takkan mau kembali kepadaku, kegilaan ini telah merenggut emosiku dan beruntunglah dirimu masih mendapatkan ampunanku, Raymond, karena perlu kau tahu, aku masih menyayangimu sebagai seorang sahabat, walau di sisi lain, terdapat kebencian yang mendalam," ujar Kyler kemudian membopong pria itu untuk membawanya pulang.
Kyler memang aneh, emosinya selalu berubah dengan cepat, contoh seperti kejadian tadi yang membuatnya tidak jadi untuk membunuh Raymond.
Jika orang-orang akan menganggap Raymond akan dipulangkan ke rumahnya, tentu saja tidak! Karena Kyler sendiri yang akan mengobati pria itu, dia semakin tidak tega ketika wajah Raymond yang babak belur.
"Sudah berapa kali kau merepotkanku sialan? Namun tetap saja aku takkan tega meninggalkanmu sebagai seorang teman, satu keburukanmu takkan menghapus beribu kebaikanmu kepadaku Raymond, aku yang melukaimu akan menyembukanmu pula," gumam Kyler ketika sedikit kesulitan membawa Raymond ke dalam rumahnya.
Seorang pria yang telah berumur 18 tahun ke atas, sudah sepatutnya untuk menjadi mandiri dan mencari uang sendiri, itulah yang ada dalam pikiran Kyler sendiri. Jadi, dia tidak akan dimarahi oleh ibunya setiap dirinya membuat kesalahan karena mereka tidak akan tahu kejadian ini.
Pertama-tama, Kyler membersihkan luka Raymond terlebih dahulu lalu membalutinya dengan obat.
"Huft, kuharap kau berterima kasih pada esok hari, Raymond, dan sepertinya kau benar-benar terlelap karena pukulanku, kalau begitu, sampai jumpa di esok hari, kuharap kau tak membunuhku jika dirimu telah sadar," ucap Kyler lalu menghela napas kasar, sebelum meninggalkan Raymond yang terlelap di sofa panjang.
...
Sekujur tubuh Raymond merasakan sakit yang bukan main, pria itu masih mengingat betapa membabi butanya Kyler menghajar dirinya. Namun ketika Raymond sadarkan diri? Dia mengenali tempat ini, yah ... di rumah Kyler.
"Apakah pria itu membawaku ke sini?" tanyanya sendiri dan sedikit merasakan sesuatu yang menempel diwajahnya, yaitu beberapa kapas, dengan benda itu, Raymond semakin yakin bahwa Kyler-lah yang mengobatinya.
"Bisa-bisanya dia masih peduli padaku, walau aku telah membuatnya marah besar," ucap Raymond, dia pun beranjak dari sofa dan memaksakan diri untuk mencari pria itu.
Setelah menemukannya di kasur, Raymond menepuk pelan pundak Kyler.
"Hai Kyler, bangunlah, apakah diriku masih pantas untuk kau sebut sebagai sahabat? Aku benar-benar menyesal karena telah membuat hubungan kalian menjadi hancur, aku takkan mau mengulanginya lagi," kapok Raymond, dia benar-benar menyadari bahwa sulit mendapatkan teman seperti Kyler ini.
Beberapa kali tepukan dari pria itu, akhirnya Kyler terbangun dari lelap tidurnya.
"Raymond? Aku pikir diriku takkan bangun jika kau berniat untuk membunuhku setelah diriku membuatmu terkapar semalam," ucap Kyler dan Raymond terkekeh dan langsung meringis kesakitan karena pipinya yang sedikit tertarik akibat ketawa kecilnya.
"Tidak mungkin sialan! Aku takkan setega itu, dan aku sangat merasa bersalah, Kyler. Aku benar-benar menyesal, percayalah, aku tak main-main dengan kalimatku ini, aku takkan mau mengulanginya lagi dan menciptakan masalah baru!" balas Raymond dengan segala ke-frustasiannya setelah mengingat hal bodoh yang ia lakukan kemarin.
"Carmilla, bahkan sampai Chloe sendiri menjadi benci padamu gara-gara aku, aku akan berusaha sebisa mungkin agar hubungan kalian utuh kembali dan menghapus perasaanku kepada Carmilla sepenuhnya," lanjut Raymond.
"Mustahil jika itu terjadi secara instan, bodoh! Kita bisa mencintai dalam sekejap mata, tapi tidak untuk melepas begitu saja, Raymond, percayalah dengan kalimatku ini, lakukanlah secara perlahan dan terus mengingat masa lalu sebagai pembelajaran, dan aku akan mendapatkan hasil yang sesungguhnya," balas Kyler, merasa konyol dengan ucapan Raymond yang ingin melupakan Carmilla dengan cepat, dia sendiri sebagai mantan kekasih, rasanya sangat berat untuk melepaskan gadis itu, dia sendiri tidak yakin untuk tidak berinisiatif untuk membuat Carmilla takluk pada dirinya lagi.
"Yah ... akan kucoba dengan pelan, tapi sebelum itu, aku sangat berharap kau memaafkanku dan kembali ingin menjadi sahabatku, Kyler atau kau ingin melihatku menangis jika menolak permintaan ini."
"Menjijikkan! Kau laki-laki sialan, berhenti mengeluh selayaknya wanita, intinya, kau harus berusaha sendiri dan mencari cara agar aku memaafkanmu!" balas Kyler, bukannya dia tenang di pagi ini, malah emosinya semakin memuncak karena Raymond, satu hal yang perlu kalian ketahui tentang pria itu, Raymond sangatlah menyebalkan karena sifat manjanya yang terkadang kumat di waktu yang tidak diinginkan, uniknya ... hanya berlaku kepada orang terdekat Raymond, tak peduli mau wanita ataupun pria.
"Baiklah, Tuan emosian. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Carmilla dan Chloe? Kita juga harus mendapatkan kalimat damai dari mereka, Kyler."
Kyler langsung memikirkan Carmilla, yang dikatakan Raymond benar, dia harus mendapatkan maaf dari Carmilla secara jelas, agar pikirannya tak lagi dihantui oleh perasaan bersalah. Namun, apakah dia harus ke rumah Carmilla?
Orang yang dipikirkan Kyler dan Raymond, berada di rumah Chloe dan sementara ingin pulang untuk kembali ke rumahnya.
"Chloe, terima kasih banyak untuk semuanya dan juga tumpangan yang membuatku harus merepotkanmu lagi," ucap Carmilla tak enak hati, tapi Chloe merasa tidak masalah, mereka sudah sahabat, memang semestinya untuk saling merasakan suka dan duka.
"Hei, berapa kali harus kukatakan bahwa jangan selalu merasa tidak enak hati, ingat! Aku adalah sahabatmu, ketika kau membutuhkan pertolongan aku akan datang, dan begitupun sebaliknya. Akan tetapi ... aku sedikit penasaran dengan pria yang menolongmu pada kemarin lalu, Carmilla, bagaimana rupanya? Apakah tampan?" Setelah membahas perihal ketidakenakan Carmilla, Chloe ingin mencari kesempatan untuk mencari tau, bagaimana wajah Mr. Blade itu?
"Dia tampan tapi lebih m***m dari Kyler dan Raymond, dia lebih berbahaya Chloe, kusarankan untuk tidak bertemu dengannya atau kau harus tambah gila lagi dan membuatku menahan malu lebih besar di kampus," jawab Carmilla dan Chloe langsung menampik ucapan sahabatnya.
"Hei, mana ada aku gila, kau takkan malu jika punya sahabat sepertiku, jika iya, mana buktinya?" tantang Chloe.
"Dulu ada pria tampan yang membuatmu tergila-gila, kau sampai mengorbankan namaku untuk berkenalan dengannya, kau ingat kejadian itu bukan?" tanya Carmilla dan Chloe mengangguk-angguk.
"Bukannya berkenalan, kau malah mempermalukanku karena mengatakan bahwa aku menyukainya, padahal tidak, karena kejadian itu, aku bertengkar dengan Kyler karena kesalahpahaman, dan ada tambahan lagi, di mana kau mencuri kue di kantin dan akulah yang harus bertanggung jawab untuk membayarnya." Segala penjelasan dari Carmilla membuat Chloe terkekeh sambil menggaruk tengkuknya, Chloe segera mengakhiri pembicaraan dengan kalimat untuk mengantar Carmilla lebih cepat yang disebabkan khawatirnya wanita itu terhadap Tante Margaretta yang akan mencari Carmilla.
"Aku tahu itu alasanmu untuk menghindar, Chloe."