Mendengar suara parau Kyler, membuat Carmilla merinding, bayangan dari suara para pria yang telah membelinya semalam membuat kebencian pada diri Carmilla bangkit begitu saja.
Carmilla langsung mendorong Kyler dengan kasar kemudian mengatakan, "Jangan harap pria sialan! Aku membencimu," ucap Carmilla kemudian meninggalkan Kyler dan menuju di mana Chloe berada, Carmilla merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan emosi, kejadian semalam telah membuatnya trauma dan semakin takut secara tidak sadar.
"Carmilla!" teriak Kyler. Pria itu menyusuli Carmilla di suatu ruangan, ketika Kyler berhasil menyusul gadis tersebut, dia melihat Carmilla tengah memeluk Chloe dengan tubuh yang bergetar.
"Hei, jangan takut Carmilla, ada apa dengan dirimu? Tenanglah, aku ada di sini," ucap Chloe, mengusap punggung sahabatnya.
"Ti-tidak bisa, aku tak bisa menjalankan rencana kita, aku terlalu takut padanya, bayangan semalam semakin menggerogoti pikiranku Chloe, aku sangat takut di sini," jawab Carmilla.
"Car-Carmilla, apa yang terjadi?" tanya Kyler. Chloe yang menyadari keberadaan pria itu langsung emosi dan menatapnya penuh dengan kebencian.
"Hei, ini semua karenamu dan kau bertanya atas apa yang terjadi? Sebenarnya, seberapa brengseknya kau bersama sahabatmu yang bernama Raymond itu? Kalian merupakan dua orang yang gila, di satu sisi rela menjual kekasihnya sendiri, sementara yang satunya lagi ada pula yang ingin merebut kekasih sahabatnya tanpa merasa malu sama sekali, kau harus tahu bahwa Raymond dengan senang hati menerima ajakan Carmilla untuk melepaskan segala beban pikiran temanku ini!" ujar Chloe dan mengungkap niatan Raymond yang membuat Kyler tidak percaya.
"Raymond memang menyukai Carmilla, tapi dia tak akan setega itu, Chloe!" bela Kyler.
"Cih, omong kosong! Kenapa kau membelanya? Memang jika tidak percaya, mari kita buktikan!"
"Carmilla, aku harus mengambil ponselmu untuk menelepon si Raymond agar pria sialan ini percaya bahwa sahabatnya merupakan pengkhianat!"
Chloe mengambil ponsel Carmila dan menghubungi Raymond, tanpa menunggu lama, Raymond menjawab teleponnya dan mendengar pertanyaan pria itu, "Ada apa, sayang? Belum jam 9 atau kau berubah pikiran untuk mengubah jadwal pertemuan kita? Aku tidak menyangka jika kau tak sesabaran itu untuk bersenang-senang denganku."
Lengkaplah sudah, Chloe rasa ini sudah cukup untuk menghancurkan kedua orang itu tanpa repot harus bersifat selayaknya jalang malam ini.
"Raymond, aku adalah Chloe sahabat Carmilla. Carmilla sedang mabuk sekarang ini dan kau harus datang segera untuk membawanya pulang, karena aku sedikit kesulitan untuk membopongnya!" balas Chloe dengan nada panik yang dibuat-buat lalu memutuskan telepon begitu saja, kemudian menatap senyum kepuasannya terhadap Kyler yang telah emosi.
"Apa yang aku katakan benar bukan? Sebelumnya, aku dan Carmilla berencana untuk mempertemukan kalian berdua di club ini agar permasalahan kalian selesai, sekaligus Carmilla ingin mengatakan pula bahwa kalian tidak perlu mengganggu kehidupannya lagi," pungkas Chloe.
"Carmilla aku sangat meminta maaf atas perbuatanku semalam, aku tahu kau takkan mudah melakukan itu, tapi kumohon ... jangan membenciku dan aku takkan mengganggu kehidupanmu lagi," ucap Kyler memohon kepada Carmilla, pria itu pun menghampiri Carmilla tapi Carmilla memberikan respon yang tidak terduga.
"Persetan! Aku tak peduli dengan pria b******k sepertimu, Kyler."
"Carmilla."
"Berhenti menyebut namaku, aku akan pergi dan jangan menggangguku lagi! Terima kasih telah membuatku seperti ini, setidaknya aku mendapatkan teman baru di balik penderitaan yang menerpaku pada tadi malam." Carmilla menarik lengan Chloe dan segera pergi dari tempat tersebut, meninggalkan Kyler yang hanya berdiam diri di sana, dengan segala emosi yang hampir meluap.
"Raymond, semuanya karenamu sialan!" teriak Kyler, malam ini dia akan membuat pesta darah di club, tentu saja darah milik Raymond yang akan mengkhiasi ruangan ini.
Carmilla sendiri memutuskan untuk tinggal di rumah Chloe hari ini, dia takkan mungkin pulang dengan keadaan seperti itu, dirinya segera menelepon sang ibu untuk memberikan informasi bahwa dirinya bermalam di rumah Chloe untuk menyelesaikan tugas kuliah yang menumpuk.
"Maaf, Mom. Aku terpaksa membohongimu," gumam Carmilla.
Rasa bersalah Carmilla bukan hanya terletak pada mamahnya, tapi kepada Chloe sendiri karena dia menghancurkan rencana mereka dengan cepat.
"Chloe, maafkan aku, aku lemah dan tak bisa diajak untuk bekerja sama, a-aku tidak tahu harus berbuat apa tadi, tiba-tiba bayangan yang mengerikan itu menerpa pikiranku begitu saja, bahkan suara dari p****************g yang semalam, selalu terngiang-ngiang untuk memerkosaku."
Chloe menggelengkan kepalanya, dia tentu memaafkan temannya ini dan tidak akan memarahi Carmilla, karena dia paham trauma berat yang dialaminya tidak patut diremehkan.
"Carmilla, jangan khawatir, bahkan karena aksimu tadi, kita tidak perlu repot untuk membuatnya terangsang dan terjebak di sana, dengan memprovokasi keduanya, aku yakin di club itu terjadi keributan di malam ini," balas Chloe.
"Benarkah?"
"Benar, kau tidak melihat seberapa sabarnya Kyler menahan emosinya karena mendengar suara Raymond? Yah ... dengan jelas Raymond ingin mengajakmu bersenang-senang di club itu, dan loudspeaker yang menggema, berhasil membuat Kyler mendengar semuanya, dan kau harus tahu betapa puasnya diriku membuat pria itu menahan emosi yang sudah meluap di ubun-ubunnya," jawab Chloe dan Carmilla ngeri mendengarnya, apalagi membayangkan Kyler dan Raymond akan bertengkar di sana, tentu kekacauan takkan bisa terhindari.
"Kita tinggal menunggu berita pada esok hari," ucap Chloe dan Carmilla sangat menanti berita tersebut.
Kembali ke club ....
Raymond telah sampai di sana, mencari keberadaan Carmilla dan Chloe, ketika salah satu bartender bertanya, "Tuan mencari siapa? Apakah gadis yang bernama Carmilla?" tanya Bartender tersebut dan Raymond mengangguk, sang bartender segera memberikan petunjuk ke arah ruangan yang di mana Kyler sedang menunggu kedatangan pria itu, karena sebelum Raymond benar-benar tiba, Kyler meminta bantuan kepada bartender untuk ikut menjebak Raymond dengan berupa bayaran agar pria itu mau membantunya.
"Terima kasih banyak."
"Sama-sama, Tuan," balas bartender tersebut kemudian mengucapkan maaf dengan rasa penuh bersalah ketika Raymond telah pergi.
"Hm, kalau tidak salah, Carmilla ada di sini," gumam Raymond kemudiam membuka pintu tersebut, ketika dia melihat ruangan itu, Raymond benar-benar berusaha mencari keberadaan Carmilla karena yang ia tempati sekarang sangatlah minim cahaya.
Tiba-tiba, dari arah samping, Raymond mendapatkan bogeman mentah dari Kyler.
"Hei, sobat. Terkejut karena akulah yang ada di sini?" tanya Kyler ketika Raymond tersungkur, Raymond berusaha untuk bangkit, tetapi dadanya diinjak oleh Kyler begitu keras hingga membuatnya terbatuk.
"Ke mana Carmilla?"
"Kau menanyakan Carmilla? Semenara kau berhadapan denganku sekarang, kau berani sekali, Raymond!" geram Kyler, melihat keadaan Raymond yang sulit bergerak, Kyler mencengkeram kerah baju pria tersebut sampai Raymond bisa berdiri.
"Apa maksudmu untuk menemuinya di sini dan ingin mengajaknya bersenang-senang? Apa kau lupa bahwa Carmilla memiliki hubungan spesialku denganku sebelumnya?" tanya Kyler.
"Apanya yang salah? Bukankah hubungan kalian su-sudah berakhir?" tanya Raymond kemudian terbatuk kembali, tapi kali ini darah membekas di bibirnya.
"Cih, kaulah penyebab dari berakhirnya hubunganku itu Raymond, dan sekarang, kau telah membuatku gila, gila ingin membunuhmu malam ini," bisik Kyler kemudian melayangkan kembali pukulannya kepada pria itu hingga Raymond sudah tidak sadarkan diri.