TUJUH

983 Kata

 "Kamu inget waktu pertama kali kita ketemu?" Wajah sumringah yang ditunjukkan Bam begitu membuat Kinan bahagia. Bukan tanpa alasan, itu semua karena kehamilan Kinan yang menjadi bahan dasar mengapa Bam begitu cerewet malam ini. Tanpa mengangguk atau mengucapkan kalimat apa-apa, Bam tetap melanjutkan ocehannya, meski nyatanya Kinan hanya memasang senyum. "Kamu keliatan berharap kalo aku bantu kamu waktu itu. Aku pikir, aku udah keliatan kayak malaikat waktu itu. Soalnya, kamu memang butuh bantuan banget dari kejaran Agung." Kinan sudah tidak memusingkan nama mantan kekasih kasarnya itu lagi. Karena yang utama saat ini, adalah suaminya dan bayinya kelak. Kabar Gina juga sudah tidak rumit lagi, karena sahabat Kinan itu sudah mulai menemukan titik terang hidupnya bersama Kana. "Kamu ang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN